
Jackson mengendarai mobilnya dengan bersenandung mengikuti irama lagu yang keluar dari radio tapenya. Kemudian perlahan menepi saat ekor matanya melihat dua orang gadis remaja berdiri di pinggir jalan saling bersenda gurau.
Kedua gadis itu adalah Alya dan Rhea yang sebenarnya hendak menengok Khey. Khey tadi pagi izin tidak masuk sekolah karena sakit.
"Mau pada kemana?" Jackson dengan melongok dari kaca jendela mobilnya yang telah diturunkan sebelumnya.
"Mau nengokin Khey, dia nggak masuk hari ini. Katanya sakit." Rhea yang menjawab pertanyaan Jackson.
"Oh" Jackson manggut manggut. "Mau naik bis?"
"Iya." lagi Rhea yang menyahut. "Tapi udah sejam nggak ada bis yang lewat."
"Hari ini ada demo, sopir angkutan umum pada mogok narik." terang Jackson. Jackson tidak berbohong, apa yang dikatakan adalah benar. Dalam hati berniat memberikan tumpangan kepada kedua gadis tersebut.
"Yakin lo?!" Rhea tampak terkejut setelah mendengar ucapan Jackson.
Jackson mengangguk yakin.
Alya menyikut lengan Rhea. "Gak usah percaya, dia pasti bohong."
"Gue nggak bohong."
Alya berdecak tak percaya pada ucapan Jackson.
"Nggak percaya ya udah. Tungguin aja sampai berakar." Jackson seperti ingin pergi dan mengabaikan kedua gadis remaja, teman satu sekolahnya tersebut.
"Jack, tunggu... tunggu..." Rhea mengayunkan kaki mendekat.
"Apa?" Jackson pura pura enggan.
"Lo beneran nggak bohong kan?"
"Lo pikir gue setega itu sama kalian?! Nih liat kalau nggak percaya..." Jackson menyodorkan ponsel pintarnya yang berisi berita tentang demo pemogokan sopir angkutan di Jogjakarta pada Rhea.
Rhea pun mengambilnya.
"Al, Jackson nggak bohong. Kita nggak bakalan dapat bis kalau kek gini." Rhea dengan khawatir.
"Naik taksi kan bisa." Alya tetap saja santai.
"Taksi juga angkutan umum dodol." Jackson sengaja dengan sedikit berteriak.
"Iya Al, seluruh angkutan umum apapun tidak beroprasi hari ini. Yang ada cuma becak doang." Rhea membenarkan ucapan Jackson setelah kembali membaca berita melalui ponsel Jackson yang masih berada di tangannya.
Alya membola, panik.
__ADS_1
"Yang bener lo Rhe?!" Alya segera merebut ponsel di tangan Rhea.
"Yah, gimana dong Rhe?" Alya semakin panik menggigit jemarinya. "Mana kita nggak bawa hape lagi." Alya dengan menyerahkan ponsel ke tangan Rhea kembali.
Rhea dan Alya memang sama sama tidak membawa ponsel. Entah bagaimana bisa kebetulan terjadi, ponsel keduanya kehabisan daya.
Awalnya mereka berdua diantar oleh sopir pribadi keluarga Rhea untuk pergi ke rumah Khey. Namun sebelumnya mereka sepakat untuk mampir ke supermaket untuk membeli buah tangan yang akan dibawa untuk menjenguk Khey.
Namun baru saja mereka diturunkan di depan supermaket, sopir pribadi keluarga Rhea itu mendapatkan panggilan mendadak untuk mengantar mama Rhea. Rhea pun menyuruh sang sopir untuk meninggalkan mereka.
Setelah selesai membeli buah tangan untuk Khey, Alya dan Rhea pun menuju halte bus terdekat bermaksud untuk menuju ke rumah Khey.
Awalnya mereka memilih bus karena jarak rumah Khey dari supermaket tempatnya membeli buah tangan tidak terlalu jauh. Alya dan Rhea pun ingin menjajal sensasi menaiki bus sembari menikmati keindahan kota.
Namun beberapa waktu menunggu busnya tidak ada satupun yang datang. Bahkan kendaraan umum lainnya pun tidak kentara, hingga Jackson
menghampiri mereka.
"Balikin handphone gue!" Jackson seraya mengulurkan tangannya melalui jendela mobil. "Gue mau pergi nih."
"Elo mau kemana Jack?" Rhea masih dengan menggenggam ponsel Jackson di tangannya. Rhea sudah memikirkan ide cemerlang untuk membuat Jackson mengantarnya dan Alya.
"Gue mau ke rumah Bian. Siniin cepet..." Jackson memberi tanda agar Rhea menyerahkan ponsel miliknya.
