
"Rhea... Alya... tungguin... Gue ikut!!!" teriak Khey dengan berlari kecil menuju kedua sahabatnya yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.
Rhea dan Alya yang sempat kesal pada Khey terlihat mengabaikan seruan Khey. Kedua sahabat itu terlihat asyik mengobrol dengan saling berangkulan.
Meskipun keduanya mendengar teriakan Khey yang memanggil keduanya namun mereka berdua berpura pura tidak mendengar.
"Hey... kalian berdua gak usah sok cuek kek gitu. Lo berdua pikir gue gak tau apa kalau kalian pura pura gak denger panggilan gue. Gue doain budeg tau rasa lo..." Khey dengan kesal saat berhasil menyusul kedua temannya.
"Khey...!!" Alya dan Rhea berteriak menyebut nama Khey dengan kesal sembari menghentikan langkah kaki keduanya.
"Salah sendiri mengabaikan gue." Khey terlihat tidak peduli dengan kekesalan kedua sahabatnya.
"Tapi kan tidak dengan doain kita budeg Khey..." Alya dan Rhea bersamaan dengan wajah cemberut.
Khey terkekeh.
"Cantik cantik budeg, asyik kali ya buat judul bikin novel." Khey tanpa rasa bersalah.
"Khey..." Alya dan Rhea memburu Khey lalu mengacak rambut sahabatnya dengan kesal.
"Woyyy... kalian berdua masuk bullying ini." Khey dengan menghalau dan menghindari serangan kedua sahabatnya.
"Rasain." Alya dan Rhea terus saja mengacak rambut Khey hingga ketiganya memasuki parkiran sekolah.
"Kalian berdua tega, bikin wajah princess gue jadi kek badut." Khey menggerutu lalu menarik tali rambut yang sudah tidak beraturan di rambut hitamnya.
Alya dan Rhea ganti menertawai Khey yang rambutnya berantakan.
Khey pun membuka tas punggungnya mencari sisir di dalam sana lalu tangannya mulai merapikan rambut hitamnya yang berantakan setelah menemukan sisir dari dalam tas punggungnya.
"Al lo bawa mobil gak?" Rhea dengan membuka pintu mobilnya.
"Enggak. Gue nebeng sama lo aja. Elo gimana Khey?" Alya dengan memandang Khey yang masih menyisir rambut hitamnya dengan mengaca pada spion mobil milik Rhea.
"Gue nebeng juga... kalian tau kan gue gak bawa mobil... gak usah ngejek." Khey dengan tanpa permisi membuka pintu mobil Rhea dari sisi penumpang dan segera memasukinya.
Rhea terkekeh melihat reaksi Khey. "Udah Al... lo duduk di belakang aja." Rhea pun segera memasang seatbelt pada tubuhnya.
Setelah Alya memasuki mobil Rhea di bangku belakang seorang diri, Rhea pun segera menancapkan gas untuk keluar dari parkiran sekolah mereka yang sudah mulai sepi.
πππ
Brak... brak...
__ADS_1
Terdengar bunyi pintu mobil yang tertutup saat ketiga sahabat yaitu Rhea, Khey dan Alya keluar dari mobil saat sudah berada di parkiran GOR yang mereka tuju.
Ketiganya pun dengan segera membeli tiket untuk masuk ke dalam GOR.
Saat ketiganya memasuki GOR, ternyata pertandingan sudah dimulai. Sepertinya sudah setengah babak berlalu.
Rhea, Alya dan Khey segera memilih spot duduk yang memudahkan mereka untuk menonton.
"Khey lihat, itu Doni maen..." Rhea menunjuk sang ketua osis kapten tim basket sekolah mereka.
Khey mengangguk setelah memandang arah yang ditunjuk oleh sahabatnya.
"Lawannya keren keren ya..." Alya bersemangat saat mendapati tim lawan sekolah mereka yang lumayan berwajah tampan. Bagaimanapun yang namanya anak basket pastilah sangat keren karena mereka didominasi oleh anak anak yang memiliki postur tubuh tinggi nan tampan.
"Kok elo liat lawan sih Al... anak sekolah kita juga keren keren." Rhea sedikit tidak terima karena Alya lebih memperhatikan tim basket sekolah kain daripada tim sekolah mereka.
