Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA44


__ADS_3

"Khey habis ini kita nonton pertandingan basket ya..." Rhea.


"Gue males Rhe..." sahut Khey sembari memasukkan catatannya ke dalam tas, karena jam sekolah mereka telah berakhir.


"Ini udah masuk final Khey, kita nonton yuk... gue penasaran sama permainan basket tim sekolah kita tanpa kapten basketnya. Kok bisa tim basket sekolah kita bisa masuk ke final, padahal Doni gak ada." Rhea terlihat sangat penasaran.


Khey dan kedua sahabatnya memang tidak pernah lagi menonton pertandingan basket sekolahnya setelah untuk yang pertama kalinya mereka menonton dulu.


Apalagi setelah hari itu Doni sang kapten tim basket yang merangkap sebagai ketua osis itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya di sekolah. Dan saat ini berhembus kabar kalau tim basket sekolah mereka masuk babak final meskipun tanpa Doni sang ketua tim basket yang permainannya terkenal jago dalam memasukkan bola oranye ke dalam ring.


Entah kemana perginya Doni beberapa hari ini, bahkan Khey yang berstatus sebagai kekasihnya pun tidak mengetahui kabar dan keberadaan Doni.


Khey tidak mengetahui alamat rumah Doni karena selama ini mereka berpacaran dengan cara backstreet. Bukannya Khey tidak pernah menghubungi Doni, namun ponsel ketua osis yang bergelar kekasihnya itu tidak dapat dihubungi. Bahkan chat dari Khey terlihat centang satu sampai saat ini.


Dan kini pun Khey masih berusaha menghubungi Doni.


"Elo belum dapat kabar dari Doni Khey?" Alya bertanya saat melihat Khey sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Belum." Khey dengan menggelengkan kepalanya lesu.


"Chat lo apa kabar?" Alya kembali bertanya.


"Masih tetap sama, centang satu." Khey tanpa menghentikan aksinya berusaha menghubungi ponsel sang kekasih.


Niat hati Khey yang ingin meminta penjelasan dari Doni bahkan sudah merencanakan untuk putus dari ketua osis tampan tersebut terpaksa diurungkan olehnya. Bahkan sekarang timbul rasa cemas di hatinya akan keberadaan Doni yang tiba tiba menghilang tanpa kabar.


Sempat Khey menanyai teman sekelas sang kekasih namun tidak ada satupun yang mengetahui keberadaannya, bahkan anak anak osis pun tidak ada satupun yang tahu tentang kealpaannya.


Alya menyikut lengan Rhea, hingga membuat gadis itu menoleh.


"Jangan jangan gadis itu hamil, terus Doni dituntut sama orang tua si gadis untuk bertanggung jawab dan kini Doni mengurung diri karena stress belum siap." Alya membisikkan khayalannya pada Rhea.


"Hust... jaga itu mulut. Jangan sembarangan menghibah, dosa tau. Otak lo kebanyakan baca novel jadinya kek gini nih..." Rhea dengan mendelik.


"Siapa tau aja, habisnya setelah kejadian itu dia ngilang gitu aja tanpa meninggalkan pesan atau kata terakhir mungkin." Alya masih dengan berbisik di telinga Rhea.


"Al mulut lo kalau ngomong jangan sembarangan. Elo nyumpahin Doni koit...?!" Rhea pun membalas dengan berbisik.


"Hehehe... bukan gitu Rhe... Tapi gak ada ruginya juga kalau kita kehilangan fucek boy kek gitu. Biar sampah kek gitu berkurang dan tidak mengotori bumi kita." Alya seolah tidak peduli.


"Udah Khey gak usah ditelfon lagi, ntar kalau Doni udah online pasti hubungin lo. Elo udah chat dia kan?" Rhea berusaha menghentikan aksi Khey yang terus menerus mencoba menghubungi Doni.


Seketika Khey menghentikan aksinya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sekolahnya.


"Kalau gitu kuta nonton aja deh." Khey berdiri sembari memakai tas punggungnya dan berjalan keluar kelas.


Rhea dan Alya pun segera menyusul Khey dengan senyum berbinar.

__ADS_1


πŸ“πŸ“πŸ“


"Kita duduk di sana yuk..." Rhea menunjuk tempat duduk yang strategis untuk menonton pertandingan basket final sekolah mereka.


Alya dan Khey pun mengekori Rhea menuju tempat duduk yang Rhea tunjukkan.


Baru saja duduk tetiba Khey merasakan panggilan alam yang tidak dapat ditahannya. Akhirnya Khey pun pamit pada kedua sahabatnya untuk pergi ke toilet.


