Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 148


__ADS_3

"Enggak usah duduk bun, Abi nggak suka sama kehadiran kita." sergah ayah melarang sang isteri duduk.


Sontak bunda langsung melotot pada sang suami.


"Kan memang iya bun, coba tanya Abinya kalau nggak percaya." ucap ayah dengan nada membela diri karena istrinya seolah tidak setuju dengan perkataannya.


"Enggak ada Abi ngomong gitu yah." sela Fabian santai di sela kunyahan martabak telornya.


"Yang ngomong mata kamu Bi." Ayah tetap saja mengganggu anak semata wayangnya.


"Mata Abi nggak bisa ngomong." Rupanya Fabian masih merasa kesal pada ayahnya. Dan saat ini merupakan kesempatannya untuk meluapkan kekesalannya pada sang ayah.


"Pendendam juga ternyata anak bunda itu."


"Ayahh.... udah ih..." Bunda dengan mengusap lembut perut buncit sang suami agar menghentikan kekonyolannya. Tak lupa bunda membingkai senyum pada wajahnya untuk sang suami sebagai sogokan.


"Bunda ish... tau aja kelemahan ayah." Ayah dengan mengerling jenaka seraya membawa tangan sang isteri megusap perut buncitnya.


"Idiih perut buncit aja bangga." Fabian mencebik karena sang ayah seolah memperlihatkan kemesraan di depannya.


"Enak aja ngatain perut ayah buncit. Ini bukan buncit Bi..." protes ayah tak terima.


"Mblendung kek orang hamil gitu masih ngelak."


"Ini namanya gemoy Bi, bunda aja suka banget ngelus ini. Iya kan bun..." Ayah dengan memberikan tatapan mesra pada sang isteri. Dengan tangan yang mengusap di atas perut.


"Ck puffer fish aja sok." Fabian dengan wajah mengejek.


"Puffer fish apaan Bi?" Ayah dengan wajah cengonya.


"Cari tau aja sendiri. Katanya pengusaha cerdas." Fabian masih saja mengejek sang ayah.


"Bunda tau?" tanya Ayah dengan pandangan beralih pada sang istri.


Namun hanya dijawab dengan bahu yang menggedik oleh isterinya.


"Ikan kembung, yah." jawab Khey lirih karena takut ayah mertuanya bakal marah.


Kedua mata ayah melebar, namun detik berikutnya berubah kembali seraya menyunggingkan senyum pada wajah paruh bayanya yang masih tetap terlihat segar.

__ADS_1


"Gak papa lah. Ikan kembung yang gemoy ya kan Bun..." Ayah mengerling jenaka sang isteri. Tak lupa memberi bonus senyum menawan pada wajah paruh bayanya.


Membuat Fabian kembali mencebik mendapati reaksi ayahnya yang sok mesra.


Bunda pun membalas tatapan sang suami seraya mengangguk tersenyum.


"Hish... udah pada tua masih aja berlagak kek pengantin baru. Enggak usah liat yang." Fabian membuang pandangan kesal dari kedua orang tuanya dan meraih tangan Khey yang mengambang di udara dengan potongan martabak, membawanya ke dalam mulutnya.


"Abi cemburu itu bun." Ayah dengan kekehan.


Bunda pun sama, ikut terkekeh kecil. Sedangkan Khey tersenyum simpul melihat kekesalan sang suami serta keakraban kedua mertuanya. Kondisi yang berbanding terbalik dengan keluarganya.


"Udah nggak usah kesel gitu. Makan yang banyak Bi, biar cepet sembuh. Obatnya diminum. Tadi ayah ke dokter Asdi." bunda menggerakkan ekor mata ke arah nampan di atas nakas, yang terdapat bungkusan obat.


Dokter Adi adalah dokter langganan keluarga Fabian. yang sudah memahami satu persatu kondisi tubuh keluarga Fabian. Bahkan tentang reaksi tubuh Fabian dengan air hujan, sudah dihafal betul oleh dokter tersebut.


"Iya bun." Fabian dengan anggukan kepala.


"Abi itu nggak bersahabat dengan air hujan Ra. Kena dikit aja pasti bakal kek gini." terang bunda pada Ara yang tengah menyuapkan potongan martabak ke mulut Fabian kembali.


