
"Pagi Pa..." sapa Fabian pada papa mertuanya saat dirinya dan Khey sudah berada di ruang makan.
Saat ini papa Khey sedang duduk sendiri di ruang makan dengan menikmati sarapan paginya.
"Pagi Bian, Ara sayang... Bagaimana tidur kalian semalam? Nyenyak kan?!" tanya papa Khey tersenyum dengan memandang Fabian lalu setelahnya memandang Ara.
"Alhamdulillah ... kita berdua tidur dengan nyenyak kok Pa ... Iya kan sayang?!" Fabian menoleh ke arah Khey yang telah duduk di sampingnya.
Khey mengangguk sekilas, seolah tidak ingin berbasa basi di depan papanya.
"Kapan papa pulang?" tanya Fabian sembari menerima piring yang telah diisi nasi oleh Khey. Seingat Fabian saat dirinya pulang malam kemarin, papa mertuanya belum ada.
Meskipun Khey tidak menerima pernikahannya dengan Fabian, namun dirinya tetap melakukan kewajibannya melayani suaminya saat berada di rumah. Bukannya Khey melakukannya untuk menyenangkan atau takut dengan keluarganya, namun Khey melakukannya karena tidak ingin menambah dosanya semakin banyak karena mengabaikan suami sahnya.
"Papa masuk rumah pas adzan shubuh tadi."
"Oh pantes, Bian semalam belum lihat papa." Bian mengambil sayur dan lauk. Lalu sekali lagi bertanya pada papa mertuanya. "Mama belum pulang?"
Papa mertua Fabian terlihat tersentak, namun Fabian yang sudah mulai menikmati sarapannya tidak menyadari akan hal itu.
Lain halnya dengan Khey yang sudah terbiasa dengan kondisi keluarganya sangat memahami bahasa tubuh papanya, namun Khey pura pura acuh.
"Penyelenggaraan fashion show yang mama ikuti belum selesai." papa mertua Fabian memberi alasan meskipun sebenarnya beliau pun tidak tahu alasan yang sebenarnya karena isterinya tidak memberikan kabar padanya. Bahkan saat beliau mencoba menghubungi isterinya, mama Khey tersebut tidak mengangkat telfonnya.
Fabian menganggukkan kepala berulang tanda mengerti. Karena dirinya memang tidak mengetahui kondisi keluarga Khey yang sebenarnya.
Khey hanya mengaduk makanannya, dalam hati merasa kesal dengan papanya yang selalu saja berbohong menutupi kondisi keluarganya seolah baik baik saja.
Khey tahu jika papanya berbohong dengan ucapannya barusan. Karena Khey tahu jika mamanya tersebut pasti mengabaikan panggilan dari papanya.
Pun demikian halnya saat kemarin Khey mencoba menghubungi mamanya, beliau mengabaikannya meskipun panggilannya tersambung. Bahkan tanpa peduli dengan perasaan anak gadisnya, langsung mematikan ponsel dan beberapa saat setelahnya tidak dapat dihubungi lagi.
Bahkan pagi tadi Khey masih belum bisa menghubungi ponsel wanita yang selalu saja sibuk dengan urusannya sendiri tersebut tanpa peduli jika dirinya memiliki kerinduan pada sosok wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Kadang Khey merasa marah karena merasa tidak ada gunanya dirinya lahir, jika kedua orang tuanya mengabaikan keberadaannya. Hidup berkecukupan bukan berarti kehidupannya indah. Setiap hari berasa sepi.
Hadirnya Fabian beberapa hari ini membuat rumah besar keluarganya terasa ramai, meskipun itu seringkali diisi oleh pertengkarannya dengan Fabian tengil.
"Ara." panggil papanya.
Khey yang semula menunduk karena mengaduk dan memandangi makanan dalam piring makannya, mendongakkan kepala.
"Iya pa..."
"Papa belum sempat mentranser uang saku buat kamu nak, papa kasih langsung saja ya?!" ucap papa Khey seraya membuka dompetnya.
Fabian yang mendapati hal itu langsung mencegahnya .
"Nggak usah pah, papa simpan saja uangnya." kedua tangan Fabian menghentikan tangan papa Danu yang sedang memegang beberapa lembar uang berwarna merah untuk diserahkan pada anak gadisnya.
__ADS_1
Papa Khey menautkan kedua alisnya bingung.
Pun demikian halnya dengan Khey, dia mengerutkan dahi saat mendengar dan melihat aksi suami tengilnya. Bagaimana mungkin Fabian tengil yang masih sekolah itu memperoleh uang untuk memberinya uang jajan. Padahal dia dan keluarganya terlihat biasa biasa saja.
"Ara tanggung jawab Bian sekarang pa... biar Bian yang kasih uang jajan buat Ara." Fabian menjawab kebingungan Khey dan sang papa mertua.
"Tapi Bian... " papa Danu terlihat ragu.
"Pah... Ara istri Bian sekarang. Sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab Bian untuk menafkahi dan kasih uang jajan Ara. Insyaa Allah Bian mampu kok." ucap Fabian dengan kembali mendorong tangan papa mertuanya agar menuruti keinginannya.
Khey berdecih dalam hati, meremehkan ucapan Fabian. Tanggung jawab menafkahi gue?! Gak salah lo ... dasar cowok tengil belagu. Hidup susah aja sok mampu.
Papa mertua Fabian terdiam sesaat, menelisik pada wajah Fabian yang tersenyum meyakinkan dirinya.