"Anterin kita ke rumah Khey, baru gue balikin ini." Rhea dengan menggoyang ponsel Jackson di tangannya. Tentu saja dengan jarak aman agar Jackson tidak dapat meraihnya.
"Anterin kita jenguk Khey ya, dia juga sakit. Hari ini nggak masuk.
Jackson sesaat terdiam seolah berfikir.
"Ayolah Jack, masak lo tega sama kita..." Rhea dengan merengek.
Ck...
"Yaudah masuk kalau gitu." Jackson dengan menunjukkan wajah pura pura terpaksa, padahal dalam hati tersenyum senang karena triknya berhasil.
"Loh... loh... kalian pikir gue sopir taxi apa?!" Jackson menoleh ke belakang, dimana Alya dan Rhea berada.
"Salahnya dimana?" Rhea dengan heran.
"Alya di depan temenin gue."
"Ogah." Alya ketus.
"Ya udah gue nggak jadi nganter."
__ADS_1
"Yah kok gitu sih Jack..." protes Rhea.
"Duduk sini nggak? Kalau nggak mau, turun!"
Akhirnya Alya pun terpaksa mengalah berpindah duduk di depan, meski awalnya karena didorong keluar oleh Rhea.
"Nah gitu dong, gue ditemenin." Jackson tersenyum senang. "Tapi gue mampir ke rumah Bian dulu ya girl..."
"Nggak boleh nolak." ancam Fabian sebelum kedua gadis itu menjawab.
"Serah lo." Alya bersidekap dada lalu membuang wajah ke luar.
"Elo kalau marah bikin gemes." Jackson cengengesan.
πππ
"Ish... kemana sih Fabian...?" Farrel dengan panik seraya menempelkan ponsel pintar di telinganya.
Farrel telah menekan nomor ponsel milik Fabian hingga ke sekian kalinya, namun tak satupun panggilannya mendapat sahutan dari empunya nomor.
Membuat Farrel semakin cemas saat ini. Pasalnya beberapa saat lalu Farrel mendapatkan pesan singkat dari Jackson bahwa dia akan pergi ke rumah Fabian guna menjenguknya.
Pagi tadi Fabian memang izin tidak masuk sekolah dengan alasan sakit.
Bukannya Farrel menyepelekan kondisi sang sahabat namun baru juga tadi pagi, belum genap satu hari Fabian tidak masuk sekolah. Jakcson sudah seperti kelabakan ingin segera menjenguk.
Jika saja itu hanya Jackson seorang yang ingin menjenguk Fabian, Farrel tidak akan kelabakan seperti saat ini.
Pasalnya dalam pesan singkat Jackson, sobat setengah bulenya itu mengajak Rhea dan Alya yang tak lain adalah sahabat Khey.
Padahal saat di sekolah tadi Farrel sudah menahan keinginan Jackson yang ingin mengajaknya menjenguk Fabian. Farrel beralasan bahwa sakit Fabian hanya pusing dan kelelahan, jika besok masih belum masuk sekolah baru Farrel mengiyakan ajakan Jackson. Farrel tidak menyangka jika cowok setengah bule itu nekat menjenguk bahkan mengajak kedua sahabat Khey.
Setelah berulang kali menghubungi Fabian tak kunjung mendapat jawaban, Farrel mengalihkan panggilan pada nomor ponsel milik Jackson.
Farrel berharap Jackson membatalkan niatannya menjenguk Fabian. Atau setidaknya Farrel mampu sedikit mengulur waktu jika dirinya setuju untuk ikut. Jadi Farrel memiliki sedikit waktu lagi untuk menghubungi Fabian dan memberitahunya jika Jackson akan datang ke rumahnya.
"Sial." Umpat Farrel karena Jackson pun tidak dapat dihubungi olehnya. Lebih tepatnya tidak mengangkat panggilan darinya.
Farrel segera membereskan kertas kertas yang berserakan di atas meja kerjanya. Padahal baru beberapa menit yang lalu dirinya mendudukkan diri di sana untuk menyelesaikan pekerjaan ysng beberapa hari ini menumpuk untuk diselesaikan.
Farrel memang bekerja paruh waktu di sebuah restoran milik Fabian. Meski masih remaja dan seumuran dengan Fabian, namun dia dipercaya sebagai penanggung jawab pembukuan restoran. Farrel dipercaya bukan karena statusnya sebagai teman Fabian melainkan karena kemampuannya menyusun angka memang jempolan.
Di samping runtut dan rapi, kejujuran Farrel juga juara. Untuk itu Fabian memberinya saran untuk memperdalam ilmu akuntansi kelak. Dan mengasah ketrampilannya dengan bekerja di restoran Fabian.
Farrel segera menyambar kunci mobil, lalu bergegas ke luar ruangan dengan tergesa.
__ADS_1
ππππ