"Oh gitu ya bun."


Sesaat Khey menerawang kembali pada potongan puzzel masa kecilnya.


Dia ingat betul tentang omongan sang mertua barusan. Fabian selalu menolak ketika Khey dan anak sebayanya mengajaknya bermain air hujan.


Tak jarang memang Khey menjadi marah bahkan menangis histeris karena Fabian menolak keinginannya.


Padahal saat kecil dulu, Khey paling menyukai saat hujan tiba untuk bermain air. Namun kesenangannya tersebut seringkali tidak dapat dilalukan olehnya karena terhalang adanya petir dan bunyi guntur yang menggelegar. Untuk itu saat Khey kecil ingin mandi hujan dan ada guntur, Khey selalu memaksa Fabian untuk ikut bersamanya.


Khey menggunakan kakek atau neneknya untuk membujuk Fabian kecil.


Khey tidak menyangka jika tubuh Fabian sangat tidak bersahabat dengan air hujan.


Pandangan matanya tetiba menyendu saat mengingat dirinya dulu seringkali memaksakan kehendaknya pada Fabian untuk bermain air hujan.


Pasti suami tengilnya itu sangat tersiksa saat demam menyerang tubuhnya.


Khey pun kembali menyuapkan martabak telur ke mulut Fabian dengan rasa bersalah yang menguasai hatinya.

__ADS_1


"Bun, ayok." Ayah menepuk bahu sang istri untuk mengajaknya keluar dari kamar Fabian.


"Bentar lagi yah." Bunda seolah belum rela meninggalkan anak lelaki semata wayangnya yang sedang sakit. Bagaimanapun selama ini beliau yang merawat Fabian.


"Udah ada Ara, Abi pasti aman."


"Ayah kira isteri Abi penjaga kompleks." Fabian tetap saja dengan nada kesal pada sang ayah.


"Bukan gitu Bi. Ayah cuma ngasih kesempatan buat kamu cepet sembuh. Bunda gak usah khawatir berlebihan. Percaya aja sama menantu bunda. Gitu maksud ayah."


"Pastilah Abi cepet sembuh. Bunda gak usah khawatir." Fabian beralih pada sang Bunda yang terlihat berat untuk meninggalkan kamar Fabian.


"Iya bunda. Ada Ara yang jagain kok. Ara bakal pastiin Abi buat makanan banyak, minum obat dan juga istirahat yang cukup. Bunda nggak usah khawatir." Khey ikut berucap kata untuk menenangkan kekhawatiran sang mertua.


"Tu kan Bun, gak usah khawatir. Lagian Abi sama Ara itu lebih suka kita pergi dari sini." lagi lagi Ayah memancing ledekan pada anak lelakinya.


Fabian mencebik. Khey tersipu malu. Sedangkan bunda mencubit perut gemoy sang suami.


"Iya iya ini bunda keluar." Bunda beranjak dari duduknya tanpa melepaskan cubitan kecil dari perut sang suami. Meski sang suami meringis pura pura sakit, namun bunda mengabaikannya.


"Jangan lupa minum obatnya, makanannya dihabisin." Bunda kembali mengingatkan.


"Ya udah, gak papa kan kalian Ayah sama bunda tinggal berdua?!"


"Iya Bun, gak papa kok. Bunda gak usah khawatir." sahut Khey, sedang Fabian hanya menganggukkan kepala karena mulutnya penuh makanan.


Bunda dan Ayah pun beranjak keluar kamar.


Saat Bunda sudah meraih gagang pintu kamar Fabian dan menariknya untuk membuka, tetiba ayah membalik setengah tubuhnya kembali ke arah Fabian dan Khey.


"Bi, ayah kasih tau trik biar demam kamu cepet sembuh."


"Gimana yah?" tanya Fabian semangat, setelah menelan makanan dalam mulutnya.


"Coba pakek buat itu, pasti nanti bakal cepet sembuh." Ayah dengan senyum tengil yang menuruni Fabian.


"Beneran yah?" Fabian antusias. Fabian tau maksud ucapan sang Ayah.


"Bener." Ayah mengangguk mengiyakan. "Praktekin dah, pasti cespleng... auww...." pekik ayah kemudian karena sang isteri telah menjewer telinganya guna menarik keluar.

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2