Setelah sampai di toilet Khey melihat semua pintunya tertutup, menandakan bahwa toilet sedang dipakai semua.


Khey mengeram kesal karena merasa sudah tidak dapat menahan keinginannya untuk buang air kecil.


Srret...


Khey segera mengambil kesempatan memasuki toilet yang baru saja ditinggal oleh pemakainya tanpa menyadari jika saat ini Khey memasuki toilet cowok.


"Huh... lega rasanya" gumam Khey saat menyelesaikan hajatnya.


Khey pun keluar dari dalam toilet lalu menuju kaca besar untuk merapikan sedikit penampilannya. Bagaimanapun Khey adalah seorang gadis, tetap saja dirinya tidak mengabaikan penampilannya.


Khey mengucir kuda rambut hitam panjangnya dengan jemari tangan. Setelah merasa puas Khey pun melangkahkan kakinya meninggalkan toilet yang ternyata sudah kosong. Sepertinya hanya tinggal dirinya yang berada di toilet saat ini.


Set...


Tetiba saja sebuah tangan kekar menariknya pergelangan tangannya ke dalam bilik toilet saat Khey melewatinya.


Bruk...


"Bian! Elo ngagetin gue aja sih..." Khey dengan tatapan kesalnya.


"Sorry... lagian ngapain lo di toilet cowok kek gini?"


Kening Khey mengerut. "Emang ini toilet cowok ya?"


"Menurut lo?"


"Tau... orang pas masuk gue gak baca judul toiletnya." Khey dengan mengangkat bahunya.


"Ck... dasar sembrono." Fabian.


"Gue buru buru tadi, kebelet. Wajar kan kalau gue sembrono... Elo juga tau kan rasanya gimana kalau udah di ujung gak bisa ditahan."


"Tapi tetep aja lo gak boleh sembrono." Fabian menegaskan dengan menatap manik mata Khey dengan lekat.


Hek... Khey merasa tak nyaman dengan tatapan Fabian padanya, entahlah tatapan itu membuat degub jantungnya berdetak semakin kencang.


Fabian memajukan wajahnya, menelesik wajah cantik Khey di depannya. Kedua manik hitamnya tidak berhenti bergerak memindai wajah putih serta leher jenjang sang isteri.

__ADS_1


"Bbi... kkita kell..." Khey belum menyelesaikan ucapannya Fabian memotongnya.


"Bentar..." Fabian dengan salah satu tangan yang mendorong pintu bilik toilet hingga tertutup rapat sedangkan wajahnya semakin mendekat pada wajah Khey.


Deg


Deg


Deg


Dada Khey semakin berdebar kencang, Khey meremas kedua tangannya pada sisi tubuhnya. Sungguh suasana yang akward menurut Khey saat ini. Khey mulai membayangkan aksi mesum suami tengilnya.


Sudut bibir Fabian berkedut lalu membentuk senyum seringai yang sangat tipis hingga Khey yang berhadapan dekat dengannya pun tidak sedikitpun menyadari senyuman itu.


Dengan jantung yang tidak berhenti berdetak kencang Khey perlahan memejamkan kedua matanya, instingnya memikirkan jika sebentar lagi suami tengilnya itu pasti akan mencium bibirnya. Tidak ingin merasa malu jika ciuman itu benar benar terjadi, Khey memilih memejamkan kedua matanya.


Beberapa detik berlalu, Khey tidak merasakan apapun pada bibirnya. Khey pun kembali membuka matanya perlahan.


Hek.


Fabian tepat beberapa centi tepat di depan wajahnya dengan senyum yang sungguh sangat mempesona, senyum yang belum pernah Khey lihat sebelumnya. Khey pun terpana dengan wajah tengil Fabian yang sangat berbeda saat ini, wajah yang selalu tidak dipedulikan olehnya itu membuatnya membeku saat ini.


Fiuhhh...


Fabian meniup wajah Khey hingga membuat anak rambut Khey bergerak sembarang dan kelopak mata Khey perlahan mengerjap.


"Elo mikir bakal dapet ciuman dari gue kan??" tebak Fabian dengan senyum seringai pada wajahnya.


Hek...


"Enggak!" Khey dengan memalingkan wajahnya. Dalam hati mengumpat kesal, bagaimana otaknya bisa membayangkan berciuman dengan Fabian tengil.


Khey merasa gugup saat ini, apalagi beberapa saat lalu dirinya sempat membayangkan jika wajah tampan di depannya tersebut bakal menciumnya.


Nyatanya tidak....


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2