
"Bi..."
Hemn...
Fabian hanya menggumam dengan posisi yang masih tetap terlentang di tempat tidur. Namun kedua mata elangnya menatap lekat pada sang isteri.
"Kenapa..." Khey ragu.
"Apanya yang kenapa?" Fabian dengan dahi mengerut.
"Emm..." Khey terlihat bingung untuk berucap kata.
"Ada apa yang? Takut banget buat ngomong?!" Fabian dengan meraih salah satu tangan Khey, lalu menggenggamnya. " Ngomong aja nggak usah takut kek gitu, gue nggak bakalan gigit kok."
Khey menghembuskan nafas dalam.
Kemudian sedikit menata hatinya seraya berkata.
"Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue, sipaa lo sebenarnya..." Khey memandang Fabian.
Fabian mengerutkan keningnya. " Maksud lo gimana sih?"
Fabian yang memang baru saja terbangun dari tidurnya tidak memahami pertanyaan sang isteri. Maklum nyawa Fabian baru terkumpul setengahnya.
"Tentang siapa lo sebenarnya. Kenapa lo nggak cerita." Khey.
"Tentang gue yang sebenarnya?! Maksud lo apaan sih yang, gue nggak paham..."
Lagi Khey menghembuskan nafas dalam.
"Gue udah tau siapa lo Bi."
Fabian tetap saja tidak memahami ucapan Khey. Dia hanya memandang Khey dengan pandangan seolah meminta penjelasan.
"Elo Abi kan, bakal suami kecil gue...."
"Oh itu." Fabian datar setelah memahami maksud ucapan isterinya.
Hah... gitu doang... Khey membatin dengan menatap Fabian kesal.
"Enggak usah marah." Fabian dengan mendudukan diri seraya bersandar pada kepala ranjang dengan santai dan tenang.
"Gue nggak marah cuma kesel doang."
"Nggak usah kesel juga." Fabian dengan mengangsurkan tangan kehadapan Khey. "Sini."
Fabian meminta Khey untuk mendekat padanya, karena dengan bersandar pada kepala ranjang membuat posisi mereka sedikit berjauhan.
"Ngapain?"
"Duduk sini, deket gue." Fabian menepuk kasur di sisi tubuhnya.
"Kasih gue alasan dulu." Khey tetap di tempatnya.
"Sini dulu, biar enak ceritanya." bujuk Fabian.
Khey pun beringsut. Beranjak dari tempatnya, menaiku ranjang lalu duduk di sebelah Fabian. Sama sama bersandar pada kepala ranjang.
"Cepetan cerita." Khey terdengar tidak sabar.
"Nggak sabaran banget sih." Fabian dengan merentangkan tangan pada punggung isterinya.
__ADS_1
"Jadi cerita enggak?" Khey memasang wajah cemberut, membuat Fabian terkekeh seraya mencubit hidung mancung isterinya.
"Bi... lep.. ppas..." Khey dengan menggerakkan kepalanya.
"Lo kata bakal ngenalin gue lebih dulu di manapun dan kapanpun saat bertemu lagi sama gue." Fabian dengan memandang Khey lekat setelah melepas cubitan pada hidung sang isteri.
Hek...
Lidah Khey terasa kelu setelah mendengar ucapan Fabian.
Dalam hati Khey membenarkan kata kata sang suami. Dirinya memang pernah sesumbar bakal bisa mengenali Fabian lebih dulu saat ayah Fabian memboyong keluarga mereka ke rumah baru.
Nyatanya semua itu hanya omong kosong. Tak sedikitpun Khey mengira jika Fabian tengil adalah sosok suami kecil yang digadang bakal menjadi imamnya saat dewasa.
Bahkan raut wajah ayah bunda Fabian yang dulu menjadi tempatnya bermanja saat kecil, Khey tidak mengingatnya.
"Elo masih ingat kan sama ucapan lo waktu itu...?!" Fabian tidak bermaksud meremehkan ingatan sang isteri melainkan dia ingin menggodanya.
Ketika dulu saat kecil Khey yang selalu menggoda dan mengganggu Fabian, namun sekarang entah mengapa Fabian menyukai aktivitas itu.
"Nyatanya gue enggak..." lirih Khey dengan membuang pandangan dari wajah Fabian. Menunduk dengan meremas jemarinya yang saling bertautan.
Hati kecil Khey merutuki ketidaktahuannya pada sosok Fabian tengil.
Fabian tersenyum tipis.
"Nggak usah sedih, yang penting cita cita lo buat menjadi nyonya Abi sudah terpenuhi kan..." Fabian merengkuh bahu Khey dengan tangan satunya menaikkan dagu sang isteri.
"Senyum gih... jelek kalau kek gitu..." Fabian dengan nada menggoda.
