Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 173


__ADS_3

"Assalamualaikum bun." ucap Fabian setelah menggeser ikon panggilan masuk pada layar ponsel pintarnya.


"Wa'alaikumsalam Bi."


Terdengar sahutan suara sang bunda dari seberang telepon.


"Kamu masih di kantor nak?" tanya sang bunda.


"Iya Bun. Bentar lagi pulang kok. Ada apa? Bunda mau diantar kemana?" berondong Fabian kemudian.


Biasanya bundanya itu menghubungi Fabian karena membutuhkan sesuatu atau membutuhkan dirinya untuk membantunya. Dan Fabian hafal betul kebiasaan sang bunda yang satu itu.


Meski sudah ada sopir khusus untuk mengantar sang bunda kemanapun beliau pergi, namun sesekali bunda meminta Fabian yang mengantarnya.


Mom and son time katanya tiap kali Fabian bertanya kenapa bunda mengajaknya.


Terdengar kekeh kecil dari sang bunda.


"Enggak bunda cuma mau nyuruh kamu mampir di apotik langganan kita. Pesenan madu murni dari Kalimantan sudah datang. Mampir dan ambillah Bi, jangan lupa kamu bayar sekalian."


"Oh... kirain bunda nau ngajakin Abi me time sambil nonton bioskop." Canda Fabian pada bundanya.


"Ck... kamu itu. Sekarang kan sudah ada Ara. Kalau mau nonton ya ajak istrimu itu. Bukan pergi sama nenek nenek peyot gini Bi."


"Bunda masih cantik. Belum peyot. Lagian belum bisa dipanggil nenek, orang Abi belum kasih cucu kok." Fabian dengan kekehan.


"Kalau gitu cepet kasih bunda cucu dong." Bunda dengan nada jenaka.


"Insyaa Allah setelah Abi lulus bun. Kalau sekarang kasihan Ara, dia masih butuh maen." Fabian memberikan alasan.


"Iya. Bunda tau kok. Bunda cuma bercanda. Kalian masih muda, bismillah Allah memberikan umur yang panjang untuk menjalani rumah tangga." sahut bunda lembut.


"Aamiin. Makasih doanya yan Bun."


"Iya sayang. Udah ya, bunda mau bantu mbak di dapur. Jangan lupa pesenan bunda. Assalamualaikum."


"Iya bun. Walaikumsalam." Fabian pun menutup panggilan sang bunda lalu meletakkan ponsel pintarnya di atas meja.


Sesaat Fabian terlihat merenung. Taka berapa lama kemudian menyunggingkan senyum pada wajah tampannya.


"Haruskah gue menjadwalkan nonton bioskop weekend besok..." ucapnya terdengar hanya seperti gumaman.


"Sepertinya bukan ide yang buruk." Fabian seraya mengusap dagunya yang mulus tanpa jambang. Senyum senang tak menyurut dari wajah tampannya sembari membayangkan hari esok yang pastinya bakal menyenangkan.


Cukup lama Fabian tenggelam dalam hayalannya hingga akhirnya bunyi ketukan pintu ruang kerjanya membuyarkan lamunannya.


Tok... tok...


"Masuk."

__ADS_1


Mau tak mau Fabian harus menghentikan hayalannya.


Seorang lelaki paruh baya memasuki ruang kerja Fabian dengan membawa beberapa map di tangan.


"Ada apa Pak?" tanya Fabian sopan. Meski lelaki paruh baya itu adalah bawahan Fabian tetap saja beliau lebih tua darinya. Jadi Fabian harus tetap bersikap sopan.


"Ini mas ada beberapa dokumen yang harus Mas Abi tandatangani."


Lelaki paruh baya yang telah bekerja dari awal showroom mobil merk T*y*ta Fabian itu menyerahkan tumpukan map di atas meja kerja Fabian.


Meski Fabian adalah anak tunggal dari keluarga yang berada bahkan bisa dikatakan sebagai keluarga konglomerat, tak membuat suami Khayyara itu berpangku tangan menikmati kekayaan keluarganya.


Fabian menyalurkan bakat berbisnisnya dengan membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Usaha jasa cuci mobil dan motor yang dirintisnya saat masih duduk di bangku SMP telah merambah pada dealer motor, showroom mobil bahkan restoran mewah yang dia percayakan pengelolaannya pada Farrel sahabatnya.


