
"Nggak usah nunduk gitu... kalau lo kek gitu malah bikin orang lain curiga." Alya berbicara sembari menyikut pelan Khey yang selalu saja menunduk dengan penampilan cupunya kembali.
Saat ini ketiga sahabat itu sedang berada di kantin sekolah untuk menikmati makan siang.
"Elo nggak tau gimana rasanya Al." Khey lirih dengan tetap menunduk sambil tidak berhenti mengaduk es jeruk di depannya.
"Bisa pecah itu gelasnya Khey." Rhea dengan sedikit mengejek pada Khey.
Alya dan Rhea telah mengetahui kebenaran tentang alasan penampilan cupu Khey hari ini.
Khey sengaja berpenampilan seperti itu di cuaca yang sangat panas hari ini untuk menutupi jejak merah akibat serangan nyamuk nakal semalam, akunya.
Tentu saja Alya dan Rhea tidak begitu saja mempercayai omongan sang sahabat. Mereka bukanlah remaja kuper yang tidak tahu pergaulan anak remaja zaman now.
Meski Khey tidak mau mengakui siapa yang telah meninggalkan jejak merah yang memenuhi leher jenjangnya. Namun Rhea dan Alya sudah dapat menebak jika pelakunya pastilah seorang vampir berwajah tampan yang senang berkeluyuran di malam hari.
Semula Rhea dan Alya sempat marah dan mengira jika itu adalah perbuatan Doni. Namun karena Khey bersumpah bahwa itu bukanlah perbuatan ketos sombong yang telah menjadi mantan kekasihnya, mereka pun memilih behenti dari menginterogasi sahabatnya.
Rhea dan Alya berfikir, Khey membutuhkan waktu untuk berbicara jujur kepada mereka. Untuk itu Rhea dan Alya memberi Khey waktu untuk memberitahu mereka. Meski sesungguhnya kedua sahabat Khey tersebut sangtlah penasaran akan kekasih Khey yang baru.
Apalagi pacar baru Khey tersebut telah berani memindahkan ukiran jepara yang seharusnya dipahat pada kayu jati, malah diukir pada leher jenjang sahabatnya.
"Khey... bisa berhenti nggak lo?!" Alya dengan menghardik.
"Ck... iya... iya." Khey pun menghentikan kegiatannya mengaduk es jeruknya. Lalu sedikit menjauhkan gelas itu dari hadapannya.
"Lama banget sih makanannya, mana gue udah laper lagi." lagi Khey sambil menggerutu.
"Sabar dikit tuan putri, antrian masih banyak. Baru juga kita dateng." Alya dengan memperhatikan pojok soto yang dikerumuni oleh anak anak yang mengantri di depannya.
Alya dan kedua sahabatnya memang memesan soto, namun hanya berpesan pada penjualnya tanpa mau mengantri. Makanya mereka harus sabar menunggu pesanan mereka datang diantar. Berbeda dengan anak lain yang mau mengantri, mereka bisa saja menyerobot untuk mendapatkan mangkuk soto terlebih dahulu.
Beberapa saat menunggu akhirnya pesanan soto mereka pun datang.
"Elo tetep makan dengan rambut kek gitu Khey?" Alya memberikan tatapan heran pada Khey yang kekeh tidak mau mengucir rambut hitamnya.
"Kucir dulu rambut lo Khey, entar kegerahan tau rasa lo." Rhea ikut memberi saran.
"Dahlah gak usah peduliin gue, cepet makan."
Khey mengabaikan saran kedua sahabatnya kemudian mulai menyendok nasi pada mangkuk sotonya. Alya dan Rhea pun akhirnya mengikuti.
__ADS_1
"Mbok soto tiga sama es teh manis tiga GPL!!" Jackson berseru lalu mendudukkan diri di bangku yang sama dengan Khey dan kedua temannya. Tepatnya di hadapan Khey, Alya dan Rhea.
Jackson tidak sendiri melainkan bersama Farrel dan juga Fabian.
"Nice to meet you girls." Jackson menyapa dengan sok ngebule.
Rhea mencebik, Khey mengabaikan sedangkan Alya membulatkan kedua bola matanya sempurna seolah tidak menyukai kedatangan Jackson .
"Di sini khusus penduduk lokal, nggak menerima wisatawan manca." Alya terdengar sengit.
Jackson ternganga mendengar ucapan Alya, segera berucap kata.
"Eh mbak... gue seratus persen lokal, bukan manca. Seenakanya aja ngatain orang."
