Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA121


__ADS_3

"Bunda tolongin Ara!" seru Khey dengan bersembunyi di belakang punggung sang mertua. Khey membungkukkan setengah tubuhnya serta memegang kedua bahu mertuanya karena Fabian hampir berhasil menyusul dan menangkapnya.


Beruntung Khey berpapapasan dengan bunda mertuanya yang sedang berjalan ke arah mereka, Khey pun segera menggunakannya sebagian tameng untuk berlindung dari Fabian.


Heh... heh...


Fabian terdengar ngos ngosan sembari memegangi lututnya saat mendapati isterinya berhenti dari berlari namun berlindung di balik punggung bundanya.


"Bunda minggir..." Fabian mengibaskan salah satu tangannya, memberi tanda agar sang bunda menggeser tubuhnya sehingga Fabian dapat menangkap sang isteri.


"Jangan! Bunda kek gini aja, kalau bunda minggir ntar Abi nerkam Ara." seru Khey dengan memperkuat pegangan tangan pada bahu sang mertua.


Sang mertua terkekeh saat mendengar ucapan menantunya. "Memangnya Abi singa, bisa nerkam."


"Serupa bun. Liat tuh seringainya." Khey dengan tetap menahan tubuh sang mertua agar tetap di tempatnya.


Fabian menegakkan tubuhnya seraya berkacak pinggang.


"Memangnya ada singa setampan ini?" Fabian dengan sok angkuh.


Membuat bunda mencebik. "Sok ganteng kamu Bi..." ucap bunda dengan menggelengkan kepala melihat gaya sok angkuh sang anak.


"Salah ding bukan singa, singa nggak ada yang tengil." Khey dengan nada menyesal menyematkan raja hutan itu pada sang suami. Yang ternyata tidak cocok untuk Fabian yang tengil. Kemudian Khey terlihat berfikir sesaat. " Cocoknya buaya tengil aja, ya nggak bun?!" Khey dengan menoleh ke arah sang mertua. Untuk meminta dukungannya.


Bunda mengangguk menyetujui ucapan sang menantu dengan tersenyum. Khey pun memberikan senyum mengejek pada Fabian karena merasa sang mertua memihaknya.


"Tuh kan, bunda aja setuju kalau lo buaya tengil." Setelahnya Khey tertawa lepas saat melihat wajah kesal Fabian.


"Yang anak bunda itu siapa sih, kok nggak belain Abi malah belain menantunya." Fabian pura pura menunjukkan wajah kesalnya. Padahal dalam hati tersenyum bahagia karena dia dapat melihat sang isteri tertawa lepas saat ini.


Semenjak Fabian menikah dwngan Khey, baru kali ini Fabian melihat tawa lepas dari isterinya. Tawa yang sama, seperti tawa yang pernah dilihatnya sewaktu Khey masih kecil.


Bahkan gadis yang telah mengisi relung hatinya itu terlihat akrab dan bahagia bersama dengan wanita yang telah menjadi cinta pertamanya. Yaitu bundanya.


Semoga lo bisa dapetin kasih sayang yang sebenarnya di sini Ra... Ucap Fabian tentu saja hanya di dalam hati saja.


"Dua duanya anak bunda, tapi yang ini lebih manis." Bunda dengan hanya mengarahkan pandangan pada Khey yang wajahnya sedikit sejajar dengan wajah bunda. Karena sejak semula kedua tangan bunda memegang nampan yang berisi piring kue serta teh hangat.


Membuat Khey tersenyum senang. Kedua tangannya yang semula berpegang pada bahu sang mertua bergeser ke bawah, berganti memeluk sang mertua erat.


"Makasih bunda karena bunda bijaksana, lebih memilih kupu kupu cantik nan lucu ketimbang buaya." Khey bermaksud mengejek dang suami.


Bunda pun terkekeh mendengar Khey tetap menyematkan sebutan buaya pada anak lelaki tampannya untuk memperoloknya.

__ADS_1


Ck...


Fabian berdecak.


"Sepertinya bakalan tergeser ini posisi anak mama." Fabian manyun.


"Rasain turun tahta lo...wlek!!" Khey kembali memeletkan lidah, mengejek Fabian.


Membuat Fabian melotot. "Berani ya sekarang sama suami."


"Bunda Abi melotot, Ara yang manis jadi atut..." Khey dengan merubah bicara layaknya anak kecil yang manja. Dan semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh sang mertua untuk perlindungan dari Fabian yang terlihat mendekatkan jarak pada sang bunda. Hendak menangkap kupu kupu cantik nan lucu yang telah berani menggeser posisi sultannya.


