Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA21


__ADS_3

Khey berjalan menyusuri koridor sekolah untuk menuju toilet yang letaknya lumayan jauh dari kelasnya.


Hari ini, hari pertamanya masuk sekolah dengan status baru yaitu status seorang isteri dari Fabian tengil yang selalu saja berusaha dihindari olehnya jika berada di sekolah.


Dalam hati mengumpat kesal. Sekarang gue harus 24 jam dalam sehari untuk bersama cowok tengil bin resek Fabian.


Khey mendengus kesal saat mengingat statusnya kini. Dalam hati merasa bingung dan takut bercampur aduk, bagaimana ia akan menjelaskan semuanya pada Doni si ketos tampan yang berstatus pacarnya sampai saat ini.


Beruntung hari ini, semenjak pagi di sekolah sampai pertengahan hari ia belum bertemu dengan Doni si ketos tampan.


Bahkan semenjak insiden Doni meninggalkannya saat kencan malam minggu kemarin, tidak ada chat ataupun telfon untuk meminta maaf ataupun bertanya kabar padanya. Sepertinya ketos tampan yang menjadi kekasihnya itu masih marah padanya.


Khey pun tidak berkeinginan untuk menghubungi ataupun mencari untuk menemui terlebih dahulu, egonya tidak mengizinkan.


Khey segera memasuki kamar mandi khusus murid perempuan untuk menuntaskan aktivitasnya.


Srett...


Tetiba ada yang mencekal pergelangan tangan Khey saat dirinya keluar dari kamar mandi.


Menariknya kasar.


"Apaan sih Don, main tarik tarik aja. Sakit tau gak." kesal Khey dengan mau tak mau mengikuti langkah kaki si ketos tampan, karena Doni menarik tangannya kuat.


Doni mengabaikan kekesalan kekasihnya dan menariknya semakin kuat untuk membawanya ke sisi luar toilet yang cukup sepi.


Brekk. Doni menghempaskan tangan Khey dengan kasar.


"Kenapa lo gak hubungin gue?" Mata elang Doni menatap tajam manik mata Khey, ada rasa marah di dalamnya.


Mendapati pertanyaan tersebut Khey tersengih, membuat emosi dari dalam hatinya tersulut.


"Ngapain gue musti telfon elo. Elo yang salah udah melanggar perjanjian kita dan elo ninggalin gue gitu aja. Kenapa mesti gue yang hubungin elo duluan, mestinya elo yang telfon gue lebih dulu!" ucap Khey beruntun dengan hati yang memanas. Apalagi saat mengingat kejadian hari itu membuat dirinya harus mengakhiri masa remajanya dengan menikahi Fabian tengil.


Doni sedikit tersentak stelah mendengar penuturan Khey yang beruntun, namun egonya sebagai lelaki yang selalu ingin menang Doni mengabaikan hal itu.


"Gue cuma pengen cium lo doang, salah gue dimana? kita udah pacaran lama Khey ... dan lo ngambek ke gue cuma gara gara itu doang?!" Doni menaikkan kedua alis matanya dan tetap tidak mau disalahkan.


"Apa lo bilang cuma? Lo bilang cuma... di saat gue udah ngomongin aturan gaya pacaran kita sedari awal. Gue udah berulang kali kan bilang ke lo kalau gue gak suka gaya pacaran yang berlebihan!" Khey berucap kata dengan tanpa memutus pandangan dari tatapan tajam sang kekasih.


"Cuma ciuman doang Khey gak lebih. Ciuman bibir itu udah biasa. Elo gak usah munafik... elo juga pengen kan ngerasain bibir gue." Doni kekeh dengan pendirian.


"Yang pengen elo! Bukan gue..." tunjuk Khey tepat di dada bidang Doni yang tertutupi seragam putih sekolahnya.


Heh!


Doni tersengih.


"Gak usah sok suci lo!" ucap Doni pedas tetap dengan menatap Khey angkuh, bahkan posisi kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celana seragamnya membuatnya tampak pongah.


Khey menghirup oksigen dalam ke lalu menghembuskannya pelan untuk mencoba meredakan dadanya yang bergemuruh.

__ADS_1


Kemudian sejenak memejamkan matanya, tidak menyangka jika sebutan ketos angkuh sombong yang diberikan oleh Fabian untuk Doni sepertinya benar adanya. Namun berdebat dengannya hanya akan membuang tenaga Khey percuma.


"Don... ini bukan yang gue arepin dari lo. Gue pikir lo bakal minta maaf ke gue, atau seenggaknya lo ngomong baik baik buat bujuk gue. Ternyata gue salah." Nada bicara Khey terdengar turun beberapa oktaf tidak tinggi seperti beberapa saat lalu.


"Sorry Don, mungkin lebih baik kita akhiri saja hubungan kita. Sepertinya kita memang gak sejalan." Ucap Khey lemah lalu membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Doni.


Namun,


Set...


Pergelangan tangan Khey dicekal oleh Doni.


