Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 191


__ADS_3

"Kira kira kenapa Bella melakukan itu ya Bi?" jujur saja Khey masih penasaran dengan motif Bella yang sesungguhnya mengirim foto kebersamaannya dengan Fabian kepadanya. Bukankah seharusnya hal itu tidak perlu dilakukan karena Bella telah memilih Doni sejak awal dan telah mendapatkannya.


"Entahlah... Gue juga nggak tau." Fabian menggedikkan bahu cuek. Fabian memang sudah tidak peduli lagi dengan Bella maupun Doni. Karena Fabian sudah harua fokus pada masa depannya.


Ujian sekolah penentunya mengakhiri masa SMU sudah di depan mata. Belum lagi memikirkan keputusan yang akan diambil untuk kelanjutan studynya. Jujur saja Fabian masih belum ikhlas jika harus melepaskan beasiswanya ke hardvard university. Namun dirinya juga tidak bisa egois menjalin hubungan LDR dengan Khayyara. Gadis itu bukan sekedar kekasih, namun dia adalah isteri yang sudah menjadi bagian jiwanya sekarang. Fabian juga sepertinya tidak mampu jika harus berjauhan dengan gadis itu. Dengan jarak dan perbedaan waktu yang bisa saja menjadi kerikil untuk hubungan rumah tangganya.


Ketidakjelasan hubungan kedua orang tua Khayyara juga menjadi pemicu Fabian merasa berat meninggalkan Khayyara. Meski Fabian sangat percaya jika kedua orang tuanya mampu menjaga Khey denag baik, namun tetap saja rasa bimbang masih menyelimuti benak Fabian.


"Mungkin saja Bella nyesel telah memilih Doni dan baru menyadari kalau dia menyukai gue." Fabian dengan percaya diri. "Apalagi setelah tahu jika gue anak orang kaya." tambahnya kemudian sesungguhnya hanya bercanda. Fabian tidak ingin memikirkan masalah yang sebenarnya sudah tidak ada hubungan dengan nya dan juga sang isteri.


"Abii... " Khey mengeram dengan sorot mata bak laser siap membunuh Fabian. Khey juga menepis kasar rangkulan tangan Fabian dari bahunya.


Membuat Fabian terpaksa menelan ludah kasar saat mendapati betinanya siap menerkam dan mencabik seluruh tubuhnya. Maksud hati hanya ingin membuat lelucon agar Khey tidak terlalu fokus pada masalah tersebut malah dia harus merasakan reaksi kemarahan dari sang isteri.


"Kan cuma mungkin yang, belum tentu benar..." Fabian melembutkan suaranya tersenyum. Dalam hati berjanji jangan pernah lagi membuat kelucuan saat timingnya tidak tepat. Lebih baik telinganya hanya digunakan untuk mendengar ocehan sang isteri dengan mulut yang ditutuo rapat.


Khey hanya diam tidak menyahut, gadis itu masih memberikan tatapan tajam tidak suka pada sang suami.


"Sayang... gue cuma bercanda doang. Gue kan nggak tau isi hati orang." Fabian menunjukan wajah penuh penyesalan pada Khey.


"Bercanda lo nggak lucu Bi. Gue nggak suka." Khey terdengar sengit.


"Maaf deh maaf..." Fabian kemudian duduk berjongkok di hadapan Khey yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.


Kedua tanganya menangkup tangan Khey seraya menunjukkan wajah inocent di depan Khey untuk meluluhkan kemarahan sang isteri tercinta.


"Nggak ada maaf buat..."


Cup.


Sebelum Khey berhasil menyelesaikan kalimatnya Fabian lebih dulu mendaratkan kecupan singkat pada bibir Khey.


"Gue tetep nggak mau maafin lo Bi."


"Ck... gitu banget sih yang. Ntar malem gue ajakin nonton deh, makan diluar, jalan jalan sepuasnya. Gue bakal turutin deh apa mau lo yang..." Fabian melancarkan jurus bujuk rayunya. Mengiringi bujuk rayu itu dengan mengerjapkan kedua mata berulang. Seperti yang biasa Khey lakukan saat merajuk kepadanya.


"Bujukan lo nggak mempan Bi. Gue lagi mager. Enggak pengen kemana mana. Lagian gue juga lagi pengen menikmati mie kuah panas bikinan sendiri aja. Pakek telor, bokcoy, irisan tomat sama rawit ijo.... Behh... pasti nikmat." cerocos Khey menutup kedua mata dengan menggerakkan lidah menjilat bibir, seolah tengah sedang menikmati mie kuah panas yang diidamkan olehnya.

__ADS_1


"Ya udah... kalau gitu gue bikinin ya yang, habis itu maafin gue." Fabian dengan hendak beranak dari duduk jongkoknya.


