Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA75


__ADS_3

Hek...


Khey melebarkan kedua matanya saat pandangan matanya bertemu dengan manik hitam Fabian tengil.


Bagaimana ini, Bian pasti bakalan marah sama gue. Khey membatin dengan tubuh yang semakin bergetar hebat.


Fabian tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak seorangpun menyadarinya bahkan Khey sekalipun.


Fabian terlihat santai, berjalan menuruni stage untuk menuju ke arah Khey berdiri.


Khey pun semakin memperlebar kedua bola matanya.


"Jangan ke sini, jangan...." Khey merapal dengan wajah pias.


Namun sepertinya harapan Khey tidak terkabul, Fabian terlihat berjalan semakin mendekat ke arah Khey berdiri.


Deg... deg... deg...


Dada Khey berdetak tak karuan dengan kebingungan kegugupan yang melanda dirinya.


Khey pun memundurkan kakinya, berusaha menghindar dari Fabian tengil yang berjalan santai mendekatinya. Kemudian dengan segera membalikkan tubuhnya, mengambil langkah lebar untuk menjauhi kerumunan pesta.


Khey menoleh ke kanan dan ke kiri, dirinya tidak menemukan sosok Doni yang dicarinya. Khey memutuskan keluar ruangan untuk menghindari Fabian. Saat ini itulah yang terpenting, toh nanti dirinya bisa menghubungi Doni lewat handphone.


Di sisi yang lain.


Setelah Doni meninggalkan Khey sendiri, Doni melangkahkan kakinya dengan lebar menuju Nina.


"Hai Nin." Doni menghampiri Nina.


Nina yang semula fokus pada Fabian pun menoleh.


"Hai Don... dateng juga lo!" Nina menyambut Doni dengan girang. Nina sungguh tidak menyangka jika Doni akan datang pada pesta ulang tahunnya. Apalagi terlihat sendiri tanpa membawa pasangan.


Ketos tampan yang berwajah dingin itu memang tidak mudah untuk ditebak.


"Selamat ya..." Doni dengan mengulurkan tangannya untuk memberi selamat serta menyerahkan paper bag ke tangan Nina.


"Makasih Don, gue nggak nyangka lo bakalan dateng." Keduanya pun bersalaman lalu memberikan ciuman pipi dan berpelukan sebentar.


Saat Doni merenggangkan tubuh dari pelukan Nina, tanpa sengaja Doni melihat Fabian tengil beranjak berdiri dari duduknya.


"Shiit... ngapain itu bocah ada di sini..." Doni mengumpat kesal.

__ADS_1


Sedangkan posisi Nina yang membelakangi Fabian tidak menyadari jika Fabian telah selesai perform dan beranjak meninggalkan stage.


Fokus Nina saat ini teralihkan pada ketos tampan yang juga menjadi incarannya, namun sayang Doni lebih memilih Khey yang menurut Nina adalah gadis bar bar di sekolahnya.


"Nin gue gabung dulu sama yang lain ya..." pamit Doni pada Nina.


"Nanti dulu gue kenalin sama ortu gue bentar." Nina dengan menarik tangan kanan Doni.


Dalam hati Nina tersenyum senang karena membayangkan saat memotong kue nanti dirinya akan meminta meminta didampingi oleh dua cowok tampan yaitu si ketos tampan Doni dan Fabian si anak Sultan.


Nina pun memperkenalkan Doni pada kedua orang tuanya yang duduk tak jauh dari mereka berdiri kemudian berbincang sesaat.


Doni terlihat tidak fokus karena melihat Fabian berjalan menuruni stage. Doni takut jika Fabian akan menemui Khey, mengingat sifat Fabian yang nekat dan dirinya pernah memergokinya bersama Khey di kedai coklat beberapa hari lalu. Hal itu menunjukkan jika hubungan Khey dan Fabian semakin dekat. Harga diri Doni yang tinggi tidak menginginkan jika dirinya dikalahkan oleh pecundang seperti Fabian.


"Nin... gue cari makan dulu, gue laper. Ntar gue balik ke sini lagi. Gue tadi belum makan waktu ke sini." Doni memberi alasan dengan sedikit berbisik.


"Hah... elo laper?"


"Iya." Doni mengiyakan, agar Nina tidak menahannya untuk tetap di sana.


