
Aaaaaaa ...
Spontan Khey berteriak kencang hingga membuat beberapa orang yang sedang duduk di angkringan tak jauh dari pos ronda langsung mendatangi mereka.
Salah paham pun terjadi, kedua remaja yang tak lain adalah Khey dan Fabian tersebut disangka sedang berbuat asusila.
Entah bagaimana kejadiannya, pada saat orang datang posisi mereka adalah Fabian yang berada di atas menindih tubuh Khey.
Khey dan Fabian berusaha menjelaskan bahwa mereka hanya salah paham, namun tidak ada yang mempercayai ucapan mereka. Apalagi kondisi baju seragam atas Fabian yang setengah kancingnya terlepas, membuat mereka semakin yakin bahwa keduanya sedang melakukan tindakan asusila.
Dan di tengah perdebatan mereka tetiba ada seorang pemuda yang menyela jika dia mengenali Khey sebagai warga komplek perumahan di sana.
Mereka pun menggiring keduanya untuk pergi ke rumah kedua orang tua Khey, untuk mempertangggung jawabkan perbuatan keduanya.
Di tempat kediaman keluarga Khayyara.
"Saya siap bertanggung jawab om ... Saya akan menikahi Khey. Saya tidak ingin keluarga om menanggung malu." Fabian berucap dengan cepat setelah papa Khey mengungkapkan kemarahannya kepada Khey anak perempuannya di depan Fabian.
Khey memandang Fabian sembari membulatkan kedua bola matanya kaget setelah mendengar ungkapan persetujuan untuk menikah dengannya.
Para warga yang menggiring kedua remaja itu ke kediaman keluarga Khayyara memang mensyaratkan keduanya segera menikah untuk mempertanggungjawabkan perbuatan asusila mereka.
Kedua orang tua Khey tidak dapat menampik keputusan tersebut karena mereka membawa bukti beberapa foto pada ponsel salah seorang warga.
Entah kapan foto itu diambil, bahkan Khey dan Fabian tidak menyadari sama sekali saat mereka mengambil gambar itu.
Setelah Fabian beserta kedua orang tua Khey menyetujui permintaan warga komplek perumahan, mereka pun pamit undur diri untuk memberikan ruang pada keluarga Khayyara untuk berdiskusi.
"Ma ... Khey gak mau nikah sama cowok tengil itu. Khey tidak ngapa - ngapain sama dia, beneran ... suer. Semua itu hanya salah paham." Khey memeluk salah satu kaki mamanya yang berdiri hendak meninggalkan ruang tamu.
Mama Khey bergeming.
"Kamu harus tetap menikah, besok pagi keluarga Fabian akan datang ke rumah beserta pak penghulu. Kamu harus mempertanggungjawabkan kelakuanmu!" sentak papa Khey.
"Tapi Pa ...,"
"Gak ada tapi - tapian ...kamu gak denger ucapan warga tadi?!" Papa Khey menatap tajam pada Khayyara.
"Paa ...." kedua bola mata Khey berkaca - kaca saat mendapati tatapan tajam dari papanya.
__ADS_1
"Turuti perintah papa, kalau kamu masih menganggap papa adalah orang tuamu." putus papa Khey sembari meninggalkan ruangannya tamu dengan gegas.
Khey menyadari jika keputusan papanya sudah final dan tidak dapat dirubah lagi. Entah bagaimana nasibnya nanti. Pandangan matanya beralih kepada mamanya, berharap wanita paruh baya yang telah melahirkannya tersebut memahami isi hatinya.
"Mama tidak bisa membantumu ... jalani saja apa yang sudah menjadi keputusan papa. Persiapkan dirimu untuk menikah besok." mama Khey berucap dengan dingin.
"Bian ... tante tinggal dulu ya." pamit mama Khey kemudian berlalu pergi menyusul suaminya.
Fabian hanya mengangguk dengan tersenyum kecil.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Khey menatap sengit pada Fabian. "Ini semua gara - gara lo!! Dasar cowok resek lo ...!!"
Fabian tidak bereaksi, hanya menunduk dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya.
Sebenarnya Fabian juga tidak menyangka jika dirinya akan berbuat sejauh ini, berkata siap menikah dengan Khey. Padahal dirinya sangat tahu jika Khey sudah memiliki pacar, yaitu ketua osis di sekolahnya.
Dan lagi ... kenyataannya dirinya tidak memiliki rasa pada Khey meski seringkali menggoda gadis itu. Fabian hanya peduli, tidak ingin gadis itu tersakiti oleh Doni suatu saat nanti.
"Bian!!" teriak Khey memanggil nama cowok yang masih duduk bersimpuh di lantai tak jauh darinya.
Fabian mendongak.