"Sorry... gue salah. Gue pengen lakukan itu karena gue gak mau kehilangan elo Khey." Mendadak Doni berucap lembut dengan menatap manik mata Khey sendu, berharap sang kekasih hatinya tersebut membatalkan ucapannya yang ingin mengakhiri hubungan mereka.


Khey yang sejatinya masih sangat mencintai Doni mengurungkan niatnya untuk melangkah pergi.


Meskipun sejujurnya dalam hati dirinya bingung, karena sejatinya jika dirinya merelakan hubungannya dengan Doni berakhir maka dirinya bisa mempunyai kesempatan untuk memulai hubungan yang baik dengan Fabian demi statusnya sebagi isteri.


Namun dari lubuk hatinya yang paling dalam, Khey memang belum merelakan jika harus kehilangan sosok cowok tampan yang memiliki sejuta pesona di depannya.


Hatinya menolak mengakhiri, meskipun itu artinya dirinya akan membuat rumit harinya ke depan.


"Khey... kasih gue kesempatan buat memperbaikinya, okey." Doni terdengar memohon dengan tau muka yang mengiba.


Ada rasa bimbang saat Khey mendengar permohonan sang kekasih. Mata elang yang beberapa saat lalu menatapnya tajam kini beralih sendu, bahkan kabut bening telah membendung.


Luluh.


Ah... kenapa gue gak bisa nolak kehadirannya. Khey membatin sedih dengan tubuh membeku di hadapan Doni. Kata kata pedas Doni beberapa saat lalu menguap tak berbekas di memori Khey, karena masih tergila gila dengan sosok tampan si ketos.


Doni yang menyadari kebimbangan sang kekasih pujaan hatinya langsung memeluk tubuh Khey agar gadis itu mengurungkan niatnya untuk berpisah dari dirinya.


Bagaimanapun saat ini, Doni masih menginginkan hubungannya dengan Khey tetap bersama. Dirinya harus menggunakan segala cara untuk mempertahankan hubungannya.


"Kasih gue kesempatan buat memperbaiki semua ini. Gue janji gak bakal nuntut lo lagi, tapi elo juga janji gak bakal ninggalin gue." bujuk Doni tepat di depan wajah Khey.


Sesaat Khey menghirup oksigen kuat lalu memutuskan mengangguk mengiyakan dengan membalas pelukan Doni. Hatinya luluh saat menatap manik mata Doni yang terlihat jujur masih mengharapkannya. Terlalu sulit bagi Khey untuk melepas Doni begitu saja.


Doni pun tersenyum menang. Beruntung kondisi sekitar toilet sepi, apalagi posisi mereka yang sedikit menjauh ke belakang toilet membuat keduanya aman dari pandangan siswa siswi sekolahnya.


Tet... tet... tet...


Bunyi bel sekolah membuat keduanya mengakhiri pelukan mereka.


"Gue balik kelas dulu." pamit Khey dengan membingkai senyum di wajahnya.


Doni pun mengangguk mengiyakan. Membalas senyuman sang kekasih dengan senyum merekah memenuhi wajah tampannya.


Perlahan melepaskan pergelangan tangan Khey, hingga akhirnya tubuh sang kekasih perlahan semakin terlihat menjauh.


Sesaat setelah kepergian Khey.

__ADS_1


"Hentikan permainan gila lo Don." tetiba sebuah suara yang tidak asing terdengar dari balik punggung Doni.


Set,


Doni pun membalikkan tubuhnya. Dirinya tersenyum sinis saat melihat Fabian berdiri memandang dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana seragam sekolahnya.


"Kenapa? Elo iri sama gue?" Doni berucap angkuh sembari menegakkan kerah baju seragam sekolahnya.


"Gue gak iri sama cowok player kek elo." ucap Fabian datar namun menusuk.


Doni mendengus.


"Terus maksud lo apa?"


"Akhiri hubungan lo sama Khayyara." Fabian berucap langsung.


Hahahaha...


Doni terbahak.


"Elo pikir dengan gue putusin dia, elo bakalan dapetin dia gitu?! Gak usah mimpi lo!" Doni mengejek.


"Gue gak peduli dia mau sama gue atau tidak, yang jelas hentikan sikap lo yang suka mainin hati perempuan." tegas Fabian masih menutupi hubungannya dengan Khey.


Heh!


"Gak peduli lo bilang... Elo pikir gue gak tau kalau lo suka nguber cewek gue." Doni masih dengan sisa tawanya.


"Mau gue nguber Khey ataupun enggak, itu bukan urusan lo."


"Pecundang seperti lo, gak bakalan bisa ngalahin gue!" Doni menujuk dada kanan Fabian seolah mengejek.


"Sorry gue gak ada niatan buat bersaing sama cowok player seperti lo!" Fabian bergeming.


Doni tertawa kembali, kali ini lebih jumawa.


"Ngaku aja lo emang gak bisa lebih dari gue, loser!!" ejek Doni pada Fabian dengan berlalu meninggalkannya dengan sikutan keras pada sebelah dada Fabian.


Fabian menahan nafas dengan kedua tangan yang terkepal kuat. " Kali ini gue gak bakal ngalah sama lo Don."


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2