
"Nggak pamit dulu sama suami." sela Fabian saat Khey menarik tuas kunci pintu mobil hendak keluar.
Saat ini keduanya telah berada di area parkiran sekolah mereka.
Khey yang telah memiringkan tubuh, sedikit membelakangi Fabian pun memposisikan tubuh kembali semula.
"Pamit gimana maksudnya?" Khey menatap Fabian bingung.
"Cium tangan kek atau kalau lebih afdolnya kasih cium di sini nih..." tunjuk Fabian pada bibirnya yang sengaja dimajukan olehnya.
"Ish... apaan sih Bi, mesum banget jadi cowok... lagi di sekolah jugak." Khey mendelik, namun tetap saja wajahnya memanas terasa seperti terbakar saat ini. Efek dari ingatannya yang kembali pada ciuman keduanya beberapa saat lalu saat masih dalam perjalanan ke sekolah.
"Ya nggak papa, mesum sama isteri sendiri kan sah sah aja." Fabian dengan senyum khas tengilnya.
"Enggak ah... ntar di rumah aja. Takut ada yang liat." Khey memilih menolak.
Khey menolak karena takut jika dirinya terbawa suasana dan enggan mengakhiri gejolak yang membuncah di dadanya.
Jujur saja akhir akhir ini Khey selalu merasa terbawa suasana dan enggan jauh dari Fabian.
Ah... seperti ini ternyata rasanya jatuh cinta.
Khey pun hendak keluar kembali, namun lengan tangan kanannya buru buru dicekal oleh Fabian.
"Pamit dulu."
Khey pun menghela nafas pendek.
"Mana tangannya."
Fabian pun mengangsurkan tangan kanannya yang segera diraih oleh Khey.
Khey membenamkan wajahnya di atas punggung telapak tangan Fabian sesaat lalu setelahnya hendak melepaskan tautan tangan mereka.
"Cium dulu." Fabian datar saat Khey memberikan pandangan seolah bertanya, apalagi....
"Udah kan Bi..."
"Yang sini belum yang..."
Lagi Fabian dengan menunjuk bibirnya.
"Bi... tadi udah." Khey lirih.
"Beda yang. Cium sini gih... bentar juga nggak papa." bujuk Fabian.
"Bian ih..." Khey menoleh ke kanan dan ke kiri
Setelah merasa tidak ada siswa lain di seputaran parkiran sekolah, Khey pun mengambil nafas lega.
"Elo aja yang cium." Khey seraya memejamkan mata.
Fabian tersenyum tipis. Segera memperpendek jarak wajahnya mendekat.
Sesaat Fabian hanya diam menelisik wajah cantik Khey yang putih bersih tanpa setitik pun noda di wajah pualam tersebut.
Sungguh Fabian tidak pernah menyangka jika dirinya bakal jatuh cinta dan menikahi gadis bar bar di depannya tersebut. Sudut bibirnya kembali terangkat, mengikis jarak wajahnya.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Tetiba pintu kaca mobilnya diketuk dari luar.
Sontak Khey terkejut, segera membuka kedua matanya. Apa yang dikhawatirkan olehnya terjadi juga.
Dug...
Refleks dahi Khey menyundul hidung mancung Fabian cukup keras.
Membuat hidung mancung Fabian memerah.
"Ups... Sorry Bi..." Khey dengan wajah khawatir.
Fabian memundurkan tubuhnya sembari mengusap hidung mancungnya yang terasa pengar.
"Siapa sih gangguin momen gue..." Fabian dengan bersungut menoleh ke sisi jendelanya.
"Kalau mau mesum cek in sana, jangan di sini... nggak modal lo." Ejek Farrel saat Fabian membuka kaca jendela mobilnya.
"Iri bilang!! Dasar jolay..." Fabian mencebik.
"Sahabat laknat lo... giliran udah ketemu sama bini, enak - enakan aja lo... lupa sama temen." Farrel dengan kedua tangan masuk dalam kantung celana seragam sekolahnya. Tatapannya dibuat kesal.
Fabian cengengesan lalu segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Farrel merentangkan tangan lalu memeluk tubuh jangkung sahabatnya erat.
"Congratulation pren." Farrel menepuk punggung Fabian sesaat kemudian mengendurkannya kembali.
Fabian mengernyit heran.
Deg.
Jantung Khey berdegub saat mendengar ucapan selamat Farrel pada suami tengilnya.
