
Beberapa saat lalu pertemuan Doni dengan Khey
"Wow... elo cantik banget yang." Doni memuji dengan senyum membingkai wajahnya. Kali ini Doni memuji penampilan Khey, tulus dari hati. Karena memang penampilan Khey saat ini sungguh luar biasa.
Khey membalut tubuhnya dress berwarna merah muda yang panjangnya hanya sampai lutut. Sebenarnya dress itu memiliki potongan sederhana, tidak mempertontonkan bahu maupun punggung Khey. Namun dress membalut tubuh ramping Khey dengan pas.
"Masak?" Khey tidak yakin dengan ucapan sang kekasih.
"Beneran elo cantik banget malam ini." Doni menegakkan tubuhnya yang semula menyender pada pintu mobilnya, mengayunkan kakinya satu langkah mendekati Khey yang berdiri di hadapannya.
"Malam ini doang, sebelumnya nggak cantik..." Khey manyun.
"Enggak gitu. Elo selalu cantik, tapi malam ini terlihat lebih cantik dari biasanya." Doni dengan bujuk rayunya.
Khey tersipu malu.
"Berangkat yuk, ntar keburu malem." Doni menggandeng tangan Khey dan menariknya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kita mau ke mana sih yang?" Khey bertanya dengan penasaran setelah mobil Doni melaju merayapi jalanan aspal.
Khey begitu penasaran karena melihat pakaian yang dikenakan oleh Doni terlihat tidak biasa. Kekasih ketosnya itu mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih serta dasi kupu kupu yang bertengger di kerah lehernya.
Penampilan yang tidak biasa jika itu hanya srkedar mengajaknya pergi makan malam berdua.
"Ntar lo juga tau." Doni dengan tersenyum seolah menyembunyikan sebuah kejutan.
"Kita beneran dinner kan?" Khey nampak menggerakkan tubuhnya gugup. Khey takut jika tiba tiba saja Doni akan membawanya makan malam bersama keluarganya. Khey pun menelisik dress yang dikenakannya takut jika apa yang dipikirannya afalah benar, tidak mungkin jika dirinya berpenampilan memalukan.
"Enggak." sahut Doni santai.
"Kok enggak sih yang... terus kita mau kemana?" wajah Khey menegang karena terkejut.
"Nggak usah tegang gitu, santai aja. Gue nggak bakalan bawa lo ke tempat aneh aneh kok." Doni tersenyum sembari menoleh ke arah Khey sekilas. Lalu menautkan jemari kirinya dengan jemari kanan Khey yang sudah terasa basah oleh keringat dingin.
Hingga tak terasa keduanya pun sampai di depan sebuah bangunan megah yang terletak cukup jauh dari pusat kota.
Doni turun dari mobilnya kemudian berjalan memutari mobil dan membuka pintu para sisi dimana Khey duduk.
"Ini rumah siapa yang?" Khey bertanya dengan memegang erat tangan Doni setelah keluar dari mobil sang kekasih.
__ADS_1
Doni menggedikkan bahu, dengan santai menarik Khey untuk berjalan menuju ke arah pintu masuk rumah megah yang terlihat seperti sebuah villa tersebut.
"Yang..." Khey dengan langkah kaki enggan mengikuti Doni yang tetap saja berjalan tanpa mau menjelaskan maksud dan tujuannya membawanya kemari.
"Udah ayok, gue bawa undangan kok, cuma pesta ulang tahun doang." Doni seolah memahami kekhawatiran Khey.
"Ulang tahun?!" Khey mengulang jawaban Doni. Entah mengapa jawaban Doni membuat detak jantung Khey berdebar kencang.
Doni mengangguk, kemudian membawa Khey masuk setelah memberikan undangan pada petugas penerima tamu yang berada di depan pintu menuju pesta tersebut.
"Ulang tahu siapa yang?" otak Khey tiba tiba saja teringat dengan Fabian yang juga menghadiri pesta ulang tahun Nina.
"Nina."
Deg.
Jantung Khey seolah berhenti berdetak saat itu juga setelah mendengar jawaban dari Doni.
"Yang..." Khey menahan pergelangan tangan Doni dengan kedua tangannya agar Doni tidak melanjutkan langkahnya semakin mendekati pesta Nina.
Dan benar saja, Doni menghentikan langkah kakinya sembari menoleh ke arah Khey.
Khey mengelengkan kepalanya perlahan. "Enggak..."
"Terus kenapa? Takut?" Doni kembali bertanya dengan kening mengerut' saat melihat wajah Khey terlihat pias.
