Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA102 True


__ADS_3

Khey tidak berhenti menghentakkan kakinya dengan kesal saat mengingat kejadian tadi siang di sekolah.


Kakinya tidak berhenti bergerak, berkali kali mengulang langkahnya hanya mondar mandir di samping jendela kaca kamarnya. Khey sengaja melakukannya di sana karena dari posisi tersebut Khey dapat memantau kedatangan Fabian nantinya.


Jendela kamar Khey memang terbuat dari kaca yang lebar dengan ukuran yang hampir menyamai tinggi dinding kamar, sehingga ketika ada seseorang datang memasuki gerbang rumahnya Khey dapat melihatnya dengan jelas dari kamarnya.


Khey tidak berhenti menggumam kesal bahkan sesekali umpatan untuk Fabian keluar dari bibir mungilnya saat bayangan Fabian dan Nina yang bercanda akrab dan saling melempar senyum hadir di pelupuk matanya.


Dan hal itu membuat Khey sangat kesal.


"Nyebelin... nyebelin... nyebelin..." Khey dengan saling memukul kedua telapak tangannya geram.


"Jadi cowok sok kecakepan banget sih, udah punya isteri jugak. Lagaknya kek don juan... sok tebar pesona..."


"Katanya cintanya cuma buat gue, apaan...??! Dasar kang gombal, semua cewek di pepet."


Bibir Khey tidak berhenti meracau.


Sedetik kemudian.


Seolah menyadari sesuatu, Khey menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu... tunggu... kenapa gue jadi kek gini sih, perasaan gue sama Doni dulu nggak kek gini banget deh. Dulu Doni juga deket sama Nina, mereka juga sering barengan. Sering keluar bareng, jalan bareng, mereka juga sering terlihat bercanda bareng. Waktu itu gue nggak secemburu ini. Kenapa sama tengil ini beda ya..." Khey terlihat berfikir dengan kening mengerut.


Selama pacaran sama Doni Khey memang cukup cuek dengan kedekatan sang ketos dengan Nina maupun cewek lain di sekolahnya. Tidak sedikitpun Khey cemburu, dia selalu percaya pada Doni. Padahal Khey sangat mencintai Doni waktu itu. Dan dia tetap percaya.


Akan tetapi saat ini. Meskipun Fabian tengil adalah suaminya dan Khey merasa belum memiliki rasa cinta padanya, kenapa malah membuatnya kesal dan uring uringan tak jelas.


"Isshh... sebel deh..." Khey mendudukkan dirinya di atas kursi meja riasnya.


"Apa gue beneran cemburu ya... jangan - jangan..." Khey menggelengkan kepalanya berulang, seolah menolak kemungkinan tersebut.


Meskipun tubuh Khey akhir - akhir ini tidak menolak sentuhan dari suami tengilnya, bahkan sangat menikmati ketika bibir keduanya bertautan. Namun entah mengapa otaknya masih saja enggan mengakui rasa itu.


"Enggak mungkin gue jatuh cinta secepat ini sama Fabian. Nggak mungkin!!!" Khey berseru. Menggelengkan kepala dengan menjambak ringan rambut hitam panjangnya.


Kriet.


Belum selesai Khey berucap kata terdengar bunyi pintu kamar yang dibuka. Khey pun segera menoleh ke arah pintu.


"Apanya yang nggak mungkin yang?"


Fabian datang dengan wajah yang berbinar ceria. Karena memang itulah wajah normal Fabian yang sebenarnya.

__ADS_1


Fabian tidak pernah menunjukkan wajah marah, kesal ataupun juteknya pada orang lain.


Namun Tidak bagi Khey. Wajah itu seolah menunjukkan kesenangan dan kegembiraan karena telah berkencan dengan Nina.


Membuat kedua mata Khey menyipit seolah sengit saat melihat keceriaan di wajah suami tengilnya.


"Huh.... enak ya... bahagia banget keknya yang habis pacaran." lontar Khey pada Fabian tengil. Khey memilih mengabaikan pertanyaan dari Fabian tengil.


Fabian menautkan kedua alis matanya. "Maksud lo?!"


"Nggak ada." sahut Khey cepat. Dada Khey kembali bergemuruh, mengingat kebersamaan Fabian dengan Nina.


"Kamu kenapa lagi yang?" Fabian sembari meletakkan tas sekolahnya dia atas meja belajar milik Khey. Lalu mendudukkan diri di tepi ranjang sembari membuka satu persatu kancing baju seragam sekolahnya.


"Gue nggak kenapa napa." Khey sedatar mungkin saat menjawab pertanyaan dari Fabian. Khey pura pura sibuk mengucir rambut hitam panjangnya untuk membuat Fabian tidak menyadari kekesalannya.


