Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 158


__ADS_3

"Al... lo marah sama gue?" Khey dengan menggoyang lengan tangan Alya.


Sahabatnya itu tetap tak bersuara, memilih membuang pandangan ke luar jendela kelas dan mengabaikannya.


"Al, ngomong dong. Jangan diem kek gitu. Kemaren itu gue nggak tau, sumpah."


Khey menebak jika diamnya Alya gara gara gadis itu harus pulang dari rumah Fabian dengan Jackson.


Alya tetap saja bergeming.


"Udahlah Khey, nggak usah pusing mikirin Alya. Biarin aja. Ntar juga baik sendiri." Rhea santai.


"Gara gara elo tu Rhe, Alya jadi kek gini sama gue." Khey dengan menggerutu.


"Kok lo jadi nyalahin gue sih?" Rhea dengan pandangan tak terima pada Khey.


"Iyalah. Kalau bukan karena lo pulang duluan sama Farrel kemaren, Alya kan nggak ngambek kek gini sama gue." Khey mendebat.


Sedangkan Alya yang menjadi bahan perdebatan mereka tetap asyik memandang ke arah luar jendela kelas.


"Hey... gue kasih tau ya sama lo." Rhea membalik tubuh sepenuhnya ke belakang, di mana Kheu dan Alya duduk.


"Yang nyuruh gue pulang sama Farrel duluan itu suami lo." tunjuk Rhea pada Khey.


Sontak ucapan Rhea yang tanpa filter itu membuat Khey mendelik. Segera menoleh ke kepala ke kanan dan ke kiri, takut teman sekelas mereka ada yang mendengarnya.


Khey menghembuskan nafas lega seraya memegangi dadanya saat melihat segelintir teman sekelasnya terlihat sibuk dengan gawai masing masing.


"Mulut lo gue sumpal kaos kaki ntar kalau ngomongin kata sakral itu lagi." Khey melotot tajam pada Rhea.


"Sorry buat itu Khey, gue keceplosan." Rhea menutup mulutnya denga telapak tangan, ekor matanya melirik ke kanan dan ke kiri. "Sepertinya nggak ada yang denger. Untung gue juga nggak nyebutin nama." Rhea mendekatkan jarak keduanya dengan setengah berbisik.


Sungguh Rhea sangat menyesal karena berkata tanpa sadar menyebutkan status Fabian.


"Awas kalau lo keceplosan lagi. Bisa heboh ntar seluruh sekolah." peringat Khey. Tentu saja dengan bersuara pelan juga.


"Eh... tapi Khey nggak papa juga lo kalau semua tahu status lo sama Fabian. Biar nggak ada yang deketin lo ataupun suami lo. Secara Fabian itu kan ganteng banget, tajir lagi. Biar si ombre juga tau diri, nggak nempel kek lintah sama suami lo." oceh Rhea masih dengan setengah berbisik.

__ADS_1


Plak.


Khey memukul lirih lengan tangan Rhea yang menumpu pada mejanya.


"Kok lo pukul gue sih Khey, salah lagi omongan gue?" Rhea mengusap lengan tangannya dengan bersungut.


"Sangat salah." Khey mendelik tajam.


"Salahnya dimana coba?" Rhea tak terima.


"Gimana nasib gue sama Fabian nanti kalau seantero sekolah tahu. Apalagi kalau pihak sekolah tahu, kami berdua bisa dikeluarin dari sekolah ini. Bentar lagi ujian Rhe, bisa hancur berantakan masa depan gue sama Fabian nanti."


Apa yang dikatakan Khey adalah sesuatu yang normal. Karena Khey tidak tahu jika orang tua Fabian adalah pemilik yayasan sekolahnya. Khey sungguh takut jika sekolah mengetahui statusnya yang sudah menikah bakal menjadi pengahancur masa depannya.


Rhea manggut manggut.


"Iya juga sih. Sorry gue nggak mikir sejauh itu Khey."


"Gak papalah. Yang penting jangan ulangi lagi."


"Tapi... gue masih suka sebel kalau liat si ombre yang sok deket sama suami lo. Juga Doni yang masih suka nyari nyari lo." Rhea dengan raut wajah geram.


"Udahlah. Doni nggak usah diurusin. Soal si ombre biar gue ngomong sama Abi biar dia lebih jaga jarak."


Rhea menatap Khey dengan tatapan aneh. "Abi?"


Khey mengangguk.


"Cieee panggilan kesayangan niye..." olok Rhea pada Khey.


"Paan sih... orang itu memang nama dia kok." Khey dengan rona merah di pipinya.


"Setau gue namanya Fabian, bukan Abi." Rhea masih saja menggoda.


"Abi itu panggilan dia di rumah Rhe, gue akhirnya juga ngikut. Jadi keterusan gitu." Khey memberi alasan. Toh memang itu yang sebenarnya. Meski yang sebenarnya panggilan Abi itu keluar dari bibir mungil Khey saat kecil. Hingga akhirnya seluruh keluarga besar Fabian memanggilnya Abi.


"Oh... jadi gitu..." Rhea mengerjapkan kedua kelopak matanya. Lalu menyangga wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Terus panggilan sayang dia sama lo apaan Khey?" Rhea mengerling.


Belum juga Khey menjawab.


"Yesss.... good job Jack!" teriak Alya dengan kegirangan membuat Khey dan Rhea tersentak kaget. Keduanya segera menoleh ke arah Alya.


"Elo kenapa sih Al? Teriak nggak kira kira." Khey dengan memegangi dadanya efek terkaget dengan teriakan Alya beberapa saat lalu.


Alya menoleh ke belakang.


"Jackson berhasil cetak skor Khey! Jack berhasil!" Alya kegirangan dengan memegangi tangan Khey. Mengeratkan tangannya seolah meluapkan rasa senangnya.


Khey dan Rhea saling pandang mendapati reaksi Alya yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


"Siapa yang cetak skor Al?" kali ini Rhea yang bertanya.


"Jack. Jackson!" Alya dengan wajah berbinar.


"Jackson?!" Khey dan Rhea serempak dan saling pandang.


Alya mengangguk.


"Lihat noh." Alya menujuk lapangan basket yang memang nampak dari kelas mereka.


"Tu kan Jackson nge_shoot lagi." Alya kegirangan.


Sekali lagi Khey dan Rhea saling pandang, curiga.


"Kita nggak salah dengar kan Khey?" Khey pada Rhea.


"Sepertinya tidak." Rhea belum sepenuhnya yakin.


"Jadi sedari tadi... sebenernya dia nggak marah sama gue?" Khey seolah bertanya pada dirinya sendiri.


"Alya!!"


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2