Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 172


__ADS_3

Khey menggeleng lemah.


"Sorry gue nggak bisa." Khey dengan kelat seraya menunduk. Khey sungguh tak mampu menatap mata Doni yang terlihat mengharapkan dirinya kembali.


Meski sudut hatinya masih menyimpan secuil rasa untuk Doni. Entah itu rasa cintanya yang masih sedikit tersisa ataupun rasa bersalah yang menghantui karena perbuatan sang mama. Khey tidak tahu. Namun hatinya merasakan nyeri saat mengatakan penolakan pada Doni.


"Kenapa? Gue masih cinta sama lo, dan gue yakin lo juga masih memiliki rasa itu ke gue." Doni menuntut jawaban Khey dengan nada dibuat selembut mungkin, meski dalam hatinya sangat kesal. Bahkan sumpah serapah keji dia ungkapkan dalam hatinya.


Tak ada jawaban dari bibir Khey. Gadis itu menunduk tergugu. Bibirnya ingin mengucapkan kata tidak namun hatinya melarangnya keras. Khey sungguh bingung saat ini, rasa iba pada Doni menyusup dalam dadanya.


Khey sangat memahami kesakitan yang Doni alami karena perbuatan mamanya yang mengakibatkan mama Doni meninggalkannya untuk selamanya. Doni pasti merasakan kehilangan.


Bahkan saat ini Khey yang hanya diabaikan oleh sang mama saja sangat merasakan kesakitan dan kehilangan sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


Khey tak mampu membayangkan bagaimana perasaan hampa Doni saat ini. Cowok tampan yang pernah memenuhi seluruh sudut hatinya itu pasti merasakan kehampaan akibat ditinggal sang mama dan pastinya dinomorduakan oleh papanya. Karena Khey yakin jika papa Doni lebih banyak meluangkan waktu untuk mama Maira ketimbang dengan Doni.


"Khey..." Doni menggoyang telapak tangan Khey yang berada di dalam genggaman tangannya.


Khey pun mendongak.


Air mata meluruh pada kedua pipi Khey yang semakin terlihat cabi saat ini.


Dengan sigap Doni beranjak dari duduknya. Beralih mengambil duduk di sisi Khey. Doni harus berusaha keras untuk membawa Khey ke dalam pelukannya kembali.


"Kenapa nangis?" Tanya Doni lembut seraya mengusap lelahan air mata yang mengalir dari kedua sudut mata gadis itu dengan ibu jarinya.


Bukannya mereda, Khey malah semakin tergugu. Gadis itu tak mampu berkata kata. Hanya mampu menahan nyeri di dala. hatinya yanv terasa bagai teriris sembilu.


Khey bukan gadis yang egois dan tak memiliki hati. Jiwanya seketika melemah setelah mendengar kenyataan yang keluar dari mulut mantan kekasihnya. Apalagi saat mendapati raut wajah sedih cowok tampan yang pernah memenuhi relung hatinya itu, Khey sungguh merasa sangat bersalah.


"Lo beneran cinta sama si tengil itu?" Kali ini Doni menyelipkan kegeraman dalam ucapannya seraya meremas telapak tangan Khey yang berada dalam genggamannya.


Bukannya tak sengaja, melainkan Doni sengaja melakukannya untuk membangun kepercayaan Khey pada kesungguhannya yang menginginkan hubungan mereka kembali terjalin.


Khey menelan ludahnya kelat.

__ADS_1


Mana mungkin dirinya jujur kalau sang pemilik hatinya saat ini adalah Fabian tengil. Tidak mungkin itu Khey lakukan.


"Lo sekarang pacaran kan sama dia?" Doni lagi dengan tatapan yang Khey pahami ada kesedihan dari sorot mata elangnya.


Khey pun menganggukkan kepalanya pelan.


Doni mendesah kasar seraya melepaskan genggaman tangan Khey. Tak urung hal itu membuat Khey tersentak kaget.


"Apa gue bener bener nggak ada kesempatan lagi buat balik sama lo Khey?" Apanya Donk terdengar lirih. Ada kesedihan yang tergambar jelas dari ucapannya.


"Maaf." lirih Khey dengan menunduk, meremas kedua tangannya yang saling bertaut. Khey sungguh tak sanggup untuk menatap mata Doni.


Doni tersengih. Gurat kecewa tampak jelas pada wajahnya, meski itu hanya pura pura.


Gue beneran minta maaf Don, gue nggak mungkin sama lo lagi. Gue sama Bian udah nikah... Tentu saja kalimat itu hanya mampu Khey ucapkan di dalam hatinya saja.


Sejenak keduanya saling diam tanpa kata.


