
"Yakin gue boleh milih yang gue suka?" Khey bertanya pada Fabian terlebih dahulu.
"Boleh." Fabian mengangguk dengan wajah datar.
"Gue tunggu di sana ya..." Fabian menunjuk kursi tunggu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Khey mengangguk dengan senyum berbinar.
Fabian memilih memberikan Khey ruang untuk memilih apa yang dia inginkan sambil menyempatkan diri mengontrol laporan pekerjaannya melalui ponsel pintarnya.
Setelah menikah, Fabian memang harus berusaha sebisa mungkin untuk membagi waktunya menyelesaikan semuanya dalam sehari. Entah itu tugas sekolah ataupun memantau pekerjaannya, karena sehari saja Fabian abai maka sudah dapat dipastikan jika besoknya dia akan kerepotan.
Khey berjalan perlahan mendekati setiap inci rak yang memajang beraneka varian coklat. Rasanya seperti mendapat coklat runtuh karena Fabian telah membawanya pada tempat penuh coklat yang belum pernah Khey kunjungi sebelumya.
Bahkan Khey baru mengetahui jika di Jogjakarta ada tempat yang menyediakan semula hal tentang coklat. Mulai dari kue, permen, muffin dengan topping coklat yang beraneka rasa bahkan juga minuman dengan berbagai varian coklat juga ada di sana.
Beberapa saat berjalan menyusuri etalase, Khey terlihat bingung. Berkali Kali mengulangi langkah kakinya tanpa mengambil coklat yang diinginkannya.
Harga yang tertera di sana membuatnya bingung untuk mengambilnya. Khey tidak ingin memberatkan Fabian tengil.
Hingga akhirnya Khey memutuskan mendekati Fabian kembali.
"Bi..." Belum terlalu lama Fabian duduk terdengar Khey memanggilnya sambil berdiri di hadapannya.
Fabian mendongak dengan kening mengerut. "Apa?"
"Coklatnya mahal mahal..." Khey dengan berbisik saat mengucapkannya, takut jika ada yang mendengar.
"Mosok sih, perasaan biasa saja." Fabian sebenarnya tau harga coklat di sini terbilang mahal karena memang kualitas premium. Kedai coklat ini adalah langganan bundanya, maka dari itu Fabian tau tempat ini. Fabian sendiri bukan penyuka coklat.
"He eh... kita cari tempat lain aja yuk." Khey terlihat ingin mengajak Fabian pergi dari sana.
"Udah sini aja, tanggung." Fabian memasukkan ponsel pintar ke dalam saku celana seragamnya dan beranjak berdiri, menarik tangan Khey untuk menuju etalase yang berisi deretan varian coklat kembali.
"Ambil yang lo suka, yang elo pengen incip rasanya."
"Tapi Bi...."
"Udah... pilih cepet, mumpung gue lagi baik hati." Fabian dengan mendorong bahu Khey dari belakang agar segera memilih varian coklat keinginannya.
__ADS_1
Tangan Khey pun beraksi dengan mengambil Varian coklat yang menurutnya berbentuk lucu ataupun dengan rasa yang terlihat belum pernah dicobanya.
Tentunya dengan sesekali menoleh ke arah Fabian untuk meminta persetujuannya.
Khey pun semakin kalap saat Fabian selalu mengangguki apa yang diambil oleh jemarinya.
"Elo mau nggak makan coklat di sini?" Khey bertanya dengan menghentikan langkahnya saat dia menyadari ada spot untuk makan di tempat.
"Maksud lo?" Fabian tidak mengerti.
"Di sana...." Khey menunjuk sisi agak dalam kedai, dan diiringi dengan pandangan mata Fabian yang menoleh ke arah telunjuk Khey. "Ternyata menyediakan tempat makan yang instagramable." Khey dengan tanpa menyurutkan wajah berbinarnya.
"Elo mau makan sambil foto?"
"Bukan gitu. Kita coba menu di sini ya... gue pengen makan kue coklat sambil menikmati es coklatnya di sini... Fotonya bonus..." Khey tersenyum dengan puppy eyesnya.
"Baiklah... sesenang elo aja." Fabian kembali mendorong bahu Khey agar melanjutkan langkahnya.
Khey pun menarik lengan tangan Fabian agar sejajar dengan langkah kakinya untuk kembali mengambil varian coklat lainnya.
Setelah memenuhi keranjang dengan coklat pilihannya, Khey menyerahkan kepada kasir.
