
Plak.
Tangan Khey memukul punggung tangan Fabian yang berada di atas ayam goreng miliknya.
"Galak banget sih yang." Fabian mengusap punggung tangannya yang sesungguhnya tidak seberapa sakit.
"Belum cuci tangan kan?" Khey melotot tajam pada Fabian bak seorang emak yang memarahi anaknya.
Fabian mengerucutkan bibirnya. "Mau nyicip doang juga."
"Tetep aja kotor. Cuci tangan sana!" perintah Khey.
Fabian pun segera beranjak dari duduknya.
"Cuci tangan dulu yuk Sep, daripada nggak ditraktir makan." Ajak Fabian pada adik iparnya.
Septi pun beranjak mengekor pada Fabian.
"Kalian pesen sekalian. Sama bawain kita bertiga kentang goreng." perintah Khey sedikit berseru karena Fabian telah berjalan beberapa langkah menjauh dari meja Khey dan kedua sahabatnya.
Fabian hanya memberi tanda ok pada jemarinya tanpa menoleh.
Alya dan Rhea pun terkekeh melihat kuasa Khey atas Fabian.
"Nurut banget dia sama lo Khey." Alya dengan memandang Fabian sekilas dengan senyum pada bibirnya.
"Gue sengaja bikin dia susis." jawab Khey asal.
"Lo mau cincang suami lo Khey?" tanya Alya mendelik kaget.
"Cincang gimana sih Al?" Rhea memandang Alya bingung.
"Itu tadi Khey mau bikin Fabian jadi sosis kan.." Alya dengan wajah bodohnya.
Rhea berdecak, sedangkan Khey hanya tersenyum kecil.
"Maksud Khey bukan sosis Al."
"Tadi gue dengernya gitu. Jelas banget Khey bilang mau jadiin sosis."
"Dasar lemot lo." Rhea kesal.
Khey hanya menggeleng pelan, tak ambil pusing pada perdebatan kedua sahabatnya. Khey memilih mencuil ayam goreng kakek di depannya lalu mulai memasukkan ke dalam mulutnya.
Mood Khey sedikit berantakan setelah mendapati kenyataan bahwa lelaki selingkuhan sang mama adalah papa Doni. Setidaknya kenyataan itulah yang memenuhi ruang otak Khey setelah mendengar Doni memanggil lelaki perlente tersebut.
"Lah... gue beneran denger Khey nyebut sosis." Alya dengan nada tak terima akan olokan Rhea padanya. "Elo tadi bilang mau bikin Fabian sosis kan Khey?" tanya Alya beralih pada Khey.
__ADS_1
"Susis Al. Suami takut isteri." Khey dengan menekan pada tiap katanya.
Sesaat Alya terdiam mencoba mencerna ucapan Khey dengan kening mengerut.
"Oh susis... jadi Fabian itu suami takut isteri." seru Alya setelah menyadari arti ucapan Khey.
"Siapa yang suami takut isteri Al?"
Tetiba Fabian dengan duduk seraya membawa makanannya. Disusul oleh Septi yang mengambil duduknya semula.
"Eh... Bian... enggak ini lagi gosipin artis." Alya tersenyum canggung.
Meski Fabian selama ini dikenal Alya sebagai anak yang santai dan tengil, tetap saja Alya merasa tidak enak hati pada Fabian jika ketahuan dirinya mengoloknya.
Khey terlihat tak peduli. Dirinya terlihat fokus pada ayam gorengnya.
"Gosipin artis apa gue?"
"Aarrtis... beneran deh kita lagi gisipin artis kok. Iya kan Rhe... Khey..." Alya sedikit gagap dengan mengarahkan pandangan pada Rhea dan juga Khey silih berganti. Bahkan kakinya di bawah meja menyodok kaki Rhea yang duduk di sampingnya. Alya ingin Rhea mendukung ucapannya karena Khey terlihat acuh dan tak peduli.
"Artisnya gue kan." Fabian dengan memajukan wajah bergaya tampan tak lupa dengan senyum tengilnya.
Alya dan Rhea mencebik.
Sedangkan Khey tetap saja terlihat acuh.
"Makan Sept." Fabian pada adik iparnya.
Septi hanya mengangguk seraya menggumam karena fokus matanya pada layar pipih dalam genggamannya.
