Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 186


__ADS_3

Brakk.


Dengan telapak tangan terkepal Fabian mendaratkan tinjunya pada meja kayu yang beberapa saat lalu digunakan Farrel untuk bekerja. Fabian sudah tidak dapat lagi menahan emosinya.


Khey yang baru kali ini melihat sisi Fabian yang keras seketika membola dan menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. Seluruh tubuhnya bergetar, tak dapat dipungkiri jika Khey merasakan sedikit ketakutan saat merasakan aura kemarahan dari Fabian.


Posisi Fabian menunduk menumpu kedua tangan pada tepi meja dengan memunggungi Khey. Fabian menarik nafas kuat dengan kedua mata yang terpejam untuk kembali menguasai diri setelah meluapkan emosi dengan memukul meja kerja di depannya.


Setelah merasa dapat mengendalikan emosinya dengan baik, Fabian segera membalik tubuh dan menyandarkan tubuh pada tepi meja.


"Bisakah kita menyelesaikan masalah ini dengan berbicara baik baik?" Fabian dengan suara berat. Menatap tajam pada kedua manik hitam khey yang telah tergenang oleh kabut bening yang siap mengucur.


Khey tak menyahut. Gadis itu hanya diam dengan tubuh yang masih bergetar karena syok mendapati sisi Fabian yang keras.


Meski dalam hati Fabian tidak tega melihat khey yang syok dengan tubuh gemetar, Fabian sengaja tidak mengikis jaraknya dengan Khey karena ia ingin memberi pelajaran pada gadis itu agar tidak keras kepala dan bertindak semaunya.


"Bi... tangan lo berdarah." Khey sedikit takut akan raut wajah Fabian yang memerah marah saat menyadari punggung telapak tangan Fabisn mengalihkan cairan merah.


Fabian menggerakkan tangan kanan yang tadi digunakan untuk meninju meja. Hela nafas pendek terdengar keluar dari mulutnya saat pupil matanya mendapati warna merah darah pada punggung tangannya.


"Gue obatin dulu." Khey perlahan mendekat dan meraih tangan kanan Fabian.


"Nggak usah." Tepis Fabian kasar.


Dan itu membuat Khey tersentak kaget. Ada rasa ngilu bercampur nyeri dalam dada Khey saat Fabian menepus kasar tangannya.


"Bi elo...


"Nggak usah peduliin luka gue."


"Tapi itu bany..."


"Gue bilang nggak usah!" lagi Fabian memotong ucapan Khey dengan berteriak nyalang, bahkan dadanya terlihat naik turun karena marah.


Brak...


"Bian!" Farrel membuka pintu dengan kasar. Dia mengurungkan langkah kakinya untuk mendekat saat merasakan aura pertengkaran pada Fabian dan Khey. Saat mendengar teriakan Fabian dari dalam ruangan, Farrel memang segera bergegas. Dia takut Fabian melakukan sesuatu yang di luar nalar, mengingat raut wajah tak biasa yang nampak dari Fabian sedari mengusirnya keluar.

__ADS_1


"Ada obat obatan untuk luka Rell?" tanya Khey setelah mendapat Farrel yang membuka pintu.


"Ada yang luka?" tanya Farrel dengan raut wajah cemas.


"Nggak perlu Rell, lo keluar aja." dengan suara berat Fabian mengusir Farrel.


"Gue yang butuh Rell, tolong ambilkan." Khey dengan nada memerintah dan tak ingin dibantah.


"Gue ambilin, bentar." Farrel segera beranjak pergi.


Sepeninggal Farrel, Fabian dan Khey hanya saling diam. Tak ada satupun yang berucap kata.


Terdengar hembusan nafas berat keluar dari mulut Fabian berulangkali, Khey pun beranjak mendekat.


Sedikit ragu namun tetap memberanikan diri, Khey memeluk tubuh Fabian yang menunduk tak mempedulikan keberadaanya.


"Maaf." lirih Khey membenamkan wajah pada ceruk bahu Fabian.


Fabian hanya diam tak bereaksi, tak sedikitpun membalas ucapan maaf Khey maupun pelukan dari gadis yang telah sah menjadi isterinya tersebut.


