Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA15


__ADS_3

"Fabian mana Khey, kok gak diajak turun sekalian?" tanya mama Maira, mamanya Khey. Saat anak gadisnya itu mendudukkan diri di kursi makan.


"Dia masih mandi ma." sahut Khey sambil meraih piring makan.


"Tunggu Fabian sekalian Khey, dia suamimu sekarang." mama Maira mengingatkan.


"Khey laper banget ma. Lagian Bian baru aja mandi, pasti masih lama selesainya." Khey merajuk.


"Kamu belum menerima pernikahanmu Khey?" mama Maira yang semula berdiri mulai mendudukkan diri di hadapan anak gadisnya.


Khey menghela nafas sesak.


Bagaimana mungkin ia menerima pernikahan yang serba mendadak, bahkan dengan cowok yang notabene adalah orang yang suka menganggunya di sekolah.


Hal itu tidaklah mungkin, apalagi hatinya sudah ada pemiliknya.


Namun mulutnya seolah terkunci, tidak sepatah kata pun terucap dari bibir tipis seorang Khayyara Nala Ashanum.


Mama Maira menumpukan kedua tangan di atas meja. Meskipun mama Maira seringkali mengabaikan Khey karena sibuk bekerja namun sebagai seorang ibu beliau paham jika anak gadisnya itu belum menerima dengan lapang tentang status isteri yang di sandangnya saat ini. Apalagi semuanya serba tiba - tiba di usianya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


"Sebelumnya mama ragu menikahkan kalian, tapi setelah melihat kesungguhan Fabian mama ikhlas melepas kamu bersanding dengannya nak." Mama Maira terlihat bersungguh - sungguh dengan ucapannya.


"Kamu pasti akan cepat jatuh cinta padanya jika kamu mengetahui siapa dia sebenarnya." lanjut mama Maira.


"Maksud mama apa? Khey gak ngerti."


"Fabian sanggup menikahi kamu, dia menggunakan uangnya sendiri untuk membelikan mahar pernikahan kamu tanpa bantuan orang tuanya. Dia bertanggung jawab penuh atas kamu Khey. Dia menjaga harga dirimu setelah kalian tertangkap oleh warga kemarin. Mama juga sudah bertanya padanya kejadian malam kemarin, dan dia menceritakan secara rinci. Persis dengan apa yang kamu ceritakan ke mama."


"Terus kenapa mama memaksa kami menikah jika mama percaya dengan ucapan kami? Mama percaya kan kalau Khey sama Fabian itu enggk ngapa - ngapain, semuanya cuma salah paham. Dan tidak ada yang melecehkan maupun dilecehkan diantara aku dan Fabian ma." ucapan Khey terdengar bergemuruh tersirat rasa kesal di sana.


"Hal itulah yang membuat mama mengikhlaskan kamu menikah dengan Fabian sayang. Dia rela bertanggung jawab, padahal semua yang terjadi di antara kalian adalah musibah yang tidak kalian inginkan. Fabian enggak mau nama baik serta harga dirimu hancur setelah warga menggrebek kalian dengan foto - foto yang mereka tunjukkan tersebut." ungkap mama Maira terharu. Hal itu terlihat dari kedua lensa mata mama Maira yang mengembun.


"Tapi ma, Khey gak cinta sama dia ... asal mama tau ya Khey sama Bian itu musuhan di sekolah. Udah seperti tom jerry ma, gak ada akurnya. Gimana nasib pernikahan kami nantinya ma ...?!" Khey tertunduk lesu.


"Sayang, benci sama cinta itu bedanya tipis. Siapa tau kalau selama ini kalian saling mengagumi bahkan saling mencintai satu sama lain. Makanya kalian gak berhenti saling mengganggu untuk mendapatkan perhatian."


Heh ... Khey membuang nafas sedikit kasar.


Saling mencintai satu sama lain?? Bagaimana bisa mamanya berfikir seperti itu, sedangkan beliau tidak tahu yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Fabian di sekolah setiap harinya.


Jika Fabian mencintainya, itu mungkin. Setiap hari cowok tengil itu selalu saja menggodanya, namun untuk dirinya?? Bahkan sedikit saja tidak ada rasa untuk cowok tengil suaminya tersebut.

__ADS_1


"Maa ... bukankah pernikahan itu bukan hanya sekedar saling mencintai, tapi lebih dari itu. Terus bagaimana nasib kami nanti, masa depan kami ... sedangkan mama tau kan kalau kami masih sekolah."


"Mama yakin Fabian mampu bertanggung jawab padamu lahir dan bathin Khey. Fabian mampu menafkahi kehidupan kalian nantinya. Bahkan papa juga sangat yakin padanya. Kami sudah banyak berbincang dengan mertuamu." mama Maira menggenggam erat tangan Khayyara.


Kening Khey semakin berkerut, siapa Fabian sebenarnya? Bagaimana cowok tengil sepertinya mampu membuat kedua orang tuanya yakin padanya.


Sekilas Khey teringat tentang pernikahan sederhana yang digelar secara sederhana di rumah keluarganya pagi tadi.


