Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 180


__ADS_3

"Loh Ara kenapa Bi?" tanya bunda dengan heran saat melihat Khey berada dalam gendongan punggung Fabian saat memasuki rumah.


Bunda Fabian yang tengah merangkai bunga mawar ke dalam vas bunga keramik itu menghentikan aktivitasnya. Raut wajahnya terlihat khawatir, bahkan terlihat beranjak hendak mendekat.


Merasa terpergok oleh bunda mertuanya, Khey berusaha melorotkan tubuh dari punggung Fabian. Namun sayang Fabian menahan bobot tubuh Khey dengan kedua tangan kekarnya.


"Ceroboh bun. Lari lari karena takut Abi tinggalin. Jadinya kepleset deh. Tapi nggak parah kok bun, cuma manja doang ini." Fabian sengaja mengarang cerita untuk menggoda Khey.


"Bbii... ggak gitu kejadiannya." Khey mengeram dengan tertunduk malu di depan bunda mertuanya. Tak lupa mendaratkan cubitan kecil pada punggung snah suami. Sayangnya punggung Fabian terlalu keras sehingga cubitan kecil itu tidak mempengaruhi Fabian. Terbukti Fabian tak sedikitpun mengaduh atau meringis kesakitan.


Cowok jangkung itu tetap saja melajukan kakinya memasuki rumah tanpa ada niatan untuk menurunkan Khey dari punggungnya.


"Emang gitu kok." Fabian ngeyel. "Cemburu buta bun, gara gara Abi ngobrol sama adek kelas yang lumayan cantik." Fabian terus saja mengarang. Membuat sang bunda tersenyum simpul.


"Wajarlah. Namanya juga cinta, iya kan Ra." Meski Bunda terlihat kembali menyibukkan diri menata vas bunga di atas meja ruang keluarga, tetap saja wajahnya menunjukkan senyum menggoda pada sang menantu.


Bunda memang mengurungkan niatnya untuk mendekat pada pasangan remaja tersebut setelah mendengar pernyataan anak lekakinya. Bukan bermaksud mengabaikan, namun bunda lebih memilih untuk menghargai pernyataan anak lelakinya.


Tahu ada bunda Fabian di rumah, Khey pasti memilih menolak keinginan Fabian yang kembali menggendongnya saat turun dari mobil di teras rumah.


Sayangnya semua sudah terlanjur. Khey merasa tidak nyaman, takut dikira memperalat Fabian oleh bunda mertuanya.


"Abi ke atas dulu ya bun." pamit Fabian tanpa menunggu jawaban sang bunda.


"Lo yakin mau gendong gue sampek atas Bi?" Khey merasa jengah akan tindakan Fabian saat ini.


Bukannya Khey tidak suka perhatian dan perlakuan protektif yang Fabian berikan padanya. Akan tetapi jika kalian berada di posisi Khey aaat ini, pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang Khey rasa saat ini.


"Yakinlah. Gue kan suami yang bertanggung jawab. Itung itung latihan buat jadi suami siaga nanti." Fabian dengan menapaki anak tangga tanpa mengeluh sedikit pun.


"Suami siaga gimana maksud lo?" Khey tidak mengerti. Kedua tangannya makin mengerat. Takut kalau kalau ada hal yang tidak terduga bakal terjadi.


"Suami yang siap antar jaga kalu suatu saat nanti lo hamil, terus melahirkan terus jadi ibu."


Khey membuka lebar kedua kelopak matanya.

__ADS_1


"Abi... jangan bikin malu deh." Khey setengah berbisik. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu saja ada orang lain yang mendengarnya.


"Lah ngapain malu sih yang. Itu normal sebagai wanita. Hamil, melahirkan, menyusui. Lagian lo itu udah nikah, punya suami."


"Iya tauk. Tapi jangan bahas sembarang tempat gini dong, malu tauk." Khey mencubit gemas pipi Fabian.


Bukannya mengaduh atas cubitan Khey pada pipinya, Fabian memilih membalas dengan melajukan kakinya cepat. Seakan berlari melewati tangga dengan Khey dalam gendongannya.


"Bii..." Khey ketakutan akan aksi Fabian. "Ntar jatoh gimana." Khey memilih menenggelamkan wajahnya pada punggung Fabian.


"Akhirnya... ternyata berat juga karung beras gue." keluh Fabian dengan merenggangkan pinggangnya setelah menurunkan Khey di atas ranjang.


