Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 187


__ADS_3

"Gue pikir Bella nggak mungkin sejahat itu Ra." Fabian tetap berusaha berfikir positif meski telah melihat jelas nomor yang telah mengirim foto itu adalah Bella.


"Gimana bisa nggak mungkin, jelas jelas ini nomor yang sama Bi." Khey menunjukkan layar ponsel miliknya dan milik Fabian yang menunjukan nomor ponsel Bella.


"Gue tau banget siapa Bella Ra, dia nggak bakalan sejahat itu." Fabian masih saja dengan pembelaaannya.


"Elo belain gadis itu Bi..." Khey dengan sorot mata tajam menghujam.


Fabian menghela nafas mendengar perubahan intonasi suara Khey yang naik satu oktaf lebih tinggi. Belum lagi sorot mata marah yang Khey layangkan pada dirinya. Fabian jelas tahu jika Khey tengah marah dan juga mungkin cemburu saat ini.


"Enggak gitu sayang." Fabian dengan suara selembut mungkin. "Sudahlah nggak usah marah. Di dalam sini, di hati gue itu cuma ada lo. Nggak ada yang lain." Fabian menunjuk dada sebelah kirinya.


"Nggak bohong kan Bi?"


Fabian menggeleng.


"Gue nggak suka lo belain ring ring bell itu." ketus Khey dengan bibir mengerucut. Terlihat jelas kekesalan pada wajah Khey saat ini.


"Sorry. Gue nggak bermaksud belain dia. Gue cuma nggak percaya aja dia melakukannya. Gue cu..." Fabian menghentikan ucapannya saat menyadari raut wajah Khey yang merah padam.


"Tapi bisa jadi sih... orang kan bisa berubah." Fabian membelokkan kalimatnya saat wajah Khey terlihat semakin menyeramkan.


"Jangan bilang lo masih punya rasa sama cewek itu?" Khey dengan menatap Fabian menyelidik.


"Enggak yang, enggak... rasa itu udah nggak ada di sini. Beneran." Fabian meyakinkan Khey dengan sungguh sungguh. Fabian tidak ingin kerepotan lagi jika membuat Khey ngamuk.


"Gue nggak percaya." Khey melipat kedua tangan seraya membuang muka.


"Yang..."


Khey tetap pada posisinya.


Fabian yang tengah duduk di samping Khey pun beringsut. Segera duduk berlutut di hadapan Khayyara.


"Sayang..." Fabian membuka lipatan tangan Khey lalu mengenggamnya.


"Ngadep sini yang..." Pinta Fabian lembut, mengecup punggung tangan Khey yang berada dalam genggamannya kemudian mendongakkan kepala.

__ADS_1


"Lihat mata gue." perintah Fabian saat Khey telah menghadap ke arahnya dengan sedikit menunduk karena posisi Khey yang lebih tinggi dari Fabian. Karena Khey duduk di atas sofa sedangkan Fabian berlutut.


"Lihat dengan baik, apakah ada cinta lain di mata gue selain elo?" Fabian dengan menatap lurus pada kedua manik hitam Khey.


Deg... deg... deg...


Detak jantung Khey terdengar tak beraturan saat kedua manik hitamnya mendapatkan tatapan dalam dari Fabian.


Meski tatapan itu bukan pertama kalinya, namun tetap saja Khey tidak dapat menampik debaran jantungnya yang berdetak berkejaran.


"Ra..."


Khey terggagap kemudian menggelengkan kepala perlahan.


"Gue percaya sama lo Bi. Cinta lo cuma buat ggu..."


Cup


Fabian mengecup singkat bibir Khey lalu tersenyum.


"Tanks, udah percaya sama gue." Fabian lalu mendekap tubuh Khey dengan kuat untuk meluapkan rasa bahagianya karena Khey telah mempercayainya.


"Sorry yang... gue cuma terlalu senang." Fabian mengendurkan dekapannya lalu medaratkan bibir kenyalnya pada kedua pipi Khey silih berganti. Lalu setelahnya menangkup kedua tangan Khey dalam genggamannya.


"Sorry Ra karena gue sempat menduakan cintamu."


Fabian menatap dalam manik hitam Khey.


Khey tersenyum tipis dengan kedua bola mata yang berkaca kaca, hatinya sangat terharu mendengar permintaan maaf dari Fabian. Padahal Fabian menyukai Bella sebelum menikah dengannya. Dan lagi mereka tidak melakukan hubungan perselingkuhan di belakangnya.


"Lupakan saja, gue nggak mempermasalahkan kok. Itu kan terjadi saat lo belum nikah sama gue Bi. Justru gue yang harus minta maaf karena malah selingkuh dari lo, mempertahankan hubungan gue sama Doni padahal jelas jelas gue udah nikah sama lo." Khey dengan menahan sesak tangis harunya.


