
"Kenapa lo?" Fabian melempar potongan kue pada dada Jackson yang merebahkan diri di pinggir kolam renang miliknya dengan kedua mata terpejam.
"Gak osah ganggu." Jackson mengibaskan remahan kue yang dilempar Fabian ke dadanya. Kedua matanya tetap terpejam.
"Potek dia, kalau kata judul lagu jaman nyokap mah layu sebelum berkembang." Farrel mengejek dengan menyeruput orange jus ditangannya. Dia duduk di kursi dekat kolam renang.
"Ck... maju terus Jack! Pantang mundur sampai dapet." Fabian ikut duduk di dekat Farrel, memberi tanda pada Farrel untuk ikut memprovokasi Jackson.
"Iya Jack usaha dan doa maju bareng. Masak kalah sama Fabian." Farrel dengan mengejek.
"Kalian, ngomong mah enak. Yang ngelakuin nyesek men. Alya nutup pintu hatinya pakek gembok dikasih lem china, kagak nembus gombalan gue." Jackson masih tetap dengan posisinya.
Ucapan Jackson membuat Farrel dan Fabian tertawa terbahak bahak.
"Ternyata ada juga bule tampan yang nggak laku walau udah diobral sekalipun." Fabian makin mengejek Jackson.
"Mending kita ya Rell, walaupun wajah pribumi tapi enteng jodoh." Lanjut Fabian.
Yang enteng jodoh mah elo bukan gue... tentu saja Farrel hanya membatin.
"Teros... teros... teros aja kalian ngehina gue!" Jackson terdengar kesal.
"Kita nggak menghina cuma ngejek doang." Fabian dengan terbahak diikuti oleh Farrel.
"Asyik bener ngobrolnya." Khey datang dengan kedua sahabatnya saat melihat sang suami dengan Farrel tertawa bersama.
"Ngobrolin apaan?" Rhea sebenarnya hanya basa basi seraya mengambil duduk.
"Ngomongin bule yang lagi potek itu tu..." tunjuk Fabian pada Jackson.
Khey, Rhea dan Alya pun menoleh ke arah Jackson yang masih setia di tiduran di pinggir kolam renang.
"Cih... lagaknya kek bule beneran aja." sinis Alya saat mendapati Jackson terlihat seolah berjemur di bawah sinar matahari.
"Emang dia bule Al. Orang wajahnya jelas indo blasteran kek gitu." sahut Rhea terdengar membela Jackson.
"Prikk lo Al."
"Yang gue bilangin beneran Al. Nyatanya wajah Jackson itu bule banget. Iya nggak Khey." Rhea meminta pendapat Khey.
"Mata hati Alya masih ketutup wedhus gembel merapi Rhe, jadi kek gitu sok nggak tertarik." Khey dengan sengaja mengejek Alya seraya mendudukkan diri di samping sang suami.
"Persis kek elo ke gue waktu dulu yang." timpal Fabian santai, membuat teman temannya terkekeh.
Khey merengut karena Fabian menyentil kelakuannya zaman dulu.
"Emang bener kan yang?!"
"Enggak usah ditegesin napa sih!" Khey kesal seraya menghadiahi Fabian pukulan pada punggungnya.
"Aduh sakit yang." Fabian sesungguhnya hanya pura pura.
__ADS_1
"Rasain." Khey mencebik.
"Ye ngambek. Ngambek beneran gak nih..." Fabian menoel dagu Khey yang telah duduk di dekatnya.
"Ya Iyalah. Mana ada ngambek boongan." Khey bersungut dengan bersidekap dada.
"Nggak usah ngambekan, ntar malem nggak dapat jatah repot." Fabian sengaja menggoda Khayyara meski di depan teman temannya.
Khey pun mendelik kesal lalu mendaratkan cubitan kecil pada pinggang sang suami. Fabian hanya nyengir.
Rhea dan Alya hanya tersenyum tipis.
"Njiir... kalau ngomong dijaga Bi, ati gue makin potek nih dengerin omongan lo. Mentang mentang udah sah, seenak udel aja bikin junior gue ngiri." teriak Jackson dengan kesal.
Farrel tergelak.
"Ntar tengah malem gue anterin ke xxx, gue bokingin satu. Lo tinggal pilih sesuai selera lo." Farrel menyebutkan sebuah tempat mangkal para penjaja cinta yang terkenal di kota mereka.
"Enak aja lo Rell. Elo mau bikin gue kena penyakit kelamin."
"Ya kali junior lo nggak tahan buat cepet dewasa." Farrel masih saja dengan gelak tawa.
