
Cup...
Fabian mendaratkan kecupan cukup lama pada kening Khey. Kemudian berganti mengecup setiap inchi lapisan kulit wajah putih isterinya.
Khey pun menggerakkan wajah kegelian. Membuat Fabian semakin semangat mendaratkan ciuman pada seluruh permukaan wajah Khey.
"Bi geli... basah semua wajah gue." Khey dengan menahan dada bidang Fabian. Menunjukkan wajah pura pura manyun untuk menutupi kegugupannya.
Fabian menghentikan aksinya dengan sedikit menjauhkan wajahnya.
"Gue nggak mau kehilangan kesempatan lagi." Fabian dengan senyum tengilnya. Segera mendaratkan bibirnya pada bibir Khey.
Fabian mulai ******* bibir kenyal di bawahnya dengan lembut, sesekali menyesapnya kuat. Sudah dapat dipastikan jika bibir tipis Khey bakal jontor setelahnya.
Khey yang semula hanya menerima setiap cecapan sang suami, perlahan mulai mengikuti alur. Perlahan Khey mengimbangi permainan intim Fabian dengan mencecap lalu menyesap kuat bibir lelaki sahnya.
Meski agak kaku di awal namun lama kelamaan Khey mulai menyesuaikan. Kedua pasangan remaja akhirnya saling mencecap dan menyesap kuat, menikmati rasa yang memabukkan tersebut.
Lidah Fabian mendorong agar Khey membuka mulut sepenuhnya. Dengan lihai Fabian menyusuri setiap inchi rongga mulut isterinya dengan saling bertukar saliva.
Tanpa melepaskan tautan bibirnya, tangan kekar Fabian bergerak menyusup ke balik baju isterinya. Merangkak mendaki bukit kembar dengan sesekali memberikan remasan kuat di sana.
Merasa tidak leluasa, tangan Fabian bergerak ke balik punggung isterinya. Membuka kaitan penutup gunung kembar milik isterinya.
Tangan itu kembali mendaki gunung kembar yang membusung dengan sesekali memilin pucuk kembarnya silih berganti. Hingga membuat gadis di bawahnya mendesis lirih.
Tangan Fabian bergerak cepat membuka kancing baju atas milik isterinya. Melempar sembarang baju atas beserta penutup gunung kembar sang isteri dengan sembarang.
Khey merasakan seluruh tubuhnya meremang saat merasakan tubuh atasnya bergesekan dengan tubuh Fabian yang sedari awal shirtless. Khey tak mampu menggambarkan sensasi aneh yang pertama kalinya dia rasakan.
Sedikit menahan nafas, untuk mendalami rasa yang sangat memabukkan baginya.
Fabian melepaskan tautan bibirnya, saat merasa isterinya kehabisan nafas karena ulahnya.
Senyum seringai terbit di wajah Fabian ketika mendapati kedua mata Khey terpejam dengan nafas menderu serta dadanya yang berdegub kencang.
Tak ingin melewatkan kesempatan, pandangan mata Fabian beralih pada dua gunung kembar yang membusung di bawahnya. Segera mendaratkan bibirnya pada pucuk kembar milik Khey yang lagi lagi sangat menggoda imannya.
Fabian menyesap kuat pucuk kembar sang istri silih berganti.
"Bi..." Khey mendesis lirih, menggigit bibir bawahnya kuat untuk menahan sensasi gelenyer aneh yang menyeruak dalam dirinya.
__ADS_1
Bukannya menghentikan aksinya, Fabian malah semakin mengganas. Menyesap kuat salah satu pucuk kembar sang isteri sembari memilin serta meramas pucuk satunya dengan telapak tangan kekarnya. Tubuh bawahnya pun tak ingin ketinggalan untuk merasakan kenikmatan surga dunia di bawahnya. Perlahan menekan dan menggesekkan inti tubuhnya pada tubuh di bawahnya dengan intens.
Meski Fabian belum pernah melakukannya dengan gadis manapun, namun naluri kelakiannya dengan mudah mengikuti insting. Tangan kekarnya tidak berhenti bergerak, merayap kemana saja letak area sensitif sang isteri.
Membuat Khey terbuai akan setiap sentuhan lembut jemari Fabian. Tubuh Khey tidak berhenti menggeliat.
"Bi... Ishh...akh..." desis Khey diiringi dengan erangan. Sepertinya Khey tidak mampu lagi menahan gelenyer aneh yang membuat tubuhnya memanas.
Kedua tangan Khey bergerak menyusup ke dalam surai hitam Fabian. Refleks meremas dan menekan kepala suaminya kuat.
