
Huhh...
Fabian hanya mampu membuang nafas panjang di depan sebuah pintu kayu. Menatapnya tak berkedip sembari mengumpulkan keberanian untuk memasukinya. Di balik pintu berwarna coklat yang mengekspos warna kayu tersebut adalah ruangan kepala sekolah.
Entah berapa lama Fabian berdiri di sana dengan rasa gugup yang menghinggapi benaknya. Kegugupan yang belum pernah dirasakan olehnya selama menjadi siswa di SMU Gama.
Entah kemana hilangnya sikapnya yang cuek dan tengil selama ini, berganti dengan keresahan yang menyelimuti benaknya.
Tok... tok... tok...
Akhirnya tangan Fabian mampu mengetuk pintu tersebut, setelah beberapa saat lalu hanya berdiri termangu di depannya.
Tidak ada jawaban dari balik pintu ruangannya tersebut, meskipun Fabian telah menunggunya hingga beberapa menit.
Fabian pun mengulang kembali aksinya mengetuk pintu tersebut.
Pada ketukan yang ketiga terdengar suara sahutan yang diiringi dengan langkah kaki mendekati pintu. Fabian pun menarik tangannya dan menunggu pintu terbuka.
"Eh den Bian... maaf bapak tadi gak denger ketukan pintu dari aden..." Pak Diman selaku pesuruh kepala sekolah muncul dari balik pintu dengan tersenyum.
Fabian tersenyum mengangguk, membalas Pak Diman. "Nggak papa pak "
"Bapak Kepala Sekolah ada?" tanya Fabian setelahnya.
"Bapak ada, cuma masih di toilet. Masuk saja, tunggu di dalam." Pak Diman dengan membuka pintu berbahan kayu tersebut dengan lebar.
Fabian pun melesat masuk setelah mengangguk mengiyakan.
"Pak Diman tinggal ya den..." ucap Pak Diman di ujung pintu. Kemudian berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari Fabian.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Bapak kepala sekolah yang di tunggu oleh Fabian muncul juga.
"Loh nak Bian, ada apa?" tanya Bapak kepala sekolah saat mendapati Fabian duduk di dalam ruangannya.
Fabian langsung berdiri dari duduknya dengan tersenyum sedikit menunduk, kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Setelah keduanya berjabat tangan.
"Duduk saja." Bapak kepala sekolah mempersilahkan Fabian lalu duduk, diiringi oleh Fabian.
"Em... maksud kedatangan saya ke sini adalah terkait dengan olimpiade matematika yang akan diselenggarakan di Bali bulan depan pak."
Bapak Kepala sekolah terlihat bingung dengan dahi mengerut. "Maksud kamu?"
__ADS_1
"Kenapa saya yang dipilih bukan yang lain?" Fabian to then point.
"Karena kamu yang mampu mewakili sekolah." Jawab kepala sekolah dengan jelas.
"Bukan karena saya anak pemilik yayasan kan pak?"
Bapak kepala sekolah tersenyum mendengar ungkapan Fabian.
"Jelas bukanlah nak... Bukannya kamu sudah tahu bahwa semuanya dilakukan dengan seleksi yang ketat?! Sekolah pasti sudah mempertimbangkan semuanya nak."
"Tapi..." Fabian terlihat sedikit ragu untuk mengungkapkan pertanyaan yang mengganjal di dalam hatinya.
"Katakanlah." Bapak kepala sekolah dengan tersenyum.
"Em... saya kan anak IPS pak."
"Terus??"
"Bukankah seharusnya anak sains yang harusnya terpilih dan mewakili sekolah..."
Fabian merasa jika anak anak IPA yang lebih tepat untuk menjadi peserta olimpiade tersebut.
Bapak kepala sekolah terlihat mengambil nafas kuat lalu menghembuskannya perlahan.
"Terlepas siapapun status kamu, kemampuan kamu menyelesaikan soal soal matematika itu melampaui semua siswa yang kemarin telah diseleksi oleh sekolah. Bahkan jauh di atas mereka semua. Dan lagi olimpiade ini tidak mempermasalahkan siswa yang mewakili dari jurusan apa. Syaratnya hanyalah pelajar SMU dan sederajat itu saja. Jadi kamu tidak harus mengkhawatirkan status jurusan yang telah kamu pilih. Dan satu lagi, kamu terpilih sebagai wakil sekolah bukan karena kamu adalah anak pemilik yayasan melainkan karena kemampuan kamu yang tidak tidak perlu diragukan lagi." terang bapak kepala sekolah pada Fabian.
