Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA81


__ADS_3

"Fabian!! Tungguin gue!" Nina berseru dengan melambaikan tangan serta berlari kecil menyusul Fabian yang tengah berjalan seorang diri di koridor sekolah.


Fabian yang mendengar seseorang berteriak dengan suara tak asing menyebut namanya pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke belakang.


Terlihat Nina berlari kecil dengan tas punggung yang bergerak tak beraturan karena berlari kecil menuju ke arah Fabian.


Fabian tau betul maksud gadis itu memanggil namanya. Nina pasti ingin menginterogasinya tentang kepergian dirinya dari pesta ulang tahun Nina yang tanpa pamit. Pasti dia sangat kesal.


Fabian pun memutuskan menunggu gadis berambut ombre itu hingga dekat dengannya.


Fabian melakukan itu bukan karena dia menyukai Nina, melainkan Fabian melakukannya karena menghargai hubungan keduanya yang telah berteman cukup lama.


"Bian kenapa sih semalem lo pulang gak pamit sama gue? Gak nunggu pesta gue selesai, gue kan nyariin lo... kan kesel jadinya..." tanya Nina pada Fabian dengan memberengut kesal.


"Sorry." Fabian dengan memandang Nina datar. Fabian tidak menyangka jika Nina bakal minta penjelasan seolah mereka adalah pasangan kekasih.


"Yang gue butuhin bukan permintaan maaf dari lo Fab, gue butuh penjelasan..." Nina ketus.


Fabian pun mengernyit, memandang heran pada Nina setelah mendengar pernyataan gadis yang berprofesi sebagai model tersebut.


"Butuh penjelasan dari gue? Tentang apa? Semalem?"


"Iyalah... apalagi... elo kan pergi tanpa pamit ke gue. Ngapain sih lo buru buru pergi gitu aja, kek jailangkung kabur aja..." Nina dengan memberengut kesal. Seolah dirinya sedang menuntut penjelasan dari kekasihnya.


Nina yang telah berharap jika Fabian bisa ditunjukkan sebagai pasangannya saat ulang tahun sweet seventeen semalam masih merasa gondok karena niatnya itu gagal.


"Nin... kita gak ada hubungan apa apa. So gue nggak perlu kasih penjelasan apa apa sama lo. Lagian gue juga udah ngechat lo saat gue pamit pulang, gue rasa itu sudah cukup." Fabian mempertegas hubungannya dengan gadis ombre. Fabian tidak ingin memberi kesempatan Nina untuk lebih dekat dengannya, layaknya seorang remaja cewek dan cowok yang memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.


Hek...


Nina tercekat, mendapat jawaban telak dari Fabian. Cowok yang biasa murah senyum itu, saat ini menunjukkan wajah yang tak ramah kepadanya.


Nina berusaha tetap tenang dan santai, seolah tidak terpengaruh oleh ucapan Fabian yang menohok.

__ADS_1


"Tapi kan elo udah janji mau nemenin gue di pesta gue, kenapa lo malah pergi gitu aja sih Fab... Gue kan kesel jadinya." Nina menurunkan intonasi suaranya yang semula terdengar kesal, merubahnya selembut mungkin.


Fabian mengerutkan kedua alis matanya. Sedetik kemudian menghembuskan nafas pendek.


"Nin, gue janji bakalan datang ke pesta ulang tahun lo dan itu udah gue lakuin. Tapi gue nggak janji buat nemenin lo sampai akhir pesta lo. Lagian janji gue buat perform di pesta lo juga udah gue lakuin. So nggak salah kan gue pulang... di sana juga masih banyak temen lo yang lain. Yang masih ada buat meramaikan pesta ulang tahun lo, iya kan?!"


"Tapi kan yang gue butuhin elo Fab..." Nina menunduk seolah menunjukkan bahwa dirinya kecewa akan sikap yang telah Fabian ambil semalam.


"Sorry Nin, gue nggak bisa ngelakuin yang lebih dari itu. Kita hanya temen gak lebih." Fabian membuat pembatas antara dirinya dengan Nina.


