Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA64


__ADS_3

Assalamualaikum..." Fabian berseru saat memasuki rumah mertuanya.


"Waalaikumsalam... eh den Bian." Bik Mun dengan tergopoh gopoh berjalan ke arah Fabian. Maksudnya ingin membukakan pintu untuk Fabian namun ternyata suami nona mudanya itu telah membuka pintu sendiri.


"Aranya ada Bik?"


"Ada. Sepertinya Non Ara nungguin aden pulang dari tadi." Bibik Munah dengan sedikit berbisik.


Fabian mengerutkan dahinya, heran.


"Tadi bibik lihat non Ara enggk berhenti mondar mandir dekat jendela, sambil memandang keluar."


"Ah... bibik aneh aneh aja. Nggak mungkin Ara kek gitu." Fabian tidak percaya, karena selama ini Khey terlihat tidak peduli akan dirinya.


"Beneran den... Tadi itu ya non Ara nggak berhenti keluar masuk, keluar masuk, menghentakkan kakinya kesal habis itu nengok jendela terus kesal lagi. Pas ada bunyi motor datang, cepet cepat lari ngintip dari jendela. Saat tau yang datang pengantar paket non Ara kesel lagi, kek gitu terus. Bibik saja sampek capek lihatnya." Bilik Mun bercerita dengan mempraktekkan tindakan Khey saat itu. Fabian pun tertawa kecil melihat aksi dari asisten paruh baya tersebut.


"Bibik ngomongnya enggak usah bisik bisik kek gitu ngapa, nggak bakal ada yang nguping juga." Fabian tersenyum melihat tingkah asisten rumah tangga paruh baya yang menurutnya konyol.


"Takut non Ara dengar soalnya non Ara ada di depan TV. Sepertinya nungguin aden pulang." Bik Mun kembali berbisik, bahkan sekarang lebih lirih lagi dengan jari telunjuk menunjuk ruang keluarga.


Fabian pun memalingkan wajahnya ke arah ruang keluarga, di sana terlihat layar datar yang menyala. Sepertinya memang Khey menontonnya karena layar datar yang menempel dinding tersebut menampilkan drama korea kegemaran remaja jaman now.


Sedangkan sosok Khey tidak terlihat. Karena sofa besar tempat Khey memunggungi posisi Fabian.


"Kalau gitu Bian nyusul Ara ya Bik." Fabian dengan menyerahkan kantong kresek berisi 4 kotak martabak pada Bik Munah.


"Ini apa Den?"


"Martabak Bik. Yang ini tolong kasih ke piring ya Bik, buat Ara dan yang ini buat Bibik sama Pak Ujang."


Bik Munah mengangguk kemudian berlalu ke dapur, sedangkan Fabian mengayunkan langkah menuju ruang keluarga.


Fabian mendudukkan diri di hadapan Khey saat mendapati isteri bar barnya tersebut meringkuk di atas sofa dengan kedua mata terpejam.


Senyum tersungging pada bibir Fabian melihat wajah jutek itu terlihat tidur dengan tenang. Kedua tangannya terulur untuk membopong tubuh Khey, mengangkatnya dengan hati hati agar tidak mengusik ketenangan gadis itu.


"Loh den... ini..." Bik Mun menegur Fabian lirih dengan kedua tangan memegang piring yang berisi martabak telor dan martabak manis. Menghentikan langkahnya saat bertemu Fabian membopong Nona mudanya hendak menaiki tangga.


"Simpan di dapur aja Bik, Ara nya tidur." Fabian menyahut tak kalah lirih lalu menapakkan kaki menaiki tangga untuk menuju kamar tidurnya.

__ADS_1


Fabian mendorong pintu kamarnya dengan ujung kaki karena pintu kamarnya tidak tetutup sepenuhnya.


Dengan hati hati Fabian menurunkan tubuh Khey ke atas ranjang, lalu menyelimuti tubuhnya hingga ke atas perut.


Sejenak Fabian memandangi wajah Khey yang tampak cantik dan tenang dalam tidurnya. Dengan sedikit membungkuk Fabian memberikan kecupan singkat pada kening lalu beralih pada bibir ranum isteri barbarnya.


Kemudian Fabian beranjak memasuki kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa gerah.


Fabian memilih mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower agar tubuhnya kembali segar.


Beberapa saat sepeninggal Fabian ke kamar mandi, Khey terlihat menggeliat.


