
Hek.
Fabian terpaku saat netranya menemukan sosok seorang gadis yang sangt mirip dengan Khey isteri barbarnya.
"Hai kak Bian kan..." Septi tersenyum berbinar sembari melajukan kakinya mendekat ke arah tempat duduk nenek dan Fabian. Septi tahu karena papanya telah membertahunya jika Fabian yang akan mengantarnya.
Fabian yang semula sempat terpaku, sedikit tersentak kemudian menormalkan tubuhnya kembali saat gadis abg yang mirip isterinya namun terlihat lebih centil itu mengulurkan tangan kanannya.
"Septi kak..." gadis itu menyebutkan namanya dengan tanpa menyurutkan senyum dari bibirnya.
Fabian mengangguk, menyambut uluran tangan Septi dengan memberikan senyuman pada wajahnya.
"Kak Ara nggak ikut?" tanya Septi setelah melepaskan tangan dari Fabian.
"Enggak. Ara ada kelas bimbel hari ini." Fabian dengan tidak memutus pandangan dari Septi.
"Berangkat sekarang aja ya ntar keburu malam. Nenek ntar nggak berhenti berkicau kalau Septi pulang malem." gadis abg itu mengerling ke arah neneknya.
Membuat nenek memukul pelan salah satu tangan Septi yang menjuntai.
"Aduh nenek sakit ini." Septi mengaduh pura pura kesakitan akibat pukulan tidak seberapa dari neneknya.
"Jangan buka aib nenek di depan cucu menantu." nenek dengan melotot.
"Emang biasanya gitu kan. Septi cepet pulang keburu maghrib.... Septi udah ashar... gitu kan nek, mana suara nenek kek toa masjid." Septi mendebat neneknya.
"Itu kan karena kamu bandel, enggak patuh sama nenek. Suka mengabaikan pesan nenek, bohong sama nenek."
"Septi enggak gitu ya nek."
"Siapa bilang enggak. Tadi aja bilangnya ke rumah Endah lima menit, nyatanya baru balikkan..."
"Yah nenek... tadi emang niatnya Septi cuma lima menit, tapi sama mamanya Endah dipaksa suruh makan. Terpaksa deh Septi ngendon di sana, mana Endah ngajak ngobrol pas makan, jadinya makin lama deh..." Septi panjang lebar.
"Alesan kan..." nenek Khey terlihat tidak percaya.
"Beneran nenek..." Septi menangkup pipi neneknya gemas.
Perdebatan kedua perempuan beda usia itu membuat Fabian terkekeh kecil. Sungguh tingkah Septi sangat berkebalikan dengan Khey. Sepertinya Septi adalah gadis yang supel, lincah, dan berkepribadian yang menyenangkan tidak seperti Khey yang selalu memberikan kesan jutek.
"Septi ganti baju dulu ya kak." Septi berlalu meski Fabian belum menjawabnya.
Sepeninggal Septi.
"Kenapa Septi memilih tinggal bersama nenek daripada dengan mama papa nek?" Fabian bertanya.
"Oh itu. Karena nenek hanya sendiri makanya Septi memilih menemani nenek."
Kakek Khey sudah lama meninggal oleh sebab itu nenek khey membutuhkan teman, meskipun ada asisten rumah tangga yang menginap untuk menemani nenek namun Septi tetap memilih tinggal dengan neneknya.
"Septi sama Ara sangat mirip ya nek..."
"Iya. Tapi sifat mereka beda."
Fabian pun terlihat mengakui ucapan nenek Khayyara.
Jika dilihat sepintas wajah kakak adik itu memang mirip bahkan keduanya memiliki rambut hitam yang hampir sama panjangnya.
Hanya saja Khey memiliki kulit yang putih bersih sedangkan Septi memiliki kulit kuning langsat, bahkan lebih mendekati kecoklatan, khas kulit orang Indonesia pada umumnya.
"Ayo kita berangkat kak." Septi telah berdiri dengan memakai sweater pink serta rok jins selutut khas anak abg. Tidak lupa dengan tas selempang yang melingkari bahunya. Sungguh septi terlihat sangat manis saat ini.
__ADS_1
Fabian tersenyum saat melihat penampilan Septi yang manis tanpa menghilangkan kesan abgnya.
"Kami berangkat dulu ya nek." Fabian beranjak dari duduknya lalu mencium punggung tangan sang nenek. Septi pun melakukan hal yang sama.
Fabian dan Septi pun berjalan keluar rumah dengan beriringan, setelah mendapatkan izin dari nenek.
"Naik apa kita kak?"
"Mobil."
Kening Septi mengerut.
"Mobilnya di mana?" Septi bertanya sembari celingak celinguk memandang teras rumah neneknya yang tidak terdapat penampakan mobil di sana.
"Kakak parkirnya di ujung sana, soalnya tadi di sini penuh banget." jelas Fabian sembari berjalan mendahului adik iparnya.
"Oh iya... tadi rumah depan itu lagi ada arisan mahmud sosialita. Pasti penuh mobil mewah, iya kan..." ucap Septi dengan centilnya.
Hm... Fabian dengan mengangguk.
