Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 142


__ADS_3

"Yang, duduk sini deh." Lagi Fabian menepuk pahanya. Mengisyaratkan Khey untuk duduk di sana.


"Nggak mau." Tolak Khey dengan tegas.


"Kangen nih."


"Enggak mau." Khey di sela kunyahannya.


"Ck... nolak keinginan suami itu dosa lo." Fabian mulai mengeluarkan jurus bujuk rayunya.


"Enggak dosa kalau permintaan suaminya itu mesum tidak tau tempat." Jawab Khey dengan mencebik.


"Orang di rumah sendiri kok, mana yang disebut nggak tau tempat yang?!"


"Ini kan tempat terbuka. Lo nggak malu diliatin sama burung burung yang lewat itu." Khey menunjuk langit sore dimana segerombolan burung terbang di sana. Sepertinya hendak pulang ke sarang.


"Biarin. Mereka cuma liat doang, nggak bakalan nyebar gosip."


"Dasar tengil, di otak isinya cuma mesum mulu." Khey masih dengan mencebik.


Pyek...


"Beneran tega lo Ra."


"Biarin." Khey mengangkat kedua kaki menaiki kursi sembari menikmati pancake buatan sang mertua dengan menyamanankan posisi duduknya.


"Makanya pelan, ntar tersedak tau rasa." Fabian memandangi Khey yang mengunyah pancake pisang buatan bundanya seperti sangat menikmati rasanya. Bahkan mulut Khey terlihat belepotan, ingin rasanya Fabian membersihkan dengan mulutnya.


Ah... selalu saja memandang Khey yang apa adanya tanpa jaim itu membuat Fabian berfantasi yang tidak tidak. Apalagi setelah merasakan nikmatin surga dunia yang memabukkan itu, membuat Fabian ingin mengulangnya kembali. Seakan tak rela mengabaikan tiap kali ada kesempatan.


"Lo kek nggak pernah makan kue aja."


"Emang nggak pernah." sahut Khey dengan menjilatu ujung jemarinya, sepertinya sayang membuang meski hanya sisa manis kue tersebut.


Fabian terkejut.


"Elo nggak pernah makan kue kek gitu?"


"Maksudnya yang bikinan sendiri kek gini Bi, kalau beli sering." Terang Khey.


"Oh gitu." Fabian manggut manggut. "Mama nggak pernah bikinin lo?" Tanya Fabian dengan hati hati, takut membuat Khey sedih.


"Enggak. Dia sibuk sama kerjaannya." Khey berusaha menjawab pertanyaan Fabian dengan biasa saja. Meski sesungguhnya dalam hatinya terbersit sedikit rasa sedih.


Bagaimana Khey tidak sedih, jika dia selama ini tidak pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya. Mereka lebih memilih pekerjaannya daripada berkumpul bersama keluarganya.


Dan Fabian cukup tahu akan kesedihan itu, Fabian cukup peka untuk menangkapnya.


"Lo bisa minta bunda buat dibikin saat lo kepengen." Memandang Khey dengan penuh perhatian, seolah ingin mencurahkan kasih sayang yang mungkin tidak pernah Khey dapatkan dari keluarganya.


"Iya, nanti gue juga mau minta diajarin cara bikinnya. Biar nanti kalau gue punya anak perempuan gue juga bisa bikin bareng. Bisa kumpul, ngobrol, berbagi cerita bareng." Khey berangan dengan pandangan jauh lurus ke depan. Entah apa yang dipikirkan olehnya.


Fabian beranjak dari tempat duduknya, mengayunkan langkah kakinya mendekat pada sang isteri. Duduk berjongkok di hadapan Khey, meraih jemari Khey dan mengenggamnya erat.


Membuat tubuh Khey sedikit tersentak.


"Bi, ngapain lo duduk di situ?" Khey sedikit tidak nyaman dengan posisinya.


Fabian tersenyum tipis.


"Mau ngerayu lo." Fabian mengecup jemari tangan Khey cukup lama, lalu mendongak.


"Hissh... apaan sih Bi." Rasa hangat menjalari tubuh Khey hingga menimbulkan semburat warna merah pada kedua pipinya.


Kedua pasang mata itu saling bersitatap, seakan mencurahkan segala rasa dalam diri masing masing.


Khey memalingkan wajah, memutus pandangan terlebih dahulu. Berlama lama memandang Fabian membuat debaran jantungnya berdetak menggila.

__ADS_1


Meski tindakan Fabian bukanlah hal yang istimewa, namun tetap saja sorot mata teduh dan sentuhan tangan kekar itu membuat Khey salah tingkah.


Kedua telapak tangan yang berada dalam gengaman tangan Fabian pun mulai terasa berair. Sungguh Khey harus berusaha sekuat tenaga untuk membendung rasa yang telah membuncah di dalam dadanya.


"Ra..."


Hmm...


Khey berdehem, masih bertahan dengan wajah yang berpaling dari Fabian.


"Lo nggak suka ya liat gue?"


Pertanyaan Fabian membuat Khey menggerutu dalam hati.


Kenapa nggak peka sih... bukannya nggak suka tapi gue nggak kuat liat tatapan lo Bi...


"Ra... kok diem sih." Fabian menggoyang jemari Khey yang berada dalam genggaman tangannya.


