
"Doni..."
Desis Khey lirih.
Khey memandangi kedua insan yang saling berpagutan tersebut dengan kedua mata yang berembun.
Dadanya terasa sesak, seolah Khey tidak dapat bernafas dengan lancar. Hatinya terasa parih, seolah teriris sembilu.
Siapapun orangnya pasti akan merasakan sakit hati yang luar biasa ketika mengetahui orang yang dicintainya berciuman mesra dengan orang lain.
Siapapun cewek yang telah berciuman dengan Doni tersebut Khey tidak dapat melihatnya dengan jelas karena tidak adanya lampu yang cukup untuk menerangi. Namun yang pasti Khey yakin itu adalah Doni kekasihnya dan Khey sekarang tahu bagaimana Doni di belakangnya.
Tanpa Khey sadari bulir bening telah membasahi pipi pualamnya. Bahunya pun perlahan bergetar diiringi dengan isakan lirih yang lolos dari bibir mungilnya.
Hiks... Khey dengan memegangi dadanya yang terasa sakit. Sekuat mungkin Khey menahan tangisnya agar tidak pecah, menangis tanpa suara itu sungguh menyesakkan.
Set...
Tetiba sebuah tangan kekar menangkup bahunya dan membawanya berbalik badan.
"Bi..." Khey dengan bibir bergetar serta pipi yang basah oleh cairan bening yang tidak berhenti mengalir.
Tanpa berucap kata, Fabian merengkuh tubuh bergetar tersebut membawanya ke dalam pelukannya.
"Kita pulang." bisik Fabian lirih setelah beberapa saat memeluk tubuh Khey.
Khey mengangguk lalu merenggangkan tubuhnya dari Fabian.
Fabian pun menuntun Khey untuk menuju mobil sport yang telah diantarkan oleh sopir pribadi keluarganya.
Fabian melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, meninggalkan parkiran villa milik kakek Nina dengan mengunci mulutnya rapat.
Fabian tidak mempertanyakan tentang kehadiran Khey di pesta ulang tahun Nina, karena Fabian sudah dapat menebak dengan siapa isteri bar barnya tersebut datang ke pesta ulang tahun Nina. Fabian pun tidak ambil pusing dengan Bella yang tentunya saat ini sudah dapat dipastikan jika gadis itu akan berakhir dalam kungkungan Doni.
Khey menangis sesenggukan dengan kedua telapak tangan yang menangkup wajahnya.
Fabian merasa sudut hatinya tercubit mendapati isteri bar barnya menangis sesenggukan. Biar bagaimanapun Fabian dapat merasakan rasa sakit yang Khey rasakan saat ini.
Fabian pun memutuskan meminggirkan mobil sportnya dan berhenti.
Fabian menghembuskan nafas dalam dengan memejamkan kedua matanya sesaat. Kemudian melepas seatbelt dari tubuhnya dan menipiskan jarak dengan Khey.
"Menangislah sepuasnya, kalau perlu lo teriak buat meluapkannya agar sesak di dada lo hilang." Fabian merengkuh bahu bergetar Khey sembari mengusap lembut rambut hitam Khey.
__ADS_1
"Hiks, dia jahat Bi..." Khey merengek layaknya anak kecil.
Tidak ada sahutan dari bibir Fabian, melainkan tangan kekarnya semakin mengusap rambut hitam Khey semakin intens dengan dagu yang menumpu pada pucuk kepala Khey. Sesekali Fabian memberikan tepukan pada punggung Khey untuk memberikan ketenangan.
Fabian tidak ingin mengambil kesempatan membenarkan ucapan Khey untuk mengambil hati gadis itu, Fabian memilih membiarkan gadis yang bergelar isterinya tersebut berfikir dan menilai sendiri.
Khey kembali sesenggukan dengan semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Fabian.
Setelah cukup lama Khey menangis dan tidak lagi terdengar isakan dari mulut Khey, Fabian merenggangkan pelukannya.
"Lupakan dia." Fabian dengan menatap Khey lembut sembari mengusap sisa air mata dengan kedua tangannya.
"Gue pasti lupain dia kok." sahut Khey lalu menangis lagi.
"Udah, nggak usah nangis lagi. Senyumin aja..." Fabian membingkai senyum di wajahnya sembari menyibak anak rambut yang menutupi wajah Khey.
Khey menghentikan tangisnya, menatap Fabian dengan kedua mata yang masih berembun lalu kembali menenggelamkan wajahmya pada dada bidang Fabian. "Biar kek gini bentar." kata Khey dengan menyusupkan wajahnya pada dada Fabian semakin dalam.
Fabian pun membiarkan gadis itu meluapkan rasa sedihnya dengan membiarkannya kembali menangis hingga membasahi kemejanya.
