Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA119


__ADS_3

"Bun..."


"Iya... kenapa sayang?" Bunda Fabian menghentikan sejenak aktivitasnya menata meja makan saat menantunya memanggilnya.


"Fabian eh Bian... eh bukan ding Abi..." Khey menggelengkan kepala dan menepuk bibirnya pelan saat menyadari panggilannya pada sang suami lagi lagi salah.


Bunda tersenyum.


"Nggak usah kikuk gitu, Ara panggil Abi senyamannya dulu aja. Nanti, seiring berjalannya waktu pasti bakal menemukan panggilan yang tepat."


Selalu saja wanita paruh baya yang melahirkan suaminya itu berucap kata dengan lembut, berbeda dengan wanita yang telah melahirkannya.


Saat pertama kali bertemu dan berbicara banyak dengan sang bunda mertua, Khey merasakan perhatian dan kasih sayang yang berbeda dari kedua orang tuanya.


Keluarga Fabian yang tergolong keluarga sultan memiliki kedekatan emosional yang baik sati sama lain.


Ayah Fabian yang notabene adalah seorang pengusaha sukses dengan kantor cabang yang bertebaran di mana mana, bahkan hingga ke luar negeri tidak membuatnya lupa akan perannya sebagai seorang suami maupun sebagai seorang ayah.


Bunda Fabian yang juga memiliki toko roti yang tidak hanya satu, tetap saja menyediakan waktu untuk melayani suami dan anaknya. Bahkan beliau selalu menyempatkan diri untuk membuat menu masakan bagi keluarganya.


Dan satu hal yang membuat Khey kagum pada mertuanya adalah masakan beliau sangat lezat dan juga bervariasi. Meski terkadang hanya menu sederhana namun rasanya tak kalah dengan menu di restoran ternama.


Mungkin itulah salah satu yang menjadi alasan Fabian tidak terlalu suka makan di luar. Memang suami tengil Khayyara itu lebih memilih makan di rumah daripada jajan.


"Kenapa sih Bian nggak seperti bunda atau ayah?" tanya Khey pada sang mertua.


"Maksud Ara?" Bunda dengan kening mengerut.


"Kelakuannya."


"Memangnya kelakuan Abi seperti apa? Dia kasar, main tangan sama Ara?" Bunda terdengar khawatir. Takut jika anak lelaki semata wayangnya tidak bertanggung jawab dan menganiaya isterinya.


Bagaimanapun pernikahan mereka dilakukan secara mendadak serta dalam usia yang tergolong masih labil untuk berfikir panjang.


Bayangan negatif pada anak lelakinya berkelebatan, silih berganti menghampiri benak sang bunda. Aneka kejadian mengerikan yang pernah bunda lihat di televisi menghantuinya.


"Bukan seperti yang bunda pikirkan." Khey menggoyang kedua telapak tangan di depan dada, Sepertinya dia mengerti ketakutan sang mertua.


"Lantas?" bunda penuh tanya.


"Itu... em... Bunda kan lembut, baik. Ayah juga keknya pas muda nggak aneh aneh deh." Khey mencoba menebak ayah mertuanya yang sepertinya tidak meniliki catatan buruk saat masih berstatus sebagai pelajar.


Bunda Fabian tersenyum, kali ini dengan mendekat pada sang menantu.


"Maksud Ara Abi bagaimana? Wajahnya perpaduan ayah juga bunda gitu... yang tidak seperti ayah bunda apanya? Coba Ara sebutin."


Khey tersenyum kikuk, mengaruk belakang kepalanya yang sesungguhnya tidak gatal.


"Maksud Ara bukan wajahnya Bun, tapi..." Khey bingung untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


Khey ingin mengatakan asal sikap mesum Fabian yang nggak ada putusnya saat berdekatan dengannya. Padahal selama Khey tinggal bersama mertuanya seminggu ini, interaksi kedua mertuanya terlihat santun. Tidak tengil bin mesum seperti Fabian.


Khey bingung dari mana asal muasal kemesuman Fabian yang sudah setingkat dewa itu.


"Udah ngomong aja, biar bunda nggak khawatir, takutnya Abi main kasar juga nyakitin Ara."


"Nggak kok bun, dia nggak gitu sama Ara. Cuma apa ya..." Khey memutar otaknya agar bisa mengatakan tanpa membuat bunda mertuanya salah paham.


"Tengilnya itu lho..." ceplos Khey akhirnya. Membuat bunda mertuanya terkekeh kecil.


"Kalau itu mah dari ayah, ayah kek gitu juga orangnya." bunda masih dengan kekehannya.


"Masak?" Khey dengan pandangan tidak percaya.


Bunda mengangguk.


"Iya. Dulu ya sewaktu ayah seumuran Fabian konyolnya luar biasa."


"Gitu ya..." Khey manggut manggut.