"Suruh siapa gendong gue sampek atas." Khey mencibir pelan. Senyum tertahan tercetak pada wajah cantik Khayyara saat melihat wajah Fabian bermandikan peluh.


Ah... meski wajah Fabian saat ini terlihat memerah efek menggendong Khey hingga lantai atas, namun sedikitpun kadar ketampanan cowok jangkung berkulit putih itu tidak berkurang. Entah bagaimana kedua mertuanya dulu menimbang adonannya hingga menghasilkan cetakan tampan yang sepertinya tidak ada tandingnya tersebut.


Memikirkan hal itu, membuat Khey teringat ucapan Fabian tentang kodrat seorang wanita yang telah bersuami. Hamil, melahirkan dan menyusui.


Seketika wajah Khey menghangat seiring semburat merah merebak pada kedua pipi cabinya efek Khey membayangkan jika dirinya hamil suatu saat nanti.


Akankah anaknya nanti sesempurna bayangannya... Khey menggelengkan kepala pelan, mengulum senyum sembari menepuk wajahnya yang makin memanas.


"Lo mau ngapain Bi?" pekik Khey terkejut dengan menarik kakinya dari pangkuan Fabian.


Fabian berdecak lalu membawa kaki Khey ke atas pangkuannya kembali.


"Lo mau kaki lo cepet sembuh nggak?"


"Maulah." Khey mengangguk pasrah.


Fabian mengambil kapas lalu menuangakn cairan antiseptik ke atasnya lalu mengusapkan pada lutut Khey yang memiliki banyak goresan luka.


"Bisa diem nggak sih yang?" Fabian menahan kaki Khey yang tidak berhenti bergerak.


"Perih Bi."

__ADS_1


"Tahan bentar, nggak bakalan lama ini. Sakitnya di awal doang. Kek pertama kali kita melakukannya itu lo yang. Perih di awal habis itu enak kan..." Fabian dengan senyum menggoda Khey.


"Abi...ihh... bahas itu mulu." Khey bersungut untuk menutupi wajahnya yang tersipu malu.


"Emang iya kok rasanya kek gitu." Fabian sambil mengoleskan obat gel pada lutut Khey dengan hati hati.


Khey memilih tidak menimpali ucapan Fabian agar cowok tengil itu berhenti membahas hal hal mesum lagi. Dia memilih mengalihkan pandangan guna menghindari godaan Fabian. Juga menghindari luka lututnya yang membuatnya berdesir nyeri saat tangan Fabisn mengoles obat pada lukanya. Khey mengigit bibirnya kuat, berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan ringisan dari mulutnya.


"Kalau sakit jangan ditahan yang, nggak usah menyiksa diri." Fabian dengan fokus mengoles obat pada lutut Khey.


"Dih sok tau." Khey mengelak.


Fabian melirik sekilas, lalu menaikkan sudut bibir tersenyum smirk. Tangannya dengan sengaja menekan luka pada lutut Khey.


"Auww... sakit Bi!" Pekik Khey dengan raut wajah kesal. Namun cowok tengil bergelar suami Khey itu bertingkah seolah tidak terjadi apa apa.


"Dasar tengil." Khey menjitak kening Fabian dengan sengaja.


"Tapi cinta kan???" Fabian dengan menaikturunkan salah satu sudut alis matanya.


"Nggak." Khey dengan bibir mengerucut.


"Yakin enggak..." Fabian dengan mendekatkan wajahnya tepat dihadapan wajah Khey. Membuat gadis itu memundurkan wajah efek terkejut.


"Bibirnya sengaja kan dimajuin gitu biar ada yang mampir." Fabian kembali pendekatan wajahnya.


"Engg...ggakk... kok..." Khey tersipu. Wajahnya bergerak maki. mundur karena Fabian semakin merapatkan wajahnya.


Brug


Tubuh Khey pun ambruk di atas ranjang. Fabian pun tersenyum makin menggoda.


"Ternyata bukan cuma ini doang yang pengen." jemput Fabian mengusap bibir pink Khey dengan lembut.


"Bbiii... lo mau ngapain?" Khey dengan wajah memucat.

__ADS_1


"Gue capek, gue juga pengen mampir tidur bareng lo." Fabian segera mendaratkan bibir tebalnya pada bibir pink ranum Khayyara.


😍😍😍😍


__ADS_2