
"Papa!"
Khey dengan raut wajah sangat terkejut saat mendapati papanya sedang memasukkan baju ke dalam koper di atas ranjang.
Mendengar seruan anak perempuannya, Papa Danu pun menghentikan aktivitasnya.
"Sayang... sudah pulang?" tanya lelaki paruh baya itu dengan senyum tipis pada wajahnya yang masih terlihat pucat.
"Papa mau kemana?"
Khey bertanya dengan berjalan gegas mendekat dan mengabaikan pertanyaan papanya.
Lelaki paruh baya itu menghembuskan nafas berat seraya menegakkan tubuhnya. Dia tau pasti anak perempuannya itu pasti bakal mengoceh panjang lebar padanya.
"Duduk dulu sayang." Papa Danu tetap lembut dan tak lupa memberikan senyuman kembali di wajah rentanya.
"Papa mau kemana?" ulang Khey menatap tajam pada sang papa tanpa mengindahkan suruhannya. Mungkinkah papanya akan kembali bekerja dan melakukan perjalanan dinas di saat kondisi tubuhnya belum sehat betul? Itu benar benar gila jika papanya melakukannya.
"Duduklah dulu nak."
Kali ini papa Danu mendaratkan bokongnya pada tepi ranjang seraya menepuk bagian kosong di sebelahnya untuk Khey duduk. Papa Danu sadar Khey pasti memiliki banyak tanya padanya saat melihat apa yang telah dilakukan olehnya.
"Papa akan katakan tujuan papa." Papa Danu dengan menatap lembut pada putrinya yang memiliki sifat keras namun berhati lembut tersebut.
Khey pun menurut.
"Papa mau pergi ke Singapura untuk berobat, biar penyakit papa cepat sembuh."
"Sendiri?" Khey dengan pandangan menelisik pada kedua manik hitam papa Danu. Khey bertanya seperti itu bukan tanpa alasan.
Heh...
Hembusan nafas pendek papa Danu terdengar dengan diiringi bahu yang meluruh.
"Iya." lirih papa Danu kemudian. Tidak mungkin dirinya mampu membohongi Khey yang saat ini tak memutuskan pandangan darinya.
"Bagaimana itu mungkin pa? Papa saat ini sedang sakit, nggak mungkin dong melakukan perjalanan sendiri ke sana. Memangnya istri papa tidak mau menemani papa?" ucap Khey dengan kesal dan penuh amarah. Bahkan saking marangnya, bibirnya pun seakan tak sudi menyebut wanita bergelar istri papanya itu dengan sebutan mama.
__ADS_1
Dalam hati Khey merutuki kelakuan mamanya yang seolah tak ambil pusing dengan kondisi keluarganya. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita yang telah mekahirkannya tersebut. Bisa bisanya tak peduli pada suaminya yang sedang sakit. Bahkan setelah beberapa hari ini Khey menemani papanya, tak sekalipun Khey mendapati mamanya pulang ke rumah.
Bukannya Khey tidak berusaha menghubungi ataupun mencarinya. Namun Khey sudah berusaha sangat keras. Sebelumnya Khey mencari sang mama di butik miliknya. Entah berapa kali Khey kesana, lebih dari dua belas kali Khey pergi ke butik namun tak pernah dia menjumpai sosok wanita yang telah melahirknnya tersebut.
Bukan itu saja, entah berapa ratus kali Khey melakukan panggilan pada nomor ponsel sang mama. Namun wanita itu mengabaikannya. Bahkan pesan yang telah dikirimkan olehnya, tak satupun yang dibaca olehnya. Terbukti dari pesan tersebut yang hanya tertanda centang satu hingga saat ini.
Entah dimana wanita itu berada saat ini, Khey tak bisa menemukannya. Mungkin saja mama Maira memilih berlibur dengan lelaki itu. Ah... mengingat perselingkuhan sang mama di belakang papanya membuat Khey kembali mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Sayang papa memang berangkat sendiri dari sini, tapi papa sudah bikin janji sama mama untuk ketemu di sana." Papa Danu jelas saja berbohong karena dirinya pun tak tahu keberadaan sang istri hingga saat ini.
