
Dug.. dug.. dug..
Terdengar tapak kaki dengan tergesa menuruni tangga, membuat bunda menoleh ke arah tangga.
"Eh... putri bunda yang cantik udah bangun." Bunda dengan tersenyum mendapati sang menantu menuruni anak tangga dengan langkah ceria.
Khey tersenyum kikuk lalu memperlambat langkah kakinya sungkan.
Bagaimana tidak sungkan. Di saat matahari telah meninggi, bunda mertuanya itu tak pernah sekalipun memarahinya meski Khey baru keluar dari peraduannya.
Khey sungguh harus bersyukur karena mendapatkan mertua yang menyayanginya bagai anak kandung sendiri. Baik ayah maupun bunda mertuanya memperlakukan Khey bak seorang putri.
Bahkan perlakuan kedua mertuanya yang teramat baik itu membuat Khey melupakan prahara rumah tangga kedua orangtuanya. Khey sudah tidak peduli lagi dengan kebungkaman sang papa yang memilih menutupi keboborokan rumah tangganya. Ataupun kebrengsekan mamanya yang masih tetap berhubungan dengan papa Doni meski Khey telah berulangkali memergoki perselingkuhannya. Bahkan puluhan chat yang telah Khey kirimkan untuk menanyakan kebenaran perselingkuhan tersebut pada mamanya, diabaikan oleh wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Untung saja kehangatan keluarga Fabian mampu membuat Khey tetap tersenyum dan menghilangkan luka batinnya tanpa tersisa.
Khey juga tak ambil pusing jika kemungkinan terburuknya, kedua orang tuanya harus berpisah. Mulai sekarang Khey memantapkan diri untuk menata masa depannya bersama dengan Fabian.
"Bunda tau Abi dimana?" tanya Khey pada bunda Fabian saat kedua kakinya telah menginjak lantai bawah.
"Memangnya nggak di kamar sama kamu nak?" Bunda malah balik bertanya.
Khey menggeleng.
"Tadi habis sholat shubuh, Ara tidur lagi bun. Bangun bangun Abi udah nggak ada, mana nggak bangunin Ara lagi." Khey dengan wajah memberengut.
Bunda Fabian tersenyum tulus seraya membelai rambut hitam panjang menantu perempuannya.
"Pasti Abi tau kamu capek jadi dia nggak mau ganggu tidur kamu. Makanya kamu nggak dibangunin. Biar puas istirahatnya."
"Iya kali ya Bun." Khey tersenyum malu.
Bunda Fabian selalu saja bersikap lemah lembut. Tutur katanya juga menghangatkan. Sepertinya tidak pernah ada kata kotor ataupun teriakan dari mulut wanita paruh baya tersebut.
"Kamu belum sarapan kan?" tanya bunda kemudian dijwb dengan anggukan kepala oleh Khey.
"Ya udah makan sana. Nggak baik makan terlambat, apalagi buat sarapan." perintah bunda pada Khey.
"Bunda udah?"
__ADS_1
"Sudah. Tadi pagi sama ayah. Kenapa? Minta ditemenin?"
"Ah enggak kok. Ara sendiri aja nggak papa."
"Yakin nggak pengen ditemenin?"
Hehehe...
Khey tertawa kecil dengan raut wajah malu.
"Ya udah ayo sana, bunda temenin makan." Bunda Fabian merangkul bahu Khey seperti layaknya anak perempuan sendiri.
"Makasih bund."
Khey tersenyum tulus. Pun begitu dengan bunda Fabian, beliau tersenyum tak kalah tulus pada menantunya.
Bunda Fabian sangat tahu jika Khey sangatlah membutuhkan kasih sayang dari dirinya. Kareba gadis itu tidak mendapatkan hal itu dari orang tuanya.
Papa Khey yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Meski memang tujuan bekerjanta adalah guna memenuhi kebutuhan keluarganya namun dia tak sadar jika anak anak mereka bukan hanya butuh materi melainkan juga butuh kasih sayang dan perhatian.