"Ihh...situ nggak ngerasa apa kalau beda..." Alya dengan menunjuk wajah blasteran Jackson yang memang sangat kentara.
"Jangan nyalahin wajah gue yang ganteng dan mempesona ini. Bisa kualat, jatuh cinta ntar sama gue." Jackson dengan pede.
"Cih... gue sama lo... ogah. Cakepan juga Farrel sama Fabian daripada elo." Alya mengejek Jackson. Membuat Farrel dan Fabian terkekeh kecil.
Sedangkan Khey yang sedari tadi menunduk menikmati sotonya, mendongakkan kepala.
Khey terkejut serasa tidak dapat menelan nasi yang telah terlanjur masuk ke dalam mulutnya saat mendapati Fabian duduk tepat di hadapannya.
Khey memang menyadari kedatangan Jackson tidak sendiri, namun Khey tidak menyangka jika Fabian datang bersama cowok blasteran tersebut.
Padahal sedari pagi Khey melarikan diri dari Fabian, sengaja berangkat sekolah lebih dulu untuk menghindari suami tengil yang semalam membuat jantungnya tidak sehat. Beruntung setelah makan malam ayah mertuanya mengajak Fabian masuk ke dalam ruang kerja hingga entah jam berapa Fabian masuk ke dalam kamar mereka. Yang pasti Khey telah terdampar pada lautan kapuk hingga esok tadi.
Buru buru Khey menunduk kembali untuk menghindar dari manik hitam Fabian yang sepertinya sengaja memandanginya.
"Eh... girl... blasteran kek gini lebih rame rasanya, nano nano. Cowok lokal kek gitu nggak ada rasa." Jackson dengan membanggakan diri serta memandang Farrel dan Fabian remeh.
"Gue kasih tau ya... cowok lokal..." Jackson menjeda ucapannya sesaat. "Itunya kecil, kagak memuaskan..." Jackson dengan berbicara pelan pada Alya.
Hingga Alya pun mendelik dibuatnya.
Buk...
Bug...
Fabian dan Farrel memukul punggung Jackson hampir bersamaan karena mereka masih mendengar ucapan cowok bule somplak tersebut.
__ADS_1
"Mulut lo kalau ngomong jangan sembarangan." Farrel dengan bersungut.
Jackson terkekeh.
"Sorry bro... tapi survei membuktikan."
"Jack... mereka pada makan. Bisa sopan dikit nggak itu mulut." Fabian seakan mengancam.
"Ck... becanda doang elah..."
"Ntar suruh ikut les privat kepribadian itu mulut, biar nggak sembarangan kalau ngomong." Rhea menimpali dengan wajah kesal.
"Amit amit jabang bayik deh gue punya cowok modelan kek elo Jack." Alya mengetuk meja seolah benar benar tidak ingin memiliki pasangan somplak seperti Jackson.
Khey hanya diam membisu, otaknya berkutat tentang kekesalannya pada suami tengilnya.
Khey ingat betul kemarin dirinya dan Fabian tidak melakukan hal yang berlebihan hingga bisa meninggalkan jejak ukiran batik yang hampir merata pada leher putihnya.
Namun nyatanya pagi tadi leher yang semula putih bersih itu berubah seakan dicelup dengan pewarna sintetis berwarna merah menyala.
Khey tidak bisa mengingat kapan saat itu terjadi. Hingga membuat dirinya harus menahan gerah di cuaca yang sangat panas ini.
Khey hanya bisa mendengus kesal saat ini.
"Al... elo beneran nggak tertarik sama wajah tampan gue apa?" Jackson bertanya seolah dirinya sangat tampan. Meski sebenarnya wajah blasteran Jackson memang ganteng dan menarik, hanya saja kesan somplak membuat nilai ketampanannya menjadi minus.
"Apa? Gue? Sorry... Lo bukan tipe gue." Alya terang terangan.
"Terus tipe lo seperti apa?" Bukannya kesal Jackson malah bertanya terkesan ingin mengetahui tipe idaman Alya.
"Gue suka cowok kek Fabian. Ganteng, pinter pelajaran juga olahraga, serba bisa pokoknya. Bukan cowok somplak kek elo."
Jawaban Alya membuat semua yang ada di sana membola.
Tak terkecuali Khey dan Fabian. Sesaat keduanya terhenyak.
Buru - buru Fabian meraih gelas es jeruk milik Khey kemudian meneguknya.
"Bian itu milik Khey!!" Rhea dengan berseru.
ππππ
__ADS_1