Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA16


__ADS_3

"Mm ... mmau lo apa Bi?" Khey semakin gugup dengan makin menjauhkan wajahnya dari wajah Fabian yang terus mendesak maju.


"Gue mau ... makan lo!"


Hek.


Kedua mata Khey membola setelah mendengar ungkapan Fabian.


"Lo jjangan anneh - anneh deh." Khey tergagap.


"Apanya yang aneh? Gue suami lo, kita udah sah. Gue berhak menikmati ... semuanya." Pandangan mata Fabian menelisik dari atas ke bawah tubuh Khey berulang.


Khey pun semakin gugup, keringat dingin mulai menyergap seluruh tubuhnya. Dirinya gugup setengah mati, gak mungkin kan kalau ia harus menyerahkan tubuhnya pada Fabian malam ini.


Enggak ... gue enggak mau!! batin Khey bersuara dengan menggigit bibir bawahnya.


Fabian yang mendapati kegugupan pada diri Khey, semakin maju mendekatkan tubuh serta wajahnya hingga posisi wajah mereka hanya tinggal beberapa inchi saja.


Khey semakin gugup dengan meremas kuat sisi piyama tidur yang dipakainya.


Fabian tersenyum kecil dengan mengangkat sudut bibirnya. "Kenapa? lo takut, belum siap?"


"Bbu ... bbu ...bbukane itu lo masih sakit ya Bi?!" Khey mengabaikan pertanyaan Fabian sembari mengingatkan dengan tergagap dan melirik sekilas bagian bawah tubuh Fabian yang tertutupi kain sarung.


"Iya ... tapi mulut gue enggak. Mulut gue juga pengen traveling, menikmati manisnya itu?" Fabian menatap intens bibir tipis Khey yang berwarna merah muda meskipun sepertinya tanpa diwarnai oleh pewarna bibir.


Nyali Khey menciut.


Bagaimana lagi caranya untuk menolak keinginan Fabian untuk melakukan aktivitas malam pertama mereka.


"Bi ... jangan dekat - dekat." ucap Khey dengan raut wajah yang sudah mulai memucat.


Fabian tidak mengindahkan ucapan Khayyara. Jemarinya terulur menghalau anak rambut yang sedikit terurai pada wajah cantik isterinya.


Hek.


Tenggorokan Khey tercekat, seakan oksigen tidak dapat melewati rongganya dengan leluasa. Khey pun semakin meremas kuat kedua tangannya. Takut jika malam ini dirinya harus mengikhlaskan kegadisannya pada cowok tengil yang berubah mesum di depannya.


Bagaimanapun menolak keinginan suami itu dosa, akan tetapi tidak ada cinta di dalam hatinya. Bagaimana mungkin dirinya melakukannya dengan orang yang tidak dicintainya ...


"Harum" ucap Fabian terlihat menghirup oksigen dalam.


"Apanya?" tanya Khey berusaha melawan kegugupannya.


"Rambut lo wangi, gue suka." ucap Fabian hingga membuat hembusan nafas hangatnya menerpa wajah Khey.


Sesaat Khey merasakan sensasi gelenyer aneh saat nafas hangat beraroma mints itu menerpa wajahnya. Meskipun Khey berpacaran dengan Doni namun dirinya tidak pernah sedekat dan seintim ini. Khey menelan ludahnya kelat, menahan rasa gugup dan degub jantung yang mulai berdetak semakin kencang.


Fabian mulai mendekatkan wajahnya dengan memejamkan mata seolah menikmati aroma wangi shampoo yang menguar dari rambut hitam Khey.


"Wangi lo bikin sakitnya berkurang Khey." Bisik Fabian lembut di dekat telinganya, bahkan jemari kekar itu bergerak menyampirkan anak rambut ke belakang daun telinga Khey.


Khey membuka kedua bola matanya lebar, bagaimana jika milik Fabian itu sudah tidak sakit dan siap menerjangnya saat ini?


Tubuh Khey kembali menegang, sensasi gelenyer aneh itu semakin merayapi seluruh tubuhnya bahkan menghadirkan desiran halus yang membuat tubuhnya meremang.


"Bbi ... ggue belumm siapp." Khey meremas jemarinya kuat.


"Maksud lo?" Fabian menjauhkan wajahnya dengan mengernyit.


"Lo mau itu kan?" Khey menunduk dengan pipi yang bersemu merah.

__ADS_1


"Itu apa?" Fabian pura - pura lugu.


"Itu ... em ..."


"Apa? Yang jelas kalau ngomong Khey, gue gak ngerti."


"Lo mau kita melakukannya sekarang kan?" Khey bertanya takut dengan memandang jemarinya yang saling meremas kuat.


"Melakukan apa?" Fabian tetap saja pura - pura tidak tahu maksud Khey.


"Itu ... malam pertama kita." Khey semakin menundukkan kepalanya, malu.


Sudut bibir Fabian terangkat, dalam hati dirinya tidak dapat menahan tawa melihat reaksi Khey. Apalagi wajah cantik itu menunjukkan semburat merah, semerah tomat busuk. Gadis yang telah sah menjadi isterinya itu pasti sangat malu dan takut bercampur aduk menjadi satu.


Dalam hati Fabian merasa lega, sepertinya gaya pacaran Khey dan Doni tidak melebihi batas. Tidak seperti yang dikhawatirkannya selama ini.


Fabian meraih dagu Khey hingga membuat gadis itu mendongak.


Sesaat kedua bola mata keduanya bersitatap.


Fabian menampilkan senyum manisnya, hingga membuat Khey terpesona bahkan terpana saat melihat wajah tengil itu tersenyum.


