Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA122


__ADS_3

Set...


Fabian mencekal pergelangan tangan Khey setelah beberapa saat lalu membalik tubuhnya, mengganti target.


Fabian dengan kuat menarik pergelangan tangan khey menuju tangga lantai dua. Tak ingin memberi kesempatan pada gadis itu untuk melarikan diri darinya.


"Bunda!!"


Khey dengan meronta, memberikan pandangan memohon agar sang mertua membantunya.


Fabian pun menghentikan langkah kakinya sejenak, memalingkan tubuhnya ke belakang.


"Bunda nggak boleh ikut campur, ini urusan dalam rumah tangga Abi. Emangnya bunda mau cucu bunda ke delay terus menerus..." peringat Fabian pada sang bunda.


Bunda menaikkan kedua alis matanya mendebgar peringatan anak lelakinya. Setelahnya mengangkat bahu.


"Kali ini bunda nggak bisa bantu sayang."


Khey mengalihkan pandangan pada ayah mertuanya.


"Ayah juga nggak bisa bantu, kamu tadi kan nggak bantuin ayah." Ayah dengan mengangkat kedua tangan di depan dada seraya tersenyum seolah mengejek.


Ah... ternyata ayah mertuanya itu pendendam.


Bibir Khey pun mengerucut.


Sepertinya Khey harus bersiap jika hari ini harus bertempur melawan buaya di atas ranjang.


Fabian pun kembali melangkahkan kaki menaiki tangga. Khey terpaksa mengikuti dengan langkah kaki yang dibuat berat.


Dalam hati Khey berfikir, bagaimana cara dirinya melepaskan diri dari suaminya. Khey memeras otaknya dengan kuat untuk menemukan ide tersebut.


"Auw... Bi sakit..." Khey tetiba menjerit kecil.


Sontak Fabian menghentikan langkah kakinya kembali dan mengendurkan cekalan tangannya.


"Mana yang sakit?"


"Ketutup tangan lo. Lepasin bentar, biar gue lihat, keknya lecet deh..." Khey dengan memasang wajahnya meringis, menyembunyikan niat liciknya.


"Emangnya ada luka di tangan lo, kok bisa lecet sih." tanya Fabian heran, menurutnya tadi baik baik saja.


Namun tetap saja ia melepaskan sepenuhnya pergelangan tangan sang isteri. Fabian tak ingin melukainya.


Khey tidak menyia - nyiakan kesempatan saat Fabian melepaskan tangannya. Segera Khey menginjak salah satu kaki Fabian hingga membuat suaminya itu mengaduh.


Auow... Fabian menaikkan kaki bekas injakan Khey, dan itu memberi kesempatan Khey untuk berlari ke atas menuju kamarnya.


Fabian mengeram karena merasa dibodohi oleh isterinya.


Duk... duk...


Terdengar bunyi hentakan kaki Fabian yang segera berlari menyusul Khayyara.


Ayah dan Bunda Fabian tertawa saat melihat kejadian tersebut, ternyata posisi kedua orang tua Fabian masih tetap di sana.

__ADS_1


"Berjuang Bi, sampai berhasil. Bikinin ayah cucu yang nggemesin. Jangan kalah sama bibit bantet." teriak ayah pada Fabian yang hampir berhasil mengejar sang isteri.


"Siip.. jangan ada yang ganggu biar hasilnya nggak bantet." seru Fabian dengan kekeh kecil tanpa menghentikan langkah kakinya.


Haish... mereka ngomong apaan sih... gerutu Khey dalam hati saat mendengar ucapan suami dan ayah mertuanya.


Senyum terbit pada bibir Khey saat dirinya tepat berada di depan pintu kamar. Segera membuka lalu masuk ke dalam.


Dug...


Kening Khey mengerut saat pintu yang hendak ditutup olehnya terganjal sesuatu.


Ekor mata Khey bergerak ke bawah. Sontak membola dengan mulut menganga saat mendapati jemari kaki yang mengganjal pintu.


Khey segera mendorong pintu dengan kuat agar Fabian tidak dapat memasuki kamar.


Namun sial, kekuatan Khey tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki Fabian.


Ceklek.


Fabian segera mengunci pintu kamar lalu membalik tubuhnya berkacak pinggang.


"Sudah berani licik sama gue ya..." Fabian dengan seringai.


"Sorry Bi..." Khey dengan melangkah mundur. Ekspresi wajahnya terlihat menyesal.


"Kalu ini gue nggak bakal maafin." Fabian dengan melangkah maju, membuat Khey semakin mundur.


"Gue nggak bermaksud..."


"Tapi Bi..."