Nina mendongak, memandang Fabian dengan membuat kedua bola matanya berembun seolah Nina sangat sedih atas ucapan Fabian. Nina ingin Fabian bersimpati kepadanya. Nina sudah biasa berakting jadi tidak susah untuk merubah mimik wajahnya menjadi sedih bahkan terlihat seperti ingin menangis.


"Kenapa sih elo tega sama gue Fab?"


"Maksud lo apaan? Gue ngapain lo Nin?" Fabian berusaha untuk tidak terjebak ke dalam situasi menyedihkan yang dibuat oleh Nina. Di samping dirinya sudah memiliki Khey, Fabian juga tidak memiliki rasa yang lebih pada Nina. Selama ini Fabian hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tidak ada yang lebih dari itu.


"Ggue..." Nina menjeda ucapannya, berpura pura menahan isak tangis. Seolah Nina ingin menunjukkan kesedihannya.


Fabian hanya memandang Nina datar. Fabian tahu arah pembicaraan Nina selanjutnya.


"Terus...?" Fabian terdengar datar dan menunjukkan sikap santai. Seolah ungkapan perasaan Nina bukanlah hal penting baginya.


Sebuah sikap yang tidak seperti ekspektasi Nina.


"Terus ya... gue minta jawaban dari lo." Nina kikuk karena Fabian sepertinya tidak menganggap ungkapan hatinya.


"Sorry Nin gue nggak bisa. Gue udah ada cewek lain yang gue cintai." Fabian tegas.


Hek.


Nina pun harus menelan ludahnya kelat. Nina tidak menyangka jika Fabian menolaknya dengan tegas, tanpa basa basi.


"Siapa dia Fab? Cewek yang semalem itu kah?" Nina bertanya dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


"Siapapun dia, itu bukan urusan lo. Lo nggak perlu tau."


"Fab..."


"Udahlah gak perlu dilanjut lagi. Gue beneran gak bisa sama lo. Udah hampir masuk." Fabian melirik jam pada pergelangan tangannya.


"Mendingan lo ke kelas, nggak usah berharap sama gue. Sorry..." Fabian membalik tubuhnya dan segera berlalu meninggalkan Nina.


Nina pun memandang kepergian Fabian dengan kesal. Menyurut bulir bening palsu yang menetes di pipinya dengan kasar.


"Gue nggak bakalan lepasin lo gitu aja Fab. Gue pasti bisa ngerebut elo dari cewek jelek itu. Toh gue lebih cantik dari dia, elo pasti akan berpaling ke gue." Nina menggumam lirih dengan kedua tangan yang terkepal. Nina mengira jika Bella yang datang bersama Fabian saat ulang tahunnya semalam adalah kekasih Fabian.


Fabian berjalan dengan langkah lebar untuk menuju kelasnya agar segera sampai. Fabian memilih melewati koridor ke arah toilet sekolah yang terletak di pojok sekolah untuk mempersingkat jarak.


Namun saat Fabian hendak membelokkan diri di ujung koridor, Fabian menangkap bayangan seorang siswi sedang ditarik kasar oleh seorang siswa.


Fabian menghentikan langkah kakinya


"Ara..." Fabian menggumam seraya mendekat pada keduanya.


"Lepasin tangan gue..." Khey memohon.


"Nggak! Gue nggak izinin elo ninggalin gue!" Doni dengan mata berkilat, mencekal kedua tangan Khey kuat. Membuat Khey pun meringis di sela isakannya.


"Don, bentar lagi masuk kelas. Gue ada ulangan." Khey memberi alasan agar ketos tampan yang pernah digilainya tersebut melepaskan tangannya.


"Gue nggak bakal lepasin lo kalau lo masih kekeh buat pisah dari gue!" Doni dengan rahang mengeras.


Terlihat kemarahan dari wajah putih Doni yang telah memerah tersebut.


"Lepasin dia!!"


Fabian berteriak dengan kedua tangan yang mengepal di sisi tubuhnya. Rahangnya tak kalah mengeras saat melihat tangan Doni mencekal Khayyara dengan kuat.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2