"Bukan nggak suka Bi."


"Terus kenapa?" Fabian mengikuti wajah Khey yang masih berpaling darinya.


Khey menghembuskan nafas pendek.


"Jantung gue deg degan." aku Khey dengan lirih, sungguh rasanya sangat malu mengungkapkannya.


Kedua sudut bibir Fabian terangkat, tersenyum senang.


Fabian pun berdiri, membungkukkan setengah tubuhnya mengikis jarak wajahnya dengan Khey, menyisakan jarak satu senti saja.


Dengan kedua tangan yang menumpu pada pegangan kursi, membuat Khey berada dalam kungkungannya.


"Makin deg degan nggak?" Fabian dengan senyum tengilnya.


Tanpa Khey menjawab pun, debaran jantung Khey yang meletup terdengar oleh indera pendengaran Fabian.


Fabian semakin mengikis jarak, membuat Khey memundurkan wajahnya waspada.


Hekk


Namun hal itu tidak membuat Fabian menghentikan aksinya.


Hekk... hekk...


Lagi Khey cegukan. Tidak hanya sekali.


Membuat Fabian mendengus, menarik tubuhnya tegak kembali.


"Gue ambilin minum." Fabian melenggang memasuki rumah.


"Kenapa jadi gini sih." gumam Khey dengan kembali cegukan.


Khey pun memukul mukul pelan dadanya, bermaksud menghentikan cegukannya.


"Jangan dipukul kek gitu entar malah bikin dada lo sakit." Fabian duduk pada kursinya semula dengan gelas berisi air putih di tangannya.


"Buat gue kan? Hekk.."


Khey memandang gelas di tangan Fabian lalu beralih pada wajah sang suami. Sekali lagi cegukan Khey berbunyi.


Fabian mengangguk.


"Sini." Khey mengulurkan tangan, meminta gelas tersebut.


Bukannya memberikan kepada sang isteri, Fabian malah menarik gelas tersebut menjauh dari jangkauan tangan Khey.


"Katanya buat gue?" Khey dengan pandangan yang bingung.

__ADS_1


"Lo ke sini, minumnya sini deket suami." Fabian dengan nada memerintah.


"Enggak ikhlas banget sih Bi. Masih aja nyari kesempatan buat mesum, tega lo sama gue..." Khey dengan bibir mengerucut.


"Mau enggak? Kalau nggak mau ya udah, nggak papa. Gue minum sendiri aja."


"Lo minum aja, cegukan gue udah berhenti kok, wlek..." Khey memeletkan lidah mengejek Fabian. Setidaknya sampai saat ini cegukan Khey tidak datang lagi.


"Kalau belum dikasih minum, kek gitu nggak bakal berhenti beneran. Ntar pasti kumat lagi."


"Nyatanya enggak tuh." Khey dengan pede.


Baru saja Khey selesai bicara.


Hekk


Cegukan itu datang lagi.


"Gimana? Masih nolak ini..." Fabian menggoda Khey dengan seolah hendak meneguk air putih dalam genggaman tangannya.


"Jangan jangan buat gue itu." Khey beranak dari duduknya, mendekat pada Fabian. Mengangsurkan tangan kanannya, meminta gelas berisi air putih tersebut.


Set


Bruk


Bukannya memberikan, Fabian malah menarik pergelangan tangan Khey membuatnya terduduk pada pangkuan Fabian.


"Abi." Khey tersentak.


"Kalau minum itu duduk, nggak baik berdiri."


Tangan kiri Fabian merengkuh pinggang Khey, sedang tangan kanannya menyerahkan gelas berisi air putih pada sang isteri.


Khey segera meminumnya hingga tandas tak tersisa, agar cegukannya tidak datang lagi.


Setelahnya Khey hendak beranjak, namun Fabian merengkuh erat pinggang Khey dengan kedua tangannya. "Di sini aja."


"Tapi Bi..."


"Gue pengen peluk lo." Fabian setengah mendongak dengan pandangan yang memohon.


Mau tak mau Khey mengurungkan niatnya.


"Gue takut ayah bunda lihat.". Khey dengan degub jantung yang kembali berdetak lebih cepat.


"Biarin aja. Mereka juga pernah muda."


"Tapi ayah suka ngeledek."


"Nggak usah di dengerin." Fabian menyusupkan wajahnya diantara dua gunung kembar sang isteri.


Jantung Khey pun kian berdegub kencang.


Setelah beberapa saat Khey terdiam, membiarkan Fabian.


"Bi, udah." Khey menangkup kedua rahang Fabian untuk sedikit merenggangkan dekapan wajah sang suami.


Fabian mendongakkan wajahnya kembali, hingga kedua manik hitam suami istri remaja tersebut saling beritatap.


Perlahan pandangan itu berganti pada bibir masing masing. Ada rasa menggelora di dalam dada keduanya untuk kembali mencicipi benda kenyal yang selalu menghadirkan rasa manis yang tidak dapat terelakkan saat bibir itu saling mencecap.


Perlahan keduanya memajukan wajah, mengikis jarak.


Saat jarak itu hanya tinggal satu senti saja, tiba tiba...


"Abi... Ara..."

__ADS_1


Gubrak....


😍😍😍😍


__ADS_2