"Kalau dandanannya itu bun...celana robek robek dipakek. Nggak rapi sama sekali." jujur saja sebenarnya Khey tidak menyukai penampilan Fabian yang satu itu.


Khey yang menyukai penampilan rapi bak artis korea, memandang dandanan Fabian itu jorok.


"Abi juga terkesan nggak disiplin, jauh dari ciri anak berotak cerdas pada umumnya. Biasanya anak cerdas itu kan disiplin, kutu buku, suka menyendiri, sopan gitulah pokoknya."


"Mumpung masih SMA katanya." jawab bunda Fabian dengan senyum.


"Dulu bunda juga pernah negur. Tapi dia bilang mumpung masih SMA bun, biar punya banyak cerita buat hari tua. Yang penting kan Abi nggak ngelakuin pergaulan yang negatif. Gitu katanya."


"Gitu ya. Padahal Abi itu kan ganteng, pinter kalau dia lebih cool dikit aja pasti banyak cewek yang antri buat jadi pacarnya." Khey dengan menggumam, namun masih terdengar oleh sang mertua.


"Memangnya Ara ikhlas kalau Abi punya banyak cewek?" Bunda


"Enggak!!! Ara nggak mau kek gitu. Abi kan punya Ara bun." Khey dengan cepat dan lantang. Lantas menutup mulut dengan kedua telapak tangan saat menyadari pengakuannya.


Bunda memberikan pandangan yang menggoda sang menantu.


Khey pun tersenyum kikuk.


"Maaf bun, Ara ke belakang dulu." pamit Khey segera untuk menyembunyikan rasa malunya.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Bodo... bodo... kenapa bisa keceplosan sih." gerutu Khey dengan mengetuk kening berulang.


"Dasar mulut nggak bisa diajak kompromi." Khey memukul pelan mulutnya.


Khey sungguh malu pada mertuanya.

__ADS_1


"Ah biarlah... semoga bunda nggak ngomong sama Bian." desis Khey dengan mendudukkan diri pada sofabean yang terletak di teras belakang rumah.


Duk!


Baru saja duduk, tetiba sebuah bola oranye mengenai kening Khey.


Aww... Khey mengusap keningnya dengan bibir mengerucut.


"Elo!" Khey beranjak berdiri dengan memandang kesal Fabian yang berjalan santai ke arahnya. Khey pastikan bahwa Fabianlah pelaku yang telah melemparkan bola itu kepadanya.


"Sorry yang sorry..." Fabian dengan senyum santai.


"Sorry... sorry... elo pasti sengaja kan nimpuk gue pakek ini." Khey dengan menunjuk bola oranye di tangannya.


"Gue nggak sengaja, beneran... sumpah."


"Nggak mungkin, elo pasti sengaja!" Khey ngeyel.


"Enggak yang. Sini bolanya." Fabian dengan menengadahkan kedua tangannya meminta.


Bukannya memberikan Khey malah menyembunyikan bola oranye tersebut di belakang tubuhnya.


"Siniin yang..." Fabian makin mendekatkan tubuhnya yang penuh keringat akibat bermain basket beberapa waktu lalu.


"Enggak." Khey tetap tidak mau menyerahkan si bundar oranye pada suaminya.


Fabian pun mendekap tubuh isterinya, agar supaya bisa mendapatkan bolanya.


Hek...


Keduanya terkesiap saat bagian depan tubuh mereka saling membentur.


Fabian menahan nafas saat merasakan degub jantungnya berdetak kencang, saat merasakan kedua benda kenyal itu menempel erat pada dada bidangnya.


Apalagi saat ekor matanya melirik belahan dada Khey yang menyembul menunjukkan kedua gunung kembar yang membusung akibat kancing baju atas Khey yang tidak dikaitkan.


Bagaimanapun Fabian adalah lelaki normal dan lagi sah saja jika dirinya menikmati. Untuk itu sekuat tenaga Fabian menahan rasa aneh yang tetiba merayapi tubuhnya.


Sedangkan Khey menggigit bibir bawahnya saat mendapati manik hitam Fabian mengunci pandangan pada bibir bawahnya. Menurut pandangan Khey bagian itulah yang dituju manik hitam Fabian.


Irama degub jantung Khey semakin terdengar menggila saat Fabian memiringkan wajah, perlahan memajukan wajah dan mengikis jarak keduanya.


Membuat bola bundar oranye yang dipegang di belakang punggung Khey pun terlepas, menggelinding ke sembarang arah.


Perlahan Khey mengatupkan kedua kelopak matanya. Khey tau pasti apa yang bakal terjadi pada keduanya nanti. Fabian pun tersenyum tipis.


Khey merasakan hembusan nafas Fabian yang menyapu wajahnya, pertanda bahwa detik berikutnya kedua bibir kenyal mereka pasti saling bertautan.


Namun...

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2