Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA87


__ADS_3

"Em... gue boleh minta tolong nggak?" akhirnya Khey menyahut setelah berdiam beberapa saat.


"Ngomong aja, elo butuh apa." Fabian terdengar begitu perhatian.


"Beliin gue roti jepang dong."


Hek...


Fabian menautkan kedua alis matanya, berfikir. "Roti jepang... roti apaan itu..."


"Elo mau makan roti di toilet?" Bukannya mengiyakan Fabian malah bertanya hingga membuat Khey kesal.


"Nggak usah banyak nanya. Elo mau nggak beliin...?" Khey berteriak dengan kesal.


Khey kesal karena Fabian banyak bertanya padahal Khey sudah kehabisan kata saat ini. Khey malu untuk jujur dan memberi tahu Fabian apa itu roti jepang.


"Iya... iya... gue beliin. Di kantin ada kan roti yang elo maksud..." Fabian pun mengiyakan meskipun dalam hati masih banyak pertanyaan yang memutari tempurung kepalanya.


Maklum Fabian belum pernah sekalipun mencicipi roti jepang yang dimaksud oleh Khayyara. Jadi Fabian tidak memiliki gambaran sedikitpun tentang bentuk, rupa bahkan rasa roti tersebut.


"Ada." teriak Khey cukup keras.


Baru saja satu langkah berjalan, Fabian menghentikan langkahnya karena merasakan getaran pada saku celananya.


Fabian pun meraih ponsel yang bergetar dari dalam saku celananya. Nama Farrel sahabatnya terapampang di layar ponsel pintarnya.


Fabian pun mengusap tombol panggilan untuk menjawab telepon dari Farrel.


Fabian


"Hallo Rell, ngapain?"


Farrel


"Hallo, gue lagi di minimarket nih. Beli kekurangan buat praktikum nanti. Elo nitip sesuatu enggak, kali aja elo belum bawa. Gue kan sayang sama elo Bi..."


Farrel dengan menirukan panggilan Khey kepada Fabian.


Fabian


"Njir mulut lo lemes banget... pengen muntah gue."


Terdengar kekehan Farrel dari seberang.


Terbersit ide dalam otak Fabian untuk menyuruh Farrel membelikan roti pesanan sang isteri.


"Ra di minimarket roti yang elo maksud itu ada nggak?" teriak Fabian pada Khey. Fabian berniat menyuruh sahabatnya membelikan sekalian roti pesanan isterinya.


"Ada." Khey pun menyahut dengan teriakan.


Fabian kambali berbincang dengan sang sahabat. Kebetulan Farrel sedang di minimarket dekat sekolah saat ini. Sungguh kebetulan yang menguntungkan bagi Fabian. Dia tak perlu susah susah untuk pergi membelinya sendiri.


Fabian


"Beliin gue roti jepang sekalian Rell..."


Farrel


"Roti jepang... roti apaan itu?"


Farrel terdengar bingung dari balik telepon.


Fabian


"Elo tanya aja sama penjualnya, dia pasti tau."


Fabian yakin penjual maupun penjaga minimarket pasti mengetahui jenis roti tersebut.

__ADS_1


Farrel


"Okey, siip..."


Farrel mengakhiri panggilannya dengan Fabian, lalu berjalan mendekati penjaga toko.


"Mbak minta tolong tunjukin rak roti jepang dong." tanya Farrel dengan santai tanpa tau bentuk roti jepang yang sebenarnya. Kebetulan penjaga toko tersebut seorang cewek.


Penjaga toko tersebut memandang Farrel dengan pandangan aneh.


"Buat pacarnya ya mas?" tanya penjaga tersebut sambil berjalan menuju rak roti jepang.


Farrel mengerutkan kening heran mendengar pertanyaan dari penjaga toko.


"Iya." jawab Farrel asal sembari mengekori sang penjaga toko. Dalam hati Farrel bertanya, "Memangnysa roti itu sejenis hadiah buat pacar, sejenis coklat apa ya..."


"Sayang banget sama pacarnya."


"Ya iyalah... namanya juga pacar." Farrel dengan percaya diri, meski sebenarnya dia tidak memahami maksud pernyataan sang penjaga minimarket.


"Mau yang slim, reguler atau long mas?"


Farrel mengernyit, dalam hati bertanya. "Kenapa rasa rotinya aneh gitu ya... biasanya kan rasa stroberry, coklat, melon dan sejenisnya. Ini kok slim, reguler, long..."


"Nggak ada rasa coklat atau rasa buah gitu mbak..." Farrel menyebutkan rasa yang tergambar di otaknya.


"Ya nggak ada lah mas, emangnya roti sandwich pakek rasa buah segala..." sahut penjaga toko tersebut dengan menahan tawanya.


