
"Kan baju gue elo pakek." sahut Fabian.
Khey mengernyit.
"Masak??" Lalu kedua mata Khey bergerak memindai tubuhnya.
Hek...
Lagi lagi Khey tercekat mendapati tubuhnya memakai kaos lengan panjang yang bukan miliknya.
Kenapa gue jadi pakek baju Bian.... jangan jangan semalem terjadi juga... Khey bergidik membayangkan jika Fabian kembali menjamah tubuhnya setelah dirinya tertidur.
"Gak usah mikir aneh aneh... gue gak ngapa ngapain lo." seolah Fabian mengerti akan isi otak Khey.
Khey terlihat kikuk. "Kenapa gue bisa pakek baju lo?"
"Elo yang maksa minta gue lepas baju terus elo langsung pakek gitu aja. Elo gak inget?"
Khey menggeleng dengan dahi berkerut, seolah mengingat kejadian semalam. Namun bagaimanapun dirinya mencoba mengingat, Khey tidak mendapatkan ingatannya kembali.
Khey hanya teringat saat terakhir kali Fabian meninggalkan kamarnya dengan membanting pintu kamarnya dengan keras. Setelah itu Khey menangis sehari jadinya, meratapi nasibnya hingga tertidur. Itu saja yang dirinya ingat.
"Udah gak usah dipikirin, tidur lagi aja biar tubuh lo istirahat." Fabian mendudukkan tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Bukannya Khey menuruti ucapan Fabian. Khey memilih mengikuti Fabian dengan mendudukkan diri pada kepala ranjang.
"Maaf" Khey berucap lirih.
Fabian menoleh.
"Untuk?"
"Tadi malam." Khey menunduk dengan meremas jemarinya yang bertautan.
Sesungguhnya Khey memang tidak ingin melawan suaminya, namun entah mengapa ego dan emosinya yang masih labil membuat tensinya cepat meninggi.
Apalagi semalam suasana hatinya yang sedang tidak baik ditambah dengan Fabian yang seakan memaksanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai isteri membuat Khey meninggi dan meluapkan emosinya.
"Semalem bukan salah lo sepenuhnya, gue juga salah karena telah memaksa lo. Gue juga minta maaf..." Fabian.
Hening.
Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Khey, dirinya masih diam menekuri pikirannya yang entah memikirkan apa.
"Gue gak dimaafin nih?" Fabian mengulang permintaan maafnya pada Khey.
Khey tergagap.
"Ah... eh... iya... gue udah maafin kok."
"Kalau gitu kita impas ya?" Fabian.
Khey mengangguk mengiyakan tanpa memandang Fabian.
"Ra..."
__ADS_1
Hm...
"Gimana kalau mulai sekarang kita mulai berteman?" tawar Fabian.
"Maksud lo?" Khey bingung karena merasa keduanya memang teman. Teman satu sekolah maksudnya.
Fabian terdengar menghembuskan nafas berat.
"Kita mulai hubungan ini dengan berteman untuk saling mengenal satu sama lain dan mengakhiri permusuhan kita, maksud gue elo yang memusuhi gue."
Khey melotot ke arah Fabian setelah mendengar ucapan sang suami tengilnya.
"Ucapan gue bener kan... karena selama ini elo yang bersikap seolah olah gue adalah musuh lo?!" Fabian dengan santai lalu menggerakkan kepala ke arah Khey.
Khey mengurungkan niatnya untuk memarahi Fabian, setelah mencerna ucapan Fabian. Jika diingat, selama ini memang benar dirinyalah yang selalu memperlakukan Fabian seolah adalah musuhnya.
Lalu Khey kembali menunduk untuk memutus pandangan matanya yang beradu dengan manik mata Fabian. Ada desir lirih di balik dadanya saat manik mata hitam itu menatapnya beberapa saat lalu.
Perlahan tangan kanan Khey meraba hatinya.
Tidak mungkin... ucap Khey hanya dalam hati.
"Kita mulai semuanya dari awal sekarang..." kembali Fabian berucap kata.
"Maksud lo dengan memulai dari awal itu bagaimana?" Khey masih belum memahami maksud ucapan Fabian tengil.
Fabian membenarkan posisi duduknya yang tidak nyaman lalu berkata.
