
"Sayang belum tidur?" tanya Fabian pada Khey saat memasuki kamar mendapati Khey masih duduk menyender pada kepala ranjang dengan ponsel di tangan.
Khey yang semula menunduk mendongakkan kepala.
"Belum. Nungguin lo."
"Apa? Nungguin gue?!" Fabian dengan tak percaya karena ini baru pertama kalinya Khey berubah seperti itu. Biasanya Khey berbuat sesuka hatinya, tanpa peduli dengan keberadaan dirinya. Meski akhir akhir ini mereka berdua bisa dikatakan semakin dekat namun tetap saja hal ini tidak biasa terjadi.
"Iya."
"Mau olah raga malem ya?" tebak Fabian dengan menaiki ranjang setelah menutup pintu kamar dan menguncinya.
Plak
Khey memukul bahu Fabian cukup kencang karena suami tengilnya itu selalu saja berfikir ngeres.
"Kok malah mukul sih yang." Fabian mengusap bekas pukulan Khey pada bahunya.
"Makanya otak mesum jangan dipelihara. Buang sono ke laut."
"Kalau gue nggak punya otak mesum, kasihan elo yang. Nggak ada yang muasin. Hehehe..." Fabian dengan kekeh jenaka.
"Bi!" Khey melotot tajam.
"Nggak salah kan yang? Petak sawah kalau nggak ada yang nyiramin jadinya gersang yang." Fabian tetap saja santai.
"Abi! Bisa nggak sih mulutnya itu nggak ngomongin ke arah situ..." Khey dengan menguncup bibir Fabian dengan salah satu tangannya karena sangat kesal.
Emmpphh... Fabian menggerakkan kepala berusaha mengelak namun tidak bisa.
"Enak kan?" Khey dengan kesal seraya melepas kuncupan tangannya dari mulut Fabian.
"Tega lo yang..." Fabian meraba bibirnya.
"Rasain!"
"Perih nih, kuku lo panjang panjang ya..." Fabian masih dengan meraba bibirnya, sesungguhnya hanya berpura pura untuk mendapatkan simpati Khey.
Khey memandang jemari tangannya. Menyadari kukunya memang cukup panjang, Khey pun khawatir jika tadi melukai bibir Fabian.
"Mana yang perih?" Khey yang semula kesal, dengan cepat merubah mimik khawatir.
"Sini nih." tunjuk Fabian pada salah satu sudut bibirnya.
"Nggak ada tanda luka deh keknya."
"Nggak mungkin, rasanya aja perih. Pasti ada, elo aja yang kurang teliti yang." Fabian ngeyel meski sebenarnya apa yang dikatakan oleh Khey benar adanya. Fabian memang sengaja menggoda sang isteri.
"Tapi beneran nggak ada Bi." Khey dengan menelisik intens bibir Fabian hingga mengerutkan dahi karena berusaha keras menemukan luka tersebut.
Hingga tiba-tiba.
Cup
__ADS_1
Fabian mendaratkan bibirnya pada bibir Khey. Membuat Khey membola seketika karena aksi Fabian yang tiba tiba.
"Nggak usah dicari cari kek gitu. Dikasih ciuman aja pasti langsung sembuh yang." Fabian santai setelah melepaskan kecupan singkat dari bibir Khey.
Khey mengerucutkan bibir dengan mimik kesal.
"Elo sengaja kan sama gue?!"
"Iya." Fabian mengangguk santai.
Plak.
Khey mendaratkan telapak tangan pada bahu Fabian kesal.
"Aduh yang..." Fabian meringis kesakitan karena pukulan Khey lumayan panas.
"Rasain. Itu akibatnya kalau jadi orang mesum." Khey lalu membaringkan tubuhnya setelah sebelumnya menarik selimut hingga menutupi dada.
"Yah kok tidur sih yang..." Fabian menarik selimut Khey namun tidak bisa karena Khey menahannya kuat.
"Yang..." Fabian dengan tetap berusaha.
"Udah tidur aja, udah malem. Matiin lampu, gue ngantuk." Khey membalik tubuh, memunggungi Fabian.
"Yah...yah... kok gue dikasih punggung sih... Ayang ngambek?" Fabian.
"Iya. Gue ngambek. Matiin lampu cepet." Khey kembali menarik selimut. Kali ini hingga menutupi kepalanya.
"Yang... jangan gitu dong... sorry deh... gue nggak lagi." Fabian memohon.
Fabian mendengus.
