Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA38


__ADS_3

"Khey... tunggu!!"


Terdengar seruan serta langkah kaki yang berlari kecil di belakang Khey saat dirinya berjalan di koridor sekolah pagi ini.


Khey pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.


"Ada apa... pagi pagi udah teriak teriak gak jelas." Khey terlihat malas saat mendapati kedua sahabatnya Rhea dan Alya berlari kecil menuju ke arahnya.


"Ck... judes banget sih ibu negara... belum dapat doping dari pak ketos keknya..." Rhea mengejek.


"Ck... doping apaan sih Rhe... yang ada malah bikin badmood iya..." Khey menjawab asal tanpa semangat. Padahal biasanya topik pak ketos adalah topik yang paling membuat Khey semangat, namun akhir akhir ini semuanya perlahan berubah.


Bahkan Khey pun merasa bingung dengan dirinya sendiri. Tidak bisa memahami dan mengerti akan moodnya yang naik turun. Apalagi semenjak seminggu ini, Fabian terlihat acuh padanya. Padahal Khey merasa tidak memiliki salah pada sang suami. Namun aku Fabian tersebut cukup membuatnya uring uringan hingga melupakan tentang Doni sang kekasih.


Rhea dan Alya terkekeh kecil melihat wajah Khey yang tidak bersemangat, cenderung tertekuk kesal.


"Elo diapain sama pak ketos Khey? Gak ditelfon... gak diapeli... dicuekin ya?" Alya bertanya dengan wajah tanpa dosa.


"Bisa gak sih gak nanya nanya soal Doni pagi pagi kek gini... bikin mood gue ancur aja..." Khey kesal.


"Keknya ibu negara beneran lama gak dapet doping dari pak ketos Al... jangan ganggu deh... ntar keluar taringnya..." Rhea menarik tangan Alya dengan nada mengejek pada Khey. Lalu berjalan meninggalkan Khey dengan menarik tangan Alya kuat.


"Sialan lo berdua, udah bikin mood gue merosot sekarang mau ninggalin gue gitu aja. Dasar sahabat laknat yang tidak bertanggung jawab..." Khey melebarkan langkah kakinya segera menyusul kedua sahabatnya.


Beberapa saat ketiganya berjalan, terlihat beberapa anak bergerombol mengerubungi papan informasi sekolah yang berada di ujung koridor sekolah.


Terlihat beberapa anak antusias mempeebincangkan sesuatu hingga membuat ketiga gadis yang berjalan bersama tersebut kepo, siapa lagi kalau bukan Khey, Rhea dan Alya.


Mereka bertiga pun menghentikan langkahnya lalu berbelok menuju papan informasi untuk memperjelas kekepoan ketiganya.


"Jadwal perbandingan basket antar SMU ternyata... pak ketos pasti tanding Khey..." Alya memberitahu sahabatnya.


"Dimana?" tanya Rhea antusias.


"Di GOR baru deket SMU Bunga Bangsa." Terang Alya dengan membaca pengumuman di papan informasi.


"Jadualnya sore... yah gak libur dong kita... kirain jam sekolah biar bisa bolos..." Alya terlihat tidak semangat.


"Justru enak dong, pulang sekolah sekalian cuci mata, iya kan Khey..." Rhea mengerlingkan matanya ke arah Khey.


Khey hanya memandang malas sang sahabat.


"Ayolah Khey yang semangat, masak lo letoy gini sih... pak ketos ntar main kasih semangat gitu..." Rhea memberikan kepalan tangan sebagai tanda semangat kepada Khey yang masih saja terlihat malas.

__ADS_1


"Iye... iye gue semangat ini..." Khey memberikan senyuman pada wajahnya agar sahabatnya tersebut berhenti mengoceh.


"Denger denger anak SMU Bunga Bangsa cakep cakep ya Rhe..." Alya terdengar menggumam.


"Katanya sih iya... cowoknya ganteng ganteng, ceweknya juga cantik cantik... hotsiee... " Rhea membenarkankan ucapan Alya.


"Ntar sore, langsung nonton ya Khey...?" Rhea meminta persetujuan sahabatnya.


"Gimana ya... gue lagi males nih..." Khey terlihat tidak tertarik dengan usulan Rhea.


"Elo gak pengen kasih Doni pacar lo semangat Khey?" Alya mengingatkan.


"Tanpa gue... Doni tetap jago main basket. Gak bakalan kalah dia." Khey masih saja tidak tertarik untuk menonton pertandingan basket tersebut meskipun Doni kekasihnya akan bermain di sana.