"Maaf ... gak bisa Khey, gue udah janji sama papa lo di depan semua orang. Gue gak bisa cabut omongan gue gitu aja. Kita harus jalani pernikahan kita besok, demi nama baik keluarga lo ...." Bian berucap dengan selembut mungkin untuk memberikan ketenangan pada gadis di depannya.
"Tapi gue gak cinta sama lo, gue udah punya cowok. Elo gak mikir apa, gimana hubungan gue sama cowok gue nantinya. Elo mah enak jones ... gak bakalan ada yang elo sakitin. Gue ...?!"
"Maaf ..." Fabian hanya berucap maaf dengan pelan sambil menunduk.
Khey mendekati Fabian lalu duduk di hadapannya. Kedua tangannya memegang bahu cowok yang sedang terduduk di lantai dengan menunduk, dengan keras Khey menggoyangkan bahu Fabian.
"Gue gak mau nikah sama lo, gue gak mau! Gue mohon tarik ucapan lo, kita gak ngapa - ngapain Bi ... kita gak ngapa - ngapain!!! Besok kita coba bujuk papa sama mama gue, mereka pasti bisa mengerti ...." Khey memohon dengan air mata mulai berderai membasahi kedua pipinya.
Khey mengerang frustasi, menyesali kepergiannya sore tadi, dirinya tidak menyangka jika acara kencannya yang gagal dengan Doni berakibat dirinya harus menikah dengan cowok tengil yang selama ini suka menganggunya.
"Anggap ini sebagai takdir kita Khey, Allah membuat kita berjodoh." ucap Fabian lirih dengan masih menunduk.
Khey memejamkan mata sejenak mendengar ucapan Fabian yang tetap ingin menikahinya, alih - alih sebagai tanggung jawab. Kedua tangannya tanpa sadar meremas bahu Fabian.
"Isshh ..." Fabian meringis saat Khey meremas bahunya kuat. "Khey ... lo belum potong kuku ya?!" Fabian mendongak masih dengan meringis.
__ADS_1
Dada Khey naik turun setelah
mendengar pertanyaan Fabian. Dirinya tidak habis pikir dengan jalan pikiran cowok tengil di hadapannya, karena di saat kondisi tegang seperti ini Fabian malah mempertanyakan kukunya.
"Gue potong kuku atau enggak, itu gak ada urusannya sama lo Bi, gak usah dibahas. Yang harus kita bahas saat ini adalah tentang pernikahan kita, kita harus kerjasama buat gagalin pernikahan ini!" Khey mengeram kesal dengan mata yang masih merah serta bulir bening yang mengalir hingga membuat wajahnya licin bak pualamnya basah.
"Tapi beneran sakit ini Khey, kuku lo nancep ke bahu gue." Fabian mengusap bahunya yang terasa perih masih dengan meringis.
Khey terhenyak, dengan cepat melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Fabian.
"Maaf ..." Ucap Khey pelan sembari memandangi jemari tangannya yang ternyata memang memiliki kuku yang panjang.
Fabian meraih jemari tangan Khey dan menangkupnya dengan kedua tangannya.
"Khey kita jalani pernikahan kita besok, kita sama - sama belajar agar pernikahan kita mendapat ridho dari Allah. Gue yakin ada alasan yang tepat mengapa Allah menyatukan kita meski belum ada cinta di dalamnya." Fabian menenangkan Khey dengan berucap lembut serta pandangan mata yang meneduhkan.
Kelembutan ucapan serta keteduhan tatapan mata Fabian membuat Khey terpaku, dirinya menatap Fabian dengan wajah basahnya.
Ada desir lirih dari dalam hatinya yang membuat tubuhnya menghangat dan nyaman. Khey tidak menyangka jika cowok yang dianggapnya tengil selama ini mampu membuat dadanya berdetak lebih kencang.
Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku, kenapa jantungku tiba - tiba berdebar begini? Bahkan di saat dengan Doni pun, aku tidak pernah merasakan kenyamanan seperti ini ... Khey membatin dengan masih termangu menatap keteduhan pandangan Fabian.
Fabian meraih tubuh Khey yang mematung, merengkuhnya ke dalam dada bidangnya. "Gue gak bakal nyia - nyiain apalagi nyakitin lo, gue bakal ngelindungi lo dengan segenap jiwa raga gue. Gue akan selalu ada buat lo, gue janji!"
Pernikahan mendadak tanpa cinta pun tidak --dapat terelakkan lagi. Fabian dan Khey diharuskan menikah, apalagi tindakan mereka diperkuat dengan adanya bukti foto yang menunjukkan bahwa Fabian tengah menindih tubuh Khey di pos ronda. Bahkan kedua orang tua Fabian juga pasrah pada kejadian yang menimpa anak tunggal mereka.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
__ADS_1
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»