"Pernikahan kita sudah terjadi. Kita tidak bisa mengulang untuk membatalkan ataupun memutuskan untuk mengakhirinya karena gue yakin pernikahan kita sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Gue cuma ingin kita menjalaninya perlahan sambil kita mengenal satu sama lain. Gue gak bakalan maksa lo buat ngelakuin itu jika lo belum siap. Elo tau kan maksud gue?" Fabian sesaat menolah ke arah Khey dan kembali memandang ke arah depan setelah melihat anggukan kepala dari istrinya.
"Tapi Bi..." Khey menyela ucapan Fabian.
"Dengerin dulu omongan gue sampai selesai, baru lo ngomong." Fabian menatap manik mata Khey sesaat lalu kembali beralih dan membuang nafas dalam.
"Gue kasih waktu buat lo putusin dia, tapi gue harap itu bisa terjadi segera karena gue gak mau nambah dosa karena kasih ijin isteri gue buat berzina." Fabian berucap dengan penekanan.
Khey masih menunduk mencerna ucapan Fabian.
"Jika ada kesempatan buat lo untuk memutuskannya, cepat lakukan sebelum lo menyesal." Fabian kembali datar.
Sorry Ra... gue ngelakuin ini karena gue gak mau elo sakit hati nantinya... lanjut Fabian dalam hati.
"Gimana... elo setuju kan?" Fabian kembali menoleh ke arah Khey saat bertanya.
"Iya... gue setuju." Khey berucap dengan menganggukkan kepala sedikit ragu.
"Jadi mulai sekarang kita berteman kan?" Fabian mengangsurkan tangan kanan nya di depan wajah Khey, hingga membuat gadis yang berstatus isterinya tersebut sontak mendongakkan kepala.
Sesaat memandang tangan kekar Fabian yang mengambang di depannya lalu dengan segera menautkan tangannya menyambut lalu tersenyum.
"Deal." Fabian mengeratkan tangan yang saling menggenggam tersebut.
"Deal." Khey membalasnya juga tak kalah erat, lalu setelahnya perlahan saling melepaskan.
Fabian menjulurkan kakinya ke lantai, hendak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun belum sempat dirinya beranjak berdiri Khey terdengar menyebut namanya.
__ADS_1
"Bi..."
"Apa?" Fabian menoleh ke belakang karena posisinya memunggungi Khey.
"Itu... em... itu..." Khey menggaruk belakang lehernya bingung.
"Itu apa?"
"Itu anu..." Khey masih tidak bisa mengucapkan keinginannya.
Fabian pun memutar setengah badannya menghadapi Khey. "Anu apa?"
"Soal itu..." Kedua jemari Khey bertaut dengan tidak berhenti bergerak.
"Soal kewajiban lo yang itu?" Fabian seolah memahami maksud isterinya.
"Gue bakal tetap memintanya... tapi nanti setelah kita lulus sekolah. Kecuali..." Fabian menjeda ucapannya.
Khey terlihat tidak sabar menunggu ucapan dari Fabian. "Kecuali apa?"
"Kecuali kalau sebelum lulus elo memintanya lebih dulu." Fabian tersenyum menggoda.
Buk...
Khey melempar bantal pada tubuh Fabian.
Fabian pun terkekeh kecil. "Siapa tau aja elo meleleh liat pesona gue, makanya minta duluan... iya nggak?" Fabian menarik turunkan alis matanya menggoda Khey.
"Enggak ada... gak usah ngarep. Gue gak bakalan meleleh sama cowok tengil kek elo..." Khey memukul tubuh Fabian dengan guling untuk menutupi rasa malunya.
"Elo belum tau aja siapa gue, makane ngomong kek gitu. Ntar kalau lo tau siapa gue, pasti bakalan klepek klepek... bentar bentar nyariin sayang dimana... cepetan pulang... Atau kalau gue mau pergi elo pasti bilang ikuutttt...." Fabian tetap menggoda Khey dengan mimik wajah yang dibuat imut.
Buk... buk...
Lagi lagi Khey memukul tubuh Fabian dengan guling yang masih dipegangnya. "Enggak... gak bakalan gue kek gitu." Khey tertawa lepas melihat wajah Fabian yang sok imut.
Fabian tersenyum penuh arti saat melihat Khey bisa tertawa lepas seperti itu.
Dalam hati Fabian membatin.
"Kisah kita memang baru dimulai, tapi aku akan selalu membuatmu bahagia." janji Fabian dalam hati dengan tidak berhenti tersenyum dengan memandangi Khey yang terlihat tertawa lepas. Jujur saja Fabian baru kali ini melihat ekspresi Khey yang tertawa tanpa beban.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
__ADS_1
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»