Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 162


__ADS_3

"Bbbii..." desis Khey tanpa mampu menjauhkan bibirnya dari kuasa Fabian.


Fabian seolah tak peduli, dengan tanpa jeda dia menjelajah seluruh rongga mulut Khey dengan sesekali bertukar saliva. Sungguh tiap kali hasrat itu datang Fabian tak mampu menguasai diri.


Hingga saat merasakan nafas Khey tersengal Fabian baru melepaskan tautan bibir mereka.


Fabian menatap lembut wajah khey dengan diiringi senyum teduh yang selalu membuat Khey malu untuk menatap wajah Fabian setelah selesai melakukan ciuman.


Melihat wajah Khey yang menunduk tangan Fabian beralih meraih dagu lancip Khey dan membuat pandangan mereka beradu.


Khey menelan ludahnya kelat saat wajah tampan sang suami hanya lima centi tepat di depannya. Hembusan nafas hangat dari mulut Fabian menerpa wajah Khey. Gerakan jemari Fabian yang mengusap bibirnya lembut membuat jantung Khey berdetak kencang dan tak beraturan.


"J_jjangan natap gue kek gitu." Khey gugup.


"Kenapa?" Fabian sesungguhnya merasakan degub jantung Khey yang berdetak rancak.


"Mallu." Cicit Khey membuang pandangan guna mengusir rasa gugup yang mendera.


Namun tangan kekar Fabian kembali meraih wajah Khey untuk menghadapnya. Bukan tak mengerti kegugupan Khey namun Fabian sangat menyukai reaksi Khey yang malu malu seperti saat ini.


"Kenapa malu. Ini bukan yang pertama kan sayang."


Ucapan lembut dan serak Fabian yang disertai dengan tatapan mata yang tak lepas menghujam pada netra Khey tersebut membuat detak jantung Khey semakin menggila.


"Ggue... ggue takut khilaf Bi." Aku Khey dengan kelat.


Kening Fabian mengerut saat mendengar pengakuan Khey.


"Kita udah sah. Mau khilaf pun nggak dosa yang."


"Iyya... tappi ini di sekolah Bi. Takutnya gue nggak bisa nahan." Khey sungguh berusaha keras menguasai diri dari gelenyer bak sengatan listrik yang merayapi seluruh tubuhnya.


Fabian menarik ke atas kedua sudut bibirnya, membentuk senyum seringai tengil.


"Nahan apaan yang?" Fabian makin gencar menggoda Khey, meski dalam hati tak kuat menahan senyumnya.


Khey kembali menunduk, dia tahu wajahnya pasti telah memerah saat ini. Hal itu sangat jelas dirasa oleh pipi Khey yang menghangat.


"Kita lakukan di sini juga nggak papa. Toh nggak ada siapa siapa."


Sontak ucapan Fabian membuat Khey mendongak.


"Gila lo Bi..." Khey mendelik seraya mendaratkan pukulan pada bahu sang suami.


"Auw... sakit yang." ringis Fabian hanya pura pura saja. Karena sejatinya pukulan Khey tak berasa pada tubuh kekarnya. Bagaimanapun Fabian selalu rajin ngegym. Bukan hanya untuk menjaga bentuk tubuhnya namun juga demi kesehatan tubuhnya. Karena aktuvitas


"Makanya jangan mesum di sembarang tempat." Khey kesal.


"Mesum gue cuma sama lo." Fabian tetap saja menggoda.


"Hentikan Bi."


"Tapi gue nggak bisa berhenti yang." Fabian dengan merapatkan tubuh mereka.

__ADS_1


Lagi lagi Khey harus menelan ludahnya dengan kelat.


"Bbiii..."


Cup


Kembali Fabian mengecup bibir ranum Khey yang menggoda imannya.


Semula Fabian melakukannya dengan lembut kamu. lama lama ciuman Fabian semakin menuntut. Disertai tubuh keduanya yang semakin merapat.


Khey merasakan tubuhnya sedikit oleng buat ciuman panas Fabian. Satu tangan Fabian pun memeluk erat pinggang Khey dan satu tangan tangan lainnya menahan tengkuk Khey.


Masih dengan posisi bibir yang saling bertautan, Fabian menggerakkan tubuhnya. Menggiring tubuh ramping Khey ke bawah payung besar untuk berteduh dari panas terik matahari yang menyengat.


Ciuman kedua pasangan suami isteri remaja itu semakin bergairah.


Tangan Fabian semakin nakal, bergerak meremas bokong yang tertutupi rok sekolah Khey. Membuat gadis itu melenguh tertahan.


Fabian melepaskan tautan bibirnya. Dengan nafas yang masih menderu, beralih menyusur leher jenjang sang isteri dengan tidak sabar.


Khey pun mendongakkan kepala seolah memberi akses pada Fabian agar memudahkan aksinya.


Mendapati lampu hijau dari Khey, jemari Fabian bergerak lincah melepaskan dua kancing seragam sekolah Khey. Menyembulkan gundukan kembar yang membusung indah tertutupi bra hitam berenda, mengejek jiwa kelakian Fabian.