"Eh... eh... jatuh nih nampan bunda entar." Bunda dengan kebingungan karena anak dan menantunya membuat tubuhnya tidak berhenti bergerak. Bahkan gelas minum yang berisi teh hangat untuk suaminya pun sedikit tumpah, akibat tubuhnya yang dipaksa bergeser ke kiri dan kanan.


Fabian yang hendak menangkap Khey tak berhenti bergerak ke kanan dan ke kiri. Sedangkan Khey juga melakukan gerakan dengan arah sebaliknya serta tetap memeluk mertuanya untuk menjadikannya sebagai tameng.


"Pada ngapain ini?" tetiba ayah datang dari arah luar.


"Ayah!" bunda menoleh ke arah pintu, dimana suaminya berjalan.


"Kenapa ini bun?" Ayah dengan langkah kaki mendekat.


"Loh nggak salah ini yang dipeluk?" Ayah dengan memandang isteri dan anak menantunya.


"Mosok kamu kalah saing sama emak emak bantet kek gini sih Bi?" Ayah dengan tanpa ekspresi saat berucap kata. Memindai tubuh sang istri dari atas sampai bawah secara berulang.


Khey yang mendengar ucapan sang ayah mertua membola.


"Ayaahh..." Bunda dengan mengeram karena sang suami mengejek postur tubuhnya yang sesungguhnya tidak bantet.


"Lah... dibanding sama anak ayah yang kutilang darat ini kan memang bunda lebih bantet." Ayah dengan santai membandingkan isterinya dengan sang anak.


"Abi kutilang darat?" Fabian memandang ayahnya dengan bingung.


"Iya."


"Maksud ayah apaan?" Fabian bingung.


"Kurus..." Ayah dengan menunjuk tubuh Fabian dengan pandangan matanya.


"Tinggi..." Ayah memindai ujung kaki hingga kepala Fabian.


"Untuk ukuran cowok langsing juga, iya kan?" Lanjut ayah dan membuat Fabian mengangguk menyetujui ucapan ayahnya.

__ADS_1


"Dan juga dada rata." Ayah dengan menggerakkan kedua tangannya di depan dada guna memperjelas maksudnya.


"Dada rata..." Fabian menggumam dengan melakukan gerakan seperti ayahnya.


Sedetik kemudian,


"Ayaaahhh... ayah kira Abi anak perempuan!!" seru Fabian saat menyadari maksud ayahnya.


Ayah terkekeh, pun begitu bunda dan Khey pun ikut terkekeh. Mengejek Fabian.


" Abi nggak terima, body abs gini dibandingin dada triplek kek cewek." Fabian dengan melangkahkan kaki hendak mendekati sang ayah.


Ayah yang menyadari kesalahnnya mengejek sang putra mengambil langkah lebar menjauh, beliau tahu anak lekakinya tersebut bakal memberi pelajaran kepadanya.


Jika tidak secepatnya menghindar pasti keduanya terlibat adu jotos, setidaknya saling lempar ataupun saling pukul dengan bantal sofa pasti bakal terjadi.


"Ayah berhenti!" Fabian berseru namun ayah mengabaikannya.


Ayah tetap menghindar dengan memutari sofa ruang keluarga.


"Ayo Bi semangat kejar ayah sampai dapat." Bunda berseru memberi semangat. Fabian pun mengacungkan jempol kanan ke arah sang bunda.


"Lah... kok bunda kasih semangat ke Abi sih bukan ke ayah!" protes ayah berseru. Tubuhnya tidak berhenti bergeser menghina dari Fabian.


"Biarin, ayah kan udah ngatain bunda bantet. Makanya bunda belain Abi aja. Iya kan sayang..." Bunda dan mendapat anggukan dari Khey.


Sungguh Khey sangat bahagia melihat kedekatan serta keharmonisan keluarga Fabian. Sudah sangat lama dirinya tidak merasakan hal seperti ini dalam keluarga. Dalam hati Khey bersyukur, tanpa sadar senyum tipis tersungging pada bibir tipisnya.


Ayah pun berdecak kesal, sedangkan Fabian tersenyum penuh kemenangan.


Ayah bergerak ke kanan ketika Fabian juga bergerak ke arah kanan begitu sebaliknya. Kedua tangan Fabian pun ikut bergerak ke depan seakan hendak menangkap tubuh ayahnya.


Dengan gesit lelaki paruh baya itu menjauhkan tubuhnya dari jangkauan sang anak.


Hingga akhirnya Fabian berhenti bergerak, terdiam sesaat dan berfikir.


Senyum miring tercetak di wajah tampannya saat ekor matanya mendapati Khey yang terlihat asyik bersorak bersama bundanya.


Kedua perempuan yang disayanginya itu tidak lagi berpelukan. Melainkan saling menatap, entah sedang membicarakan apa.


Fabian segera membalik tubuhnya.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2