"Ya udah yang long aja mbak... biar kenyang." Farrel membayangkan jika memilih yang long pasti rotinya lebih besar, Fabian yang memakannya bakalan kenyang.


Jawaban Farrel membuat penjaga toko bingung.


"Buat dipakek siang atau malam mas?"


"Lah ada ada aja, mau makan roti aja ditanya siang malam... udah kek belajar sains aja..." ucap hati Farrel.


"Terserah lah mbak dua duanya aja, siang sama malam." putus Farrel.


"Lah ada banyak merek pula?" Farrel menggaruk kepalanya bingung.


"Bingung ya mas?"


"Iya mbak. Emangnya rotinya kek mana sih mbak..."


"Ini mas... mas pilih sendiri saja mana yang biasanya dipakek sama pacarnya." Penjaga tersebut menunjuk deretan warna warni pada etalase dengan tersenyum simpul.


"Anj*ng... sialan lo Fab..."


πŸ“πŸ“πŸ“


Bukk...


Farrel menghempaskan kantong kresek yang berisi pesanan Fabian ke dada sahabatnya dengan kesal.


Spontan Fabian mengambil kresek hitam yang dihempaskan Farrel ke dadanya dengan pandangan heran bercampur kaget.


"Jutek banget sih Rell..." Fabian yang semula menunduk menatap ponselnya, mendongak dan mendapati wajah Farrel yang tertekuk kesal.


"Gimana gue nggak kesel kalau lo nitipnya barang kek gitu... Lain kali gue nggak bakal mau lagi..." Farrel sewot. Rasa malunya beberapa saat lalu masih tercetak jelas di pelupuk matanya.


Fabian mengernyit.


"Cuman dititipin roti doang, elo ngamuknya kek singa baru keluar kandang."


"Siapa yang nggak ngamuk kalau lo nitipnya roti kek gitu." sungut Farrel.


Fabian pun tersenyum melihat raut wajah kesal Farrel yang menurutnya sangat berlebihan, karena Fabian belum tahu bentuk dan roti yang tersembunyi di dalam kantong hitam di tangannya.

__ADS_1


"Berlebihh... han llo..." ucap Fabian dengan tersendat. Fabian tercekat saat membuka kresek hitam di tangannya.


"Pantesan dia kesel" ucap Fabian dalam hati saat melihat benda keramat di dalam sana.


Fabian cukup tahu bungkusan itu, karena Fabian sudah biasa melihatnya. Fabian sering melihat bundanya membeli benda itu saat mengantar beliau berbelanja kebutuhan bulanan.


"Gue beliin rasa orange, stroberry sama rasa anggur... pakek bareng sekalian." Farrel menyebutkan rasa tersebut sesuai dengan warna bungkus luarnya dengan nada mengejek.


Fabian terkekeh kecil.


"Tanks bro... elo emang yang terbaik. Nggak usah sewot gitu, itung itung elo belajar buat melayani istri elo nantinya..." Fabian tersenyum tengil dengan mengacungkan ibu jarinya, dan berlalu memasuki toilet khusus siswi.


"Eh... ninggalin gue..." Farrel pun tersenyum kecut lalu pergi dari sana.


Tok... tok...


"Ra..." Fabian mengetuk pintu bilik toilet sembari memanggil nama isterinya.


"Ya... elo udah dapet?" teriak Khey dari balik pintu.


"Udah. Bukain pintunya..." titah Fabian.


Ceklek...


Pintu terbuka sedikit, Khey menyembulkan wajahnya.


"Mana..." Khey menengadahkan tangannya.


Fabian menyerahkan bungkusan kresek hitam ke tangan sang istri.


Beberapa saat menunggu, Khey tak kunjung keluar . Fabian pun kembali mengetuk pintu toilet seraya memanggil Khey.


"Ra... udah belum?"


"Udah..." sahut Khey pendek.


"Kenapa nggak keluar?"


"Itu..." Khey terdengar gamang.


"Itu apa?"


Khey membuka kembali pintu toilet hanya setengahnya, memperlihatkan wajahnya dengan tertunduk lesu.


"Kenapa?" Fabian heran melihat Khey.


"Itu... anu..."


"Kenapa?" Fabian menaikkan dagu Khey hingga gadis itu mendongak.


"Itu... roknya tembus" Jawab Khey dengan malu.


Huh...


Fabian menghembuskan nafas pendek. "Cuma itu doang..."


Khey menganggukkan kepala tanpa mau memandang wajah Fabian, Khey memilih menunduk.


"Gak ada ganti di loker sekolah?"


Khey menggelengkan kepala lemah, dengan pandangan tetap ke bawah.


"Pulang?" tawar Fabian.


Khey mendongak tanpa berucap kata, terlihat keraguan dari sorot matanya.


"Biar gue pinjem mobil Farrel."

__ADS_1


Khey pun mengangguk, mengiyakan.


😍😍😍😍


__ADS_2