"Walaupun gue setengah bule tapi gue warga negara Indonesia aseli yang menjunjung tinggi nilai dan norma Rell. Nggak asal tusuk." Jackson.
"Sate kali asal tusuk." Kali ini Fabian yang menyahut.
Farrel hanya terkekeh.
"Njiir... mulut lo Rell, mau gue lelepin kolam lo?!" Alya mendelik ngamuk ke arah Farrel.
Farrel terkekeh dengan mengibaskan telapak tangan.
"Coba deket dulu Al, siapa tau aja enak terus nagih. Iya kan yang?" Fabian dengan mengerling pada Khey.
"Apaan sih lo." Khey mengeram seraya mendaratkan cubitan kecil kembali pada pinggang Fabian.
"Sayang ih... jangan cubit di situ, cubit tempat lain aja." Fabian sengaja menggoda Khey.
Bug... bug... bugh...
Khey memberikan pukulan bertubi tubi pada punggung Fabian. Membuat yang lain menertawakan Fabian.
"Sakit kan?" Khey dengan raut kesal.
Bukannya mengiyakan Fabian malah menggelengkan kepala. "Enak kok, buat pemanasan tar malem."
"Bian ihh..." Khey kembali mendaratkan pukulan pada punggung Fabian. Karena Fabian tidak mau berhenti menggodanya.
"Pukulan pacar sah itu emang enak yang, bikin nagih. Apalagi kalau main tusuk tusukan."
"Bian!" Khey mendelik geram. Sepertinya Khey benar benar mengamuk saat ini.
__ADS_1
Khey mengambil ancang ancang untuk memukul punggung Fabian kembali namun suami tengilnya itu telah beranjak berdiri dan sengaja menjauh dari Khey dengan berlari.
"Kejar Khey sampai dapat, hajar sampek remuk tu." Jackson berseru senang.
Yang lain ikut tertawa senang.
"Rasain lo Bian, mulut lo kelewat tengil sih." Rhea pun ikut berseru meledek.
Lari kejar kejaran pasangan suami isteri itu pun berlanjut memutar di sekitar pinggiran kolam renang hingga akhirnya tanpa sengaja Fabian menyenggol Alya yang berdiri di bibir kolam renang.
Byuurr...
Rhea yang tepat berdiri di sisi Alya, memekik kaget.
Fabian dan Khey yang semula berlari kejar kejaran pun menghentikan aksi mereka.
"Sorry gue nggak sengaja Al." Fabian berseru ke arah kolam dimana Alya terlihat sedikit kesusahan memposisikan tubuhnya aman.
Alya bukannya tidak bisa berenang hanya saja karena tanpa sengaja kecebur kolam renang tanpa persiapan, membuatnya sedikit membutuhkan usaha untuk menegakkan kepalanya. Dan lagi sesungguhnya kolam renang itu hanya memiliki kedalaman sebatas dada orang dewasa. Untuk itu dapat dipastikan Alya bisa tetap aman.
Byuurr...
Kembali sosok lain memasuki kolam renang, namun kali ini memang sengaja menceburkan diri. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Jackson si bule blasteran.
"Wow... si Jack gercep." Farrel.
"Ngapain lo ikutan nyebur kolam sih." Alya kesal seraya menepis tangan Jackson yang membantunya berdiri tegak.
"Dibantuin bukannya terima kasih malah ngamuk sih Al." Jackson.
"Gue nggak butuh bantuan lo, gue bisa berdiri sendiri. Lagian cetek jugak, nggak osah nyari kesempatan deh lo."
Jackson yang sesungguhnya benar benar mengkhawatirkan Alya hanya bisa menggelengkan kepala berulang.
"Sabar Jack, itu belum seberapa dibanding penolakan Khey ke gue." Fabian memanasi.
"Gendong naik Jack! Kalau perlu paksa aja." tambah Khey.
"Kalian berdua nggak usah jadi kompor ya, awas aja kalau gue naik entar." Alya kesal seraya berjalan ke pinggir kolam dengan kesusahan. Jackson mengikuti dari belakang.
"Jangan jual mahal Al, ntar Jackson berpaling ke gue nyesel lo." Rhea ikut mengejek.
"Ambil aja sono." Alya berseru.
Tak berapa lama kemudian Alya pun sampai ke pinggir kolam renang.
"Bantuin gue naik." Alya mengulurkan kedua tangan ke hadapan Khey dan Rhea yang telah berjongkok di bibir kolam.
Byuurrr.....
ππππ
__ADS_1