Papa Danu tahu jika Fabian mampu menafkahi anak gadisnya, bahkan bisa melebihi uang saku yang diberikan olehnya untuk Khey selama ini. Mengingat keluarga Fabian yang kaya dan hanya memiliki anak semata wayang yaitu suami dari anak gadisnya, pasti dia lebih dari mampu.
Hanya saja sebagai seorang kepala keluarga dan seorang ayah untuk anak gadisnya yang masih remaja papa Danu masih merasa bertanggung jawab pada Khey.
"Pah... kasih izin Bian buat melakukan tanggung jawab Bian." Fabian tersenyum memohon.
Papa Danu menghela nafas pelan, kemudian memasukkan kembali lembaran uang berwarna merah ke dalam dompetnya.
Papa Danu menuruti keinginan Fabian, beliau sadar jika apa yang dikatakan menantunya tersebut benar adanya.
Fabian adalah suami dari anak gadisnya, dan dia berkewajiban untuk melakukannya.
Sesungguhnya Fabian sudah mengatakan dan meminta hal itu kepadanya papa Khey sesaat setelah dirinya dan Khey menikah. Namun pada saat itu papa mertuanya tersebut masih menolaknya.
"Enggak pah, Ara tanggungan Bian. Bian akan berusaha mencukupi kebutuhannya. Papa tidak perlu memberinya." Fabian menolak tawaran yang diberikan pada Khey.
Fabian benar - benar tidak ingin isterinya bergantung lagi pada keluarganya, termasuk papanya meskipun papa Khey mampu melakukannya.
"Baiklah jika itu menjadi keputusan kamu, papa hanya bisa bilang terima kasih banyak sama kamu Bian. Jaga dan sayangi Ara dengan sepenuh hati, pulangkan dia baik baik ke papa jika kamu tidak sanggup lagi menghadapinya." Papa Khey memandang Fabian dengan sorot mata penuh harap.
Fabian mengangguk mantap, untuk meyakinkan papa mertuanya.
Khey merasa kesal mendengar pernyataan Fabian, suami tengilnya. Dalam hati mengeram marah. "Bisa - bisanya dia ngomong kek gitu... Sok bertanggung jawab sama gue, duit masih minta sama orang tua aja sok belagu."
Papa Danu pun pamit kepada pasangan remaja yang masih menikmati sarapan paginya.
"Papa pergi dulu ya, soalnya pagi ini ada rapat yang harus papa hadiri."
"Iya pah..." jawab Khey dan Bian bersamaan, membuat keduanya terlihat kikuk di depan papa mertua.
Papa Khey meninggalkan ruang makan dengan tersenyum.
Sepeninggal papa Khey.
"Elo apa apaan sih Bi, pakek mencegah papa gue ngasih uang segala?! Papa gak jadi kasih gue uang kan jadinya, mana uang gue udah habis lagi..." ucap Khey dengan nada marah.
__ADS_1
Fabian yang masih mengunyah nasi dalam mulutnya, segera menelannya.
"Salahnya di mana? Mulai sekarang elo emang tanggung jawab gue Ra." Fabian menoleh ke arah Khey yang memandangnya marah.
"Cih ... masih minta sama ortu aja bangga. Elo gak mungkin bisa penuhin kebutuhan gue. Dasar sok lo!" Khey meremehkan dengan kasar beranjak meninggalkan meja makan, padahal Khey belum memasukkan makanan sesuap pun ke dalam mulutnya.
"Ra ... Ara ...!" seru Fabian mau tidak mau akhirnya mengakhiri sarapan paginya, meski dirinya sangat menyayangkan sisa makanan pada piring makannya.
Fabian dididik oleh orang tuanya untuk menghargai makanan jangan sampai membuangnya jika masih layak untuk dimakan, karena di luar sana masih banyak orang orang yang kurang beruntung sehingga tidak dapat menikmati makanan setiap saat.
Fabian segera berlari menyusul Khey.
"Bareng sama gue aja, gue boncengin daripada nunggu Pak Maman. Kasian kalau pak Maman buru buru pasang ban mobilnya." Fabian menawarkan diri saat Khey masih berdiri di teras rumah menunggu Pak Maman yang sedang mengganti ban mobil akibat bocor.
"Ogah! Masak cewek cantik kek Lisa blacpink gini diboncengin pakek apem." Khey menolak sembari memandang remeh motor matic Fabian yang berwarna merah muda.
"Enak aja lo ngatain motor gue apem. Gini gini motor sah punya gue, gue beli sendiri." Fabian membela diri.
Khey berdecih.
"Iya elo yang beli sendiri tapi duitnya dari emak bapak lo!" Khey tetap saja meremehkan.
"Ck ... ini motor gue beli pakek uang sendiri hasil keringat gue, gak seperti cowok lo yang cuma jual tampang, bangga sama pemberian orang tua." ucap Fabian kesal sembari menaiki motor matic kesayangannya.
Khey mencebik tidak mempercayai ucapan Fabian tengil.
"Lo ikut gue gak?" sekali lagi Fabian menawari Khey, bagaimanapun Khey membuatnya kesal namun gadis itu adalah isteri sahnya.
"Ogah. Tar gue dikerubuti semut karena duduk di atas apem." tolak Khey dengan sinis.
Sebagai anak remaja pada umumnya yang memiliki emosi yang naik turun tidak stabil, Fabian menyalakan motornya lalu memilih berangkat sekolah lebih dulu.
Meninggalkan Khey tanpa peduli dengan gadis itu. Bahkan Fabian melupakan tujuan awalnya buru buru menyusul Khey tadi.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1