Kembali Khey menggelengkan kepala, namun kali ini terlihat sedikit ragu.
Karena Khey memang takut. Takut jika dirinya bertemu dengan Fabian di dalam sana.
Bagaimana reaksi Fabian nanti jika bertemu dengannya yang datang bersama Doni, apalagi Khey telah menolak ajakan Fabian sore tadi saat suaminya tersebut mengajaknya untuk datang bersama di pesta ulang tahun Nina.
"Udahlah cuek aja, enggak usah dipikirin. Masuk yukk..." Doni menarik tangan Khey dengan kuat. Khey pun dengan tepaksa mengikuti langkah kaki Doni, meskipun dengan langkah kaki yang terasa sangat berat.
Hingga akhirnya Doni dan Khey pun sudah bergabung dengan banyaknya tamu undangan yang telah hadir di sana.
Dengan masih menggandeng tangan Khey untuk tetap di sisinya, Doni mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan pesta guna mencari keberadaan empunya pesta yaitu Nina. Bagaimanapun Doni harus menemui Nina lebih dahulu untuk mengucapkan selamat kepada teman osisnya tersebut.
Sedangkan Khey masih saja menunjukkan kepala dengan rasa gugup yang mendera tubuhnya, Khey merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Bahkan lantunan merdu lagu perfect milik Ed Sheeran seolah tidak dapat dinikmati oleh pendengaran Khey yang diliputi perasaan gugup.
__ADS_1
"Kita ke sana yuk." Doni menunjuk keberadaan Nina si empunya pesta yang berada di atas stage yang tidak terlalu tinggi. Mungkin tempat itu dibuat sengaja untuk mengekspose empunya pesta.
Nina berdiri di samping sebuat kue ulang tahun yang berwarna pink dengan paduan putih yang tingginya hampir menyamai tinggi Nina. Nina tidak berhenti membingkai senyum cerah ceria, namun arah pandangan matanya tidak menuju tamu pesta melainkan menoleh ke sisi yang lain.
Kedua bola mata Khey pun tanpa sadar bergerak mengikuti arah pandangan Nina.
Degg.
Kali ini jantung Khey seolah lepas dari cangkangnya saat mendapati sosok Fabian tengil tengah duduk memainkan tuts piano. Penampilan Fabian terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya.
"Ggue di sini aja, gue nggak enak ketemu Nina. Lagian gue nggak bawa kado buat dia." Khey memberi alasan pada Doni agar tidak ikut memberi ucapan selamat pada Nina. Walau sebenarnya bukan itu poin yang dihindari oleh Khey, karena yang sebenarnya adalah Khey tidak mau terpergok oleh Fabian.
"Nggak papa, gue udah siapin kado kok." Doni terlihat memaksa dengan menunjukkan bingkisan paper bag di tangan kanannya, yang entah sejak kapan dia membawanya karena Khey tidak menyadarinya.
"Gue nggak mau, gue nunggu di sini aja." Khey kekeh menolak.
"Ayolah yang..." Doni dengan tatapan memohon.
"Enggak." Khey menggelengkan kepalanya kuat. "Gue nunggu di sini aja. Kalau lo tadi bilang mau ke ulang tahun Nina sedari awal, gue pasti mampir dulu buat nyari sesuatu."
Doni menghembuskan nafas berat.
"Baiklah kalau itu mau lo, jangan kemana mana." Doni pun pasrah dengan keinginan Khey.
Saat ini Doni belum menyadari adanya Fabian di dalam pesta ulang tahun Nina karena Doni tidak memperhatikan arah pandang Nina.
Doni pun melepaskan tangan Khey kemudian berjalan seorang diri ke arah Nina untuk memberikan bingkisan serta ucapan selamat ulang tahun.
Sepeninggal Doni Khey mengunci pandang ke arah Fabian yang fokus menunduk pada tuts piano di hadapannya.
Khey pun tanpa sadar menaggumi kelihaian Fabian memainkan tuts piano, apalagi suami tengilnya tersebut tak hanya memainkan jemarinya melainkan juga menyenandungkan lagu tersebut dengan suara yang sangat merdu.
Hingga akhirnya terdengar suara riuh tepuk tangan memenuhi ruangan tersebut saat Fabian mengakhiri permainan pianonya.
Fabian pun berdiri dengan senyum menawan membingkai wajahnya.
Hek...
Khey melebarkan kedua matanya saat pandangan matanya bertemu dengan manik hitam Fabian tengil.
__ADS_1
βπ»βπ»βπ»βπ»