Khey mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Dengan rasa kantuk yang masih mendera, Khey memindai sekeliling dengan kedua mata yang belum sepenuhnya terbuka.


"Loh kok gue di kamar sih... bukane gue tadi nonton TV ya..." Khey menggumam bingung.


Kembali Khey mengerjapkan kedua matanya lebih sering agar matanya cepat terbuka lebar. Lalu Khey pun mendudukkan tubuhnya pada kepala ranjang sembari mengingat kembali bagaimana dirinya bisa berakhir di dalam kamar.


Ceklek.


Hek.


Khey tercekat saat sosok Fabian keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya membalut tubuh bagian bawahnya dengan handuk mandi. Memperlihatkan dada telanjang serta perut ratanya, bahkan rambutnya yang setengah basah membuat Khey harus benar benar menelan salivanya kelat.


Meskipun Khey dan Fabian sudah beberapa bulan berbagi kamar namun melihat tubuh telanjang sang suami Khey masih merasa canggung.


Fabian yang melihat Khey bangun dari tidurnya, dengan santai berjalan mendekati ranjang.


"Biasakan bawa baju kalau mandi." Khey menghardik dengan ketus untuk menutupi kegugupannya. Dengan cepat khey memalingkan wajah dari Fabian yang berjalan ke arahnya.


Seolah tidak peduli pada hardikan Khey, Fabian malah mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang bersisihan dengan sang isteri.


Dalam hati Khey merutuki sikap santai Fabian.


Kenapa malah duduk di sini sih, nggak tau apa kalau dia udah bikin jantung gue jedag jedug...


Fabian tersenyum tipis saat melihat Khey yang masih saja malu dengan memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Gak usah malu, udah sah... lo boleh kok lihat tubuh gue sepuasnya. Gratis... gak perlu keluar duit... " Fabian dengan membawa wajah Khey ke arahnya, kembali dengan candaan tengilnya.


"Bi... pakek baju dulu sana..." Khey mengusir Fabian.


"Ntar aja, gue masih pengen deketan sama lo." Fabian dengan mengerlingkan mata, tidak lupa menyertainya dengan senyum nakal pada wajahnya.


Ih... apa apaan sih ini anak, kok udah balik tengil lagi sih... Khey membatin bingung.


"Elo nggak kangen sama gue?" Fabian.


"Enggak..." Khey berbohong karena sejujurnya beberapa hari ini Khey merasakan sedikit kehilangan akibat sikap Fabian yang cuek pada dirinya.


"Yakin??" Fabian menelisik wajah Khey.


"Yakin." Khey gugup.


Fabian mendekatkan tubuhnya, mengikis jarak hingga hanya menyisakan jarak beberapa senti saja pada wajah keduanya.


Sungguh tubuh Khey serasa membeku sulit untuk bergerak. Apalagi harum sabun mandi yang menguar dari tubuh Fabian menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Ingin rasanya Khey memeluk dan mengendus aroma tubuh Fabian yang bercampur dengan sabun mandi tersebut. Mendekapnya erat seolah tubuh jangkung itu hanyalah miliknya seorang.


Fabian merasakan kegugupan Khey saat ini, dan itu membuat Fabian semakin bersemangat untuk menggoda Khey. Apalagi beberapa hari ini dirinya seolah berpuasa, tidak menggoda maupun mengganggu isteri barbarnya.


"Padahal gue kangen banget lo yang..." Fabian dengan suara yang terdengar serak.


Tubuh keduanya semakin tidak berjarak, bahkan Khey merasakan debaran jantungnya yang saling bersahutan dengan debaran jantung Fabian tengil.


Kedua tangan Khey meremas kain sprei dengan kuat. Ketakutan akan Fabian yang bakal mengambil haknya kembali melanda hati Khey.


"Ra... gue udah nggak tahan nih..." Fabian dengan berbisik.


Jantung Khey semakin berdebar kenyang, dirinya tidak sanggup membayangkan jika Fabian bakal melakukannya malam ini.


"Bi... boleh nggak kalau gue minta jangan sekarang..." Khey takut takut.


Fabian memundurkan wajahnya dengan kening mengerut. Memandang Khey dengan pandangan yang terlihat bingung.


"Gguue bellum siap..." Khey terbata.


"Tapi ini beneran gak bisa ditahan Ra..." Fabian meraih tangan kanan Khey dan menumpu pada gulungan handuk di atas perut ratanya.

__ADS_1


✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻


__ADS_2