Hingga beberapa saat setelahnya Doni terlihat bergerak. Merubah duduknya menghadap ke arah Khey kemudian meraih bahu gadis yang masih setia menunduk dengan meremas tangan untuk menghadap dirinya.


Setelahnya tangan Doni terulur meraih dagu Khey untuk mendongak. Kedua pasang mata itu saling bersitatap sekarang. Doni bahkan menatap lekat pada manik hitam gadis di depannya.


"Gue masih sayang sama lo Khey." Doni kembali meyakinkan Khey dengan tatapan lembut mengiba.


Khey termenung. Sungguh hatinya tak mau menyakiti cowok tampan di depannya. Namun dirinya juga sadar bahwa tak mungkin menerima cinta Doni kembali. Khey telah memiliki Fabian sebagai suami bukan sekedar pacar yang bisa ia lepaskan begitu saja.


Hati Khey gundah gulana. Otaknya berfikir keras bagaimana cara menyampaikan penolakan yang tidak akan melukai Doni. Dengan tatapan tak lepas pada kedua manik elang milik ketos tampan yang pernah digilai oleh Khey.


"Sorry Don, gue nggak bisa sama lo." Khey dengan menahan dada Doni karena di tengah kegundagan hati Khey, wajah Doni telah mengikis jarak hingga menyisakan jarak lima centi saja. Dan Khey tahu pasti Doni bakal menciumnya.


Huh...


Hembusan nafas gusar dari mulut Doni menerpa wajah Khey. Lalu Doni terlihat menjauhkan wajah dan membuang muka kesal.


Khey pun melakukan hal yang sama. Mengalihkan pandangan dari Doni untuk meredakan gemuruh di dadanya. Yang Khey tidak tahu karena apa.

__ADS_1


Sial! Padahal tinggal satu senti saja gue berhasil mencium bibirnya... umpat hati Doni dengan mencoba menguasai emosinya.


"Lo yakin beneran jatuh cinta sama dia?" Doni dengan mengepalkan tangan kuat.


Khey memilih mengangguk. Biarlah jika kebenarannya membuat Doni membencinya. Khey tak ingin menghancurkan rumah tangganya yang baru seumur jagung.


"Lo belum tau aja siapa dia yang sebenarnya Khey. Coba lo tau dia yang sebenarnya, lo pasti gak bakal mau sama dia." Doni berusaha memprovokasi Khey.


Kening Khey mengerut mendengar pernyataan Doni. Kemudian menoleh ke arah sang mantan.


"Maksud lo apa?" Khey sungguh penasaran.


"Si tengil itu nggak sebaik yang lo kira. Gue yakin dia nggak sepenuhnya cinta sama lo." Doni tanpa memandang Khey. Karena tak ingin Khey menyelidik wajahnya untuk mencari kebenaran omongannya.


"Nggak usah sok tau lo." Khey menahan emosi. Meski Khey tidak percaya akan omongan Doni. Bukan berati hatinya mengabaikan begitu saja ucapan ketos tampan tersebut.


"Gue emang tau siapa dia." Doni dengan tatapan mengejek.


"Don, hubungan kita udah berakhir bukan karena Fabian. Jadi lo nggak usah ngejelekin dia. Dan lagi gue percaya sama dia." Khey dengan beranjak berdiri. Lebih baik Khey mengakhiri pertemuannya dengan Doni.


Khey berusaha tidak mempercayai sedikitpun ucapan Doni. Meski Khey sebenarnya hanya tahu masa kecil Fabian yang sangat membencinya, itupun karena ulahmya saat kecil yang selalu mengganggu Fabian. Namun saat ini Fabian begitu menyayangimu bahkan bisa dikatakan overprotektif padanya.


Doni terkekeh kecil.


"Okey. Lo boleh nggak percaya sama omongan gue." Doni menjeda ucapannya sesaat. Menatap Khey yang telah berdiri dari duduknya. "Lo boleh coba sebut nama Bella di depannya. Setelahnya lo pasti percaya kalau dia sama. Sama sama player." Doni dengan menekan kata player.


Khey berusaha tidak terprovokasi.


"Sorry gue nggak semudah itu bisa lo provokasi. Tanks karena udah mau ketemu sama gue." Khey dengan kesal kemudian beranjak pergi meninggalkan Doni.


"Lo pikir lo bisa lepas dari gue dengan mudah khey. Jangan harap." Doni dengan senyum seringai.


Beberapa langkah setelah Khey menjauh.


Tubuhnya tersentak kaget saat ada yang mencekal pergelangan tangan kirinya.

__ADS_1


"Elo!" Khey dengan kedua mata melebar karena terkejut.


😍😍😍😍


__ADS_2