
Fabian belum sepenuhnya paham dengan tipikal Khey isterinya. Dia juga belum terlalu banyak tau tentang lingkaran pertemanan sang isteri. Untuk itu Fabian tidak bisa menemukan keberadaan Khey dengan cepat.
Fabian menghentikan motor matic apemnya saat merasakan ponsel pintarnya bergetar. Dengan segera membuka helm dan meraih benda pipih dari saku celananya.
"Gue udah tanya Alya sama Rhea, tapi mereka nggak tau Khey ada di mana." ujar Farrel melalui sambungan telepon.
"Elo yakin mereka berdua tidak tahu?" Fabian memastikan.
"Iya, gue yakin mereka nggak bohong. Mereka juga bilang, hampir seminggu ini Khey nggak masuk sekolah. Dan nggak bisa dihubungi." Farrel meyakinkan.
Fabian memang meminta bantuan Farrel untuk mencari informasi keberadaan Khey. Meskipun Farrel dan Khey satu sekolah, nyatanya Farrel juga tidak mengetahui jika Khey absen dari sekolah saat Fabian pergi ke Bali.
"Ya udah kalau gitu, udah sore. Elo balik kerja aja, biar gue lanjut cari sendiri." Fabian merasa tidak enak jika harus merepotkan Farrel.
Fabian pun memaklumi karena memang Farrel juga memiliki kesibukan sendiri. Toh memang seharusnya Fabianlah yang bertanggung jawab mengenai Khey, bukan orang lain.
"Gue bakal tetep bantuin lo nyari Khey Bi."
"Lo urus aja kerjaan lo, gue yakin lo cukup kelabakan seminggu ini." Fabian menolak halus bantuan Farrel.
"Bian..."
Fabian pun mendesah.
Dia cukup tahu dengan ketulusan Farrel padanya.
"Ya udah lo cari info sebisanya buat nyari keberadaan isteri gue. By phone aja, jadi lo masih tetep bisa ngurusin resto." Fabian pun mengalah dengan syarat.
"Baiklah... lo hubungi gue segera kalau ada apa apa."
Farrel pun akhirnya memutus sambungan teleponnya.
Fabian mencengkeram kuat ponselnya, lalu menghela nafas pelan.
"Jangan bikin gue khawatir Ra..." lirih Fabian pelan.
Sudah puluhan kali Fabian mencoba menghubungi Khayyara, namun sebanyak itu pula dia gagal.
Kini Fabian tidak tahu ke mana lagi di harus mencari keberadaan isterinya.
Sejak pertama kalinya mendarat di bandara Fabian langsung mencoba menghubungi nomor yang memiliki kedekatan dengan Khey isterinya.
Bahkan Fabian telah menghubungi mama dan papa Khey bergantian. Tidak ada jawaban jelas dari kedua orang tua Khey, bahkan mereka terkesan tidak peduli dengan keberadaan anak gadis mereka.
Entah bagaimana bisa kedua orang tua Khey itu seperti mengabaikan keluarganya, Fabian pun tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka.
Fabian pun memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku celana kembali, memakai helm yang sempat dilepas olehnya. Kemudian bersiap menyalakan motor kembali.
__ADS_1
Fabian tidak ingin melewatkan waktu sedikit un untuk menemukan keberadaan Khey. Bayangkan Khey seorang diri dalam kondisi tidak stabil berkelebatan di pelupuk matanya.
Fabian segera melajukan motor matic apemnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan aspal yang ramai dipenuhi oleh kendaraan bermotor.
Dengan lincah Fabian meliukkan motor matic apemnya untuk mendapatkan lajur kosong. Panasnya matahari yang terik menyengat tubuhnya yang hanya berbalut kaos oblong hitam tipis tidak dihiraukan olehnya. Menemukan Khey adalah prioritas utamanya saat ini.
Drrt... drrt...
Fabian merasakan ponselnya bergetar, namun dia memilih mengabaikannya karena dia sedang berada di tengah jalur yang padat.
Rasa penasaran menyelimuti hatinya saat merasakan getaran di saku celana jinsnya itu tidak berhenti.
Hingga tiba saatnya Fabian harus menghentikan motor matic apemnya karena lampu merah menyala.
Fabian menjadikan kesempatan itu untuk membuka ponsel pintarnya.
"Bunda." desis Fabian dengan kening mengerut, saat mendapati kontak bundanya yang melakukan panggilan.
