
"Bian! Tunggu!"
Terdengar teriakan dari balik punggung Fabian saat berjalan di koridor menuju kelasnya.
Saat ini Fabian hendak memasuki kelasnya setelah memarkirkan kendaraan yang ditumpanginya dengan Khey di parkiran sekolah.
Khey sengaja pergi lebih dahulu karena gadis itu masih ingin menyembunyikan hubungannya dengan Fabian. Khey kekeh mengatakan belum saatnya, saat Fabian menanyakan alasannya. Dan Fabian hanya bisa pasrah selama itu membuat sang isteri merasa nyaman.
"Ngapain Nin?" Tanya Fabian dengan datar setelah menghentikan langkah kaki serta membalik tubuhnya.
"Gitu amat sih wajah lo, kek beban gitu liat gue." Nina dengan merangkul bahu Fabian dengan tangan kanannya. Nina sengaja melakukannya untuk membuat hubungan keduanya kembali dekat seperti waktu SMP.
"Jangan kek gitu Nin " Fabian melepaskan tangan Nina dari bahunya. Fabian semakin lama merasa Nina semakin aneh. Tidak seperti dulu.
"Elo kenapa berubah sih?" Nina menyendu. Membuat Fabian menghentikan langkah kakinya segera.
"Gue nggak pernah berubah Nin. Masih tetap nganggep elo sebagai teman, selamanya elo temen gue." Fabian memberikan tekanan pada kalimat terakhirnya.
"Tapi... elo nggak seperti dulu. Elo seperti sengaja menghindar dari gue." Nina dengan menunjukkan akting wajah sedih.
Posisi Fabian yang semula hanya menolehkan kepala ke arah Nina. Membalikkan tubuh untuk menghadap Nina sepenuhnya.
Sesaat menghela nafas panjang. Memikirkan kalimat untuk membuat Nina berhenti berharap kepadanya.
"Nin, gue nggak menghindar dari lo." Fabian menjeda ucapannya sejenak. "Tapi memang gue memiliki tanggung jawab untuk menjaga hati seseorang yang gue sayangi untuk menjaga jarak dari siapapun kaum yang berjenis kelamin perempuan. Termasuk lo."
Nina terkejut mendengar ucapan Fabian yang membuat hatinya terasa tercubit.
"Emangnya lo nggak bisa bilang sama cewek lo kalau gue itu sahabat lo, jadi nggak usah cemburu sama gue?!" Pandangan Nina seolah tidak terima jika Fabian lebih memprioritaskan cewek lain yang menurutnya hanyalah sebagai pasangan kekasih.
"Nggak. Gue nggak mau ada celah sedikitpun yang bisa membuat cewek gue salah paham." Fabian tegas.
"Baru juga pacaran nggak usah segitunya kali." Nina seakan mengejek ucapan Fabian.
Fabian menghirup oksigen dalam dalam untuk menahan emosinya. Karena ucapan Nina barusan sudah kekerasan batas menurutnya.
"Nin gue kasih tau lo yang sebenarnya ya. Hubungan gue sama gadis yang gue cintai bukan sekedar pacaran. Kami sudah menikah. Lo lihat ini baik baik." Fabian dengan mengangkat tangan kirinya seraya menunjuk cincin yang melingkari jari manisnya.
Nina yang semula menatap lurus manik hitam Fabian, mengalihkan pandangannya.
Hah
__ADS_1
Kedua mata Nina membulat sempurna serta mulutnya sedikit terbuka saking kagetnya mendapati kenyataan tersebut.
"Nggak mungkin, itu nggak bener kan Bian..." Nina menutup mulut dengan kedua telapak tangan seraya menggelengkan kepalanya. Menolak kebenaran yang barusan diucapkan oleh Fabian.
"Semua yang gue ucapin barusan itu adalah kebenarannya Nin, gue nggak bohong."
Set
Manik hitam Nina tanpa sengaja mendapati jejak jejak merah kecil di area leher jenjang Fabian. Hal itu membuat Nina semakin melebarkan kedua bola matanya, terkejut.
"Bian itu..." Nina mengulurkan tangan hendak menyentuh leher Fabian. Namun Fabian segera menepisnya.
"Yang elo lihat itu benar." Fabian seolah mengerti penyebab keterkejutan Nina.
Nggak... nggak mungkin itu benar... ucap Nina dalam hati, tetap mencoba menolak kenyataannya.
