Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 167


__ADS_3

Beberapa saat lalu saat Khey membuntuti Doni.


Khey menghentikan langkah kakinya dengan kening mengerut saat manik hitamnya mendapati sosok Doni yang sedang menuruni eskalator.


Sebenarnya perhatian Khey bukan pada Doni, melainkan pada sosok lelaki yang tengah berjalan dengan mantan kekasihnya tersebut.


"Bukannya itu..." desis Khey dengan tanpa sadar menatap intens interaksi Doni dengan


lelaki yang tak asing dalam ingatan Khey tersebut.


Doni memang terlihat berbincang dengan lelaki itu seolah akrab.


Karena penasaran Khey pun mengayunkan langkah kakinya guna mengikuti Doni. Khey ingin tau siapa sebenarnya sosok lelaki perlente yang telah beberapa kali dilihatnya tersebut.


Segera Khey menuju eskalator yang membawa Doni dan lelaki yang beberapa hari lalu dilihatnya bersama sang mama.


Dengan gegas Khey menyusul Doni tanpa memutus pandangan dari mantan kekasihnya tersebut. Sungguh Khey sangat ingin tahu siapa sebenarnya lelaki yang membuat mamanya melupakan suami dan anak anaknya.


Kepala Khey tak berhenti bergerak untuk memastikan tidak kehilangan pandangan pada dua orang yang telah mencapai lantai dasar tersebut.


Khey mengeram kesal karena eskalator itu dalam posisi penuh, sehingga dirinya tidak bisa mengambil langkah cepat untuk mendekat pada Doni dan lelaki perlente tersebut.


Ekor mata Khey terus bergerak mengawasi pergerakan Doni dan lelaki yang diduganya sebagi selingkuhan sang mama. Khey tak ingin kehilangan jejak mereka.


"Akhirnya..." desis Khey lega setelah tapak kakinya mendarat pada lantai dasar.


Khey segera melebarkan langkah kakinya guna mengikuti Doni yang terlihat berjalan menuju area parkir.


Dengan hati hati dan menjaga jarak Khey membuntuti pergerakan Doni. Sesekali melesakkan tubuhnya di belakang orang orang yang berlalu lalang saat melihat Doni atau lelaki selingkuhan mamanya itu menolah ke arahnya.


Dalam hati Khey berdoa agar tidak ketahuan oleh kedua orang tersebut.


Khey menghentikan langkah kakinya saat melihat lelaki perlente di samping Doni berhenti seraya merogoh kantung celananya. Sepertinya ponsel lelaki itu berbunyi. Sedangkan Doni terlihat tetap berjalan, sepertinya menuju mobilnya.


Dengan menjaga jarak aman Khey mengawasinya lelaki tersebut. Khey berusaha mencuri dengar obrolan lelaki tersebut, namun bisingnya kondisi di sana membuat Khey harus mengeram kesal.


Hingga beberapa saat setelahnya, Doni terlihat berjalan mendekat kembali pada lelaki tersebut.


"Pah, kunci mobilnya mana?" seru Doni karena masih berjarak dengan lelaki perlente tersebut.


Deg

__ADS_1


Seketika jantung Khey serasa berhenti berdetak saat itu.


Sebutan Doni pada lelaki selingkuhan mamanya itu membuat Khey membola. Seketika itu juga dunia seolah berhenti berputar.


"Gue nggak salah denger kan." Sesaat tersadar.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Woy... Khey lama banget sih lo." seru Rhea saat mendapati Khey berjalan tinggal beberapa langkah menuju ke tempatnya.


"Sorry girl, antriannya panjang banget." Khey mendudukkan tubuh di depan Rhea dengan terlihat lunglai.


"Lo nggak papa kan Khey? Perut lo aman?" Rhea dengan pandangan menelisik saat mendapati raut wajah Khey terlihat lunglai, tidak secerah tadi.


"Gue nggak papa kok." Khey dengan gelengan kepala.


"Yakin? Lo nggak ada sesuatu gitu?" Kali ini Alya yang bertanya. Entah mengapa Alya merasakan sesuatu yang aneh pada tingkah Khey saat ini.


"Nggak papa. Beneran." Khey berusaha meyakinkan kedua sahabatnya. "Udah yok makan." lanjut Khey kemudian.