Beberapa saat berjalan, Fabian menghentikan langkahnya di depan sebuah mobil sport berwarna merah menyala. Mobil itu mobil adalah mobil impor yang pastinya memiliki harga selangit.
Wow...
"Ini mobil kak Bian..." pekik Septi dengan kedua mata yang terbuka lebar saat Fabian menaiki mobil sport tersebut.
"Buruan masuk." Fabian dengan membuka pintu sisi penumpang dari dalam, karena Fabian telah masuk ke dalam lebih dulu.
Septi langsung melesat duduk pada jok sisi Fabian dengan mulut yang tidak berhenti mengagumi mobil yang dinaiki olehnya.
Fabian kembali tersenyum saat melihat tingkah Septi yang tidak berhenti berdecak kagum sembari memindai interior mobil sportnya.
"Awas jatoh..." Fabian berseru sembari menancapkan gas pada mobil sportnya.
Fabian terbahak.
Hingga Septi pun mencebik kesal menyadari tindakannya.
"Pegang yang kuat Sep, jangan sampai lepas." Fabian masih dengan tawanya.
"Kak Bian nggak lucu!" Septi mengerucutkan bibirnya.
Fabian pun meredakan tawanya.
"Makanya jadi orang jangan kek orang kampung. Kek gak pernah naik mobil aja." Fabian mengejek.
"Septi memang belum pernah naik mobil kok."
"Sungguh!!" Fabian menoleh dengan melebarkan kedua matanya.
Septi mengangguk mengiyakan.
"Elo gak pernah sama sekali?!" Fabian heran. Mana mungkin adik bungsu isterinya itu belum pernah merasakan naik mobil, padahal keluarganya tergolong orang berada.
"Belum pernah, baru kali ini." Septi terlihat meyakinkan Fabian.
"Demi apa lo belum pernah ngerasain naik mobil Sep... Emangnya kakak lo gak pernah ngajakin lo, papa... mama mungkin..."
Septi menggeleng.
"Belom pernah naik mobil sport kek gini maksud Septi kak." ucap Septi santai.
__ADS_1
"Haisshh... kirain beneran gak pernah naik mobil lo." Fabian mencebik.
"Ya kali Septi anak pedalaman ga pernah naik mobil, naik angkot juga pernah kali kak. Itukan juga mobil." Septi terkekeh karena sudah mengerjai kakak iparnya.
Fabian menggelengkan kepala berulang melihat adik iparnya yang ternyata lumayan kocak.
"Eh... ini mobil kakak sendiri apa nyolong?" Septi dengan sedikit memiringkan tubuh menghadap Fabian.
"Pinjem."
Septi mengerutkan kening.
"Mana ada orang yang ngebolehin mobil sportnya dipinjem kak..."
"Buktinya ada." Fabian dengan fokus pada jzlanan aspal di depannya.
"Pinjem sama siapa kak?" Septi kepo.
"Ayah."
"Ayah kak Bian?" Septi penasaran.
Fabian mengangguk mengiyakan.
"Kak Bian nggak bohong kan?"
"Ngapain gue bohong sama lo... nggak ada untungnya Sep..." Fabian menoleh ke arah Septi sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Tapi kata kak Ara..." Septi terlihat bingung untuk meneruskan kata katanya.
"Kenapa?"
"Emm... kakak jangan tersinggung ya..."
"Iya... ngomong aja, nggak usah sungkan." Fabian menoleh sesaat dengan memberikan senyuman ke arah Septi.
"Kata kakak, kak Bian itu miskin." akhirnya Septi melanjutkan kata katanya dengan sangat hati hati. Takut membuat kakak iparnya tersinggung.
Namun apa yang ditakuti oleh Septi tidak terjadi.
"Emang gue masih miskin Sep, yang kaya itu orang tua gue." Fabian dengan tetap tersenyum.
"Maaf... Septi nggak bermaksud menyinggung kakak." Septi dengan meremas ujung sweaternya, dia merasa takut dan tidak nyaman akan ucapannya.
"Nggak usah takut kek gitu, gue nggak gigit kok." Fabian mengacak pucuk kepala Septi karena gemas melihat tingkah adik iparnya yang lucu menurut Fabian.
"Hiss... kakak ngapain ngacak rambut gue sih. Jadi berantakan nih..." Septi kesal sembari merapikan rambut hitam panjangnya yang telah dibuat berantakan oleh Fabian.
Fabian terkekeh.
"Itu tandanya gue sayang sama lo..." ucap Fabian dengan santai. Kata itu terlontar begitu saja, dan itu membuat gadis yang duduk di sebelah Fabian tersebut terkaget.
Entahlah Fabian merasa nyaman saja melihat sosok Septi yang bisa dikatakan tengil seperti dirinya.
"Kakak... enggak jatuh cinta sama Septi kan?"
Septi berani bertanya seperti itu karena dia tahu hubungan kakaknya dengan Fabian sperti apa. Walaupun Septi dan Khey tidak tinggal dalam satu rumah namun keduanya cukup sering untuk saling menghubungi satu sama lain.
"Menurut lo...?!" Fabian dengan senyum yang sulit diartikan.
Still To be continued....
__ADS_1
Enaknya Fabian jatuh cinta sama adek iparnya enggak nih....ππππ