Fabian pun mengesah.
"Benar benar harus saya pak?" Fabian terlihat berat.
"Ya, begitulah. Semua sudah diputuskan bukan..." Bapak sekolah dengan mengangguk yakin.
Fabian pun hanya bisa pasrah.
πππ
"Segernya..." Khey menghirup udara dengan indera penciumannya.
Khey baru saja menyelesaikan mandi sorenya lalu keluar ke balkon kamar dengan rambut basah yang bergelung handuk.
Setelah aktivitas sekolahnya yang padat hari ini, Khey memutuskan segera mandi untuk menghilangkan bau asam serta menghilangkan rasa lengket pada tubuhnya.
Suasana sore yang masih terlihat cerah meski rona jingga telah menguasai sebagian besar langit, membuat Tita menyunggingkan senyum pada wajah cantiknya.
__ADS_1
Detik berikutnya Khey menarik handuk yang menggulung rambut hitamnya lalu mengusap rambut hitam itu agar cepat kering. Sembari menunggu kepulangan Fabian.
Hingga beberapa saat berlalu, sosok tampan suami tengil Khey tak juga nampak.
Khey pun mendengus.
"Pasti pulang malem." gerutu Khey saat Fabian dengan dengan motor apemnya tak kunjung memasuki halaman rumah.
Langit pun mulai menggelap. Hampir seluruhnya berganti warna abu abu, bahkan cenderung menghitam.
Kerlap kerlip lampu kota pun mulai nampak menghiasi, membuat suasana malam menjadi indah.
Khey menghentikan gosokan handuk pada rambut hitamnya. Sedikit membungkukkan badan, menumpukan kedua lengan tangannya pada pagar balkon yang terbuat dari besi stainles.
Khey menghela bagas berat.
Akhir akhir ini Khey seperti tidak rela jika Fabian selalu pulang malam. Khey merasa waktunya berkumpul dengan Fabian hanya saat menjelang tidur saja.
Bahkan beberapa hari terakhir ini, Fabian tidak pernah pulang terlebih dahulu saat selesai sekolah. Melainkan selalu pulang menjelang tengah malam, masih dengan berbalut seragam sekolah serata wajah lusuhnya.
Entah apa yang dilakukan oleh suami tengilnya itu di luar sana, Khey tidak dapat menduganya.
Sungguh ingin rasa hatinya mencecar banyak pertanyaan pada Fabian tengil, namun gengsinya tidak membiarkan hal itu.
Jika saja Khey mau menurunkan sedikit saja rasa gengsi itu, bisa saja kan jika dia menelfon Fabian untuk sekedar bertanya dimana keberadaan sang suami atau sekedar bertanya di mana posisinya saat ini. Bahkan mungkin bisa bertanya jam berapa Fabian bakal pulang.
Akan tetapi Khey tetaplah Khey yang memiliki gengsi yang sangat tinggi. Meski rasa rindu telah menyeruak di dalam hatinya, tetap saja Khey tidak mau melakukannya. Memilih menahannya.
Untuk kesekian kalinya Khey menghela nafas, akhirnya dia pun memilih beranjak dari balkon kamar karena udara dingin mulai menyusup kulitnya. Dan lagi adzan maghrib telah berkumandang dari segala penjuru, menandakan bahwa hari telah berganti malam.
πππ
"Apa maksudnya ini Bi?!" tanya Khey dengan sorot mata merah. Setelah melempar beberapa lebar kertas di hadapan Fabian.
Lembaran kertas itu berserak di atas ranjang.
Fabian yang baru saja memasuki kamar saat pulang, memandang bingung pada ekspresi Khey yang nampak kesal atau bahkan mungkin bisa dikatakan jika gadis itu sedang marah.
"Ada apa Ra?" tanya Fabian dengan raut wajah yang sungguh sungguh tidak memahami maksud sang isteri.
Tetap saja dia bertanya dengan lembut, meskipun wajahnya nampak sangat lelah.
Khey tak bergeming, tak sekecap pun menyahut pertanyaan Fabian. Hanya memberikan tatapan marah yang membuat kedua matanya memerah.
__ADS_1
ππππ