
Eughhh....
Fabian melenguh seraya berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat.
Perlahan mengerjapkan kelopak matanya berulang.
"Ara..." lirih Fabian saat menyadari kepala Khey menelungkup di sisi tangannya. Sepertinya dia tertidur akibat menungguinya.
Perlahan Fabian menggerakkan kepala. Bibir Fabian melengkung setelah memindai nakas di samping tempat tidurnya terdapat sebuah baskom kecil dengan washlap di dalamnya. Peralatan itu pasti bekas Khey merawatnya tadi.
Fabian yakin Khey kelelahan saat ini.
"Tanks yang..." ucap Fabian dengan menggerakkan salah satu tangan ke atas surai hitam Khey lalu mengusapnya dengan lembut.
Dan ternyata pergerakan tangan Fabian membuat Khey terbangun dari tidurnya.
"Bi..." Khey mendongak dengan wajah bantalnya.
Fabian tersenyum tipis memandang Khey dengan lembut.
"Masih pusing?" Ara meletakkan punggung tangannya pada kening Fabian. Terlihat kecemasan di wajah bantal Khey.
Fabian menggelengkan kepala pelan. "Udah mendingan kok." ucapnya tanpa meyurutkan senyum pada bibirnya yang masih terlihat pucat. Fabian tidak ingin membuat isterinya khawatir. Fabian tau betul saat ini Khey lebih membutuhkan dukungan semangat darinya.
"Tapi badan kamu masih anget."
"Bentar lagi juga bakal balik normal. Gue kan cowok kuat."
Khey pura pura mencebik.
"Lo mau apa? Makan? Minum? Atau lainnya mungkin." Khey dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi sangat khawatir.
Fabian pun terkekeh kecil akan raut wajah Khey yang masih mengkhawatirkan kondisinya. Padahal sedetik lalu mencebik kesal padanya.
"Nanti aja." Fabian memegang pergelangan tangan Khey yang telah beranjak dari duduknya.
"Lo pasti belom makan kan Bi?!"
"Nanti aja. Lo di sini aja."
Kali ini Fabian menarik tangan Khey hingga membuatnya sang isteri terduduk di tepi ranjang.
"Gue mau ambilin makan doang."
"Liat wajah cantik lo udah bikin gue kenyang." Tetap saja Fabian menggoda Khey meski tubuhnya masih merasakan sakit.
"Hiss... apaan sih Bi. Mana ada muka gue bikin kenyang. Lo kata muka gue burger." Khey tersipu namun menutupinya dengan menunjukkan raut wajah pura pura kesal.
"Anggep aja begitu."
Plak.
Khey memukul pelan tubuh Fabian.
__ADS_1
"Aduh... sakit yang..." Fabian meringis pura pura.
"Salah sendiri bikin kesel." Khey dengan bibir mengerucut. Namun itu hanya beberapa detik saja.
"Gue pukulnya terlalu kuat ya?" Lanjut Khey detik berikutnya dengan merubah raut wajah sendu. Tak lupa tangannya mengusap bagian tubuh Fabian yang barusan mendapat pukulan darinya.
"Enggak kok. Gue cuma pura pura aja." Fabian menahan pergerakan tangan Khey lalu membawanya ke bibir dan menciumnya cukup lama.
"Makasih ya, udah merawat gue."
"Apaan sih Bi... gue kan istri lo. Udah kewajiban gue lah buat ngerawat suami yang sakit."
Khey dengan hendak menarik tangannya. Namun Fabian menahannya dan mendekap di depan dadanya. Membuat Khey merasakan degub jantung Fabian yang berdetak lebih cepat. Perlahan debaran itu merayapi tangan Khey dan menularinya. Degub jantung Khey pun perlahan mulai menggila.
Meski mereka sudah seringkali melakukan kontak fisik, bahkan telah melakukan hal yang lebih sebagai pasangan suami isteri namun tetap saja Khey merasakan sensasi aneh yang menggetarkan seluruh tubuhnya.
Sekuat tenaga Khey menahan keinginannya untuk mendapatkan sentuhan yang lebih, mengingat Fabian sedang sakit saat ini.
"Lo mau ngapain?" Tanya Khey saat melihat Fabian menggerakkan tubuh hendak bangun.
"Cuma mau duduk doang." sahut Fabian dengan berusaha menegakkan tubuhnya.
"Tapi lo masih sakit Bi. Nanti bikin kepala lo pening." Khey berusaha mencegahnya.
Namun Fabian kekeh ingin duduk, hal itu dapat dilihat dari pergerakan tubuhnya yang tetap berusaha untuk duduk.
"Enggak enak tiduran kek gini."