Tangannya merangkak menuju saklar lampu yang berada di sisi ranjang. Segera mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur yang terletak di atas nakas.
Fabian sengaja membiarkan lampu tidur yang menyala remang remang itu menyala karena Khey tidak menyukai jika kamar gelap gulita.
"Katanya nungguin gue, giliran gue udah ada malah tidur. Gimana sih yang..." Fabian mendumel seraya membaringkan tubuhnya di belakang tubuh Khey.
Khey tak bergeming. Mengabaikan Fabian meski dalam hati tersenyum dengan kekesalan Fabian.
"Kirain kangen sama gue, terus mau ngajakin manja manjaan gitu. Ini malah tidur, dikasih punggung pisan. Tega lo yang." Fabian masih saja kesal.
"Tidur Bi. Berisik tau nggak." Khey masih dengan posisinya.
"Biarin. Gue bakalan ngomel sampe telinga lo lelah." Fabian ikut menarik selimut.
"Kalau lo nggak mau diem, gue kuncir mulut lo Bi."
"Kalau lo kuncir pakek bibir lo gue pasrah." Fabian merapatkan tubuhnya pada Khey.
"Ogah. Pasti nggak bakal tidur nanti." Khey.
"Emang. Gue nggak pengen tidur sampek pagi." Fabian memeluk tubuh Khey seraya mengendus tengkuk leher Khey.
__ADS_1
"Bi... geli." Khey menggerakkan bahu bergidik.
Bukannya menjauh, Fabian semakin menyusupkan wajahnya di sana. Bahkan sengaja memberikan hembusan nafas, untuk menggoda sang isteri.
"Bian!" Khey berseru. Deru nafas hangat dari mulut Fabian menghadirkan sensasi gelenyer yang merayapi seluruh tubuhnya.
"Wangi lo enak Ra." Fabian mengabaikan seruan Khey yang juga menggerakkan bahu untuk mendorong tubuhnya.
"Harum baunya mengancam jiwa raga serta dedek kecilku yang." Fabian tengil selalu saja berucap mesum saat hanya berdua dengan Khey.
"Bian." Khey membalik tubuhnya berhadapan dengan Fabian. Menampilkan mimik wajah geram.
"Apa sayang..." Fabian dengan lembut menggoda.
"Jangan kek gitu, gue capek." Khey dengan penekanan pada kata capeknya.
"Kalau lo capek, gue aja yang bekerja elo nikmatin aja yang." Fabian tengil tetap saja merayu.
Khey pun mendesah.
"Bi..." lirih Khey melembutkan suaranya. "Gue beneran capek. Capek banget, badan gue berasa remuk redam. Sepertinya period gue mau datang." Khey memberikan tampang memelas agar suami tengil bin mesumnya itu mengurungkan permintaan aktivitas suami isterinya.
"Kalau gitu gue bakal puasa lama dong yang..." Fabian paham akan maksud Khey. "Sekali deh kalau gitu..." Bukannya mengurungkan niatnya Fabian malah makin merayu seraya merekatkan tubuhnya.
"Bi..."
"Sekali doang, biar gue yang bermain yang."
"Besok aja." tolak Khey dengan lembut takut Fabian tersinggung. Khey benar benar merasakan tubuhnya remuk redam saat ini, takutnya tidak mampu mengimbangi permainan Fabian dan bakal membuatnya kecewa.
"Kalau besok udah datang gimana? Gue bakal puasa seminggu yang..."
"Seminggu doang Bi, habis itu lo bisa sepuasnya deh." Khey kekeh.
"Nggak kuat yang." rengek Fabian memelas.
"Besok atau puasa setaun?!" Khey dengan tegas.
"Kyaa... mana bisa gitu yang..." Fabian membola.
"Makanya nurut sama gue." Khey tegas.
"Yah... gagal begadang deh malem ini." Fabian pasrah.
"Daripada puasa setaun kan..." Kgek santai seraya membalik tubuh memunggungi Fabian.
"Elo beneran tega yang..." Fabian menyusup surai hitam sang isteri. Mengendus aroma strawberry yang menguar dari shampo favorit Khey. Tangan kanannya menarik tubuh Khey, memeluknya erat.
Khey terkikik geli. Mengabaikan Fabian yang terdengar frustrasi karena gagal meminta jatah. Sungguh bukan maksud Khey menolak keinginan Fabian hanya saja Khey benar benar merasa tubuhnya remuk redam.
"Yang..."
Hem... Khey menggumam.
__ADS_1
"Besok papa pulang dari rumah sakit."
ππππ