Tampan! Khey membatin dengan tidak berhenti menatap Fabian.


Fabian mengikis jarak wajahnya sembari menatap lekat Khey. Hembusan nafasnya menerpa hangat wajah Khey.


Khey pun refleks menutup kelopak matanya, meski otaknya ingin menolak namun reaksi tubuhnya melakukan hal yang sebaliknya. Keduanya tidak bisa berkompromi.


Fabian dengan senyum tengil semakin mengikis jarak.


"Ternyata otak lo bisa berfikir mesum juga." ucap Fabian berbisik tepat di telinga Khey.


Khey pun membuka kedua matanya yang semula terpejam.


Khey melotot, ingin rasanya mengumpat pada cowok tengil yang sudah bertelanjang dada di depannya.


"Enggak!" Khey ketus. Dalam hati merutuki tubuhnya yang seakan mengharapkan ciuman dari Fabian.


"Enggak salah, gitu kan maksud lo?!"


"Sorry gue gak minat sama lo, gue lebih suka punya cowok gue." Khey mengalihkan pandangan dari Fabian. Dirinya tidak mau cowok tengil itu mengetahui kebenarannya. Bisa - bisanya tubuhnya mengharapkan ciuman dari Fabian.


"Ck ... udah ketahuan masih aja ngeles. Untung jagoan gue belum bisa diajak kerja rodi malam ini." Fabian santai.


"Heh tengil ... sorry ya gue gak minat sama lo, gue tadi cuma takut aja kalau lo kebablasan trus nuntut gue buat ngelakuinnya ke gue." elak Khey dengan ketus.


Fabian terkekeh.


"Oke lah gue percaya dari pada debat panjang sama lo, bikin capek."


"Nih simpan baju gue, buat sholat lagi ntar." Fabian melempar baju kokonya hingga mendarat pada wajah Khey.


Khey mendengus kesal, sembari meraih baju koko Fabian yang menutupi wajah cantiknya.


Fabian meraih kaos oblong navy yang berada di atas ranjang kemudian memakainya dengan santai di depan Khey.


Setelahnya Fabian terlihat membuka gulungan kain sarung yang dipakainya.


"Bi ... jangan buka di sini." Khey berseru dengan menundukkan wajahnya.


"Kenapa emangnya? Kita udah sah, lo harus terbiasa liat gue telanjang di depan lo." Fabian santai dengan tetap bergerak membuka kain sarungnya.

__ADS_1


"Tapi itu gak sopan Bi, ini terlalu cepat. Gue belum biasa." Khey kekeh.


"Makanya dibiasain biar gak canggung."


"Buka di kamar mandi atau gue teriak nih!" Khey mengancam.


"Teriak aja ... mama sama papa ngerti kok kita lagi ngapain. Mereka gak bakal nyamperin ke kamar."


Khey mengeram semakin kesal.


Fabian yang menyadari raut kesal Khey berjalan mendekatinya kembali.


"Kalau gitu lo yang bukain gih, itung - itung buat latihan biar besok terbiasa." Fabian menyodorkan ujung kain sarung yang masih dipegangnya.


"Apaan sih lo, gak usah bercanda deh. Buka di kamar mandi sana sekalian bawa ganti!" ketus Khey dengan gugup.


"Gak mau ... elo aja yang bukain. Sekalian gantiin ya Khey ..." kembali Fabian itu mengulas senyum tengilnya.


"Bi." sentak Khey dengan mata melotot.


Sreett ...


"Yah lepas deh Khey, elo sih gak mau pegang." seru Fabian hingga membuat Khey segera menutup wajahnya dengan baju koko milik Fabian yang masih dipegangnya.


"Pakek lagi Bi! Jorok lo, gak sopan!" Khey berseru dengan telapak tangan masih memegang baju koko Fabian untuk menutupi wajahnya. Gak mungkin dirinya melihat milik Fabian saat ini, membayangkannya saja membuatnya merinding.


Tangan Fabian merebut baju kokonya, memaksa Khey untuk melihat dirinya.


"Bian balikin!" Khey berseru dengan tangan bergerak mengambang seolah hendak merebut baju koko milik Fabian yang sudah berpindah tangan. Kedua bola mata Khey yang dipejamkannya rapat membuatnya tidak dapat merebut baju koko dari Fabian.


"Udah buka aja, rugi lo gak lihat milik gue yang gak kalah cakep dari wajah gue. Mumpung gue baik hati nih, mau kasih lihat gratis sama lo." Fabian menarik telapak tangan Khey.


Khey yang merasa malu memalingkan wajahnya dengan mata yang masih terpejam. Enggan melihat bagian tubuh bawah suaminya yang sudah tidak tertutupi kain sarung.


"Udah gue pakek lagi Khey." Fabian datar.


Khey yang tidak percaya belum membuka matanya.


"Udah ... buka gih gue gak bohong."


Khey mulai memincingkan mata, sedikit demi sedikit membuka kedua bola matanya perlahan sembari memastikan cowok tengil bergelar suaminya itu tidak membohonginya.


Khey menahan senyum kecut saat melihat Fabian berdiri di depannya dengan kaos oblong navy dan celana pendek selutut yang dipakainya.


Fabian tertawa terbahak.


"Lo pikir gue sholat dengan telanjang kan?!" Fabian mengejek dengan melempar baju koko dan sarungnya tepat di depan dada Khey. Gadis itu dengan sigap menangkapnya meski wajahnya mengeram kesal.


Khey sekali lagi merutuki pikirannya yang salah menebak pada tingkah Fabian. Bisa - bisanya otaknya yang berubah menjadi mesum saat ini.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2