"Nggak usah pura pura. Elo lagi kesel kan sama gue Ra...?" Fabian tahu jika sebenarnya Khey saat ini sedang kesal padanya hanya saja Fabian tidak tahu apa penyebab dari kekesalannya tersebut.


"Ga usah sok tau." Khey masih saja ketus.


"Gue nggak sok tau, tapi gue emang tahu." Tetiba Fabian berucap kata tepat di sisi telinga Fabian, dengan kedua tangan yang melingkari perut rata milik isterinya.


Sontak Khey pun terhenyak.


"Bi... jangan kek gini, sesak tau." Khey dengan berusaha melepaskan kedua lengan tangan Fabian yang melingkar pada tubuhnya.


Fabian mengindahkan keinginan Khey yang menolak pelukannya. Memilih mengencangkan kedua tangannya pada tubuh ramping tersebut sembari menghirup dalam aroma sampho pada rambut hitam sang isteri.


"Lepass.... ssin Bi..." Khey dengan memberontak.


"Gak bakal gue lepas, kalau lo belum kasih tau ke gue penyebab elo kesel." kedua tangan Fabian mengerat.


"Ggue nggak kes..."


"Elo nggak bisa bohong Ra." potong Fabian cepat.


"Gue tau elo kesel sama gue." ucap Fabian sembari mencium ceruk leher Khey, kedua manik matanya menelisik wajah Khey dari samping.


Huh...


Khey mendengus.


"Kalau udah tau ngapain nanya..." Khey dengan membuang wajahnya kesal untuk menepis wajah Fabian yang memberikan sentuhan pada ceruk bahunya.

__ADS_1


Khey tidak ingin lemah, ketika hidung mancung dan bibir tebal setengah basah itu menyusuri ceruk lehernya. Khey cukup tau jika sentuhan itu dapat membuatnya goyah.


Sontak Fabian menarik wajahnya dengan kedua alis mata yang bertaut dari sana, tidak salah lagi isteri barbarnya itu pasti sedang marah padanya.


Fabian pun menarik nafas dalam.


"Udah gue bilang kan nggak usah main kode kodean sama gue, gue nggak ngerti Ra... mending lo ngomong aja, apa yang bikin elo kesel kek gini..."


Tidak sedikit pun Khey bereaksi, tetap dalam posisinya membuang wajah dari Fabian. Pun demikian Khey tidak dapat menutupi seru nafas kesal dari tubuhnya.


"Elo tau nggak kalau menyimpan marah itu bisa membuat tubuhmu jadi sarang penyakit. Marah yang mengendap di sini, bisa bikin elo punya penyakit jantung." Fabian mengeratkan tubuhnya pada punggung Khey sembari meraba dada Khey yang berdegub menahan kesal.


Sontak membuat Khey menoleh.


"Nggak usah ngadi ngadi..." Khey dengan memasang raut wajah sinis.


"Beneran gue nggak bohong. Gue kan nggak mau kalau punya bini jantungan. Entar gue bakalan cepet jadi duda dong...." Fabian dengan senyum pada wajah tengilnya.


Bugh... bugh... bugh...


Khey mendaratkan kedua lengan tangannya pada dada bidang Fabian dengan berulang. Membuat Fabian terkekeh kecil.


"Harusnya elo yang mati duluan bukan gue... enak aja..." Khey berseru kesal tanpa menghentikan pukulannya pada Fabian.


"Ra... sakit tau..." Fabian dengan memasang raut wajah pura pura kesakitan, tak lupa memasang kedua tangannya di depan dada untuk menangkis pukulan Khey.


"Makanya kalau ngomong jangan seenaknya aja..." Khey dengan terengah.


"Iya deh iya... gue salah ngomong. Maaf...." Fabian dengan senyum tulus.


Lalu menarik tubuh Khey untuk menghadapnya kemudian melingkarkan kedua lengan kokohnya pada tubuh ramping Khey.


"Sekarang jujur deh sama gue, apa yang bikin lo kesal hari ini..." Fabian dengan memandang lurus manik hitam sang isteri.


😍😍😍😍


Maaf.... beribu maaf othor haturkan kembali pada pencinta bang Bian karena baru bisa mengudara kembali....


Beberapa hari lalu othor baru saja kehilangan ibu, karena telah berpulang ke rahmatullah... so othor sejenak mengistirahatkan jari jemari othor di atas kheyboard.


Mohon doanya semoga amal ibadahnya beliau diterima di sisinya, dimudahkan dan dilapangkan jalannya.... Aamiin YRA...


Bismillah siap mengudara kembaliπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

__ADS_1


__ADS_2