
"Khey....!! Ngantin nyok!!" seru Rhea dengan melambaikan tangan ke arah Khey yang baru saja memasuki kelasnya.
"Pagi pagi udah ngantin. Lo nggak sarapan dari rumah?" tanya Khey masih berdiri dengan tas sekolah di balik punggungnya.
Rhea yang semula berada di bangku belakang karena asyik berbincang dengan siswi lainnya pun berjalan mendekati Khey.
"Gue nggak sempet sarapan, gue bangun kesiangan. Lagian nyokap cuma bikin telur ceplok doang... asisten rumah tangga gue nggak dateng karena sibuk di rumahnya sendiri." sahut Rhea dengan mimik wajah yang dibuat cemberut.
Kini Rhea telah berada di dekat Khey yang sedang meletakkan tas punggungnya pada tempat duduknya.
"Beli roti sama susu aja terus bawa ke kelas, semenit lagi bel masuk. Gue nggak mau ketinggalan pelajaran matematika lagi." jawab Khey dengan melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya.
Khey sadar diri jika sebentar lagi akan ada ujian kenaikan kelas. Apalagi pelajaran matematika membuat otaknya berasa diperas saat mengerjakan soal soal yang berhubungan dengan angka tersebut.
Dan lagi kemarin dirinya sudah membolos untuk pelajaran matematika akibat insiden pertengkarannya dengan Doni yang berakhir dengan berurai air mata di belakang sekolah dengan suami tengilnya.
Sungguh Khey menyesali keputusannya memilih menghabiskan jam pelajaran sekolahnya dengan Fabian kemarin. Apalagi saat dirinya mengetahui jika yang ditinggalkan adalah jam pelajaran matematika yang membuat otaknya berasa diplintir jika ketinggalan penjelasan dari guru keriting, gembul nan lucu dan mudah dicerna saat memberikan penjelasan tentang angka tersebut. Sungguh penyesalan selalu datang diakhir.
"Gue makan nasi goreng kantin aja biar kenyang." Rhea.
"Lah... apa bedanya nasi goreng kantin sama sarapan lo di rumah...?" Khey bingung dengan pilihan Rhea yang menurutnya sama saja dengan menu di rumahnya.
Khey berfikir demikian karena nasi goreng di kantin sekolahnya juga hanya nasi dengan telur yang dibumbui saos dan kecap tanpa sedikit pun sayuran. Itu berarti jika Rhea sarapan di rumah dengan nasi dan telor ceplok pasti disertai dengan saos dan kecap juga.
"Beda Khey. Di sini gue makannya bareng sama elo..." Rhea meringis.
Khey mencebik.
"Gak mau. Gue kangen Pak Hendrik." tolak Khey dengan menyebutkan nama guru matematikanya.
"Mau lo tungguin dia sampek kiamat juga gak bakalan datang itu guru keriting, gembul bin gendut."
"Kenapa emangnya?" tanya Khey dengan kening mengerut.
"Orangnya nggak dateng Khey, kita cuma disuruh belajar mandiri." kali ini Alya yang menimpali. Alya baru saja masuk kelas, entah darimana gadis itu. Yang pasti bukan baru saja datang karena tas sekolahnya sudah nangkring di bangkunya.
"Apa...??" Khey dengan kedua mata membola setelah mendengar ucapan Alya.
__ADS_1
"Ck... lebay lo Khey... kek kesel nggak ketemu pacar setahun lo..." Alya mencibir sembari mendaratkan bokongnya.
"Gue kan kemaren emang nggak ketemu sama Pak gembul, rasanya kek setahun tau nggak..."
Alya dan Rhea terkekeh mendengarnya.
"Siapa suruh lo bolos kemaren..." ucap Rhea dan Alya mengejek hampir bersamaan.
πππ
"Eh ada ciwi ciwi cakep nganggur..." ucap Jackson sumringah sembari berjalan mendekati Khey dengan kedua sahabatnya yang asyik menikmati makanan mereka di kantin sekolah.
Ketiga gadis itu pun mencebik ke arah Jackson.
Jackson datang bersama Farrel dan Fabian.
Posisi duduk Alya dan Rhea yang duduk di bangku yang sama namun berjarak di tengahnya, membuat Jackson mengambil kesempatan untuk duduk di antara keduanya. Hal itu membuat Jackson terlihat bak seorang raja yang bersanding dengan dua permaisurinya.