Beberapa saat setelah merasa puas menangis, Khey mengendurkan pelukannya.
"Cowok kek dia nggak pantes buat ditangisin kan Bi..." Khey dengan mengusap sisa air matanya dengan kasar, bibirnya pun mengerucut kesal saat berucap kata.
Sesaat Fabian menautkan kedua alis mata, mencerna ucapan Khey. Namun akhirnya memilih tidak ambil pusing akan ucapan Khey, yang terpenting saat ini dirinya harus bisa membuat Khey kembali semangat. Dan membantu isteri bar barnya tersebut melupakan sang kekasih.
Dan lagi, satu yang pasti Fabian harus bisa membuat Khey kembali jatuh cinta kepadanya seperti saat kecil dulu.
"Kita pulang atau..." Fabian sengaja menggantung ucapannya, siapa tau saja isteri bar barnya tersebut menginginkan untuk pergi ke suatu tempat untuk menghibur diri dari kegalauan.
"Pulang aja." Khey dengan kembali mendudukkan diri pada posisi semula.
"Yakin pulang aja, nggak cari makan dulu?" Fabian menawarkan. Fabian yakin Khey belum sempat menikmati hidangan dalam pesta ulang tahun Nina tadi.
Khey menjawab dengan gelengan kepala, memilih diam tidak membuka mulutnya.
"Bi... ini mobil siapa?" tanya Khey setelah beberapa saat keduanya sama sama terdiam.
"Hah... ini... pinjem." sahut Fabian dengan berbohong.
"Cuma buat ke pesta ulang tahun Nina elo bela belain minjem mobil mewah kek gini..." Khey dengan kedua mata melebar.
Fabian hanya tersenyum tipis tanpa mau menjawab pertanyaan Khey.
__ADS_1
"Pakaian lo minjem juga?"
Fabian menggeleng. "Enggak."
"Punya lo?" Khey dengan pandangan terlihat tidak percaya.
"Bukan. Gue nyewa." Fabian asal.
Lagi Khey melebarkan kedua bola matanya setelah mendengar jawaban Fabian. Khey seakan tidak percaya jika Fabian tengil rela melakukannya demi ke pesta ulang tahun Nina.
Lagi Fabian tersenyum tipis, saat melihat Khey sudah kembali bar bar. Walaupun Fabian tahu di dalam hati, gadis itu masih menyimpan rasa sakit.
Di dalam ruangan pesta Nina.
"Hissh... elo dimana sih Fab?" Nina dengan tidak berhenti berusaha menghubungi Fabian dengan kesal.
"Gimana sayang... potong kuenya sudah dapat dimulai?" tanya mami Nina pada anak kesayangannya.
"Bentar mi..." Nina dengan tidak mengalihkan pandangan dari ponsel pintarnya.
Nina kembali memeriksa chatnya dengan Fabian, siapa tahu saja anak sultan itu telah membaca dan membalas pesannya.
Namun apa yang diharapkan olehnya zonk, chatnya dengan Fabian masih dalam mode centang dua berwarna abu, itu tandanya jika Fabian belum membaca pesan darinya.
"Gimana ini..." Nina dengan menggigit bibir bawahnya kuat.
Nina tidak ingin jika saat potong kue tidak ada cowok yang mendampinginya, bisa jatuh harga dirinya jika pesta sweet seventeennya tidak terlihat memiliki pasangan. Bisa bisa dirinya dicemooh karena wajah cantiknya yang bisa membuatnya berprofesi sebagai model malah tidak mampu menarik seorang pun cowok tampan untuk menjadi kekasihnya.
"Doni..." Nina berdesis menyebut nama ketua osis tampannya.
Dengan segera Nina menscrool kontak Doni dari ponsel pintarnya, berharap ketos tampan tersebut mau mendampinginya.
Tut... tut... tut...
Terdengar bunyi nada sambung dari ponsel pintarnya saat Nina menghubungi kontak Doni, namun tidak kunjung mendapat jawaban.
"Angkat dong Don..." Nina dengan mengedarkan pandangan ke arah tamu undangan yang sedang menikmati hidangan pada pesta ulang tahunnya. Siapa tahu saja salah satu ataupun kedua sosok tampan Doni dan Fabian asyik menikmati makanan tanpa menyadari panggilan darinya.
"His... kalian dimana sih?" Nina mulai kesal Karena panggilan teleponnya pada Doni betakhir begitu saja tanpa ada jawaban dari empunya.
Nina mengeram gusar karena pesta sweet seventeen yang digadang olehnya akan menjadi sebuah pesta yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya menjadi kacau balau karena dua cowok tampan yang menjadi incarannya menghilang.
π£π£π£π£
__ADS_1