
Bibir Khey tidak berhenti tersenyum sendiri saat dirinya mengingat kejadian kemarin. Dimana Fabian tidak berhenti membuat jantungnya berdegub kencang dengan kelakuan tengil bin mesumnya.
Masih teringat jelas di ingatan Khey saat Fabian mengusap perut dan punggungnya dengan lembut. Bahkan hingga saat ini seolah Khey masih merasakan usapan yang memberikan sensasi meremang pada seluruh tubuhnya.
Lembutnya usapan tangan Fabian serta pelukan hangat yang diberikan oleh Fabian sepanjang malam membuat tidurnya sangat nyenyak. Bahkan rasa nyeri perut yang biasa Khey rasakan saat tamu bulanannya datang tersebut seketika lenyap tak berbekas. Padahal biasanya Khey harus bergelut selama dua atau tiga hari untuk menahan nyeri PMSnya.
Sungguh luar biasa dahsyat efek pelukan Fabian tengil.
Belum lagi tingkah konyol bin mesum Fabian tengil yang membuat Khey selalu merona dan menghadirkan debaran debaran lirih di balik dadanya.
Ahh... semua seakan terlihat hilir mudik di pelupuk mata Khey. Hal itu tanpa sadar membuat Khey tidak berhenti senyam senyum sendiri.
Plak...
Tepukan pundak dari belakang membuat Khey terjengit terkejut.
"Ngapain woyy... senyam senyum sendiri kek orang gila lo..." Rhea berseru.
Khey pun menoleh, meringis sembari mengusap pundaknya yang lumayan terasa panas.
"Ngagetin aja sih..." sungut Khey dengan menunjukkan raut wajah kesal.
"Makanya jangan melamun mulu jadi cewek... mana senyum senyum sendiri kek orang sinting lo..." Rhea dengan menggeser bangku di depan Khey untuk diduduki olehnya.
"Gue nggak melamun, lagian gue juga nggak senyam senyum kok." Khey mengelak.
"Nggak usah ngelak lo, orang sedari kita masuk kelas elo dipanggil panggil nggak noleh sama sekali. Malah berlagak kek orang sinting di perempatan noh..." Alya menimpali. "Geser lo..." lanjut Alya menyuruh Khey menggeser duduknya.
Khey pun menggeser duduknya agar Alya bisa menduduki bangkunya. Semula Khey memang duduk di bangku Alya.
"Ngapain lo senyum senyum gak jelas gitu Khey?" tanya Rhea penasaran setelah ketiganya duduk dengan nyaman di bangku masing masing.
"Udah dibilangin gue nggak senyam senyum kok..." Khey masih saja mengelak. Nggak mungkin dirinya jujur mengatakan yang sebenarnya.
"Halah... pakek nggak ngaku lagi... siapapun yang liat elo tadi pasti bakal setuju sama omongan gue. Iya kan Al...?!" Rhea dengan memandang Alya, meminta persetujuan akan ucapannya.
Alya pun mengangguk, mengiyakan.
"Tuh... bukan cuma gue yang liat Khey..."
"Nggak!! Apaan sih... mata kalian berdua ketutup taek mata tuh, makanya nggak bisa liat dengan jelas." Khey tetap saja mengelak karena Khey belum sadar betul dengan rasa di hatinya.
__ADS_1
Sontak Rhea dan Alya pun saling pandang, saling memindai wajah keduanya lalu mengelengkan kepalanya.
"Nggak ada taek mata kok..." Alya dan Rhea hampir serempak, keduanya mengarahkan pandangan ke arah Khey dengan tidak terima.
"Tadi ada... udah jatuh kali..." sahut Khey santai dengan pura pura membersihkan kuku kuku pada jemari lentiknya untuk menghindar dari kedua temannya.
"Elo ngeles kan Khey..." Rhea dengan yakin.
"Nggak!" Khey tetap saja ngotot tidak mau mengakui.
Rhea membuka mulutnya kembali, hendak mengucap kata karena yakin jika sangkaannya adalah benar. Namun Alya buru buru mencegahnya.
"Udah... nggak usah dilanjut. Nggak bakal kelar sampai pulang sekolah ntar." Alya dengan memberikan pandangan pada Rhea agar gadis itu mengalah.