Ngapain bunda nelfon... ucap hati Fabian,
Ah... Pasti bunda khawatir karena gue belum ngasih kabar... ucap hati Fabian saat menyadari kemungkinan bunda menghubunginya.
Fabian un menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memindai sekitar, mencari tempat berhenti.
Karena saat ini posisi Fabian berada di tengah lajur, dia harus berupaya ke lajur pinggir untuk berhenti.
Fabian kembali memasukkan ponselnya lalu memutar handel gas karena lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau. Meliukkan motor matiknya kembali dan mencari sela untuk mencari tempat berhenti.
Fabian menekan handel rem tangan dengan kuat untuk berhenti. Melepas helm lalu meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada nomor bundanya.
"Assalamualaikum Bi..."
Terdengar suara lembut dari seberang telpon, siapa lagi kalau bukan bundanya.
"Walaikumsalam bun... maaf Abi belum sempat nelfon bunda, juga belum mengunjungi bunda." ucap Fabian penuh dengan perasaan bersalah.
Fabian tahu jika bundanya pasti mengkhawatirkan keadaannya mengingat dia terburu - buru pulang lebih dulu, dan berpisah dengan rombongan.
Pihak pendamping dari sekolah pasti telah memberitahu sebelumnya kepada keluarganya. Mengingat Fabian adalah putra tunggal pemilik yayasan sekolahnya.
"Untuk kali ini bunda maafkan karena kamu tidak memberitahu bunda saat kamu memutuskan pulang lebih dulu." Suara itu tetap terdengar tenang, lembut, namun ada nada sedikit kecewa di sana.
Dan Fabian merasakan itu.
Maklumlah selama ini hubungan Fabian dengan kedua orang tuanya memang sangat erat. Komunikasi mereka sangat baik, tidak seperti Khey dengan keluarganya. Wajar jika bunda Fabian merasakan sedikit kecewa.
"Makasih bun." Fabian dengan menyesal karena dia memang salah.
__ADS_1
"Nanti Abi jelasin semaunya saat di rumah." lanjut Fabian kemudian.
"Ya. Sekarang pulanglah nak."
"Maaf bun, masih ada sesuatu yang harus Abi selesaikan saat ini." Fabian memberi alasan.
"Tentang apa, pekerjaan atau sekolah?"
"Em... bukan keduanya bun."Fabian masih enggan untuk berterus terang pada sang bunda.
"Kamu tidak mau memberi tahu bunda?!"
"Sekali lagi Abi minta maaf bun, untuk saat ini Abi belum bisa memberi tahu bunda. Lebih baik nanti Abi ceritakan semuanya saat di rumah."
Fabian tidak ingin membuat keluarganya khawatir. Dia akan mencoba untuk menyelesaikan semuanya sendiri, karena ini adalah rumah tangganya.
Nanti jika sampai sore dia tidak bisa menemukan keberadaan isterinya pasti dirinya akan memminta bantuan ayahnya. Setidaknya saat ini Fabian harus mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Pulanglah lebih dulu Bi, cerita sama bunda ada masalah apa. Siapa tahu nanti kita bisa mendapatkan jalan keluar untuk masalah kamu..." Bunda Fabian dengan tenang.
"Tapi bun..."
"Bi... pulanglah dulu nak..." Kali ini bunda berbicara dengan tegas dan penuh penekanan.
"Baiklah bun... Abi pulang sekarang." Fabian dengan lesu.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." Fabian dengan mengakhiri teleponnya.
Fabian mematung sejenak, ekor matanya bergerak memindai sekitar sembari memikirkan tempat yang kemungkinan besar bakal menjadi tempat bersandar Khayyara.
"Elo dimana sih Ra...?" gumam Fabian lirih.
πππ
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam yang disertai dengan derap langkah terdengar memasuki rumah besar keluarga Fabian.
Suara itu adalah suara Fabian yang baru saja datang.
"Walaikumsalam... Eh Den Abi pulang..." sapa asisten rumah tangga keluarganya tersenyum.
"Iya Mbok... Bunda di mana?" Fabian pun membalas dengan senyuman.
"Ada di belakang Den sama...."
Belum sempat asisten rumah tangga itu mengakhiri kalimatnya, Fabian terlihat melesat pergi menuju area belakang rumah. Membuat asisten rumah tangganya geleng - geleng kepala.
__ADS_1
"Pasangan baru emang gitu, pasti kangen..." asisten rumah tangga yang lain berucap kata saat asisten yang menyapa Fabian tadi memandangi punggung Fabian.
ππππ