"Tapi kan harusnya gue ngenalin lo lebih dulu..." Khey masih saja menyesali ketidakpekaannya. Rasa sedih menghinggap di hatinya, mencetak guratan kesedihan di wajahnya.
"Sudahlah... jangan sedih." Fabian melebarkan mulut Khey agar terlihat tersenyum.
"Nah kan cantik kalau gini." Fabian dengan memandang wajah Khey serta mengusap bahu sang isteri.
"Bi..."
"Apa?"
"Sejak kapan lo tau gue?"
Emm... Fabian pura pura berfikir.
"Kasih tau enggak ya..." Goda Fabian membuat Khey memberikan cubitan kecil pada perut Fabian.
"Auw.... geli yang..." Fabian meringis.
"Makanya jangan bercanda mulu."
"Hehehe... bercanda dengan isteri itu kan sunah, banyak pahalanya." Fabian dengan senyum.
"Bi..." lagi Khey dengan memberikan pandangan menuntut jawaban.
"Okey... okey..." Fabian menghembuskan nafas pendek.
"Gue tau sejak gue suka godain lo di sekolah." Aku Fabian jujur.
Khey membola.
"Selama itu?"
__ADS_1
Fabian mengangguk dengan senyum membingkai wajahnya.
"Kenapa lo nggak jujur sama gue, kasih tau siapa lo sebenarnya?"
Fabian menggeleng.
"Nggak asyik kalau gue ngaku, nggak ada tantangannya."
"Tapi kan selama itu gue..." Khey kembali mengingat perlakuannya terhadap Fabian tengil yang selalu memperolok bahkan tak jarang mengejek serta menghinanya. Wajahnya terlihat menyendu.
Fabian mengusap lembut bahu sang isteri.
"Nggak usah sedih. Anggep aja itu pembalasan lo ke gue akibat perlakuan gue sama lo pas kecil."
"Tapi itu nggak sebanding Bi. Gue tau kok paa gue kecil gue keterlaluan sana lo, sampai lo nggak bisa bergerak bebas buat bermain. Gue tau, gue terlalu positif sama lo. Pantas kalau lo benci sama gue."
"Emangnya gue benci sama lo?" Fabian tetap saja membingkai senyum di wajahnya tanpa menghentikan usapan lembut pada bahu isterinya.
"Pastilah. Gue sadar gue udah keterlaluan."
"Gue nggak pernah benci sama lo Ra." Fabian mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.
"Nggak mungkin." Khey tidak percaya akan ucapan Fabian karena saat mereka kecil, tiada hari baginya mengekori Fabian. Hingga tak jarang Fabian kecil enggan keluar rumah untuk bermain.
"Beneran gue nggak benci sama lo, meskipun memang terkadang ada rasa tidak nyaman saat lo nempel mulu sama gue. Udah kek bodyguard, ngalahin kakek kalau posesifnya keluar." Aku Fabian pada sang isteri.
Khey menelisik ke dalam mata Fabian, mencari kebohongan pada ucapan sang suami.
"Percaya sama gue." Fabian.
Sepertinya cowok tengil di sampingnya itu berkata jujur. Tidak ada kebohongan di sana. Khey pun mengangguk tersenyum.
"Sejak kapan lo jatuh cinta sama gue Bi?" Khey dengan tiba tiba.
"Emm... sejak kapan ya..." Fabian seolah berfikir. "Sejak gue gangguin lo sepertinya."
"Kok sepertinya sih... kek nggak yakin gitu." Khey mengerucutkan bibirnya.
"Nggak yakin gimana sih yang, gue ngomong yakin seyakinnya kok."
"Bohong."
"Beneran."
"Gue nggak percaya." Khey sengaja menggoda suaminya.
"Beneran, gue nggak bohong." Aku Fabian. Meskipun dia memang ragu dengan perasaannya saat itu. Antara cinta atau hanya kasihan pada Khey. Namun yang pasti, rasa Fabian yang sangat ingin melindungi Khey itu adalah benar dan nyata adanya.
Fabian tidak mau mengakui jika dirinya perlahan mencintai Khey setelah mereka berdua menikah. Fabian tidak mau menyakiti perasaan sang isteri. Dan lagi bisa jadi berakhir salah paham jika Gabisa mengatakan kebenarannya.
"Gue nggak percaya. Lo kan benci banget sama gue pas kecil." Khey sengaja menggoda suami tengilnya.
"Nggak percaya sama gue?" Fabian dengan serius.
"Enggak." Khey dengan menggelengkan kepala, namun dalam hatinya ingin sekali tertawa saat melihat raut wajah serius Fabian.
"Mau bukti?" tantang Fabian.
"Apa coba buktinya?"
Fabian segera merengkuh tubuh isterinya, membawanya berbaring di atas ranjang lalu menindihnya.
__ADS_1
"Gue bakal kasih keperjakaan gue sama lo sekarang."
ππππ