"Sorr_rry lamma." Farrel menghentikan langkah kakinya saat memasuki ruangan menemukan pasangan suami isteri itu berpelukan. Tidak, lebih tepatnya Khey yang memeluk Fabian. Karena kedau tangan Fabian menumpu pada tepu meja.


"Nggak papa Rell." ucap Khey setelah mengurai pelukan dari tubuh Fabian. Dan segera berjalan menuju pintu. Dimana Farrel memaku tubuhnya di sana.


"Makasih." Khey mengambil kotak obat di tangan Farrel dengan sedikit menunduk guna menutupi wajahnya yang sembab.


Meski Farrel adalah sahabat suaminya, namun Khey tidak ingin Farrel menemukan jejak sembab di wajahnya.


"Enggak parah kan Khey?"


Khey menggeleng.


"Kalau gitu gue tinggal aja ya. Kalau ada apa apa lo bisa panggil gue di ruangan sebelah."


Farrel segera menutup pintu dari luar setelah mendapatkan anggukan dari Khey.


Dan Khey bergegas mendekati Fabian kembali.

__ADS_1


"Bilang kalau perih." Khey membersihkan tetesan darah yang hampir mengering pada buku buku jemari kanan Fabian.


Lagi lagi Fabian hanya bungkam. Hanya melakukan gerakan refleks saat tanpa sengaja Khey menekan luka Fabian terlalu kuat.


"Dulu gue menyukainya." lirih Fabian membuka mulut dengan menatap pada jemari tangannya yang telah dioles obat oleh sang isteri.


Khey menghentikan kegiatan tangannya mengoles pada luka Fabian kemudian mendongakkan kepala. Adabrasa sesak dalam hati Khey saat Fabian mengakui menyukai gadis itu.


"Itu jauh sebelum kita menikah." lanjut Fabian beralih menatap lekat manik hitam Khey yang masih menyisakan jejak kabut sembab.


Tidak ada keinginan Khey untuk bertanya. Gadis itu hanya diam menunggu Fabian mengungkapkan kebenarannya. Dalam dadanya berdetak tak karuan, rasa cemburu, marah dan juga kesal membaur menjadi satu. Tidak pernah menyangka jika Fabian memiliki rasa pada gadis lain, meski itu sebelum mereka menikah. Khey berusaha untuk tetap tenang hingga dirinya mendapatkan keterangan penuh dari mulut Fabian.


"Pas gue mengungkapkan isi hati gue, dia menolak. Lebih memilih sahabat gue." Fabian tanpa memutus pandangan matanya dari Khey.


Khey menelan ludahnya kelat. Jujur saja, ada rasa yang menyesak menghimpit dada hingga membuatnya sulit untuk bernafas.


"Foto itu foto lama. Diambil pas kita masih berteman. Sebenernya bukan cuma gue sama dia aja. Masih ada temen yang lainnya. Semenjak gue kita menikah nggak pernah komunikasi lagi sama dia. Hingga gue tanpa sengaja bertemu dengannya lagi dan membuat kita bertengkar beberapa hari lalu."


"Membuat kita bertengkar beberapa hari lalu?" Khey mengulang kalimat terakhir Fabian dengan kening mengerut.


Fabian mengangguk.


"Dia Bella, gadis yang hamil sama Doni." terang Fabian membuat Khey membola.


"Bukane lo udah gue kasih tau, kenapa lo terkejut gitu Ra?" Fabian bingung dengan raut wajah Khey saat ini.


"Iya gue lo udah kasih tau gue. Tapi gue nggak begitu paham sama wajahnya. Waktu itu posisi cewek itu mrmbelsakangi gue, jadi gue nggak hafal dengan wajahnya." Khey memang tidak melihat jekas wajah Bella saat itu.


"Lo masih nyimpen nomor yang kirim foto foto itu?" tanya Fabian dengan rasa curiga.


"Masih. Gue nggak menghapusnya kok. Kalau nggak salah nomornya sama, nggak ganti ganti."


Khey pun bergegas meraih tas selempang miliknya dan mengambil ponselnya. Kemudian menyerahkannya pada Fabian.


Kedua mata Fabian melebar sempurna saat mengetik nomor yang mengirim fotonya pada Khey pada ponsel miliknya.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2