Khey baru sadar jika dirinya belum sempat memberi Fabian ucapan selamat. Jangan kan ucapan selamat, sedikitpun Khey belum menyinggung soal kondisi Fabian saat mengikuti karantina di Bali.
Khey hanya sibuk dengan hati dan emosinya sendiri tanpa sedikitpun peduli dengan apa yang telah Fabian lewati.
"Gue sangat egois." Lirih Khey dengan tidak memutus pandangan pada interaksi Farrel dan Fabian yang terlihat sangat akrab. Kedua cowok yang diketahui Khey adalah sahabat itu terlihat saling menyunggingkan senyum bahagia. Ocehan receh terdengar dari kedua mulut mereka.
"Harusnya gue adalah orang pertama yang kasih elo ucapan selamat Bi..." gumam Hati Khey dengan hati yang terasa tercubit.
Sedetik kemudian Khey pun membuka pintu mobil lalu keluar.
Fabian menoleh.
"Nggak salim dulu?!" Fabian sedikit beraseru pada Khey yang terlihat hendak pergi begitu saja.
"Udah kan Bi..." Khey mengingatkan.
"Yang sini tadi belum." Fabian mengetuk bibirnya seraya mengerling.
"Genit lo." Farrel mengejek.
"Sengaja. Biar lo syirik." Fabian dengan kekeh kecil.
__ADS_1
Khey mengerucutkan bibir, namun tetap dengan langkah kaki mendekati Fabian dan Farrel.
"Cepetan." Khey dengan wajah yang ditekuk kesal.
Bagaimana tidak kesal jika Fabian menginginkan ciuman dengan tidak tau tempat seperti saat ini. Di sekolah, di depan temannya pula. Mau menolak serta mengabaikan, takut dosa.
"Sini deketan, nggak nyampek nih..." Fabian dengan mengayun tangan, memberi tanda agar Khey semakin mendekat.
Khey menoleh ke kanan dan ke kiri takutnya ada yang melihatnya. Merasa aman Khey pun mendekat lalu memejamkan matanya kuat.
Biarlah ada Farrel di sana, toh dirinya sudah berkali - kali kepergok oleh Farrel saat berciuman dengan Fabian. Lagian Farrel juga sudah tahu kalau statusnya dengan Fabian telah menikah.
Fabian mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat aksi Khey yang menutup kedua matanya rapat. Hal itu terlihat lucu baginya.
Tangan kanan Fabian merengkuh bahu Khey, membuat Farrel membuka lebar kedua matanya.
"Lo mau ciuman sama bini lo di depan gue lagi, ngejek gue lo?"
Fabian cuek, tak peduli pada ucapan sahabatnya.
Cup
Bukan di bibir melainkan bibir Fabian mendarat pada kening Khey singkat. Setelahnya mengendurkan rengkuhan tangan kekarnya dari bahu sang istri.
Khey membuka mata, dalam hati tersenyum. Sempat mengira jika suami tengilnya itu bakal mencium bibirnya di sana.
"Jangan nakal, inget udah bersuami." Fabian mengacak pucuk kepala Khey.
"Iya... iya..." Khey pura pura manyun seraya menepis tangan Fabian dari pucuk kepalanya.
Segera pergi dari sana dengan menundukkan wajahnya yang pastinya merona merah saat ini. Khey yakin itu karena rasa hangat menjalari seluruh wajahnya.
"Gila lo Bi... lo udah bikin bini lo malu." Farrel dengan memandang Fabian yang masih tersenyum sembari menatap kepergian Khey.
"Bilang aja lo yang malu." Fabian dengan mengunci mobilnya.
"Ck... gue enggak." Farrel berdecak.
"Lantas... lo cemburu?!" Fabian selalu saja bertingkah konyol.
Plak.
Farrel memukul bahu Fabian cukup keras.
"Lo kata gue jeruk makan jeruk."
"Sakit tau Rel." Fabian pura pura.
"Biarin." Farrel kesal. Mengambil langkah lebar mendahului Fabian.
"Rell! Yah kok lo ngambek sih." Fabian dengan langkah cepat segera menyusul sahabatnya.
"Siang ini giliran gue jadi milik lo deh." Fabian merangkul bahu Farrel.
"Maksud lo?"
"Malam hari gue milik Ara."
__ADS_1
"Kampret lo Bi!"
ππππ