
"Rell, mereka berdua beneran mantan atau masih pacaran?" Khey memberanikan diri bertanya pada sahabat suaminya itu daripada otaknya tidak berhenti memikirkan status hubungan mereka berdua.
Khey sungguh penasaran.
Jika saja Fabian dan Nina masih ada hubungan berarti Fabian dan dirinya sama sama memiliki sebuah hubungan di luar status pernikahan mereka. Artinya dirinya dan Fabian sama saja. Terus kenapa Fabian menuntutnya untuk memutuskan hubungan dengan Doni... itu tidak adil menurut Khey.
"Mantan." sahut Farell cepat dengan menunduk. Berpura pura meneruskan makan siangnya agar Khey tidak menyadari kebohongannya.
"Kok mereka lengket kek masih pacaran gitu?" Khey merasakan ketidakrelaan dalam sudut hatinya.
"Elo kenapa jadi kepo sih Khey..." Alya menyodok sudut lengan Khey yang menumpu pada meja kantin.
"Elo cemburu ya... elo mulai suka kan sama Fabian..." berondong Alya pada sahabatnya.
"Diem lo... gak usah ikutan." Khey menghardik, membuat Alya mengerucutkan bibir kesal.
"Iya Rell... menurut gue mereka kek masih pacaran." Rhea menyetujui ucapan Khey. Entah mengapa Rhea juga kepo tentang hubungan Fabian dan Nina.
"Entahlah... gue gak tau. Bisa jadi masih saling suka, siapa tau aja mereka dulu belum ikhlas waktu putus." Farell berusaha memberikan alasan yang masuk akal agar Khey percaya. Karena tujuannya adalah membuat Khey cemburu dan menyadari rasanya terhadap Fabian.
Tubuh Khey kembali menegang.
Kenapa gue kek gak rela gini ya... Khey diam diam meraba dada bagian kirinya.
Jackson hanya diam mendengar percakapan Farell dengan ketiga gadis di sebrang mejanya dengan Farell. Namun di dalam tempurung kepalanya Jackson berusaha mencerna ucapan Farell, bahkan dirinya berusaha mengingat apakah benar Fabian dan Nina pernah berhubungan dekat sebagai padangan kekasih seperti ucapan Farell beberapa saat lalu.
Berkali kali Jackson memikirkannya, namun kenapa dirinya tidak tahu bahkan tidak mengingat jika salah satu sahabatnya tersebut pernah berpacaran dengan Nina sang model majalah remaja.
"Gila... gue gak nyangka kalau Fabian bisa pacaran sama Nina." Rhea masih saja tidak percaya.
"Fabian juga cakep kali Rhe... Dia bisa pacaran sama Nina pasti karena wajah mereka sama sama cakep. Elo juga mengakui kan kalau Fabian Ganteng banget pas di lapangan basket kemaren. Lo masih inget kan..." Alya mengingatkan Rhea yang menurutnya terdengar seakan meremehkan Fabian.
"Iya gue inget. Tapi kan itu baru kemaren, sedangkan mereka pacaran udah lalu sebelum kegantengan Fabian tersorot pas tanding basket kemaren." Rhea memberi alasan untuk membela diri.
"Gila ya... Nina yang cantik, tajir, gaul mana model pisan itu aja bida ditaklukin sama Fabian. Mereka saling kenal dan berhubungan baik aja gue tetap masih gak menyangka, ini mereka pernah pacaran...." Rhea lagi lagi masih belum menyangka jika itu bisa terjadi.
"Kalau mereka berdua masih pacaran atau mungkin aja mereka saat ini mau balikan lagi, potek dong hati fans Fabian termasuk gue... hiks... hiks..." Rhea memberikan wajah tidak rela bahkan berakting seolah menangis.
__ADS_1
Alya terkekeh. "Elo lebay Rhe... cari cowok laen masih banyak."
"Tapi kan gue baru aja jatuh hati sama Fabian masak harus langsung patah hati. Kek gini mah layu sebelum berkembang namanya..." Rhea dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Alya terkekeh.
"Makanya kalau suka sama seseorang itu gak usah 100 persen setengahnya aja, sisanya buat cadangan yang laen."