Hal itu terpaksa dilakukan oleh papa Danu karena tak ingin Khey kesal pada mamanya. Dan papa Danu tidak tahu jika saat ini Khey telah mengetahui perselingkuhan sang isteri. Papa Danu lebih memilih menyimpannya rapat dari semua anak anaknya.
"Kenapa harus begitu? Memangnya dia lagi di Singapura?" Khey menyelidik. Lagi lagi bibirnya tak mau menyebut mamanya.
Papa Danu mengangguk ragu.
Dan itu dapat Khey lihat dengan jelas. Kini Khey tahu jika papanya telah membohonginya. Namun Khey tidak berusaha menelisik lebih jauh. Khey memilih mempercayai ucapan papanya untuk menjaga hati papa Danu yang pastinya sangat kacau saat ini.
"Kalau Ara anter gimana?" Khey mencoba memberikan tawaran.
Papa Danu menoleh dengan ekspresi wajah yang terkejut, namun buru buru menutupinya segera dengan memberikan senyum serta memandang Khey lembut.
"Abi bisa ngurus dirinya sendiri pah. Abi udah gede."
Papa Danu menggeleng.
"Kalaupun begitu, nanti kamu pulangnya juga sendiri nggak ada yang nemenin. Mendingan nggak usah. Papa udah bisa sendiri kok, papa udah kuat." tolak papa Danu halus. Bagaimanapun papa Danu tidak ingin Khey mengetahui kebohongannya tentang janji temunya dengan sang istri. Karena papa Danu tidak melakukannya.
"Tapi pah..."
"Sayang percayalah, papa bisa sendiri. Lagian di sana nanti proses penyembuhan papa pasti lama. Papa mohon doanya saja ya?"
Khey menghembuskan nafas pendek.
"Baiklah, kalau itu kemauan papa. Ara pasti banyak banyak berdoa untuk kesembuhan papa." Khey akhirnya.
"Makasih sayang." Papa Danu merengkuh tubuh anak gadisnya ke dalam pelukannya. Mendekap erat seraya mencium pucuk kepalanya.
__ADS_1
πππ
"Sudah semua, nggak ada yang ketinggalan?" Tanya Fabian pada Khey dengan tangan yang bersiap menutup bagasi mobil.
"Sepertinya sudah semua. Tinggal nunggu papa aja." sahut Khey.
Kemudian Fabian pun menutup bagasi mobilnya setelah mendengar jawaban dari Khey.
Hari ini adalah hari keberangkatan papa Danu untuk pergi ke Singapura guna melakukan pengobatan atas penyakitnya.
Bukannya tidak percaya akan kemampuan rumah sakit di dalam negeri. Hanya saja dokter yang menangani papa Danu memang memberi saran untuk pergi ke rumah sakit di Singapura yang memiliki fasilitas lebih canggih. Agar supaya penyembuhan penyakit papa Danu bisa ditangani lebih cepat.
"Loh kok Abi yang nyetir?" Tanya papa Danu saat mendapati Fabian duduk di bangku sopir.
"Iya pah, sekalian Abi sama Ara mau pergi habis nganter papa." Fabian.
"Oh. Mau kencan ya?" goda papa Danu kemudian.
"Papa apaan sih." Khey selalu saja malu.
"Sesekali nggak boleh kan pa?" Fabian dengan sengaja membuat Khey makin malu.
"Boleh saja. Mumpung masih muda."
"Papa iih. Orang kuta berdua cuma mau nyari tempat bimbel buat Ara kok."
"Ya kan abis itu ada bonus kencannya kan sayang." Fabian mengerling jenaka.
"Abiii..." Geram Khey seraya mendaratkan pukulan pada bahu Fabian.
"Auww... lagi nyetir ini yang..." Fabian berjengit, lalu menghindar dari pukulan tangan Khey selanjutnya.
"Makanya jangan godain mulu." Khey manyun.
"Kan biar makin mesra." Fabian tetap saja tak jera menggoda Khey.
Papa Danu hanya tersenyum melihat interaksi pasangan muda itu dari jok belakang.
__ADS_1
ππππ