"Gimana lo bisa sama dia?" tanya Alya mulai kepo pada Fabian.
Fabian yang hendak memasukkan potongan ayam goreng pada mulutnya mengurungkan niatnya.
"Dari kemaren gue udah janji mau nganterin dia buat belanja kebutuhan sekolah." jawab Fabian lalu memasukkan potongan ayam goreng pada mulutnya.
Alya mengangguk perlahan namun otak keponya tetap saja tidak mau berhenti untuk mengorek lebih dalam. Apalagi saat ini Alya melihat ada perubahan di wajah Khey. Entah karena kehadiran adik perempuan atau karena hal lain Alya tidak tahu yang pasti Alya merasa Khey tidak seperti beberapa saat lalu.
"Cuma berdua doang gitu, lo sengaja nggak ngajakin Khey?"
Sontak pertanyaan Alya membuat Rhea menyodok lengan Alya.
"Apaan sih Rhe..." Alya melotot kesal karena sodokan Rhea membuat saos sambal di piringnya berantakan.
"Mulut lo bisa nggak nggak usah kepo." Rhea mendelik tajam.
Septi yang melihat itu merasa sedikit tak nyaman karena dia tau kedua sahabat kakaknya itu kepo pada kedekatannya dengan snah kakak ipar.
__ADS_1
"Awalnya gue mau ngajakin Khey sekalian, cuma karena dia tadi chat sama gue mau jalan bareng kalian berdua jadinya ya gue cuma berdua sama Septi." Fabian berakata jujur apa adanya. Karena memang begitulah kondisi yang sebenarnya.
"Lagian Septi itu adeknya Khey. Nggak mungkin gue aneh aneh sama dia. Iya kan yang..." Fabian meminta persetujuan Khey.
Khey hanya mengangguk karena mulutnya penuh makanan.
Namun tetap saja Alya berfikir hal lain. Alya berfikir jika Khey tidak menyukai kedekatan Septi dengan Fabian.
"Yakin lo berdua nggak bakal nikung di belakang?!" Alya dengan pandangan tak percaya pada Septi dan Fabian.
Fabian pun terkekeh.
"Otak lo nggak usah ngadi ngadi deh Al."
"Siapa tau aja. Kemaren pas ketemu aja dia..." Alya seolah mengingatkan kejadian beberapa bulan lalu pada Fabian.
"Septi kek gitu karena dia pikir lo berdua cabe cabean yang caper sama gue." Fabian menjelaskan yang sebenarnya. Toh memang itu yang terjadi menurut pengakuan Septi waktu itu.
"Apa cabe...?" Alya mendelik tak terima. Sedang Rhea hanya melebarkan kedua kelopak matanya.
"Wajar kan...gue suami kakaknya. Kalian berdua terlihat genit sama gue waktu itu." Fabian dengan nada tengilnya.
"Gue aduin sama Jack nanti." Alya dengan nada ancaman meski hanya pura pura.
"Sok... cepet aduin." Fabian terkekeh. Rhea pun ikut tertular.
"Nggak enak?" tanya Fabian pada Khey saat melihat Khey terlihat tak bernafsu pada ayam gorengnya.
Khey hanya,diam tak menyahut. Tangannya tak berhenti mengelupas tepung kriuk pada ayam gorengnya namun tatapan matanya terlihat kosong.
"Sayang...." Fabian dengan mendekatkan wajahnya pada Khey.
"Apa?" Khey dengan tersentak kaget.
"Enggak enak?" tanya Fabian ulang.
"Enak kok."
"Kenapa nggak dimakan?" Fabian dengan melirik ayam goreng Khey yang terlihat utuh. Berbeda dengan miliknya dab yang lainnya yang hanya tinggal tulang belulangnya saja.
Khey menghembuskan nafas pelan.
"Tiba tiba gue ngerasa kenyang."Khey mendorong piring makannya sedikit ke tengah meja.
Fabian, Rhea, Alya bahkan Septi pun memandang Khey dengan raut wajah heran.
Sesungguhnya mereka semua menyadari tingkah aneh Khey sedari tadi. Khey terlihat diam dengan pandangan mata tidak fokus. Bahkan sangat jelas terlihat jika dia seperti memikirkan sesuatu yang berat saat ini. Namun entah apa yang dipikirkannya.
__ADS_1
ππππ