Alya berhenti sejenak lalu berpaling ke arah Khayyara.
"Elo juga Khey... kalau cinta sama Doni jangan berlebihan. Belum tentu cinta dia cuma buat lo doang, siapa tau aja dia juga punya cadangan." Alya dengan sindiran bermaksud membuat sahabatnya tersebut mau menyadari kesalahannya karena mencintai Doni tanpa peduli sisi jelek sang ketua osis.
"Elo apaan sih Al, kek nething (negatif thingking) gitu sama Doni." Khey memberengut.
"Gue gak nething Khey, gue cuma ngomong sama lo kalau lo jadi cewek jangan percaya 100 persen sama cowok lo. Walaupun cowok lo itu sangat baik, keliatan anteng juga perfect di mata lo, belum tentu dia kek gitu di belakang lo." Alya sok menasehati sahabatnya.
"Cie... ustadzah mulai berkutbah ini..." Rhea.
"Yee... gue gak kotbah neng... gue cuma ngingetin aja. Biar kalian gak merasakan sakit hati karena ditinggalin cowok yang suka main belakang." Alya mengerucutkan bibir.
"Lagian ya, gue kasih tau sama kalian berdua. Cowok itu ibarat bluetooth."
Bahkan Farell dan Jackson yang masih stay duduk di tempatnya terlihat penasaran dengan maksud Alya yang mengibaratkan cowok ibarat bluetooht tersebut.
"Dia bakalan terhubung sama lo saat deket sama lo, tapi dia bakalan mencari perangkat lain saat lo jauh. Ngerti kalian para ciwi..."
"Wooww... dapet darimana itu kata Al, tumben otak lo encer..." Rhea.
Alya hanya terkekeh dengan menepuk dadanya.
"Enak aja kalau ngomong lo, enggak semua cowok kek gitu..." Jackson berseru menimpali.
"Halah.... elo pasti sama aja, satu server. Kalau Farell mah aku harap enggak..." Alya dengan tersenyum menggoda sembari mengerlingkan salah satu matanya pada Farell. "Iya kan Rell...?!"
Farell membola tanpa berucap sepatah katapun, dia tidak menyangka jika gadis yang biasanya kalem tidak banyak omong itu berani melakukan hal itu kepadanya.
Membuat Rhea dan Alya sama sama terkejut dan membekap mulutnya dengan telapak tangan mereka.
__ADS_1
Keduanya tidak menyangka Alya akan berbuat seberani itu menggoda Farell yang selama ini terlihat dingin dan tidak banyak omong.
"Gue enggaknya." Jackson seolah tidak terima.
"Apa buktinya kalau elo beda?" Alya sinis.
"Gue mah ibarat wifi, mampu melihat semua perangkat yang ada tapi yang memiliki sinyal paling tinggilah yang gue pilih."
"Sekalinya gue udah klik ketemu yang sehati sama gue, gue gak bakalan konek sama cewek lain." Jackson dengan menepuk dadanya.
Huuuuuuu....
Alya, Khey dan Rhea kompak berseru, Farell pun tertawa seakan mengejek Jackson.
"Ck.... kalian gak percaya, walau gue tampan kek bule gini gue gak pernah mainin cewek. Meskipun yang ngantri sama gue kek uler baris, gue gak rentengin semuanya. Gue menghargai perempuan kek menghargai emak gue. Kalian tau kan kalau kita tu ada di dunia ini juga karena perempuan yang suka rela hamil sembilan bulan. Kemana mana gendong perut besar kek drumband." Jackson panjang lebar.
"Salut gue sama lo bro..." Farell mengacungkan jempol tangannya pada sang sahabat.
"Good boy.... gue juga salut sama kegantengan hati lo, meski wajah lo kagak ganteng." Rhea pun memberi dua jempol ke arah Jackson.
"Anjirr... mulut tu cewek minta dicipok Rell."
"Aih... abang sadis asal ***** wae, ntar rabies tau rasa..." Rhea mengejek.
Membuat Alya dan Khey menggelengkan kepala akan keberadaan Rhea bersuara pada Jackson.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
__ADS_1
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»