Fabian merapatkan punggung pada kepala ranjang setelah Khey menumpuk bantal di belakang punggungnya.
"Mau makan?" lagi Khey bertanya. Namun sekali lagi Fabian menolaknya dengan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa yang ditawarin makan mulu sih yang... tawarin yang lain napa." Fabian dengan tatapan mata pada wajah Khey, tepatnya pada bibir Khey yang berwarna pink. Sepertinya liptin yang dipakai sang isteri memiliki warna yang tahan lama.
"Elo kan lagi sakit Bi... Biar tenaga lo cepat pulih, makanya gue tawarin makanan. Bukan nawarin yang lain." Khey menjawab dengan nada sedikit menggerutu. Karena Khey tahu arah pandangan mata Fabian pada bibirnya.
"Ditawarin yang lain gue juga mau kok." lagi Fabian dengan menggoda Khey yang masih mengerutkan wajah kesal.
"Ck... serius napa Bi, gak usah godain mulu. Kalau lo cepet sembuh kan enak, gak usah ngerasain sakit. Otak lo ngeres mulu."
Ucapan Khey membuat Fabian terkekeh.
"Gue ambilin nasi sekarang ya?"
"Gue lagi nggak mau makan nasi." Fabian kekeh menolak.
"Terus mau lo apa?"
Fabian terlihat berfikir.
"Gue mau yang lain aja." jawab Fabian setelahnya.
"Apa? Mau gue beliin sesuatu? Sebutin deh, biar gue beliin."
__ADS_1
"Nggak usah beli. Yang gue pengen ada di sini kok." Jawab Fabian dengan senyum smirk.
"Ada di sini? Apaan?" Khey menoleh ke arah nakas. Tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakan. Hanya bekas kompres yang tadi dipakai oleh Khey untuk merawat Fabian beberapa saat lalu.
"Gue maunya makan ini aja." Fabian dengan mengusap lembut bibir sang isteri. Pandangan matanya pun menatap intens pada bibir pink sang isteri.
"Bi..." Khey dengan kelat.
"Boleh ya yang?!" Fabian dengan mengikis jarak wajahnya tanpa menunggu jawaban dari sang isteri.
Khey yang sesungguhnya tak mampu menjawab, hanya mampu menelan ludah kelat. Bukannya Khey tak ingin hanya saja Khey takut jika dirinya tidak bisa mengendalikan diri nantinya, padahal Fabian sedang dalam kondisi sakit.
Meski otak Khey melarangnya, namun reaksi tubuhnya berbeda. Perlahan wajah Khey mendekat mengikuti alur.
Saat posisi keduanya hanya tinggal berjarak beberapa senti saja, tiba tiba...
Ceklek.
"Bunda bawain martabak telor kesukaan kamu Bi..."
Sontak saja Khey segera menjauhkan wajahnya, bahkan setengah terlonjak segera berdiri dari duduknya di tepi ranjang.
Ups...
"Maaf... bunda sengaja ganggu." Bunda dengan tersenyum dengan wajah terlihat bersalah, memasuki kamar dengan nampan berisi makanan di tangannya.
Khey menunduk menautkan kedua tangan seraya meremas ujung baju atas yang dipakainya. Sungguh Khey cukup malu saat ini.
"Bunda gak bisa ketuk pintu dulu!" Fabian mendengus kesal.
"Nggak bisa. Kan tangannya dipakek buat bawa nampan."
Bukan bunda yang menjawab melainkan ayah yang menjawab di belakang bunda.
"Ayah yang bantu ketuk pintu kan bisa." Fabian masih saja dengan nada kesal.
"Sayang tangan ayah, ntar kalau sakit obatnya mahal." ayah selalu saja sekenanya.
"Ayaah..." Bunda dengan menyodok perut buncit sang suami dengan ujung sikutnya membuat piring di atas nampan sedikit berbenturan hingga menimbulkan bunyi.
Khey pun mendongak, segera memajukan langkah mengambil alih nampan dari tangan sang bunda mertua. Lalu menauruhnya di atas nakas.
Dengan tangan sedikit gemetar akibat kikuk karena malu, Khey mengambil piring yang telah berisi beberapa potongan martabak telor.
"Makan ya Bi..." Khey duduk di tepi ranjang samping tubuh Fabian yang telah menjadi tempatnya semula sebelum sang mertua tiba tiba masuk kamar.
"Bunda beli di tempat biasa?" Tanya Fabian pada sang bunda setelah mengangguk pada isterinya.
"Iya." sahut bunda dengan menyeret kursi belajar Fabian, bermaksud untuk mendudukinya.
"Enggak usah duduk bun, Abi nggak suka sama kehadiran kita." sergah ayah melarang sang isteri duduk.
ππππ
__ADS_1