"Baiklah kalau begitu, lo makan dulu sana. Entar balik lagi ke sini ya, temani gue potong kue."


"Siip." Doni dengan mengacungkan jempol kanannya.


Namun baru saja beberapa langkah turun dari stage, kedua manik hitamnya mendapati Bella berdiri seorang diri dengan posisi membelakanginya. Meskipun kondisi lampunya redup dan remang remang, serta posisi gadis itu memunggunginya namun Doni tidak salah mengenali gadisnya tersebut.


Doni pun membatalkan niatnya menuju Khey dan memilih membelokkan arah menuju Bella.


Set.


Doni menarik pergelangan tangan Bella dengan kuat, membawanya keluar dari ruangan pesta.


"Sayang!" pekik Bella dengan wajah pias.


Bella tidak menyangka jika dirinya akan ketemu dengan Doni kekasih di dalam pesta sahabat Fabian.


Bukankah kekasihnya itu mengatakan jika dia pergi ke luar kota menjenguk neneknya, kenapa sekarang malah ada di pesta sahabat Fabian. Bella heran dengan keberadaan sang kekasih di sini.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Doni dengan mata yang memerah tanda marah serta rahangnya yang mengeras.


Nada bicara Doni terdengar mengeram menahan marah. Dalam hati Doni mencoba menerka ada hubungan apa kekasihnya Bella dengan Nina teman satu organisasi osis di sekolahnya.


Doni sempat diberitahu oleh Nina jika dia hanya mengundang sahabat dekatnya saat SMP serta teman teman modelnya. Nina tidak mengundang teman sekolahnya karena merasa tidak ada yang dekat dengannya. Maklum saja Nina adalah model yang sedang naik daun di kota Jogja, jadi Nina merasa teman di sekolahnya tidak satu level dengannya.

__ADS_1


Hek.


Bella tercekat saat mendapat pertanyaan Doni.


"Ngapain kamu di sini yang... kamu kenal sama Nina?" lagi Doni dengan nada bicara yang mengintimidasi. Kedua bola mata Doni mengunci dan menatap lekat pada manik hitam sang kekasih.


Bella menggelengkan kepala dengan takut takut. Bella tahu arti tatapan mata sang kekasih yang seakan siap menerkamnya hidup hidup.


Doni mengernyit saat melihat bahasa tubuh Bella yang mengisyaratkan jika dia tidak mengenal Nina.


Ingatannya kembali pada Fabian yang beberapa saat lalu dilihatnya sedang beranjak pergi setelah memainkan piano di atas stage.


Jangan jangan.... Doni membatin geram dengan kedua tangan yang mengepal.


"Kamu datang sama Fabian?" tebak Doni dengan dada bergemuruh.


Bella yang tidak mampu berucap kata hanya menganggukkan kepala perlahan, membenarkan tebakan sang kekasih.


Degub jantung Doni semakin bergemuruh kencang. Dirinya tidak menyangka jika Bella kekasihnya masih saja berhubungan dengan musuhnya yaitu Fabian.


"Aku sudah bilang berkali kali jangan deket deket sama Fabian, aku nggak suka!" Doni dengan Nada tinggi serta salah satu tangan yang menangkup tulang rahang Bella dengan kuat. Tak peduli jika tindakannya tersebut membuat sang kekasih kesakitan.


"Yang... ssakitt..." Bella dengan meringis kesakitan.


"Sorry..." Doni dengan segera melepaskan tangkupan tanganya dari rahang Bella lalu menghembuskan nafas kasar.


Dengan segera Doni membawa tubuh Bella ke dalam pelukannya.


"Sudah aku bilang berkali kali, aku nggak suka kamu deket sama dia." Doni dengan mendekap erat gadisnya.


"Maaf." Sahut Bella lirih dalam dekapan Doni.


Doni merenggangkan tubuhnya lalu dengan sedikit menunduk membawa dagu Bella untuk mendongak.


Sesaat kedua pasang mata itu saling menatap, tak lama kemudian.


Cup...


Bibir keduanya saling bertautan. Keduanya yang memang sudah sering melakukan ciuman tersebut, saling berciuman dengan mesra.


"Doni..."


Desis Khey lirih.

__ADS_1


✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻


__ADS_2