"Mendingan kita buat rencana jalan bareng pulang sekolah nanti... gimana... gimana??" Alya dengan wajah puppy eyesnya.
"Siip... okey..." Rhea langsung gercep.
Khey belum menyahut, dari wajahnya terlihat dia sedang bimbang.
"Pakek mikir segala sih Khey... biasanya juga gercep." Rhea dengan menyikut lengan Khey di atas meja.
"Emm... gimana ya... gue..." Khey memang bimbang lantaran harus meminta izin terlebih dahulu dengan Fabian jika ingin ikut bersama kedua sahabatnya. Entah mengapa saat ini Khey merasa jika dia harus bertanya lebih dulu pada suami tengilnya tersebut.
"Enggak bukan itu." Khey masih saja terlihat bimbang.
"Kenapa lagi?" kali ini Alya yang bertanya menyelidik.
"Itu... gue tadi ada janji sama mama buat nganter belanja bulanan." Khey terpaksa berbohong.
"Ck... itu doang, kirain apaan. Tinggal telfon sama mama lo kalau lo mau jalan sama kita. Beres kan Khey.... riweh banget seh jadi anak." Alya yang biasanya lemot, berucap kata seolah meremehkan kebimbangan Khayyara.
Rhea menganggukkan kepala berulang, mengarahkan dua jempol pada Alya. "Tumben lo cepet Al..."
"Nggak usah ngejek lo..." Alya mencebik.
"Gue nggak ngejek."
"Senyum lo nggak bisa bohong Rhe..."
Rhea pun meringis.
__ADS_1
"Udah back to the topik... Buruan telfon mama lo Khey, minta izin gih..." Alya.
"Gue chat aja, jam segini mama pasti lagi nggak pegang hengpong." Khey dengan meraih ponsel pintarnya dari saku seragam sekolahnya.
Khey memilih chat karena memang bukan izin mamanya yang dibutuhkan, melainkan izin dari sang suami yaitu Fabian tengil.
Kalau dirinya menelfon bisa ketahuan kedua sahabatnya kalau sedang berbohong.
Beberapa saat menunggu.
"Gimana Khey... udah dapat izinnya?" Rhea dengan wajah yang terlihat tidak sabar. Rhea memang merindukan jalan bareng dengan kedua sahabatnya, sepertinya sudah sangat lama mereka bertiga tidak pergi jalan bareng.
"Bentar... baru dibales nih." Khey menunduk memandang layar ponsel pintarnya dengan ibu jari yang ikut tidak sabar untuk mengetahui jawaban dari Fabian.
"Gak boleh Khey?" tanya Alya saat memandang mimik wajah Khey yang nampak mengerut.
Huhh...
Khey membuang nafas pendek.
"Gak boleh ya?" Rhea ikut khawatir melihat Khey yang memperlihatkan wajah tidak mengenakkan.
"Gimana nih..." Khey menggantung kalimatnya.
Rhea dan Alya saling pandang dengan wajah lesu, keduanya menebak jika Khey tidak mendapatkan izin dari mamanya.
"Gue boleh pergi kok." Khey sengaja berkata pelan.
Rhea dan Alya belum menyadari ucapan sahabatnya.
"Kalian berdua nggak suka kalau gue boleh ikut jalan bareng?" Khey kembali berucap kata, karena memang dirinya sengaja mengerjai kedua sahabatnya.
"Apa?! gue nggak salah denger kan Khey..." ucap Rhea dan Alya serempak dengan bola mata yang berbinar.
Khey mengangguk dengan tersenyum lebar karena berhasil mengerjai kedua sahabatnya
"Yes... akhirnya setelah sekian purnama kita bisa metime jugak..." Alya dengan riang gembira setelah mendengar jika Khey mendapatkan izin dari mamanya.
Meski sebenarnya bukan mama Khey yang memberikan izin pada Khey melainkan Fabian, suami tengilnya.
Sebenarnya Khey tidak menyangka Fabian tengil yang biasanya banyak bertanya, dengan mudahnya memberikan izin bahkan menawarkan uang saku yang tidak mungkin dilewatkan oleh Khayyara.
__ADS_1
Khey pun tidak berhenti tersenyum. Seolah tak sabar untuk bersenang senang dengan kedua sahabatnya.
ππππ