"Bersihin tangan dulu Khey." Rhea,menginterupsi saat Khey hendak memegang ayam goreng kakek di depannya. Alya dan Rhea menang tekah memesankan untuk Khey sebelumnya.


Khey pun segera beranjak dari duduknya.


"Lo ngerasa ada yang aneh nggak sih sama si Khey?" tanya Alya pada Rhea, setelah Khey menjauh dari mereka tentunya.


"Sepertinya sih iya. Wajahnya kek lesu gitu. Kek mikir apa gitu." Pandangan Rhea tak melepas punggung Khey yang berjalan menuju tempat cuci tangan.


Alya pun mengikuti arah pandang Rhea.


"Iya nggak secerah tadi." desis Alya masih terdengar oleh Rhea.


"Pada liatin apa sih dipanggil panggil nggak nengok juga."


Fabian dengan tiba tiba telah berada di depan Rhea dan Alya.


Alya dan Rhea pun seketika menoleh dengan sedikit terkejut.


"Bian! Bikin jantungan aja sih." Rhea dengan bersungut kesal.


"Loh lo kok sama..." Rhea tidak melanjutkan ucapannya saat mendapati sosok gadis belia yang pernah mengaku pacar Fabian beberapa bulan lalu.

__ADS_1


Apa jangan jangan Khey melihat mereka ya... tanya hati Rhea dengan mengingat perubahan raut wajah Khey yang tiba tiba berubah tadi.


Seketika itu Rhea pun melayangkan tatapan horor pada Fabian yang tekah duduk di kursi milik Khey. Sedangkan gadis beliau di sisi Fabian duduk di sebelahnya, berhadapan dengan Alya.


Alya memandang Fabian dan Septi silih berganti. Saat menyadari siapa gadis yang bersama Fabian, Alya pun melayangkan tatapan tajam pada Fabian, diiringi dengan pikiran yang menduga duga.


"Kalian berdua natap gue kek mau mangsa gitu sih." Fabian santai dengan menyeruput minuman dengan yang tentunya milik Khey.


"Lo jalan sama dia?" Rhea masih dengan tatapan tajam pada Fabian.


Alya pun masih melakukan hal yang sama. Menatap tajam Fabian, bahkan Alya sempat mencebik sinis pada Septi.


Alya tidak menyangka jika Fabian yang terlihat cinta mati dengan Khey tega menduakan sahabatnya. Itu yang ada dalam pikiran Alya saat ini.


"Iya. Tadi nganterin dia belanja." sahut Fabian santai. Dia tidak menyadari jika kedua sahabat Khey masih mengingat pertemuannya dengan Septi.


Plak.


Rhea memberikan pukulan pada lengan Fabian.


"Kok lo tega sih sama Khey."


"Tega apanya sih?" Ringis Fabian tak mengerti.


Rhea belum memberikan jawaban, Khey telah datang.


"Loh kok kalian di sini?" Khey terkejut saat mendekat, mendapati Fabian suaminya dan Septi adik perempuannya telah berada bersama kedua sahabatnya.


Septi segera beranjak dari tempat duduknya, mensejajarkan tubuhnya dengan Khey lalu memeluk sang kakak sejenak.


Alya dan Rhea terkejut akan aksi Septi yang di luar dugaan mereka. Bahkan tak habis pikir karena Khey dengan santainya membalas pelukan Septi dengan erat. Jangan lupakan wajah Khey yang menyajikan senyum berbinar pada gadis belia yang mereka sangka sebagai selingkuhan Fabian.


"Khey lo nggak cemburu sama..." Rhea dengan menunjuk Septi.


"Dia adek gue." Khey mengambil duduk di sisi Fabian yang lain.


"Addek llo..." Rhea dan Alya serempak dengan raut wajah tololnya.


Mereka tak menyangka jika gadis itu adalah adik perempuan Khey. Pantas saja Alya dan Rhea merasa tidak asing dengan wajah itu. Rupa Septi memang tak jauh beda dengan Khey. Bisa dikatakan Septi adalah versi belia Khey yang item manis. Sepertinya hanya warna kulit itu yang membedakan antar kedua suadara kandung tersebut, di samping Khey yang terlihat lebih dewasa dan Septi sebaliknya.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2