Entah bagaimana rupa keduanya saat ini, Fabian dan Khey seolah tak peduli. Pasangan suami isteri remaja itu seolah terbakar gairah yang membara.


"Bi..."


Fabian tanpa menghentikan aksi bibirnya merayapi ceruk leher sang isteri.


"Gimana kalau ada yang datang." Khey dengan menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan sensasi gelenyer aneh yang menyerang seluruh nadinya.


"Nggak bakalan ada yang datang ke sini. Nggak ada yang tau tempat ini. " Fabian meyakinkan Khey.


"Tadi lo bilang, temen lo pada tau tempat ini." Khey dengan berusaha menjauhkan wajah Fabian yang mulai merayapi dua gundukan kembarnya yang masih terbalut bra hitam.


"Mereka asyik main basket yang. Nggak bakalan ke sini."


"Siapa tau aja Bi..." Khey sesekali melihat ke arah puncak tangga dimana dirinya naik tadi.


Karena Khey yang menghadap ke arah tersebut.


Sengatan panas matahari yang membuat seragam keduanya basah oleh keringat tak menyurutkan aksi mesum pasangan sah tersebut. Keduanya sudah benar benar lepas kendali.


"Sahabat lo bisa saja kan tiba tiba datang Bi." Khey masih saja khawatir.


"Nggak bakalan. Mereka berdua lagi asyik maen basket. Lagian mereka ditungguin ceweknya kan jadi nggak bakalan datang ke sini. Pasangan baru pasti pengennya deketan mulu, iya kan?"


"Iya sih si Jack mungkin, tapi kan Farrel bisa saja..."


Sebelum Khey menyelesaikan kalimatnya Fabian segera memotong ucapan Khey.


"Samalah. Farrel sama Rhea kan juga pasangan baru. Pasti pengennya nempel terus."

__ADS_1


"Apa?" Khey terkejut mendengar ucapan Fabian barusan. "Farrel sama Rhea juga?!"


Fabian menganggukkan kepala membenarkan maksud Khey. "Temen lo nggak cerita?"


Khey menggeleng seakan masih tak percaya. Ternyata kedua temannya tidak meberitahukan kepadanya jika mereka saling menjalin cinta.


"Udahlah nggak usah sakit hati, lo juga pernah melakukanya." Fabian sambil merengkuh pinggang Khey yang sempat mengendur.


"Tapi tetap sajj..."


Cup


Kembali bibir tebal Fabian mendarat pada bibir Khey tanpa memberikan kesempatan Khey untuk melanjutkan kalimatnya.


Rasa manis bibir Fabian kembali membuat Khey terbuai. Lidah keduanya pun kembali bermain, bergelut dan saling membelit satu sama lain hingga menyuarakan alunan musik rancak yang diiringi dengan deguban bunyi genderang pada jantung mereka.


Tangan Fabian pun kini mulai bergerak ke atas. Menekan tengkuk leher khey untuk memudahkan mengakses bibir manis yang senantiasa menyegarkan hari mereka.


Tanpa melepaskan tautan bibirnya, tangan Fabian merayap meremas gundukan kembar itu silih berganti. Tubuh keduanya semakin memanas. Membuat kedua insan yang sedang berkabut hasrat tersebut tak berhenti menggerakkan kepala untuk saling menyalurkan rasa.


Deru nafas Khey terengah saat bibir Fabian melepaskan kuasa dari bibirnya.


Seolah belum merasa terpuaskan, bibir Fabian bergerak merayap menuruni ceruk dada yang telah membusung menggoda hasrat kelakiannya.


Dengan lincah bibir Fabian bergerak membasahi ceruk dada Khey seraya mencecap pucuk gundukan kembar itu dengan rakus.


Seolah terbakar gairah, Khey menelusupkan kedua tangannya pada surai hitam Fabian. Menekan kuat seolah menginginkan hal yang lebih.


"Isssshh..." desis Khey tak mampu menahan sensasi luar biasa yang merayapi seluruh nadinya.


Beruntung saat ini tubuh khey menumpu pada tiang penyangga payung besar yang ada di sana, sehingga tidak membuat tubuhnya terhuyung akibat desakan aksi sang suami.


Dalam hati Fabian tersenyum senang karena mampu membuat Khey terkena akan sentuhan bibirnya.


"Sebut nama gue yang..." Fabian di sela cecapan bibirnya pada lembah gunung kembar sang isteri.


"Bian!!"


Suara itu terdengar.


Bukan dari mulut Khey melainkan suara bariton dari belakang tubuh Fabian.


😍😍😍


Sorry.... lambat sangat up nya...


Beberapa hari ini ini aplikasi NT othor nggak bisa dipake. Bahkan draft yang telah othor tulis menghilang entah kemana... Buat ngirim update pun nggak bisa. Othor pikir lagi susah sinyal di tempat orhor, nyatanya bukan. Hingga othorpun pusing tujuh keliling untuk menulisnya ulang.


Dan alhamdulillah hari ini sdh bisa dipake lagi.


Kedepannya semoga bisa rutin kembali.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

__ADS_1


__ADS_2