"Katanya mau makan di sini?" Tanya Fabian saat melihat Khey menyerahkan keranjang penuh coklat pilihannya ke meja kasir.
"Iya bayar sekalian ssmbil pesan menu buat makan di sini.'' Jawab Khey pada Fabian yang lengan tangannya masih setia digandeng olehnya.
"Sekalian pesan buat makan di sini ya mbak." Khey berucap kata pada kasir dan mendapati anggukan kepala dari sang kasir.
"Elo pengen apa Bi... black forest atau lava coklat atau...." Khey dengan jari menunjuk pada tabel menu di depan kasir.
"Terserah lo aja." Fabian datar. Terus terang saja Fabian tidak mengerti tentang menu berbagai coklat, menurutnya coklat itu sama saja rasanya. Dan sebenarnya Fabian pun tidak terlalu menyukai coklat, akan tetapi untuk menyenangkan sang isteri Fabian menuruti keinginannya.
"Black forest aja mbak sama es coklat di sini, terus chocho lava yang medium dibungkus satu ya."
"Baik mbak tunggu sebentar.... Totalnya 750 ribu mbak..."
Khey membola, tidak menyangka jika coklat yang diambilnya menghabiskan uang setengah juta lebih, padahal menurut Khey dia memilih coklat yang tidak berharga mahal.
"Em... dikurangi boleh mbak, soalnya uangnya nggak cukup." Khey berbicara takut takut, bagaimanapun Khey harus memikirkan bagaimana Fabian bekerja keras sebagai tukang parkir dan dirinya dengan seenaknya menghabiskan uang setengah juta lebih hanya untuk memborong coklat.
__ADS_1
"Boleh." sahut petugas tetap ramah, ternyata petugas tersebut memakluminya.
"Enggak usah mbak, bungkus aja." Fabian mencegah, lalu merogoh dompetnya dan meyerahkan delapan lembar uang kertas berwarna merah ke meja kasir. Sebagai anak sultan, Fabian tidak keberatan menghabiskan uang sejuta demi sang isteri.
"Tapi Bi..." Khey dengan menatap Fabian bingung.
"Nggak papa sekali kali doang." Fabian seakan tahu akan maksud isterinya.
"Sorry..." Khey dengan sorot mata menyesal karena telah membuat Fabian harus mengeluarkan uang yang cukup banyak hanya untuk coklat.
"Nggak usah sok nyesel gitu, elo seneng kan morotin gue..." Fabian sembari menarik tubuh ramping itu menuju tempat duduk untuk menikmati menu coklat pesanan mereka.
Seolah tidak ada penyesalan ataupun gerutuan dari mulut Fabian. Padahal selama menjadi suami Khey, cowok tengil itu tidak berhenti mengingatkannya agar tidak boros dalam menggunakan uang.
"Gue beneran nggak tau kalau habisnya sebanyak itu Bi... lagian sana mbaknya boleh kok dikurangi, elonya aja yang gak mau, pakek langsung bayar segala." Khey sedikit kesal.
Fabian dan Khey lalu mendudukkan diri pada kursi kosong yang ada. Keduanya duduk saling berhadapan.
Beberapa saat setelahnya pesanan keduanya datang dengan diantarkan oleh seorang pramuniaga.
"Elo suka banget sama coklat?" Fabian dengan mengaduk es coklat miliknya.
Khey mengangguk lalu dengan segera menyesap es coklatnya.
"Segerrr..." Khey dengan senyum berbinar.
Fabian tersenyum senang melihat ekspresi Khey yang seperti baru sekali ini menikmati es coklat. Walaupun memang sebenarnya Khey memang baru kali ini menikmatinya. Meskipun isteri Fabian itu sangat bar bar namun dia jarang menikmati hidupnya di luar rumah seperti remaja kebanyakan.
"Elo nggak makan Bi...?" Khey dengan menyendokkan potongan black forest ke dalam mulutnya.
"Elo aja." Fabian dengan mengeluarkan kembali ponsel pintarnya dari kantung celananya, untuk mengecek kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Bi yakin lo nggak mau?" Khey dengan berusaha mendekatkan potongan black forest yang menancap pada garpu ke mulut Fabian.
"Enggak Ra..." Fabian menjauhkan wajahnya dengan tetap fokus pada ponsel pintarnya.
Tanpa mereka berdua sadari, Doni memasuki kedai coklat tersebut dan memperhatikan interaksi keduanya dengan kedua tangan yang mengepal.
ππππ
__ADS_1