"Gue liat wajahnya doang Rhe... boleh dong buat cuci mata. Lagian tim sekolah kita gue udah bosen liatnya. Lagian Doni udah ada pemiliknya, iya kan Khey... tinggal siapa itu coba gue gak terlalu kenal. Paling itu tu temen si Fabian tengil siapa namanya Khey...?" Alya menyenggol lengan Khey dengan sikunya.
"Farell." Khey cepat tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan basket yang mempertunjukkan kelihaian sang kekasih dalam bermain basket.
Farell memang anggota tim basket sekolah mereka, namun anaknya yang pendiam dan datar membuat Farell tidak terlalu menonjol dalam tim basket tersebut. Berbeda dengan anak anak basket lainnya yang selalu tebar pesona, hingga kebanyakan sudah memiliki pasangan masing masing.
"Oh iya itu Farell... cakep juga ya Rhe ternyata... sayang wajahnya datar jarang senyum." Alya berucap pada Rhea.
"Ck... elo perhatiin dengan benar Rhe... Farell jago juga lo main basketnya..." Alya dengan memandang intens permainan di lapangan basket.
"Cakepan tu si Aldo..." Rhea menunjuk seorang cowok yang bernomor punggung 5 dengan name tag Aldo di atas kaos basketnya.
"Aldo udah ada cewek, dia anak cheerleaders..." Alya menimpali.
"Kok lo tau sih Al..." Rhea menelisik.
"Tau lah... gue sempet suka sama dia, tapi karena ceweknya bohay... gue mundur alon alon men..." Alya terkekeh kecil.
"Hahaha... ternyata elo bisa juga suka sama cowok Al." Rhea terlihat mengejek.
"Gue cewek normal." Alya sengit.
"Berisik banget sih lo pada, nonton noh. Katanya mau nonton tanding basket, ini malah ngoceh mulu berdua." Khey memutus perdebatan kedua sahabatnya.
Hehehe...
"Sorry Khey... inilah seninya nonton rame rame..." Alya terkekeh.
__ADS_1
Beberapa saat permainan berlangsung, Doni sang kapten tim basket terlihat menguasai bola bundar berwarna oranye tersebut di tangannya. Doni membawanya berlari hingga berhasil memasukkan si bundar oranye ke dalam ring lawan.
Sorak sorai pun bergemuruh meneriaki nama punggung Doni, begitupun Khey dengan semangat berdiri dan menyerukan nama sang kekasih. Bagaimanapun suasana hati Khey saat ini, ini adalah kemenangan sang kekasih dan juga kemenangan bagi sekolahnya. Hingga Khey pun tidak segan untuk bergembira ria menyerukan kemenangan tim Doni.
Beberapa saat setelahnya Khey terlihat mengerutkan keningnya saat menyadari jika kedua manik matanya menemukan sosok gadis yang memakai baju tak asing di matanya.
"Gue liat baju itu dimana ya, kapan?" Khey menggumam dengan tidak berhenti mengingat.
Khey pun pamit kepada kedua temannya untuk menuju toilet karena ada panggilan alam yang tidak bisa dihindari olehnya.
Khey pun melangkahkan kaki menuju toilet yang masih berada di dalam kawasan GOR.
Kakinya mendadak berhenti saat melihat Doni sedang menarik tangan seorang gadis yang sempat dilihatnya beberapa saat lalu.
"Doni." lirih Khey lalu mengayunkan langkah kakinya untuk mengikutinya.
Khey memperlebar langkahnya saat sosok yang dipikirnya Doni tersebut menghilang di balik sebuah tembok.
"Don..." Teriak Khey saat dirinya melihat sekelebat bayangan tersebut muncul kembali dan untuk memastikan namun sepertinya sosok di depannya tidak mendengar teriakannya.
Khey dengan gegas berlari kecil untuk memastikan penglihatannya.
"Ara ngapain lo di sini?" tetiba sebuah suara yang tak asing menginterupsi langkah kaki Khey.
Khey pun menoleh.
"Sh*iit..." Khey mengumpat pelan saat mendapati tubuh jangkung Fabian berdiri di belakangnya dengan memandangnya tajam.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1