"Enggak mau. Gue mau bikin sendiri aja, biar lo nggak bisa dapat maaf dari gue." Khey berseru membuat Fabian mengurungkan niatnya untuk beranjak berdiri.


Huh...


Terdengar hela nafas lemas dari Fabian, diiringi dengan bahu yang meluruh lesu. Siapapun tolong ingatkan gue jangan lagi bikin Khey badmood kalau nggak mau diacuhin... ucap Fabian tentunya,hanya di dalam hati saja.


Fabian mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula. Duduk di hadapan Khey. Namun kali ini Fabian memilih berlutut, tidak jongkok seperti tadi.


"Yakin nih nggak mau maafin gue?" Fabian mendongak dengan memasang wajah memelas nya kembali.


"Yakin."


"Alasan nggak mau maafin gue apa?"


"Nggak ada alasan. Lagi nggak mau aja. Gue suka liat wajah lo kek gini, jelek abiss. Sumpah." Khey dengan terkekeh sambil menoel pucuk hidung Fabian.


Fabian mengerucutkan bibirnya kesal.


"Jadi tambah gemes dech..." Khey mendekatkan wajah sambil menangkup pipi Fabian dengan kedua tangannya.


Saking asyiknya mengamati dan mengagumi ketampanan sang suami, Khey tidak menyadari jika wajah Fabian bergerak mengikuti jarak.


Hingga,


Cup... blup...


Beruntung saat detik terakhir Khey menyadari pergerakan Fabian sehingga suami tampannya itu hanya bisa mendapatkan pipi Khey sebagai pendaratan bibirnya.


"Nggak kena wlekk..." ejek Khey dengan menjulurkan lidahnya di depan wajah Fabian.


Sedetik kemudian terdengar teriakan keluar dari mulut Khey.


Arrghhh....


"Abiii... Kenapa di gigit sih..." Khey dengan mengibas telapak tangan di depan lidahnya yang menjulur.

__ADS_1


"Elo kurang waspada sih..." Fabian dengan kekehan.


"Sakit tau Bi..." Khey dengan sedikit kesusahan saat berucap kata. Karena masih merasakan sedikit perih pada lidahnya yang sengaja digigit oleh Fabian. Saat menjulurkan lidah mengejek.


"Apanya yang sakit Ra?" Bunda tergopoh gopoh mendekat pada pasangan remaja tersebut.


"Masak sama Abi lidah Ara digigit sih bun... sakit kan jad_dinnyya... hek..."


Seketika Khey menarik lidah dan membungkam mulutnya dengan kedua tangan saat menyadari bahwa buda mertuanya yang tengah bertanya. Dan bodohnya lagi Khey menjawab dengan jujur apa adanya. Raut wajahnya pun memerah karena malu.


Bunda tersenyum simpul.


"Biar nanti bunda jewer telinga Abi."


"Sekarang masih sakit?" Tanya bunda dengan reflek mendekatkan wajahnya pada Khey, bunda terlihat khawatir.


Khey pun menggelengkan kepala cepat masih dengan posisi kedua tangan yang membungkam mulutnya.


"Ditanya bunda mosok cuma dijawab sama gelengan sih Ra, mana maulut pakek ditutup lagi. Nggak sopan itu, kualat sama orang tua tau rasa lo." Fabian sengaja mengejek dengan terkekeh senang.


"Elo penyebanya Bi... auw..." ringis Khey saat ia tak sengaja menggigit lidah saat berucap kata.


"Ati ati yang, mana yang sakit gue obatin." Fabian sengaja mendekap Khey dengan mendekatkan wajah seolah mengincar mulut Khey. Meski di dekatnya masih ada sang bunda Fabian tidak peduli.


"Bii... ada bunda, malu tau..." Khey menghindari bibir Fabian yang terlihat bergerak hendak menyosor bibirnya.


"Nggak papa, udah sah. Iya kan Bun..." Fabian memonyongkan bibirnya semakin mendekat. Dia sengaja melakukan itu untuk menggoda Khey.


"Dasar bocah." Bunda dengan mengangkat kakinya untuk pergi dari sana.


"Bian!" pekik Khey dengan kencang saat Fabian tiba tiba mengangkat tubuhnya berjalan menuju lantai atas.


"Jadi ingat masa lalu kan Bun." bisik jenaka ayah tepat di telinga bunda yang sengaja menghentikan langkah kakinya saat mendengar pekikan sang menantu.


"Ayah apaan sih..." Bunda tersipu.


"Ayah gendong kek gitu juga ya bun..."

__ADS_1


"Ayyaaahhh...."


😍😍😍😍


__ADS_2