
"Alya!!"
Seruan serempak dari Khey dan Rhea membuat Alya terjengkit kaget.
Seketika kembali membalik tubuh pada kedua sahabatnya.
"Kita butuh penjelasan dari lo. Sekarang!!" tuntut Khey dan Rhea bersamaan.
"Penjelasan apa?" Alya cengo.
Bukan pura pura namun gadis yang paling lemot diantara mereka bertiga tersebut belum menyadari tindakan tidak biasa yang dilakukannya beberapa saat lalu. Yaitu tentang reaksi gembiranya saat Jackson berhasil menembak bola pada ring basket.
Jarak antara lapangan basket dan ruang kelas mereka memang tidak terlalu jauh. Maka dari itu aksi para anak basket di lapangan dapat mereka lihat dengan jelas.
"Elo sama Jackson."
Khey menyebutkan tiap kata dengan penuh penekanan.
Khey tak habis fikir ternyata pikirannya salah saat menilai Alya diam karena marah padanya.
Nyatanya sahabat yang selalu menolak mentah mentah hubungannya dengan Jackson itu malah diam asyik dengan dirinya sendiri menikmati permainan basket si bule nyasar yang selalu dijodohkan kepadanya.
Padahal Khey merasa sangat bersalah saat kemarin membuat Alya harus pulang dengan sahabat suaminya tersebut.
"Gue sama Jackson? Kenapa emangnya?" Alya masih saja belum sadar diri.
"Apa yang terjadi saat kemaren lo pulang dari rumah Fabian sama si Jack?" Rhea dengan tatapan menuntut.
"Enggak biasanya lo excited sama dia." tambah Khey kemudian.
Ha...
Alya membuka mulutnya lebar kemudian segera membekapnya dengan kedua telapak tangan saat dirinya menyadari kesalahan yang telah dilakukannya.
"Jawab sekarang Al!" perintah Rhea lagi.
Perlahan Alya membuka bekapan mulutnya.
__ADS_1
"Sorry girls." Alya lirih.
"Kita nggak butuh permintaan maaf. Cepet jelasin."
Khey menatap Alya tajam.
"Ternyata... em..." Alya ragu.
Kedua sahabatnya pun terlihat tidak sabar.
"Cepetan nggak usah mikir lama Al." Rhea sangat tidak sabar melihat Alya yang tak kunjung bercerita.
"Ternyata si Jack itu nggak seburuk yang gue kira. Orangnya baik."
Ucapan Alya membuat Khey dan Rhea saling melempar pandangan.
"Yang jelas ngomongnya, kita nggak ngerti." Khey.
"Gini ya girls." Alya mengatur nafasnya sesaat.
"Si Jack itu nggak sejelek pikiran gue. Selain wajahnya yang memang ganteng khas bule blasteran, sifatnya juga baik."
"Gak ada terusannya. Gue cuma mau ngasih tau sama kalian berdua kalau pikiran gue tentang Jackson selama ini salah. Itu aja."
"Nggak! Pastinya ada yang lainnya. Elu sama bule nyasar itu pasti ada something yang elo sembunyiin. Iya kan Khey?" Rhea mengerlingkan salah satu mata pada Khey.
Khey mengangguk mengiyakan.
"Nggak ada. Sumpah. Nggak ada yang gue sembunyiin." Alya tetep kekeh meski gestur tubuhnya nggak bisa membohongi Khey dan Rhea.
"Elo mau ngaku sendiri atau kita paksa nih Al." Kali ini Rhea terlihat mengancam karena sahabat lemotnya tidak mau ngaku.
Bahkan Khey ikut mengintimidasi dengan memepet tubuhnya pada Alya. Terlihat bagai gadis senior pembully yang hendak mengintimidasi adik kelasnya.
"Kalian berdua apaan sih... orang gue udah ngomong jujur jugak. Nggak percaya amat sih." Alya dengan bersungut kesal.
"Jujur atau..." Khey
__ADS_1
"Iya... iya... gue jujur. Geseran sana engap nih." Alya mendorong wajah kedua sahabatnya agar sedikit menjauh.
"Jadi gini..." Alya mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
Khey dan Rhea tetap mengintimidasi terlihat tak sabar mendengar pengakuan dari Alya.
Alya memutuskan untuk bercerita. Sepertinya tidak ada gunanya jika dia menutupi kebenarannya.
"Kemarin itu sepulang dari rumah Bian, kita berdua jalan dulu." Alya menjeda ucapannya.
"Kita mampir cari makan sambil ngobrol banyak. Kita berbagi cerita dan akhirnya bisa lebih dekat. Jackson itu manis tau nggak... romantis habis." Alya terlihat berbinar, seakan masih mengingat kebersamaannya dengan Jackson.
"Manis yang kek gimana maksud lo?" Rhea.
"Gue diajakin nonton juga, em... kalian tau kan kedai es krim pink yang belum lama buka itu. Yang kita janjian mau ke sana bareng bareng itu." Alya berusaha mengingatkan karena wajah kedua sahabatnya terlihat tak mengerti.
"Gue diajakin ke sana girls... gue ditraktir sepuasnya." Alya berseru girang.
Hah...
"Jadi lo udah nyobain duluan?! Sobat laknat lo, nggak berperikesahabatan." Rhea mendengus kesal.
"Nggak gitu Rhe, gue kan nggak tahu kalau diajakin ke sana. Kalian tau kan gue suka banget sama es krim, gue nggak bisa nolak lah. Gue hampir kalap tau nggak." cerocos Alya masih dengan wajah berbinar binar.
"Gak usah kesel Rhe, ntar kita ke sana sendiri." Khey mencoba meredakan kekesalan Rhea.
Mereka bertiga memang pernah merencanakan untuk pergi ke sana bersama. Sekalian melakukan sister time yang telah lama tidak mereka lakukan.
"Tetep aja. Nggak asyik kalau Alya udah tau duluan. Nggak surprise." Rhea.
"Sudahlah nggak papa Rhe." Khey pada Rhea. "Terus Jackson nembak lo kagak Al?" Khey beralih pada Alya.
Alya terlihat mematung mendengar tanya dari sahabatnya.
Alya menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya memilin rok sekolah untuk mengurangi rasa gugup yang tetiba mendera.
"Jawab Al..." Rhea.
__ADS_1
Perlahan Alya menganggukkan kepala. "Iya."
ππππ