Pernikahan antara dirinya dan Fabian dilakukan secara sederhana, hanya ijab kabul yang dihadiri oleh orang tua keduanya serta beberapa warga sekitar kompleks keluarga Khayyara untuk berperan sebagai saksi. Agar warga yang menggerebek dirinya dan Fabian kemarin malam tahu jika tuntutan mereka untuk menikahkan keduanya telah terlaksana.


Pihak keluarga Fabian hanya kedua orang tuanya yang datang tidak ada siapapun selain mereka berdua, karena ternyata Fabian tengil adalah anak tunggal. Dan Khey baru tahu akan hal itu.


Ayah dan Bunda ... begitulah Fabian tengil itu memanggil sosok kedua orang tuanya yang terlihat berpenampilan sangat sederhana, sepertinya mereka berasal dari keluarga yang biasa - biasa saja. Hal itu diperkuat dengan penampilan keduanya yang tidak menyolok sama sekali.


Berbeda halnya dengan keluarga Khey yang meskipun pernikahan tersebut hanya dilaksanakan ijab kobul saja, kedua orang tuanya menggunakan pakaian yang cukup mewah. Maklum mama Maira adalah seorang perancang busana, tak heran jika beliau berpenampilan cukup glamour.


Hal itu terlihat sangat bertolak belakang dengan kedua orang tua Fabian. Bahkan penampilan bunda Fabian yang berkerudung tersebut terlihat sangat sederhana dan polos jauh dari kata mewah, bertolak belakang dengan mama Maira yang kedua pergelangan tangannya terlihat sangat bersinar akibat perhiasan emas yang dikenakannya.


Namun entah apa sebabnya Khey mendapati mamanya serta bunda Fabian terlihat sangat akrab bahkan terlihat tanpa canggung. Pun demikian dengan papanya yang terlihat mengobrol santai dengan ayah mertuanya tersebut.


Pemandangan itu cukup menyita perhatian Khey, karena dirinya sangat paham bagaimana kedua orang tuanya yang cukup pemilih dan terkesan memandang harta saat melihat orang lain.


Siapa sebenarnya Fabian dan juga keluarganya?


"Ajak Fabian turun buat makan bersama. Kamu harus belajar membiasakan diri untuk melayani suamimu nak."


Lagi Khey menghela nafas berat.


Sepertinya akan banyak hal yang berubah mulai sekarang.


Khey pun beranjak dari tempat duduknya.


"Kalau begitu Khey ke atas dulu ma ... panggil Fabian. Mungkin dia udah selesai mandinya." pamit Khey pada mama Maira.


Khey pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan setelah mendapatkan anggukan dari mamanya.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Fabian terlihat mengucapkan salam untuk mengakhiri kewajiban sholatnya sebagai seorang muslim.


Dan itu membuat seorang Khey terkesiap, berdiri mematung di dekat pintu saat melihat Fabian tengil memakai baju koko dan sarung duduk di atas sajadah.

__ADS_1


Khey tidak pernah menyangka jika cowok yang terlihat tengil dan slengekan itu melakukan kewajiban sholat lima waktunya.


"Kenapa Khey? Liatin gue kek liat hantu jeruk purut wae." Fabian menoleh ke arah Khey yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar yang sudah tertutup.


Cowok yang diberi sebutan tengil oleh Khey itu pun beranjak berdiri lalu melipat sajadah dan meletakkannya di atas mukena milik Khey. Kemudian merapikan kain sarung yang menutupi bagian tubuh bawahnya.


"Khey ... helloww ..." Fabian menggoyangkan telapak tangan di depan wajah gadis yang telah sah menjadi isterinya tersebut.


Khey pun mengerjapkan kelopak matanya berulang. Sesaat terpesona saat melihat wajah tampan Fabian, saat cowok tengil itu membuka peci hitamnya kemudian menyugar rambut yang masih terlihat basah tersebut.


"Elo gak usah terpana gitu lihat wajah tampan gue, ntar lalat bisa masuk ke mulut lo." ejek Fabian pada Khey yang terlihat melongo saat menatap dirinya.


"Enak aja, gue malah enek lihat wajah lo." elak Khey dengan ketus.


"Heleh ... ga usah muna lo." ucap Fabian dengan mulai membuka kancing baju kokonya.


"Mau ngapain lo?" tanya Khey waspada saat kancing baju koko Fabian sudah terbuka setengahnya.


"Menurut lo?" Fabian tidak menghentikan aktivitas membuka kancing bajunya dengan mencondongkan tubuhnya mendekati Khey.


Seketika Khey terkesiap, menelan ludahnya kelat.


"Bi ... elo jangan macem - macem!" ancam Khey gugup.


"Gue gak macem - macem, satu macem aja cukup." wajah Fabian semakin mendekat pada wajah Khey dengan tersenyum tengil.


"Mm ... mmau lo apa Bi?" Khey semakin gugup dengan semakin menjauhkan wajahnya dari wajah Fabian yang semakin mendesak maju.


"Gue mau ... makan lo!"


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2