Fabian mengambil duduk di sisi Khey yang duduk di hadapan ketiganya. Farrel yang mengetahui status Fabian dan Khey sebagai pasangan suami isteri memilih mengambil kursi single yang terbuat dari bahan plastik tak jauh dari sana. Rasanya tidak enak jika harus duduk dengan pasangan suami isteri remaja tersebut, meskipun bangku panjang itu masih muat jika ditambah dengan tubuhnya.
"Elo ngapain ngambil kursi sih Rell? Elo jadi kek lalat hijau pengganggu tahu nggak." Jack berucap dengan nada mengejek.
"Mendingan lo duduk barengan sama mereka deh..." Jackson menunjuk Khey dan Fabian dengan dagunya.
"Ogah." sahut Farrel cepat.
"Ck... biar kita saingan..." Jack.
"Maksud lo?" tanya Farrel heran.
Khey dan kedua sahabatnya pun memandang bingung pada si bule Jack setelah mendengar ucapannya. Sedangkan Fabian terlihat cuek bebek seolah tak peduli dengan tingkah Jackson.
"Gue kan duduk diapit dua cewek nih, berasa kek suami ganteng bin tajir dengan dua isteri ye kan..." Jackson dengan senyum konyolnya.
"Jiehh... sok sokan jadi bule laku lo!" Alya dengan mencebik.
Jackson teekekeh kecil dengan tampang watadosnya.
__ADS_1
"Terus hubungannya sama ucapan lo tadi apa?" Farrel.
"Ya... kalo elo duduk di sisi kiri Khey, jadinya kek dia punya suami dua gitu. Gue poligami, Khey poliandri jadinya... Hehehehe...." gurau Jackson dengan masih diiringi kekehan.
Hoeekkk....
Bukannya ikut tertawa, Alya dan Rhea spontan memandang Jack dengan ekspresi seolah ingin muntah.
Khey cuek saja, memilih memasukkan roti lapis isi coklat di tangannya hingga habis tak tersisa ke dalam mulutnya. Membuat kedua pipinya menggembung serta menyisakan coklat pada sudut bibirnya.
Sedangkan Fabian melotot dengan menunjukkan wajah geramnya pada Jackson, membuat Farrel tersenyum dalam hati.
"Cieh... Bian pelototin gue... eike takyuut men..." Jackson dengan aksen seperti waria yang biasa mangkal di perempatan lampu merah.
"Habisnya kata kata lo tadi kek ngejek dia sih. Elo pikir Fabian cowok nggak laku apa sampai harus rela berbagi cewek..." Farrel.
"Dia kan emang nggak laku, deketin Khey dari dulu nggak pernah dapet..." Jackson terdengar mengejek tanpa tahu status Fabian dan Khey yang sudah sah menjadi suami isteri.
Setahu Jack, Fabian memang mendekati Khey. Berusaha mendapatkan hati gadis itu sudah sangat lama. Jack hanya tahu sebatas itu karena dibandingkan dengan Farrel dirinya tidak banyak berbagi cerita hal pribadi dengan Fabian.
Apalagi Jackson baru dekat dengan Fabian saat mereka masuk di SMU Gama. Tidak seperti Farrel yang sudah berteman dengan Fabian sejak lama.
"Jadi cowok tu yang gercep... jangan lemot kek siput pincang lo Fab. Kek gue gini nih..." Jackson menangkup bahu Alya dan Rhea dengan kedua tangannya. Kemudian merapatkan kedua sahabat Khey tetsebut dengan dirinya. Hingga Jackson benar benar terlihat seperti berkencan dengan kedua gadis tersebut.
"Sekali hap langsung dapat dua nih... Ye kan girls..." Jackson menoleh ke kanan dan ke kiri meminta persetujuan Alya dan Rhea untuk memanasi Fabian.
Alya dan Rhea langsung memberikan penolakan dengan menepis kasar tangan Jackson dari bahu keduanya.
"Nyamuk kali sekali hap..." celetuk Alya kesal.
Farrel pun tergelak diikuti Khey yang tersenyum mengejek. Khey hanya dapat tersenyum karena mulutnya masih dipenuhi dengan roti yang belum selesai dikunyah olehnya.
Sedangkan Fabian memandang Jackson dengan pandangan yang sulit diartikan. Cowok yang disebut tengil oleh Khey tersebut terlihat mengerutkan kening seperti berfikir sesuatu.
"Khey..." Fabian dengan merapatkan tubuhnya pada Khayyara.
πππ
__ADS_1
Kira kira Fabian bakal ngapain nih.....