"Nggak ada tapi tapian." Fabian semakin memperpendek jarak keduanya. Hingga Khey sudah tidak dapat bergerak lagi karena kaki Khey sudah membentur tepi ranjang.


Aduh gimana ini... Khey membatin.


Bek...


Kedua tangan Khey menahan dada bidang Fabian saat tubuh jangkung itu hendak merapatkan tubuh mereka.


"Apalagi?" Fabian


"Jj.. jangan sekarang Bbi..."


"Gue maunya sekarang. Gue udah nggak tahan lagi buat menikmati semua yang ada di diri lo..." Fabian dengan menyentuh lembut wajah Khey. Sorot matanya pun terlihat memindai wajah sang isteri seolah tak sabar untuk merayapi wajah mulus tanpa noda itu.


Deg... deg...


Jantung Khey kembali terpompa dengan cepat. Padahal ini bukanlah sentuhan pertama Fabian pada wajahnya, bahkan lelaki bergelar suaminya itu sudah sangat sering melakukan skinship pada dirinya.


Getaran aneh kembali merayapi tubuh Khey, membuatnya harus menelan ludah kelat.


Fabian semakun mendekatkan wajahnya. Membuat jantung Khey semakin berdetak lebih kencang.


"Bi... ggu...ggue..."

__ADS_1


Cup.


Khey melotot karena Fabian telah mendaratkan bibir kenyalnya. Tetapi Khey juga bernafas lega karena Fabian memilih kening bukan bibirnya.


"Lo mau pabrik kecebong gue buka cabang gegara lo nolak kewajiban lo terus?!"


Hah...


Khey bingung dengan ucapan Fabian.


"Dia juga butuh haknya dipenuhi Ra..." Fabian dengan melirik bagian inti tubuhnya.


"Lo nggak kasihan sama dia?" Membuat wajah Khey merah padam saat mengikuti arah pandang sang suami.


"Jorok lo Bi." Khey dengan memalingkan wajah.


"Lo bilang gitu karena lo belum ngerasain aja nikmatnya bagaimana." Fabian mulai mencium daun telinga sang isteri karena posisi wajah sang isteri berpaling darinya.


"Bi geli..." Khey menggelinjang saat Fabian memberikan gigitan kecil di sana.


"Nikmati aja." Fabian mulai menurun pada leher jenjang sang isteri. Dengan tak lupa memberikan jejak merah keunguan di beberapa titik.


Baru saja beberapa saat lalu Khey bernafas lega karena mengira Fabian bakal mengurungkan niatnya. Namun sepertinya Khey harus kembali mempersiapkan diri sekarang.


"Bi.. ah..."


******* lirih dari bibir Khey membuat Fabian tersenyum nakal.


Tangan kekar Fabian menyusup pada punggung Khey, melepas pengait penutup gunung kembar sang isteri. Untuk memudahkan tangannya memainkan benda kembar yang mirip squisy tersebut.


"Bian kaki gue mati rasa." Khey dengan sedikit mendesah tangan Fabian sangat lihai mempermainkan gunung kembar sang isteri.


Fabian terhenyak menyadari jika mereka masih dalam posisi berdiri, wajar saja jika sang isteri merasakan kedua kakinya kram.


Dengan tanpa mengakhiri ciuman pada wajah sang isteri, perlahan Fabian membawa tubuh Khey ke atas ranjang. Merebahkannya dengan sangat hati - hati.


Khey yang semula menolak pun perlahan menerima bahkan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya. Tanpa sadar mengikuti arahan suaminya begitu saja.


Fabian menghentikan aksinya sesaat, menegakkan sedikit tubuhnya untuk melepaskan baju atas yang setengah basah dari tubuhnya. Lalu melemparnya sembarang.


Hek.


Khey terpana dengan keindahan perut abs milik sang suami. Lemak seolah enggan menghampiri tubuh bagian atas Fabian.


Baru kali ini Khey benar benar memperhatikan pahatan sempurna bak dewa yunani itu. Para gadis di sekolahnya pasti berteriak histeris jika mereka melihat pemandangan ini, pikir Khey dalam hati dengan memandang tanpa berkedip.


"Suka ya...?"


Ucapan Fabian itu membuat Khey segera memalingkan wajah.


"Nggak cuma lihat, elo bahkan bisa menyentuhnya." Fabian dengan membawa salah satu tangan Khey pada perut absnya.


Hek


Tangan Khey bergetar saat berhasil menyentuh tubuh atas Fabian yang sudah tidak terbungkus sehelai benang pun. Khey pun merasakan ludahnya kelat saat jemarinya bergerak menyusuri tubuh atas Fabian.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2