"Bagaimana lo bisa memutuskan menikah? Elo masih sekolah Bian. Bagaimana bisa..." Nina memandang Fabian, masih tidak percaya.
Fabian tetap berdiri di tempatnya tanpa bereaksi.
"Cewek itu menjebak lo kan, dia pasti jebak lo dengan alasan tekdung anak lo dan minta tanggung jawab lo... iya kan?! Jadi lo terpaksa menikahi cewek itu kan... Dasar cewek gatel!!" Nina menuduh kemungkinan penyebab Fabian menikah.
"Ucapan lo salah Nin." Fabian datar.
Meski awalnya Fabian memang menikahi Khey karena terpaksa, namun tuduhan Nina tidaklah benar.
"Nggak usah ngebelain. Jangan jangan lo udah kena pelet cewek itu Bian."
"Enggak Nin, gue menikahi gadis itu karena gue mencintainya dan tidak ingin dia dimiliki cowok lain." Fabian memberikan alasan. Meski terkesan mengada ada, biarlah. Fabian tidak menyukai tuduhan yang dilontarkan Nina.
"Enggak mungkin. Lo nggak mungkin melakukannya hanya karena alasan sepele seperti itu Bian." Nina tidak percaya.
"Urusan hati bukanlah alasan sepele Nin, elo nggak bisa mendebatnya gitu aja. Lagian kalau gue dijebak dan terpaksa menikah, nggak mungkin kan tanda ini ada di tubuh gue?" Fabian dengan mengarahkan salah satu telunjuk pada lehernya yang masih terdapat jejak bekas percintaannya dengan Khey semalam.
Hek.
Ucapan Fabian itu memukul Nina telak. Sepertinya Nina tidak bakal memiliki kesempatan untuk mendapatkan Fabian. Cowok cerdas nan tampan, anak semata wayang dari kelurganya yang tajir melintir yang tekah menjadi sahabat dan incarannya tersebut.
Beberapa saat keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing masing.
Dalam hati Fabian berharap jika Nina berhenti mengejarnya setelah kejujuran yang dikatakannya.
__ADS_1
Sedangkan Nina masih bergolak tentang bagaimana cara dirinya buda merebut Fabian.
"Sekolah sudah tahu status pernikahanmu?" Tanya Nina saat melihat Fabian hendak berlalu pergi dari hadapannya.
Segera Fabian menggelengkan kepalanya. "Enggak."
"Bagaimana kalau status lo bocor?" Nina sengaja memancing untuk mencari cekah kelemahan status pernikahan Fabian.
"Nin, gue tau lo belum bisa menerima kenyataan. Tapi lo nggak perlu ngancem gue." Fabian berusaha tetap tenang menghadapi Nina, bahaimanapun dia adalah seorang gadis dan lagi pernah menjadi sahabatnya.
"Gue nggak ngancem lo." Nina berdalih.
Sejenak Fabian memejamkan mata, menahan emosi yang sedikit menyusup dalam dadanya.
"Elo tau kan sekolah ini milik siapa, so kalau dengan membeberkan status gue ke sekolah itu membuat elo puas lakukanlah." Fabian berlalu begitu saja meninggalkan Nina yang tersentak menyadari kebodohannya.
"Sial." Nina dengan mengepalkan kedua telapak tangannya sembari memandangi tubuh jangkung yang semakin jauh melewati koridor sekolah.
"Siapa sih cewek itu, sampek Fabian nggak tertarik sama kecantikan gue." tanya Nina mengeram kesal.
πππ
"Bian ngantin nyok!" Jackson berseru dari pintu kelas Fabian saat melewati kelas sahabatnya.
Jackson dan Fabian memang tidak berada dalam satu kelas yang sama.
Fabian yang semula menunduk menyelesaikan catatannya segera mendongak. "Bentar, dikit lagi."
Jackson pun memutuskan memasuki kelas Fabian kemudian duduk di atas meja Fabian.
"Nyatet apaan sih? Rajin banget kek anak SD aja." Jackson mengolok.
"Bahkan orang cerdas dapat terkalahkan oleh orang yang rajin Jack." Fabian mendorong paha Jackson yang sedikit menduduki bukunya.
"Ck... kek emak gue lo, nggak cocok sama wajah tengil lo." Jackson berdecak.
Fabian terkekeh sembari menutup bukunya lalu memasukkan ke dalam laci mejanya.
"Bentar lagi ujian sekolah gue juga harus insyaf." Fabian beranjak dari bangkunya. "Lets go."
ππππ
__ADS_1