Membuat Fabian semakin gencar menyesap pucuk squisy di bawahnya silih berganti, tanpa henti. Sesekali telapak tangan kekar itu meremas lembut gunung kembar yang mengeras minta dihisap.
Terdengar ******* lirih yang mengalun merdu dari mulut Khey yang terdengar tepat di telinga Fabian.
Puas menikmati gunung kembar di bawahnya, Fabian mendongakkan wajah. Memandangi jejak merah yang tertinggal di leher jenjang sang isteri hingga turun ke bawah. Bahkan lembah gunung kembar sang isteri tidak lepas dari keganasan Fabian. Jejak merah berderet tak beraturan, membuat kulit putih Khey hampir semuanya memerah.
"Ra..."
Hmn... Khey menggumam di sela deru nafasnya yang memburu.
"Gue udah nggak tahan." Fabian dengan suara serak, menatap Khey dengan pandangan berkabut hasrat.
"Lakukanlah, itu hak lo." Khey dengan bibir bergetar.
Rasa gugup melanda hatinya sekarang. Maklum ini adalah pengalaman pertamanya, di saat usianya masih menginjak remaja. Namun Khey tidak ingin mendapat dosa karena menolak keinginan sang suami.
Fabian segera melepas celana jins yang membalut tubuh bawahnya, tanpa menyisakan sehelai benangpun pada tubuhnya. Kemudian berganti menurunkan rok pendek Khey beserta penutup inti tubuhnya.
Khey yang baru pertama kalinya melihat tubuh polos pria secara nyata segera menutup kedua bola matanya.
"Kenapa menutup mata?" Fabian dengan kekehan.
"Malu." cicit Khey.
Meski kedua mata Khey tertutup rapat, namun tetap saja gadis itu memalingkan wajahnya.
"Nggak usah malu gitu, pandanglah sepuasnya. Lama lama nanti juga biasa." Fabian membawa wajah Khey kembali menghadap ke arahnya.
"Buka matanya." perintah Fabian karena Khey mengeratkan kelopak matanya.
"Nggak mau, malu " Khey menggelengkan kepala seraya mencengkeram kain penutup ranjang.
__ADS_1
Fabian pun mengikis jarak. Mencium kedua mata Khey yang tertutup silih berganti. Beralih pada kedua pipi cabi sang isteri. Menangkup, seolah pipi pipi itu adalah bakpao isi daging ayam teriyaki yang nikmat jika dikunyah di dalam mulutnya.
Setelahnya Fabian mendaratkan bibir kenyalnya pada bibir sang isteri. Mencium, menyesap dengan lembut menuntut.
Khey semakin terbuai dengan permainan sang suami. Tangan Fabian juga tak lepas dari dua gunung kembar sang isteri.
Meremas, memilih dengan gemas pucuk gunung kembar sang isteri yang menjadi candunya. Kemudian melepaskan tautan bibirnya, menurunkan wajah ke arah dua benda kenyal yang membusung, menggodanya. Memuaskan diri bermain di sana layaknya bayi yang menyusu kelaparan.
Tentu saja itu semakin membuat Khey melayang serasa di udara. Membuatnya semakin menggelinjang nikmat, dan tubuhnya seolah menginginkan yang lebih.
Dan Fabian menyadari reaksi tubuh di bawahnya.
Tangan Fabian bergerak membawa salah satu tangan Khey pada tuas panjang pabrik kecebongnya yang mengeras.
Hek...
Khey tercekat, menelan ludahya kelat saat merasakan tuas panjang menggeras Fabian dalam genggamannya.
"Dia minta dielus yang." Ucapan Fabian tepat di telinga sang istri.
"Gg...ggue nggak bisa." Khey gugup bukan main.
"Cobalah... gerakin kek gini." Tangan Fabian menggerakkan tangan Khey yang menggenggam tuas pabrik kecebongnya dengan perlahan.
Khey mengikuti arahan Fabian meski dengan kaku.
"Lebih cepat yang." Fabian dengan nafas menderu kembali meraup bibir di bawahnya yang sudah menebal.
"Akh... akh..." Fabian mengerang saat Khey mepercepat gerakkan tuas panjang Fabian.
Sembari menikmati sentuhan isterinya, tangan Fabian bergerak menyusuri hutan rimbun sang isteri untuk membuka jalan masuk ke dalam gua yang tentunya masih rapat tersebut.
"Akh...Bi..." Khey mengerang saat merasakan inti tubuhnya dimasuki oleh jemari Fabian.
"Sakit?" Fabian dengan memberikan kecupan pada wajah isterinya.
"Sedikit."
"Tahanlah, sedikit... biar ntar masuknya nggak susah." Fabian membujuk dengan mengecup singkat bibir Khey.
ππππ
__ADS_1