Entah mengapa keinginan untuk melihat sang kekasih bermain basket tidak ada sama sekali. Khey brusaha untuk menjaga jarak dengan Doni demi janjinya pada Fabian.


Tapi.... benarkah Khey merelakan melewatkan pertandingan basket Doni hanya demi Fabian...?? Padahal selama menjadi kekasih Doni Khey tidak pernah absen untuk memberikan dukungan kepada sang kekasih. Bahkan Khey selalu meluangkan waktu untuk membantu Doni menyiapkan segala kebutuhan sang kekasih untuk pertandingan basketnya.


Entahlah... yang pasti saat ini Khey merasa dilema antara melihat pertunjukan basket Doni atau menjaga perasaaan Fabian yang notabene adalah suaminya sekarang.


πŸ“πŸ“πŸ“


Tet... tet... tet...


Pun demikian halnya yang terjadi di kelas Khey, hampir seluruh penghuni kelas sudah berhamburan keluar kelas karena ingin segera melepaskan penatnya akibat duduk seharian di bangku sekolah.


Namun untuk ketiga sahabat yaitu Khey, Rhea dan Alya masih terlihat duduk nyaman di kelas mereka.


"Khey... jadi ikut nonton basket gak?" Rhea bertanya sembari menyapukan bedak pada wajahnya, tanpa berpaling dari cermin kecil yang menyatu pada tempat bedaknya yang selalu saja tidak lupa dia bawa meskipun ke sekolah.


Khey menggedikkan bahunya.


"Gue coba telfon Doni dulu deh, dia main gak hari ini." Khey dengan meraih ponsel pintarnya di kantong baju seragamnya.


"Ya jelas mainlah Khey... orang hari ini jadwal sekolah kita kok, Doni kan kapten tim basket gak mungkin dia gak main." Alya memastikan.


"Tapi dia gak ngasih kabar ke gue sama sekali Al, biasanya kalau dia mau main di hubungin gue. Minimal pamit, doain menang atau nonton ya kek gitu. La ini enggak sama sekali, mungkin dia gak main... perdana kan? Palingan musuhnya mudah so dia gak main..." Khey dengan membuka kontak Doni pada ponsel pintarnya.


Walau sebenarnya Khey memang sedikit malas untuk menonton pertandingan basket Doni saat ini. Namun demi untuk menyenangkan kedua temannya yang tekah semangat untuk menonton, bahkan kedua sahabatnya terlihat bersolek untuk mempercantik diri masing masing. Meskipun sebenarnya kedua sahabatnya tersebut tetaplah cantik menurut Khey, namun status keduanya yang jomblo mungkin membuat keduanya bersemangat berdandan siapa tau saja ada yang nyantol saat nonton pertandingan basket nanti.


Khey meletakkan ponsel pintarnya ke gendang telinga kirinya sembari menunggu panggilannya dijawab oleh Doni.


Namun beberapa saat menunggu, Khey tidak kunjung mendapatkan jawaban. Khey pun mendengus kesal.

__ADS_1


"Kenapa... Doni gak jawab?" Rhea seakan tau jika panggilan Khey diabaikan oleh kekasihnya.


"Tau tu Doni kebiasaan deh..." Khey kesal.


"Gue gak usah ikut deh males..." Khey kembali berucap kata.


"Kok lo gitu sih Khey, gak setia kawan banget." Alya.


"Gue males Al..." Khey beralasan.


"Yah gak asyik dong cuma berdua doang... ikut aja udah, ntar di sana juga ketemu sama Doni." Alya ngeyel.


"Enggak... kalian berdua aja. Gue mau pulang." Khey dengan memakai tas ke punggungnya.


"Yaelah... elo bener bener gak setia kawan Khey." Alya mencebik kesal seraya menarik tangan Rhea dan berlalu meninggalkan Khey.


Khey menghembuskan nafas kasar.


Baru saja beberapa langkah dirinya berjalan, terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Khey. Khey pun segera mengambil lalu membuka ponselnya.


Kening Khey mengernyit saat mendapat gambar foto dari nomor yang tidak dikenalnya.


Khey menelisik gambar foto yang hanya tampak punggung tersebut menampilkan tubuh jangkung yang tak asing baginya dengan seorang gadis yang menyender bahunya dan bergelayut manja pada cowok tersebut.


"Ah... gak mungkin..." Khey menggumam lalu mengabaikannya dengan kembali memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku seragam sekolahnya.


"Rhea... Alya... tungguin... Gue ikut!!!" teriak Khey dengan berlari kecil menuju kedua sahabatnya yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»

__ADS_1


__ADS_2