Sedangkan mama Khey sibuk dengan dunianya sendiri. Dunia perselingkuhan yang entah apa penyebabnya, tidak ada yang tahu selain mama Khey sendiri. Entah itu karena suaminya yang lebih mementingkan pekerjaannya hingga menyita waktunya untuk dang isteri atau mungkin karena materi.
Yang pasti bunda Fabian dan sang suami telah mengetahui rumor akan perpisahan kedua orang tua Khey. Beliau tidak ingin jika suatu saat nanti rumor itu benar adanya, akan mempengaruhi kondisi psikologis menantunya.
"Masih ada ayam rendang non, non nggak pengen?"
"Udah ini aja. Udah ada ayam goreng ini."
"Bawa sini mbak." perintah bunda.
"Bunda udah."
"Nggak papa... Nggak usah malu, makan yang banyak. Habiskan."
"Ara nggak malu bund. Tapi ini beneran udah banyak. Nggak mungkin juga Ara menghabiskan semua ini."
Bunda terkekeh kecil.
"Iya juga ya. Nggak mungkin kamu bisa habisin ini semua. Kebiasaan bunda sama Abi sih, jadi gini deh." Bunda Fabian dengan menepuk dahinya pelan saat teringat kebiasaannya pada anak lelakinya.
__ADS_1
"Nah... kalau Abi pasti bisa ngabisin ini semua Bun." Khey dengan terkekeh kecil. Khey sangat tahu berapa banyak porsi makan suami jangkungnya tersebut. Tidak hanya sekali Khey meraba heran perut Fabian yang tetap saja rata meski porsi makannya sanagat banyak.
"Udah nggak usah heran usus gue emang panjang." Begitu jawaban Fabian tiap kali Khey keheranan dengan bentuk tubuh Fabian yang tetap saja menolak lemak.
Kalau saja itu dirinya, pastilah sudah menggelembung bentuk tubuhnya jika makan dengan porsi sebanyak Fabian.
"Bunda sini sebentar." panggilan ayah membuat bunda Fabian beranjak dari duduknya.
"Maaf ya bunda tinggal, makan yang banyak." pamit bunda kemudian mendapat anggukan dari Khey.
"Biar mbak aja yang beresin non."
Asisten rumah tangga keluarga Fabian segera meraih piring kotor dari tangan Khey.
"Tapi mbak..."
"Udah non istirahat saja, sudah tugas mbak ini."
"Makasih ya mbak." ucap Khey dengan tersenyum ramah. Meski sudah hampir satu tahun menikah dengan Fabian, namun Khey tetap saja masih canggungbsaat berinteraksi dengan asisten rumah tangga keluarga Fabian.
Hal itu disebabkan karena mereka memperlakukan Khey seperti putri raja yang sama sekali tidak diperbolehkan membantu pekerjaan rumah.
"Sama sama non."
Khey pun berlalu pergi meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga untuk mencari keberadaan Fabian
"Mungkin dia di sini." gumam Khey saat dirinya berada di depan pintu ruang belajar Fabian.
Dengan perlahan Khey menekan tuas pintu dan membukanya. Saat manik hitamnya menangkap sosok Fabian sedang duduk di depan meja belajar dengan layar laptop yang menyala, Khey masuk dan menutup pintu kembali dengan sangat hati hati.
Khey bermaksud mengejutkan Fabian.
Dengan langkah kaki yang setengah berjinjit, Khey mengendap mendekati Fabian yang posisinya membelakangi pintu.
Kening Khey mengerut saat berdiri tepat di belakang Fabian, manik hitamnya menangkap layar laptop di depan Fabian.
Layar itu menunjukkan sebuah email yang masuk dan tengah dibaca oleh Fabian.
"Universitas Harvard."
__ADS_1
Khey dengan menggumam.
ππππ