"Padahal gue dulu udah janji bakal jadi istri yang setia buat lo. Bakalan bisa ngenalin lo saat kita bertemu lagi, nyatanya gue bohong. Elo yang lebih dulu mengenali gue." Khey mengingat janjinya saat kecil dulu dengan tanpa bisa menahan bulir bening yang merosot dari kedua sudut matanya.


"Udah nggak usah nangis, semuanya sudah terjadi tidak perlu kita sesali. Mulai sekarang kita jalani pernikahan kita dengan penuh cinta." Fabian menyusut buliran bening dari wajah Khey dengan kedua ibu jarinya.


"Jangan ada lagi kebohongan, jangan ada lagi orang lain. Cukup elo sama gue." Khey memeluk Fabian erat.

__ADS_1


"Gue bener bener minta maaf sama lo Bi. Gue janji nggak bakalan bikin lo kesel lagi."


"Gue juga janji bakal bikin lo tetap tertawa, nggak akan lagi ada air mata yang keluar dari mata lo." Fabian mengurai pelukan Khey lalu memberikan tatapan lembut pada sang isteri.


"Makasih Bi."


"Sama sama sayang." Fabian tersenyum berbinar kemudian mendaratkan ciuman gemas pada seluruh wajah Khayyara.


"Bi... geli, basah semua ini." Khey berusaha mendorong wajah Fabian agar menghentikan ciumannya.


Bukannya berhasil, namun malah mmbuat Fabian semakin gencar mendaratkan bibir basahnya pada tiap inchu permukaan hakus bak pualam Khayyara. Hingga akhirnya bibir tebal itu melabuhkan diri pada bibir pink ranum Khey yang manis.


Dengan kedua mata yang menutup, perlahan dan lembut bibir Khey mulai mengikuti irama cecapan bibir Fabian. Saling melesakkan lidah untuk mencicipi setiap inchi rongga mulut mereka seraya bertukar saliva.


Suara ceca pan dan lengu han mulai memenuhi ruang segi empat yang semula sunyi tersebut.


Seiring dengan kegiatan mengeksplore rongga mulut masing masing, tubuh Fabian bergerak mendorong tubuh Khey hingga ambruk di atas sofa ruang kerja Farrel.


Kedua kaki Khey yang menjuntai ke lantai tidak membuat Fabian mengurungkan niatnya menindih tubuh yang sudah membuatnya candu. Tanpa memutus tautan bibirnya, satu tangan Fabian bergerak merayap menuju puncak kembar milik Khey. Tangan itu bergerak intens, menangkup dan mere mas kuat hingga membuat empunya menggelinjang tak karuan.


Seakan tak peduli tempat, Fabian menekan bagian bawah tubuh sang isteri dengan tuas pabrik kecebong yang telah menegang sempurna. Gairah kelakian Fabian semakin terbakar saat rungunya menangkap desah nikmat dari Khey.


Dengan deru nafas yang masih terengah tak sabar Fabian melepaskan tautan bibirnya. Membopong tubuh Khey untuk menempatkan tubuh sang isteri pada sofa seluruhnya.


"Bi..." Khey nampak takut saat menemukan tatapan sayu dari Fabian. Khey sangat tau arti tatapan mata Fabian saat ini. Ingin rasanya Khey menolak namun reaksi tubuhnya seolah mendamba dan menginginkan hal yang serupa dengan Fabian.


"Gue nggak bisa menahannya Ra." Fabian menatap intens Khey dengan pandangan berkabut gairah.


"Di rumah aja..." Khey dengan dada naik turun. Dan itu membuat dua bongkahan kembarnya ikut bergerak naik turun seolah menggoda Fabian. Entah sejak kapan kapan kancing baju atas yang Khey kenakan telah terlepas Khey tidak menyadarinya.


"Nggak bisa Ra." Fabian dengan serak.


"Tapi Bi ini di.." tubuh Khey bergetar dengan pupil mata bergerak melirik pada pintu kayu yang tertutup rapat.


Meski pintu kayu itu tertutup rapat, namun bisa saja tiba tiba Farrel atau yang lainnya masuk. Bagaimana kalau nanti ada yang memergoki mereka berbuat mesum di sana. Khey merasa takut akan hal itu. Apalagi Khey tidak mengetahui jika restoran ini adalah milik Fabian, karena memang Fabian belum menceritakannya.


"Nggak papa. Sebentar aja ya Ra. Gue bakalan cepet." Fabian segera meraup salah satu bongkahan kembar Khey dengan rakus. Tak urung membuat Khey seketika mende sah dan mele nguh nikmat.

__ADS_1


"Bian... Sial!"


😍😍😍😍


__ADS_2