Kejujuran dan kemampuan manajemen usaha yang dimiliki Farrel patut diacungi jempol. Bahkan kepandaiannya membaca peluang pasar sangat membantu Fabian untuk memperlebar sayap kerajaan bisnisnya.


Terbukti usaha Fabian sekarang telah mampu membuatnya menanggung biaya hidupnya sendiri tanpa harus menengadahkan tangan pada kecuali orang tuanya.


Bahkan untuk menanggung Khey yang telah menjadi pendamping hidup di usia remajanya, Fabian tidak sedikitpun keberatan.


Fabian lebih dari mampu untuk memenuhi kebutuhan sang istri, bahkan jika menginginkan rumah mewah beserta isinya sekalipun.


Akan tetapi Fabian yang sejak kecil dididik hidup sederhana oleh kedua orang tuanya lebih memilih untuk tidak menunjukkan kekayaannya pada Khey. Bukannya Fabian tidak mencintai Khey sepenuhnya, melainkan Fabian ingin Khey mencintai dirinya bukan hartanya.


"Silahkan duduk dulu Pak."


Kemudian Fabian membuka lembar demi lembar tumpukan map di hadapannya.


Fabian terlihat manggut manggut.


"Gapapa pak. Yang penting suplier siap akan pengadaan unitnya."


"Insyaa Allah mas, mereka siap."


Fabian pun segera membubuhkan tandatangan pada lembaran yang membutuhkan tanda tangan darinya.


"Hanya ini pak?" tanya Fabian dengan menyodorkan dokumen ke hadapan bawahannya.


Lelaki paruh baya itu segera mengeceknya.


"Iya mas. Kalau gitu bapak permisi dulu ya mas."


"Iya pak, monggo." Fabian dengan tersenyum ramah.


Lelaki paruh baya itu pun beranjak dari duduknya.


"Eh... pak bentar..."


"Iya mas... ada apa?" tanya lelaki paruh baya itu menurunkan niatnya untuk beranjak keluar.

__ADS_1


"Di dekat sini ada penjual bunga nggak ya pak?"


"Bunga seprti apa maksud mas Abi? Bunga yang mau ditanam lagi atau..." lali paruh baya itu terlihat berfikir.


"Bunga segar yang dirangkai itu lo pak. Kek buket mawar yang banyak gitu."


"Ohh... Buat isterinya mas Abi" lelaki yang merupakan bawahan Fabian itu dengan senyum menggoda.


"Iya pak." aku Fabian tersenyum malu.


Meski pernikahan Fabian tidak dipublikasikan namun sebagian besar karyawannya telah mengetahui statusnya.


"Dekat sini nggak ada mas, tapi arah jalan ke rumah ada mas. Kalau nggak salah setelah toko roti pusat bunda mas Abi."


"Oh iya ya... kenapa bisa lupa ya." Fabian memukul pelan keningnya.


"Efek semangat kasih kejutan itu mas." lelaki paruh baya itu menggoda Fabian


"Bapak bisa aja." Fabian pun tersenyum malu


"Bapak permisi ya mas..."


"Iya pak iya... monggo...."


Senyum megembang pada wajah tampan Fabian membayangkan reaksi Khey saat mendapatkan kejutan darinya nanti.


πŸ“πŸ“πŸ“


Brugh...


Tubuh Fabian sedikit limbung saat hendak memasuki apotek langganan sang bunda, dia menabrak seseorang yang baru saja keluar dari dalam apotek.


"Maaf gue nggak sengaja." Fabian meminta maaf pada gadis yang telah ditabraknya. Dia merasa bersalah karena saat berjalan tadi kedua matanya fokus pada ponselnya.


"Iya gak papa, aku juga salah kok jalan sembarangan." sahut gadis itu masih dengan duduk. Suaranya terdengar lembut.


Wajahnya tertunduk dan rambut panjangnya menutupi hampir seluruh wajah gadis, karena gadis itu menggerai rambut panjangnya.


Namun Fabian merasa tak asing dengan suara gadis itu. Kening Fabian mengerut, mengingat suara merdu yang beberapa saat lalu sempat tertangkap gendang telinganya.


Sepertinya gak asing... Ucap Fabian dalam hati.


"Gue bantu berdiri." Fabian dengan mengulurkan tangan pada seorang gadis yang jatuh terduduk di hadapan dengan tak berhenti mengingat suara itu.


"Makasih." Gadis itu mengulurkan tangan meraih tangan Fabian yang mengambang di depan wajahnya, seraya mendongak.


"Bian..."


"Bella..."

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2